| |
C © updated
17122003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Eva Riyanti Hutapea
Lahir:
Jakarta, 26 Desember 1952
Suami:
Bunbunan Hutapea
Anak:
Patricia Imelda (26), Margaret Ivana (20), dan Anastasia Emanuella
(10
Jabatan:
Chief Executive Officer PT Usaha Kita Makmur Indonesia (UKM)
Pendidikan:
Sarjana akutansi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE UI)
Senior Executive Program Stanford University Amerika Serikat
Kegiatan Lain:
Director General Instant Ramen Manufacturers Association
(1999-2001)
Chairman Association of Bread, Noodles and Biscuit Manufacturers
Anggota Good Corporate Governance
Wakil Ketua Dewan Pengurus Lembaga Komisaris dan Direktur Indonesia
Anggota Ikatan Akuntan Indonesia
Anggota Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
Eva Riyanti Hutapea
Keberuntungan adalah Anugerah Tuhan
Ia adalah salah seorang
CEO terbaik dan bertangan dingin yang terbukti mampu menangani
pelbagai persoalan yang membelit perusahaannya.
Ia berhasil menyelamatkan PT Indofood Sukses Makmur (ISM), dari goncangan krisis.
Namun, Senin 15/12/03 ia menyampaikan surat pengunduran diri untuk
memberikan kesempatan kepada Dewan Komisaris merekrut penggantinya yang
akandilaksanakan dalam RUPS Mei 2004.
CEO (Chief Executive Officer) PT Indofood Sukses Makmur (ISM), ini menyebut tiga prasyarat utama untuk mencapai
keberhasilan. Yakni, adanya kesempatan, kemampuan dan keberuntungan. Jika
kesempatan dan kemampuan sudah dicapai, tinggal menunggu faktor
keberuntungan. Sementara, keberuntungan itu adalah anugerah Tuhan, yang
harus disampaikan dalam doa.
Ia berhasil menyelamatkan ISM dari goncangan krisis. Pada akhir 1997 lalu,
perusahaan publik itu tekor sampai Rp1,2 triliun. Kerugian ini adalah
akibat krisis moneter yang meluluh-lantakkan ekonomi negeri ini. Krisis
itu mengakibatkan daya beli masyarakat turun drastis serta beban
perusahaan yang melonjak tinggi. Penjualan Indomie, produk andalan ISM,
menurun drastis dari sekitar 8,5 bungkus pada akhir 1997 menjadi 7,8
miliar bungkus pada 1998. Apalagi saat itu, utang ISM dalam dolar AS yang
diperlukan untuk investasi --bukan untuk working capital—juga tidak
diasuransikan.
Eva tidak kecut menghadapi badai itu. Apalagi kondisi politik saat itu
mengalir deras menerpa perusahaan milik Grup Salim yang sangat rentan
dengan isu KKN dan monopoli itu. Saat itu pula Eva dipercaya menakhodai
ISM. Kemampuan yang dimilikinya, telah mendorong para pemegang saham
membuka kesempatan bagi Eva. Kesempatan itu sebuah tantangan yang harus
dijawab untuk membuktikan kemampuannya.
Pada kesempatan ini, kepiawaian Eva, Ibu beranak tiga, ini makin teruji.
Ia segera melakukan pelbagai langkah, mulai dari efisiensi, penyesuaian
harga jual produk, hingga mencari terobosan pasar baru di manca negara. Ia
pun sering turun langsung ke pusat-pusat penyaluran makanan seperti
koperasi dan pesantren untuk mendistribusikan produk-produk mie, makanan
bayi, dan susu dalam program Indofood Peduli, terutama ketika sebagian
besar masyarakat Indonesia dilanda krisis pangan.
Hasilnya, ISM berhasil membukukan keuntungan Rp 150 miliar pada akhir
tahun 1998. Bahkan pada tahun berikutnya (1999), keuntungan bersih yang
diraih semakin melonjak 500% lebih, yakni mencapai Rp1,3 triliun. Sangat
fantastis.
Bukan itu saja. Eva, lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia tahun
1973 ini, pun perlahan-lahan dapat mengatasi utang luar negeri ISM.
Diperkirakan pada Juni 2000 nanti, utang ISM tinggal US$313 juta. Bahtera
ISM pun tetap berlayar gagah melampaui badai. Sementara pada saat badai
itu mengguncang samudera ekonomi Indonesia, banyak perusahaan yang
terhempas dan tenggelam.
Maka, tidaklah heran apabila Eva, belum lama ini, mendapat penghargaan
sebagai salah satu CEO Terbaik di Indonesia oleh lembaga riset Asia Market
Intelligence (AMI) yang bekerja sama dengan majalah Swa.
Keberhasilan itu, ujar Eva yang hingga kini masih tercatat sebagai dosen
aktif di Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi - Universitas Indonesia, itu
bukan hanya prestasinya sendiri. Melainkan prestasi seluruh sumber daya
manusia yang ada di Indofood. Namun, sesungguhnya kepiawian Eva sebagai
CEO-lah yang paling menentukan. Ia telah memanfaatkan kesempatan yang
diberikan para pemegang saham dengan membuktikan kemampunnya mengatasi
persoalan rumit perusahaannya.
Tetapi, Eva yang memulai karir sebagai seorang internal auditor, tidak
menonjolkan kemampuannya memanfaatkan kesempatan itu sebagai kunci utama
keberhasilnnya. Justru ia lebih memandang faktor keberuntungan sebagai hal
yang harus dikedepankan. Determinasi keberuntungan, menurut pemegang
jabatan Direktur Jenderal International Ramen Manufacturers Association
(IRMA), produsen mie instan dunia yang berpusat di Jepang, ini tidaklah
sekadar nasib yang kebetulan. Keberuntungan, menurut Eva, adalah anugerah
Tuhan, yang harus selalu disampaikan dan bawakan di dalam doa. ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|