| |
C © updated 18062007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama: EWP Tambunan
Lahir:
Meninggal:
Jakarta, 17 Januari 2006
Agama:
Kristen
Pendidikan:
|
|
| |
|
|
|
|
| EWP TAMBUNAN HOME |
|
|
 |
EWP Tambunan
Gubernur Sumut 1978-1983 Gubernur Sumatera Utara
periode 1978-1983 ini terkenal sangat jujur, bersih dan berpenampilan
bersahaja. Dia gubernur kebanggaan Sumut dengan keteladanannya membangun
good governance. Dia gubernur yang reformis, anti KKN, saat Orde Baru
masih berkuasa. Idealnya, dia alangkah baik jika menjadi saat reformasi
telah bergulir. Dia gubernur yang paling jujr dan merakyat.
Saking jujurnya, seluruh anggaran siap pakai yang dijatahkan untuk
gubernur dikembalikan. Namun karena kejujurannya, dia hanya diberi
kesempatan satu periode memimpin Sumut. EWP Tambunan yang terkenal
selalu memakai peci berwarna merah, khas melayu.
Dia seorang kristiani yang menanamkan dengan baik semangat tolerasi
antarumat beragama di Sumatera Utara. Dia lebih mengutamakan pembangunan
sumber daya manusia dan pembangunan budaya serta karakter yang kuat
daripada pembangunan fisik yang bersifat mercusuar. Dialah yang
menggalakkan Pesta Danau Toba dan memopulerkan salam horas, majua-jua,
penjua-jua, ahoi, yang terkenal dengan lima subsuku besar di Sumatera
Utara.
EWP Tambunan sangat berpihak kepada ekonomi kerakyatan. Dia menggagas
Pola Inti Rakyat (PIR) Perkebunan dan mengharuskan perkebunan besar
mengembangkannya. Bagi dia perkebunan besar hanya bisa dikembangkan
sebagai perkebunan inti dari plasma (rakyat yang masing-masing mengelola
dua hektar) perkebunan. Pola ini sempat berkembang di Sumatera Utara
selama periodenya menjadi Gubernur.
Bahkan dia sempat meresmikan penerapan pola PIR Hotel di Ajibata,
Parapat, Danau Toba. Tapi setelah dia digantikan Kaharuddin Nasution,
pola PIR ini tidak lagi dilanjutkan. Menurut Tambunan, pola PIR
merupakan pola pemberdayaan masyarakat yang paling baik. Dia tidak ingin
rakyat hanya menjadi kuli di perkebunan. Melainkan, rakyat harus menjadi
pemilik sebagai plasma yang dibina perusahaan inti.
Tambunan juga terkenal sangat rajin berkunjung ke semua pelosok Sumut.
Dalam setiap kunjungannya, dia selalu menolak jika dilakukan acara
penyambutan seperti menyambut raja. Dia sering berhenti di persawahan,
menyapa petani dan memberi dorongan agar bekerja lebih giat.
Dia sangat kecewa, ketika tidak lagi bisa melanjutkan pengabdiannya
untuk periode kedua. Dia harus diganti karena kejujurannya. Maklum, para
pejabat dari pusat tak pernah dilayaninya dengan berbagai fasilitas
bahkan pemberian yang lazim dilakukan kala itu. “Mereka datang ke daerah
ini dengan SPJ dari instansinya,” katanya dengan tegas.
Mantan Gubernur Sumatera Utara EWP Tambunan meninggal dunia sebagai
kesatria pada Selasa malam 17 Januari 2006 di kediamannya, Jalan Kayu
Putih Tengah, Jakarta Pusat. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono datang
melayat. ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
Welcome
This
site is currently under construction. Please check back at a later time.
|
|