| PUBLIKASI |
|
|
 |
PUBLIKASI:
01
02
== ANALISIS EKONOMI Faisal Basri
Dampak dan Antisipasi Harga Minyak
Kenaikan harga minyak mentah tidak terjadi secara tiba-tiba. Sudah
banyak prakiraan bahwa harga minyak mentah akan terus merangkak naik.
Majalah Business Week edisi minggu lalu menurunkan berita dengan judul
"Next Stop: $100 Oil?"
Sekalipun spare capacity dari negara-negara produsen minyak yang
tergabung dalam Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) telah
meningkat menjadi lebih dari 2 juta barrel per hari atau hampir dua kali
lipat dibandingkan dengan tahun lalu, itu masih jauh lebih rendah
dibandingkan dengan posisi tahun 2002 yang berada di sekitar 5 juta
barrel per hari.
Hingga tahun depan, pasar minyak mentah dunia diperkirakan masih tetap
ketat sehingga sangat kecil kemungkinan harga turun kembali di bawah 60
dollar AS per barrel. Apalagi mengingat ketegangan di Timur Tengah tak
kunjung mereda, ditambah lagi hingga tahun 2008 pertumbuhan permintaan
lebih besar daripada pertumbuhan produksi.
Dengan kecenderungan harga minyak yang bertambah "liar", kita patut
mempertanyakan mengapa pemerintah dan DPR mematok asumsi harga minyak
hanya 60 dollar AS per barrel dalam APBN 2008. Seburuk itukah kemampuan
antisipasi mereka? Atau, karena mereka gamang memasang asumsi harga
minyak yang lebih tinggi karena akan mengakibatkan subsidi BBM dan
listrik membengkak? Sementara itu, elite politik telanjur berjanji untuk
tak menaikkan harga BBM hingga Pemilihan Umum 2009.
Dampak lonjakan harga minyak bumi terhadap APBN sebenarnya bisa
diminimalkan apabila kita mampu meningkatkan produksi minyak mentah.
APBN 2008 memang mencantumkan kenaikan asumsi produksi (lifting) minyak
dari 950.000 barrel sehari menjadi 1,034 juta barrel sehari. Namun,
pengalaman selama delapan tahun terakhir menunjukkan, asumsi APBN untuk
lifting minyak lebih kerap dikoreksi ke bawah ketimbang ke atas, sama
kerapnya dengan perubahan asumsi harga minyak mentah.
Bahkan perubahan asumsiasumsi tersebut tak hanya sekali diubah dalam
satu tahun anggaran. Penyesuaian yang kerap terjadi di dalam tahun
anggaran berjalan menunjukkan kualitas perencanaan yang buruk. Sudah
saatnya kita memiliki sistem anggaran yang lebih berkualitas dan akurat
agar fungsi anggaran untuk menggerakkan pembangunan bisa lebih optimal.
Sayangnya, kita tak menjumpai ruang yang cukup leluasa untuk
meningkatkan produksi minyak mentah. Dalam jangka pendek peningkatan
produksi tak mungkin dari ladang-ladang besar. Satu-satunya kemungkinan
adalah dari ladang-ladang kecil. Untuk meningkatkan produktivitas
ladang-ladang kecil, dibutuhkan teknologi yang lebih baru dan lebih
mahal, yang berarti harus ada investasi baru.
Sementara itu, para pengusaha minyak masih enggan melakukan investasi
baru di tengah regulasi yang belum menentu dan respons dari regulator,
Departemen ESDM dan BP Migas, yang sangat lamban. Sudah saatnya Presiden
mengambil langkah-langkah tegas untuk mengamankan kebijakan energi
nasional, termasuk melakukan peremajaan total di pucuk pimpinan
Departemen ESDM dan BP Migas.
Jika produksi tidak meningkat dan pertumbuhan konsumsi BBM di dalam
negeri tetap melaju seperti sekarang, sudah hampir bisa dipastikan pada
triwulan terakhir tahun ini kenaikan harga minyak akan berdampak
terhadap kenaikan defisit APBN. Jadi, peningkatan defisit lebih
disebabkan penurunan produksi ketimbang kenaikan harga minyak mentah.
Betapa sensitif perubahan asumsi produksi terlihat dari perhitungan
setiap penurunan produksi minyak mentah sebesar 50.000 barrel per hari
berpotensi meningkatkan defisit APBN sebesar Rp 4 triliun.
Kenaikan harga minyak mentah baru berdampak terhadap kenaikan defisit
APBN jika pertumbuhan konsumsi BBM di dalam negeri terus meningkat dan
penyelundupan BBM ke luar negeri marak kembali akibat disparitas harga
di dalam negeri dan luar negeri bertambah lebar sebagaimana terjadi
tahun 2003-2004. Pada tahun 2004, setiap kenaikan harga sebesar 10
dollar AS di atas harga asumsi APBN akan menambah defisit sebesar Rp 2
triliun.
Dampak tak langsung
Harus diperhitungkan pula dampak tak langsung dari kenaikan harga minyak
terhadap APBN dan perekonomian.
Pertama, pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan sebesar 6,8 persen untuk
tahun 2008 hampir mustahil bisa dicapai. Sejalan dengan proyeksi
pertumbuhan ekonomi dunia yang dipangkas dari 5,2 persen menjadi 4,8
persen untuk tahun 2008, Dana Moneter Internasional memperkirakan
pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan hanya 6,1 persen.
Dengan gambaran kondisi perekonomian yang lebih suram ini, sudah barang
tentu potensi penerimaan pajak pun akan turun. Dengan demikian, defisit
APBN akhirnya semakin menganga dan bisa mendekati 2 persen dari produk
domestik bruto.
Kedua, kenaikan harga bahan bakar minyak dan tarif listrik nonsubsidi
akan menambah beban sektor industri dan pada gilirannya sektor pertanian
pangan. Sektor industri manufaktur yang pertumbuhannya sudah mulai
kembali merangkak naik sampai ke tingkatan 5,5 persen pada triwulan
kedua 2007 diperkirakan sangat sulit berlanjut mendekati pertumbuhan
produk domestik bruto, apalagi melampauinya.
Hal ini terjadi karena hampir tak ada ruang lagi bagi industri untuk
meningkatkan efisiensi jangka pendek dan beban biaya eksternal (biaya
ekonomi tinggi) tak kunjung bisa dipangkas.
Dengan kondisi sektor industri manufaktur, pertanian pangan, dan
pertambangan minyak yang tertekan, pola pertumbuhan antara sektor yang
produknya dapat diperdagangkan (tradable) dan sektor nontradable semakin
timpang. Hal ini akan menimbulkan tekanan yang makin berat terhadap
pengangguran, pengentasan penduduk dari kemiskinan, dan ketimpangan
pendapatan, yang ujung-ujungnya meningkatkan ketegangan sosial.
Pilihan yang elegan bagi pemerintah ialah mengoptimalkan sektor-sektor
yang menikmati "berkah" (windfall), seperti minyak sawit, karet, dan
komoditas pertambangan yang harganya melambung, bukan justru mengganggu
pengembangannya. Dari ekspor minyak sawit saja, potensi tambahan
penerimaan APBN bisa mencapai lebih dari 1 miliar dollar AS.
Jika pemerintah mampu merealokasikan tambahan pendapatan ini untuk
menggalang proyek-proyek padat karya di sektor pertanian dan pedesaan,
daya beli mayoritas masyarakat bisa meningkat atau paling tidak bisa
mengompensasikan kenaikan harga-harga umum.
Pilihan ini lebih bijak ketimbang menggelontorkan subsidi langsung
ataupun tak langsung untuk berbagai komoditas yang mengalami kenaikan
harga tajam, seperti minyak goreng dan kebutuhan pokok lainnya (gula,
terigu, dan beras).
Pertumbuhan ekonomi
Ahli Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan Universitas Gadjah Mada, Ichsanuddin
Noorsy, menuturkan, pertumbuhan ekonomi di era pemerintahan Yudhoyono
lebih dipicu pertumbuhan pasar uang, bukan sektor riil. Kondisi ini yang
membuat pengangguran dan kemiskinan terus meningkat meski pertumbuhan
ekonomi dinilai positif.
"Pertumbuhan pasar uang ini terutama terjadi karena banyaknya pemain
asing yang masuk ke Indonesia. Mereka tergiur dengan tawaran bunga yang
tinggi," kata Ichsanuddin, Minggu.
Dalam kondisi seperti itu, yang sekarang terjadi adalah pencitraan tanpa
isi. "Saat ini Yudhoyono punya tiga tantangan besar. Pertama, melunasi
janji-janji kampanye, terutama yang terkait dengan kesejahteraan rakyat
kecil. Kedua, membebaskan tudingan bahwa pemerintah ini terlalu
berkiblat pada Amerika Serikat. Ketiga adalah menumbuhkan harkat dan
martabat kita sebagai bangsa Indonesia," kata dia.
Untuk menjawab ketiga tantangan itu, Yudhoyono harus menciptakan
pemerintahan yang kuat serta membangun citra kekuatan yang lebih
substansial. ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|