A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Publikasi
 ► Galeri
  P R O F E S I
 ► Seniman
 ► Guru-Dosen
 ► Peneliti-Ilmuwan
  B E R A N D A
 ► Majalah TI
 ► Nusantara
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 19112007  
   
  ► e-ti  
  Nama:
Faisal H Basri
Lahir:
Bandung, 6 November 1959
Agama:
Islam
Profesi:
Dosen FE-UI

Alamat Rumah:
Jalan Bambu Indah 49 RT 009/RW 03, Kalisari, Pasar Rebo, Jakarta 13790 Telepon (021) 87707322 Faksimile (021) 8728949 HP 0811-902-466
 
 
     
 
PUBLIKASI

 

PUBLIKASI: 01  02  ==

ANALISIS EKONOMI Faisal Basri

Tantangan Baru Perangi Kemiskinan


Pada tahun 1996 jumlah penduduk miskin tercatat 34,5 juta orang atau 17,7 persen dari jumlah penduduk. Krisis ekonomi membuat jumlah orang miskin naik tajam menjadi 50 juta jiwa atau hampir seperempat jumlah penduduk.

Setelah itu lambat laun berkurang hingga tinggal 16 persen pada tahun 2005. Dalam 10 tahun terakhir, hanya sekali saja jumlah dan persentase penduduk miskin meningkat, yakni tahun 2006, akibat kebijakan pemerintah melonjakkan harga bahan bakar minyak pada Oktober 2005. Tahun ini penduduk miskin kembali turun, menjadi 16,6 persen.

Sekalipun sudah menunjukkan kecenderungan menurun, kemajuan memerangi kemiskinan sangat lambat. Penduduk miskin yang dewasa ini sekitar 37,2 juta jiwa bukanlah jumlah sedikit.

Ditambah kenyataan penduduk yang berada di atas garis kemiskinan absolut, sebetulnya, masih jauh dari hidup sejahtera.

Jumlah penduduk miskin sewaktu-waktu bisa melonjak kalau terjadi gejolak kenaikan harga sebagaimana terjadi berulang kali. Seandainya kenaikan harga-harga barang dan jasa yang menjadi acuan menghitung garis kemiskinan naik 20 persen, jumlah penduduk miskin akan naik dari 16,6 persen menjadi 29 persen.

Jika menggunakan headcount rate sebesar 2 dollar AS sehari, jumlah penduduk miskin naik berlipat ganda menjadi 42,6 persen atau 100,7 juta jiwa.

Gambaran kemiskinan itu sangat terasa jauh dari cita-cita kemerdekaan sebagaimana termaktub di dalam Pembukaan UUD 1945, alinea keempat. Salah satu dari empat butirnya, memajukan kesejahteraan umum. Atau pada ucapan Bung Karno: Tidak boleh ada kemiskinan di bumi Indonesia merdeka.

Bukan sekadar etalase

Masalah kemiskinan bukan sekadar etalase statistik. Jika mengutik-utik statistik, percayalah, ikhtiar mengatasi kemiskinan akan bersifat tambal sulam.

Pemerintah akan lebih sibuk mengamankan harga beras karena pengeluaran untuk beras penentu utama dalam perhitungan garis kemiskinan. Pemerintah akan cenderung menekan harga beras sehingga merugikan petani. Kalau muncul gelagat harga beras naik, pemerintah dengan sigap membuka keran impor.

Benar bahwa produksi beras petani lebih kecil ketimbang kebutuhan beras setahun. Harga beras lebih tinggi akan membuat sebagian petani masuk ke dalam perangkap kemiskinan absolut.

Akan tetapi, apakah kita akan membiarkan keadaan yang mengarah pada zero sum game (buah simalakama) ini terus berlangsung? Kunci mengatasi persoalan kemiskinan, revitalisasi sektor pertanian, bangun pedesaan.

Dengan meningkatkan daya beli dan kesejahteraan mayoritas penduduk yang berada di sektor pertanian dan pedesaan, industri manufaktur kita akan maju karena pasar domestik akan menjadi andalan utama menyerap produk-produk sektor ini.

Selama pemerintahan SBY-JK, sektor pertanian dan industri manufaktur terus tertekan. Pertumbuhan kedua sektor ini terbata-bata, tidak stabil, dan jauh di bawah potensi. "Membiarkan" pertanian dan industri manufaktur tertekan, pemerintah sebetulnya secara tidak langsung menerapkan kebijakan yang tidak prorakyat miskin. Sinyalemen ini bertambah kuat jika kita mengamati, pemerintah makin kerap memberikan insentif kepada sektor jasa, terutama keuangan.

Misalnya, insentif pajak bagi perusahaan yang masuk bursa, paket insentif oleh Bank Indonesia bagi perbankan yang berkonsolidasi. Kita tidak menentang upaya-upaya ini. Yang kita tuntut, kebijakan yang dibiaskan bagi pro-poor, yang kian tak mengemuka sejak 2002. Jika tidak, ketimpangan kian menganga.

Dalam empat tahun terakhir, koefisien gini—yang mengukur tingkat ketimpangan pendapatan—terus naik, dari 0,341 (tahun 2003) menjadi 0,376 (2007).

Banting setir

Kini tiba saatnya banting setir. Momentum baru, untuk kesekian kali, kembali muncul dan tak boleh lagi kita sia-siakan.

Dunia menghadapi ancaman krisis pangan yang serius. Harga-harga komoditas melambung, hampir tanpa kecuali. Harga-harga sejumlah komoditas berlomba melahirkan rekor-rekor baru.

Departemen Pertanian Amerika Serikat baru saja mengeluarkan laporan, cadangan gandum mencapai titik terendah dalam 60 tahun terakhir. Cadangan jagung dan kedelai juga menipis.

Kemerosotan produksi karena gagal panen akibat fenomena pemanasan global terjadi di hampir semua benua. Sebaliknya, permintaan meningkat lebih cepat karena sebagian komoditas tersebut diserap untuk menghasilkan bahan bakar nabati.

Penurunan stok dan meningkatnya kelangkaan sejumlah komoditas di kebanyakan negara Asia berpotensi menciptakan gelombang guncangan harga baru di tahun 2008. Menjelang tutup tahun, "setruman" kenaikan harga pangan mulai menuai korban. Laju inflasi di China hampir menembus 7 persen, tertinggi dalam 11 tahun. Pemicunya, harga-harga makanan yang mencapai 18,2 persen. Di Vietnam lebih tinggi, menembus dua digit.

Negara-negara yang tidak meninggalkan sektor pertanian bernasib lebih baik. Thailand, misalnya, meski bukan produsen dan pengekspor minyak, mampu meredam laju inflasi di tengah menggilanya harga minyak. Di sini laju inflasi hanya sekitar 2 persen. Negara lain yang memanfaatkan sumber daya alam lebih bijak ialah Filipina. Di negara yang perekonomiannya belum menunjukkan penguatan fundamental, laju inflasinya masih di bawah 3 persen.

Kita memiliki potensi yang jauh lebih lengkap ketimbang negara tetangga yang sejauh ini lebih beruntung. Produk pertanian apa saja yang kita telah dan akan kembangkan niscaya bakal relatif mudah terserap di pasar domestik maupun internasional. Berbekal penguatan sektor pertanian, kita bisa mewujudkan negara industri. Memajukan kesejahteraan umum yang lebih merata bukanlah lamunan para pendiri bangsa. Kitalah yang abai mewujudkannya.(Kompas, 14 Desember 2007). ►e-ti


*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)