| |
C © updated 05032004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
|
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Erwin Pardede
Agama:
Kristen Protestan
Lahir:
Pematang Siantar, 17 Agustus 1943
Istri:
Rusline Hutasoit
Keluarga:
Lima orang anak, dua orang cucu
Anak:
1. Errata Jundini Atmira, kelahiran 10 Juni 1972, menikah dengan
marga Nasution dengan seorang anak
2. Lalu, Errinto Sahat Pahala, lahiran 16 Juli 1973
3. Erly Ika Suminar, lahir 12 September 1974, menikah dengan marga
Sibarani.
4. Ersan Timbul Marudut, lahir 8 Agustus 1977
5. Erna Ade Surya Ponti, lahir 19 September 1981.
Pekerjaan:
Wiraswasta
Pendidikan:
1. Pendidikan Sekolah Dasar (SD), tamat tahun 1958, di Pematang
Siantar
2. Pendidikan Sekolah Menengah Tingkat Pertama (SMP), tahun 1961, di
Pematang Siantar
3. Pendidikan Sekolah Menengah Tingkat Atas (SMA), tahun 1964, di Pematang
Siantar
4. Pendidikan Diploma III, tahun 1968, di Bandung
Pengalaman Kerja:
1. Kepala Bagian Teknik N.V. Zain di Bandung, tahun 1965 hingga
1967
2. Pimpinan Proyek pada PT Sapta Daya di Bandung tahun 1967-1968
3. Eksportir barang kerajinan ke Singapura tahun 1968-1970
4. Direktur dan Pemegang Saham PT Lanze sejak tahun 1970 hingga sekarang
5. Direktur dan Pemegang Saham PT Daya Mandiri Alam sejak tahun 1985
hingga sekarang
6. Direktur dan Pemegang Saham PT Naga Saco sejak tahun 1994 hingga
sekarang.
Organisasi Profesi:
1. Wakil Ketua BPD Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional (Gapensi)
DKI Jakarta, tahun 1980 hingga 1983
2. Wakil Ketua Bidang Konstruksi Kadin Jaya, tahun 1981-1983
3. Ketua Departemen Konstruksi Kadin Jaya, tahun 1983-1985
4. Sekretaris Jenderal BPP Gapensi, tahun 1983-1987
5. Ketua Kompartemen Jasa Konstruksi Kadin Jaya, tahun 1985-1994
6. Ketua Bidang Organisasi BPP Perhimpunan Ahli Teknik Indonesia (PATI),
tahun 1986 hingga 1994
7. Anggota Dewan Penasehat Kadin Jaya, tahun 1993-1994
8. Ketua Bidang Pemagangan, SDM, dan Ketenagakerjaan Kadin Indonesia,
tahun 1994-1998
9. Ketua Bidang Organisasi DPP Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo),
tahun 1994-1998
10. Ketua BPP PATI, sejak tahun 1994 hingga sekarang
11. Ketua DPP Apindo Urusan Sosial, sejak Juni 1998 hingga sekarang
12. Sekretaris Kelompok Kerja (Pokja) Sertifikasi Pekerja Bangunan di
Departemen Tenaga Kerja (Depnaker), sejak Juli 1998 hingga sekarang
13. Anggota Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Pusat (P4P),
sejak Oktober 1998 hingga sekarang.
Organisasi Sosial Kemasyarakatan:
1. Tim Koordinasi Usaha Kesejahteraan Sosial bagi Penyandang Cacat, di
Departemen Sosial (Depsos), sejak Juli 1997 hingga sekarang
2. Tim Koordinasi Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis, di Depsos,
sejak Agustus 1997 hingga sekarang
3. Tim Koordinasi (Joint Coordinating Comitte) Pengembangan Sistem
Rehabilitasi Vakasional, di Depsos, sejak April 1998 hingga sekarang
4. Koordinator Umum Forum Peduli Anak Indonesia (FPAI), sejak Juli 1998
hingga sekarang
5. Wakil Sekretaris Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), sejak
November 1998 hingga sekarang
6. Ketua Perhimpunan Keluarga Pardede Se Jabotabek, tahun 1986-1995
7. Sekretaris Jenderal Paguyuban Partukkoan Dalihan Natolu (Palito), sejak
1994 hingga sekarang
Organisasi Politik:
Jabatan di PDI Perjuangan:
Wakil Bendahara Pemenangan Pemilu Pusat tahun 1999
Nomor KTA PDI Perjuangan:
B.4-7/27640/KA/DPC/IX/98
Partisipasi dalam Berbagai Pertemuan Tingkat Nasional:
1. Tim Perumus pada Rakernas Pengusaha Kecil KP2KO, Maret 1985
2. Ketua Komisi B pada Rakernas JKKRET Kadin Indonesia, Juli 1985
3. Tim Perumus pada seminar ekonomi negara-negara Eropa Timur di Lemhanas,
Desember 1985
4. Tim Perumus Munas ke-VI Kadin Indonesia, September 1985
5. Sebagai moderator di beberapa seminar dan pertemuan tingkat nasional
lainnya
6. Serta sebagai pembicara pada berbagai seminar nasional khususnya bidang
yang terkait dengan masalah sosial, anak terlantar, dan ketenagakerjaan.
Alamat Rumah:
Jalan Saco Nomor 9, Ragunan, Jakarta Selatan
Telepon Rumah:
(021) 780.7353, 780.3139
Telepon Kantor:
(021) 8400.3434, 840.3435
Faksimili Kantor:
(021) 841.0964
|
|
| |
|
|
|
|
Erwin Pardede
Berawal 'Tumpangan' PDI Pro Mega
Namanya menjadi terkenal saat sebuah gedung miliknya di Jalan Raya Tengah,
Condet, Jakarta Timur, dia kontrakkan kepada kelompok PDI Pro Mega yang
sedang dijegal rezim Orde Baru, di tahun 1996. Hal itu memberinya
kesempatan berkenalan lebih dekat dengan Megawati Soekarnoputri. Bahkan
menghantarkan pria kelahiran Pematang Siantar, Sumatera Utara pada 17
Agustus 1943 ini berpolitik ke Senayan sebagai anggota Fraksi PDI-P DPR RI
dari daerah pemilihan Simalungun, Sumatera Utara.
Erwin Pardede mempunyai Kartu Tanda Anggota (KTA) PDI Perjuangan keluaran
tahun 1998, bernomor B.4-7/27640/KA/DPC/IX/98. Bekerja sebagai wiraswasta,
tepatnya kontraktor jasa konstruksi sebagai pemegang saham sekaligus
pimpinan berbagai perusahaan yang dia dirikan.
Pria penganut paham sekuler namun mengaku menganut pula agama Kristen
Protestan menamatkan pendidikan SD tahun 1958, SMP tahun 1961, dan SMA
tahun 1964 ketiganya di Pematang Siantar. Sedangkan pendidikan Diploma III
dia selesaikan di Bandung tahun 1968.
Dari istrinya Rusline Hutasoit dia dikaruniai lima orang anak, yaitu putri
sulung Errata Jundini Atmira kelahiran 10 Juni 1972 yang menikah dengan
Sibarani dan telah memberinya seorang cucu. Lalu, Errinto Sahat Pahala
anak lelaki tertua kelahiran 16 Juli 1973, Erly Ika Suminar lahir 12
September 1974, Ersan Timbul Marudut lahir 8 Agustus 1977, dan si bungsu
Erna Ade Surya Ponti kelahiran 19 September 1981.
Dua keahlian khusus yang dia torehkan dalam catatan pribadinya adalah
bidang teknik bangunan dan berorganisasi. Aktivitas dan jabatan resmi yang
pernah dia pegang selama di PDI Perjuangan adalah Wakil Bendahara
Pemenangan Pemilu Pusat PDI Perjuangan Tahun 1999.
Dia sangat familiar dengan insan pers. Nama dan tampangnya kerapkali
menghias lembar suratkabar dan majalah serta layar kaca televisi.
Sekalipun topik yang dibangun begitu ringan. Semisal, kaitan antara posisi
anggota dewan yang terhormat di DPR RI dengan kebiasaan menggunakan
pakaian setelan jas yang rapi.
Jika diajak bicara dia yang menyebut pimpinan partainya Partai Demokrasi
Indonesia Perjuangan (PDI-P) Megawati Soekarnoputri dengan Ibu Mega,
selalu memposisikan diri “antagonis” untuk mampu melahirkan wacana baru
perdebata. Peran “antagonis” itu lalu terkadang mengarah ke hal-hal
pembicaraan yang kontroversial sehingga yang lalu ada adalah semacam
parodi anti kemunafikan sesuai dengan “trade mark” diri yang mulai dia
perkenalkan, anti kemunafikan.
Dia mendekati paham filosofi Kahlil Gibran, yang pernah menyebutkan,
‘Sampaikanlah pikiranmu. Jika itu benar dia telah menunjukkan sebagian
dari kebenaran. Jika itu salah dia akan merangsang lahirnya pikiran yang
lebih benar. Baik ketika benar maupun ketika salah menyampaikan pikiran
selalu lebih baik daripada diam sama sekali’. Itulah Erwin Pardede yang
“rajin” bicara.
Dahulu dia adalah pendengar yang baik. Ketika ilmu sudah cukup sebagai
pendengar maka dia berubah menjadi pembicara yang baik terutama di gedung
DPR/MPR RI Senayan Jakarta. Di situ dia menyampaikan, kalau bisa sekaligus
memperjuangkan aspirasi rakyat yang sampai kepadanya. Dia berencana
meluncurkan buku berisi pesan anti kemunafikan persis pada tanggal 17
Agustus 2004. Derivatif dari judul buku itu menurutnya masih bisa
melahirkan tujuh puluh judul buku baru yang siap dia tuliskan.
Erwin Pardede memang politisi yang berbeda. Dia terjun ke gelanggang
politik setelah merasa cukup secara materi. Awalnya dia bertekad, persis
pada usia lima puluh tahun sudah harus berhenti bekerja alias pensiun
setelah materi yang dia persiapkan cukup untuk kebutuhan satu generasi.
Setelah tekad awal itu tercapai tinggallah berpolitik praktis sambil tetap
menyalurkan hobi arsitek dengan mendesain rumah, membangun, lalu menjual
rumah tersebut dengan nilai tambah yang sudah berlipat kali ganda.
Berpolitik praktis memperoleh momentum tepat saat seorang anak bangsa
bernama Megawati Soekarnoputri, yang notabene adalah putri sulung tokoh
nasional Proklamator Bangsa Ir Soekarno mengalami kematian hak-hak politik.
Oleh rezim yang sedang berkuasa ketika itu dia ditindas, karakternya
dibunuh bahkan menjadi assasinate kesohor di era Orde Baru.
Sebagai assasinate Megawati bukan hanya tidak boleh memimpin partai.
Bahkan, berdiripun di kantornya di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusatdia
tidak diizinkan. Kantor itu dihancurkan oleh pihak yang tidak
bertanggungjawab. Megawati menjadi pesakitan politik dan tidak tersedia
satu tempat pun bagi dia untuk berlindung.
Rasa simpati terhadap Mega muncul dari mana-mana namun hanya Erwin Pardede
yang berani “menampung” pesakitan politik itu di sebuah gedung di Jalan
Raya Tengah, Kelurahan Gedung, Condet, Jakarta Timur, miliknya. Gedung itu
menjadi tempat bersinggah bagi kelompok PDI Pro Mega, yang pada 27 Juli
1996 diperlakukan seperti manusia tanpa jiwa.
Erwin menerima uang kontrak dari kelompok PDI Pro Mega sebab deal-nya
adalah sewa-menyewa. Tapi apa lacur di sini pun PDI Pro Mega tetap diburu.
Kantor itu oleh aparat berwenang disegel dengan alasan peruntukan bukan
untuk perkantoran.
Uniknya, dengan ketulusan mengontrakkan gedung yang lalu disegel itu nama
Erwin ikutan meroket sebagai assasinate baru. Dia tidak mempedulikan usaha
jasa konstruksinya dipotong dimana-mana sebab sudah tidak diperkenankan
lagi mengerjakan proyek-proyek baru yang biasanya mudah dia peroleh.
Peristiwa yang menimpanya membuat rasa simpati dia terhadap Mega sebagai
orang tertindas malah menjadi makin menggebu-gebu.
Dia yang sebelumnya selalu golongan putih (golput) alias tidak pernah
menggunakan hak pilih pada setiap pemilihan umum (pemilu), tiba-tiba
muncul di sebuah koran pagi nasional terbesar Indonesia. Nama dia bersama
beberapa pengusaha terkemuka lain menyatakan diri bergabung ke partai
pimpinan Megawati, di tahun 1998.
Karena reformasi masih terus bergulir maka pada Pemilu 1999 posisi
PDI-Perjuangan sudah sangat didukung oleh rakyat untuk menumbangkan rezim
lama secara politis dan ksatria. Dengan posisi sebagai Wakil Bendahara
Pemenangan Pemilu Pusat (Pappusat) PDI Perjuangan Erwin Pardede
bahu-membahu memenangkan partai.
Walau begitu langkah dia ke Senayan mewakili daerah pemilihan (Dapil)
Simalungun, Sumatera Utara tidak mudah. Keputusan partai memilih Erwin,
nama yang tidak berhasil memperoleh bilangan pembagi pemilih (BPP), ke
Senayan ditentang berbagai pihak terutama kader pendukung kandidat lain
dari PDI-P dari Dapil sama. Uniknya Erwin ada bersama para pendemo itu
menggugat keputusan pengurus partai yang meloloskan namanya ke Senayan.
Entah, dia sekadar bergurau atau serius.
Rendah hati
Erwin Pardede selalu berbicara apa adanya. Rendah hati namun penuh rasa
percaya diri. Dia menyebutkan dirinya tak lebih sebagai masyarakat kecil
seorang awam yang tidak mempunyai andil untuk republik. Bukti bahwa dia
seorang awam adalah PDI-P menempatkan namanya hanya di nomor urut lima
Dapil III Sumatera Utara pada Pemilu 2004. Dikatakannya, kalau dia orang
berpengaruh seharusnya nomor urutnya dibuat di nomor satu atau dua untuk
mempengaruhi orang lain.
Dia menyebutkan kemungkinan namanya akan berpengaruh jika telah
meluncurkan buku yang sedang ditulisnya, “Anti Kemufikan”. Buku tersebut
sebelum diluncurkan telah menuai banyak kontroversi mengingat isinya
sangat bertentangan dengan budaya dan keyakinan yang dianut kebanyakan
orang. Dengan buku itu pria yang menolak disebutkan mulai melempem dan
tidak lagi dinamis tersebut berharap bisa mengubah sikap manusia Republik
Indonesia menjadi tidak munafik.
“Saya manusia yang dinamis dan berani menantang keadaan,” tegas dia. Dia
selalu konsisten terhadap sikap dan jatidirinya untuk menjadi jujur,
berani menantang orang lain dalam soal cara berfikir dan yang terutama
konsisten sebagai penganut anti kemunafikan. Dia malah menyimpulkan bahwa
republik ini jatuh karena kemunafikan.
Fungsi dan peran dia selama lima tahun di kursi terhormat DPR
disebutkannya banyak kerjaan namun tidak pernah menjadi ketua. Karena itu
prestasinya sebagai wakil rakyat dia anggap biasa-biasa saja. Padahal,
kliping berita kegiatan dan pernyataan sikap politik dia sebagai anggota
dewan telah menghasilkan tumpukan bundel berita yang sudah tak terhitung
jumlahnya. Toh, kemunculan dia di media massa itu dikatakannya sekedar
sekedar saja.
Menang di putaran pertama
Sebagai kader yang direkrut di puncak pergolakan PDI Pro Mega loyalitas
dia kepada partai terutama figur Megawati sangat tinggi. Dia selalu
menyebut pimpinan partainya itu dengan sebutan Ibu Mega. Tidak lebih tidak
kurang. Karena itu, walau di luaran terdengar begitu banyak suara prihatin
terhadap PDI-P namun dia konsisten menyebut partainya tetap solid dan
cukup baik. Kali ini dia bicara tanpa bertendensi kemunafikan. Nomor urut
lima bukan kendala baginya untuk mengubah loyalitas kepada partai apalagi
kepada pimpinan tertinggi yang kini dipercaya memimpin republik.
Dia memprediksi partainya akan memperoleh suara antara 35 hingga 45 persen
pada Pemilu Legislatif 2004. “Dan, Ibu Mega akan menjadi presiden pada
Pemilu Presiden di putaran pertama. Kalau putaran pertama sudah 51 persen
yang mendukung dia, maka, sudah tidak perlu ada putaran lain lagi,”
tegasnya. Optimisme itu menurutnya didasari oleh kinerja Megawati yang
cukup baik.
Partai yang paling menarik di masa depan menurutnya adalah partai
nasionalis. Sebab, tutur dia, tidak akan mungkin republik ini menjadi
kekuasaan yang berazaskan agama melainkan nasionalis. Karena hal itu sudah
menjadi tekad pada saat republik ini dibentuk. “Para proklamator kita
dahulu menginginkan republik ini adalah republik yang nasionalis, bukan
republik yang agamis. Republik ini dibangun di atas keragaman dan di atas
azas kenegaraan.”
Dia pun menepis adanya semacam konsensus diantara para patron pendiri PDI
Perjuangan, yang dahulu bernama Partai Demokrasi Indonesia (PDI) hasil
fusi berbagai partai aliran nasionalis dan aliran agama Nasrani. Konsensus
yang tidak tertulis itu mengisyaratkan jika ketua umumnya muslim maka
sekjen sebagai orang kedua diberikan kepada umat Nasrani, atau sebaliknya.
Konsensus tersebut dirasa mulai hilang saat Alexander Litay tidak lagi
menjadi Sekjen PDI-P, digantikan oleh Sutjipto saat Kongres Semarang tahun
2000. Tergusurnya Alex Litay bukan hanya dinilai mengingkari konsensus
namun menafikan kesetiaan Alex saat berjuang berdua saja bersama Mega
dalam kelompok PDI Pro Mega.
Erwin menyebutkan konsensus itu menurut sejarah tidak pernah ada. Demikian
pula dalam penyusunan daftar calon legislatif yang konon hanya ditentukan
oleh 11 orang, termasuk penentuan nama dia di nomor urut lima Dapil III
Sumatera Utara. PDI Perjuangan tidak pernah bicara muslim bukan muslim,
warna kulit, dan sebagainya sebab PDI Perjuangan konsisten dengan apa yang
mesti dilakukan.
“Tapi, kalau pun ada pribadi atau sikap-sikap yang demikian, kita tidak
perlu mengatakan itu adalah PDI Perjuangan. Kalau umpamanya ada yang
diskriminatif di sana, itu bukan PDI Perjuangan tapi oknum,” kata Erwin
yang meminta agar dibedakan antara kehendak institusi dan oknum pribadi.
*****
Dua keahlian khusus ditorehkan Erwin Pardede dalam catatan pribadinya.
Yaitu di bidang teknik bangunan dan berorganisasi. Aktivitas dan jabatan
resmi yang pernah dia pegang selama di PDI Perjuangan adalah Wakil
Bendahara Pemenangan Pemilu Pusat PDI Perjuangan Tahun 1999.
Sebagai ahli di bidang teknik bangunan, Erwin Pardede antara lain pernah
bekerja sebagai Kepala Bagian Teknik N.V. Zain di Bandung, tahun 1965
hingga 1967. Lalu, sebagai Pimpinan Proyek pada PT Sapta Daya di Bandung
tahun 1967-1968, mengekspor barang kerajinan ke Singapura tahun 1968-1970,
Direktur dan Pemegang Saham PT Lanze sejak tahun 1970 hingga sekarang,
Direktur dan Pemegang Saham PT Daya Mandiri Alam sejak tahun 1985 hingga
sekarang, serta Direktur dan Pemegang Saham PT Naga Saco sejak tahun 1994
hingga sekarang.
Keahlian dia berorganisasi cukup beragam baik organisasi profesi maupun
kemasyarakatan. Di organisasi profesi, Erwin Pardede pernah menjadi Wakil
Ketua BPD Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional (Gapensi) DKI Jakarta
antara tahun 1980 hingga 1983, sebagai Wakil Ketua Bidang Konstruksi Kadin
Jaya tahun 1981-1983, Ketua Departemen Konstruksi Kadin Jaya tahun
1983-1985, Sekretaris Jenderal BPP Gapensi tahun 1983-1987, Ketua
Kompartemen Jasa Konstruksi Kadin Jaya tahun 1985-1994.
Kemudian, sebagai Ketua Bidang Organisasi BPP Perhimpunan Ahli Teknik
Indonesia (PATI) pada tahun 1986 hingga 1994, Anggota Dewan Penasehat
Kadin Jaya tahun 1993-1994, Ketua Bidang Pemagangan, SDM, dan
Ketenagakerjaan Kadin Indonesia tahun 1994-1998, Ketua Bidang Organisasi
DPP Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) tahun 1994-1998, Ketua BPP PATI
sejak tahun 1994 hingga sekarang, Ketua DPP Apindo Urusan Sosial sejak
Juni 1998 hingga sekarang, Sekretaris Kelompok Kerja (Pokja) Sertifikasi
Pekerja Bangunan di Departemen Tenaga Kerja (Depnaker) sejak Juli 1998
hingga sekarang, dan sejak Oktober 1998 hingga sekarang sebagai Anggota
Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Pusat (P4P).
Di bidang kemasyarakatan, istri dari Rusline Hutasoit antara lain aktif
sebagai Tim Koordinasi Usaha Kesejahteraan Sosial bagi Penyandang Cacat di
Departemen Sosial (Depsos) sejak Juli 1997 hingga sekarang, Tim Koordinasi
Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis di Depsos sejak Agustus 1997
hingga sekarang, Tim Koordinasi (Joint Coordinating Comitte) Pengembangan
Sistem Rehabilitasi Vakasional di Depsos sejak April 1998 hingga sekarang,
Koordinator Umum Forum Peduli Anak Indonesia (FPAI) sejak Juli 1998 hingga
sekarang, Wakil Sekretaris Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA)
sejak November 1998 hingga sekarang, Ketua Perhimpunan Keluarga Pardede Se
Jabotabek tahun 1986-1995, serta Sekretaris Jenderal Paguyuban Partukkoan
Dalihan Natolu (Palito) sejak 1994 hingga sekarang.
Aktivitas dan partisipasi dia dalam pertemuan tingkat nasional tercatat
antara lain sebagai Tim Perumus pada Rakernas Pengusaha Kecil KP2KO Maret
1985, Ketua Komisi B pada Rakernas JKKRET Kadin Indonesia Juli 1985, Tim
Perumus pada seminar ekonomi negara-negara Eropa Timur di Lemhanas
Desember 1985, Tim Perumus Munas ke-VI Kadin Indonesia September 1985,
sebagai moderator di beberapa seminar dan pertemuan tingkat nasional
lainnya, serta sebagai pembicara pada berbagai seminar nasional khususnya
bidang yang terkait dengan masalah sosial, anak terlantar, dan
ketenagakerjaan.
Walau ditempatkan di nomor urut lima dalam daftar calon legislatif DPR RI
pada daerah pemilihan III Sumatera Utara, yang pasti Erwin Pardede
menyebut diri tetap happy dan enjoy berjuang untuk diri dan bangsanya. Dia
menyebut berjuang untuk dirinya dahulu, baru untuk bangsa. Sebab, adalah
omong kosong jika ada orang mengatakan berjuang untuk bangsa tanpa
berjuang untuk dirinya. “Karena tidak ada pejuang yang sakit menjadi
berjuang, kecuali Sudirman.”
Berdasar filosofi sederhana itu, dengan rendah hati dia menyebut dirinya
tidak punya jasa di PDI Perjuangan. Melainkan, dia malah mengambil dari
PDI-P. Dia juga mengaku tidak pernah dekat dengan Ibu Mega. Melainkan,
pernah mengenal Ibu Mega. Itupun saat mengontrak gedung miliknya di Condet.
“Pada saat dia disingkirkan orang lain, atau orang lain tidak mau
mengontrakkan rumah atau gedung kepada PDI Pro Mega, ya saya bersedia
untuk mengontrakkan kepada PDI Pro Mega walaupun kontrak itu hanya untuk
sekedar uang pindah. Itu saja.”
Walau hanya mengontrakkan namun efeknya cukup banyak buat Erwin. “Pada
saat itu saya berbisnis saya dijegal, saya di-cut tidak bisa lagi dapat
proyek. Itu saja. Tapi bukan berarti itu jasa saya kepada PDI Pro Mega.
Tidak. Saya tidak punya jasa kepada PDI Pro Mega.”
Karena itu Erwin tidak berani menyebut kedudukannya di DPR adalah atas
jasa dia terhadap PDI Pro Mega. Melainkan, karena kenal dengan Megawati
pimpinan partai wong cilik itu lalu diberi kesempatan kepada dia untuk
menjadi anggota DPR. “Apakah itu penilaian karena saya pernah memberikan
kantor saya untuk dikontrak, itu urusan Bu Mega. Tapi yang pasti, saya
sudah mengambil hikmah dari perkenalan saya dengan PDI Pro Mega: Saya
menjadi anggota DPR satu periode,” ujarnya sambil menyebut merasa puas
satu periode saja sebab sebelumnya sama sekali tidak pernah berangan-angan
menjadi anggota DPR.
Erwin menyebutkan daerah pemilihannya adalah gudang PDI Perjuangan.
Karenanya dia memperkirakan perolehan suara partainya bisa mencapai 30
hingga dibawah 50 persen. Dia kini tinggal membuktikan apakah pemilih itu
juga cinta terhadap Erwin Pardede untuk meraih BPP, satu-satunya
kesempatan terbuka bagi pemegang nomor urut lima ini melenggang ke Senayan.
Namun Erwin tidak menetapkan perolehan BPP sebagai tujuan berkampanye.
Melainkan, “… saya akan menunjukkan kepada rakyat bahwa PDI Perjuangan itu
masih yang solid dan mempunyai harapan untuk membangun republik ini.”
Sebagai tokoh anti kemunafikan Erwin dipastikan tidak akan mengatakan bisa
memperjuangkan sesuatu yang memang tidak bisa dia perjuangkan.
“Tapi, saya mengatakan PDI Perjuangan akan berjuang. Kalau pribadi Erwin
Pardede belum tentu bisa berjuang,” tegas pria tambun ini. Sikap
mengedepankan perjuangan atas nama partai itu pula yang menyebabkan dia
tidak mau menandatangani kontrak sosial dan politik dengan konstituen.
Masalahnya, demikian Erwin yang sesungguhnya selalu berusaha berbuat baik
terhadap semua orang, jangankan kontrak sosial dirinya pun tak bisa dia
kontrak untuk berbuat baik. Terlebih kontrak dengan orang lain.
“Tapi, kalau saya akan berbuat baik untuk rakyat Sumatera Utara itu bisa
saya katakan, ya, tapi bukan kontrak. Karena diri saya pun tidak bisa saya
kendalikan,” tegas penggemar renang yang sudah mulai membiasakan diri
pensiun dari DPR. Pembiasaan itu, misalnya saat ini mulai gemar menulis
buku. Dulu dia adalah pendengar yang baik, setelah menjadi anggota DPR
menjadi pembicara yang berusaha baik, dan setelah selesai menjadi
pendengar kini dia menjadi penulis yang berusaha untuk menjadi penulis
yang baik. Bagi dia mendengar adalah untuk mencari ilmu, berbicara setelah
mempunyai ilmu, dan menulis setelah bisa membuat beberapa ide untuk
republik ini. “Diantaranya, buku yang menghapuskan kemunafikan dari
republik ini.”
Sebagai orang yang rendah hati dan mengedepankan atas nama partai selalu,
Erwin pun tidak menyebut pencapaiannnya selama di DPR sebagai kinerja
pribadi melainkan atas nama Komisi IV, khususnya Sub Komisi Permukiman dan
Prasarana Wilayah (Kimpraswil) dimana dia sebagai pimpinan. Seperti,
beberapa undang-undang yang berhasil diundangkan, kebijakan-kebijakan
pemerintah yang berhasil diarahkan supaya menjadi baik serta kontrol
terhadap anggaran dan proyek-proyek. Demikian pula keberhasilan mewujudkan
double track jalur kereta api sepanjang Pantura.
Demikian pula tentang Undang-Undang Sumberdaya Air (SDA), dimana nama
Erwin Pardede cukup dominan berperan. Disebutkannya, walaupun masih
ditentang oleh sebagian kelompok orang namun keberadaan undang-undang ini
sudah cukup baik sebab ada keinginan mengelola air secara baik dari air
kotor menjadi air bersih. “Mengelola air ‘kan tidak bisa berdoa saja,
harus ada usaha, atau usahe,” katanya berlogat Betawi menanggapi
kekhawatiran banyak orang akan tendensi privatisasi pengelolaan air.
Menurut Erwin privatisasi bukanlah tujuan UU melainkan sebentuk usaha
pengelolaan.
Sebagai pembuat kebijakan di tingkat undang-undang Erwin menyebut tujuan
UU SDA adalah agar pemanfaatan air lebih efektif dan tidak terbuang
percuma. Lalu, kualitas air diharapkan semakin lama semakin baik sebab
sifatnya sudah dikelola. Demikian pula kepemilikan air akan bisa menjadi
lebih merata untuk semua orang sebab proporsi pengusahaannya sudah mulai
terbagi antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, antara swasta
dengan koperasi, dan antara swasta dengan BUMN sebab semua mempunyai
proporsi yang sudah diatur. Mudah-mudahan anak cucu Erwin kelak mengucap
syukur atas pengundangan sumberdaya air itu.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|