| |
C © updated 07022004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/sh |
|
| |
Nama:
Erry Firmansyah
Lahir:
Bandung, 18 September 1955
Anak:
Dua orang laki-laki
Pendidikan:
Lulus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 1981
Karir:
- Direktur Utama, PT Bursa Efek Jakarta, 15 April 2002 hingga
sekarang
- President Director Indonesian Central Securities & Deppository,
Oktober 1998-Maret 2002
- Direktur Utama, PT KSEI, hingga 2000
Direktur PT Lippoland Development, antara tahun 1990-1995
- Executive Director PT Lippo Land Development, 1995-1998
- Executive Director PT Lippo Cikarang, 1993-1998:
- Director PT Aon Indonesia, 1992-1997
- Senior Vice President Lippo Group, 1991-1992
- Vice President/Finance Director Lippo Group PT Lippo Land
Development, 1990-1991
- Senior Manager PT Sumarno Pabottinggi Mgt, 1985-1990
- Finance & Accounting Manager PT Dwi Satya Utama, 1984-1985
- Auditor di Drs Hadi Sutanto Office, 1982-1984
Sumber Data:
= Berbagai sumber, terutama Sinar Harapan
|
|
| |
|
|
|
|
Erry Firmansyah
Lesatkan Bursa Efek Jakarta
Sejak dipilih menjadi Direktur Utama PT Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada RUPS
15 April 2002, satu program utama lelaki kelahiran Bandung 18 September 1955, Erry Firmansyah adalah meninjau kembali keberadaan perusahaan anggota
bursa (emiten).
Syarat perusahaan untuk masuk bursa dipermudahnya. Asal
perusahaan sehat, belum untung tidak apa-apa, yang penting prospektif
memperoleh laba. Terobosannya, melesatkan BEJ.
Bersamaan itu, dia juga
mengincar tak kurang 5.000 perusahaan baru agar mau masuk bursa. Kalau
para pengusaha mengandalkan dana untuk pengembangan modal hanya dari jasa
perbankan, maka, dana yang didapat sangat terbatas. Padahal, perusahaan
anggota bursa yang memiliki kinerja baik akan bisa mendapatkan dana yang
tidak terbatas dari pasar modal.
Syarat perusahaan untuk masuk bursa lalu dipermudahnya. Kata Erry, asal
perusahaan sehat, belum untung tidak apa-apa yang penting prospektif
memperoleh laba. Cuma butuh waktu 45 hari sejak didaftarkan di Badan
Pengawas Pasar Modal (Bapepam).
Keberaniaan Erry mengajak ribuan perusahaan masuk bursa didukung oleh
kenyataan bahwa masyarakat sesungguhnya mempunyai potensi besar sebagai
investor pasar modal. Ada 3,5 juta rakyat Indonesia yang mempunyai
pendapatan perkapita setara penduduk Singapura. Dia pun melihat, seliweran
mobil-mobil mewah seperti Jaguar, BMW seri 7 maupun Porche menunjukkan ada
banyak orang kaya di Jakarta maupun di kota-kota besar lain. Mereka
potensial untuk digarap.
Jika ingin contoh lain, bisnis bagi hasil agrobisnis Alam Raya di Sukabumi
yang berhasil mengumpulkan dana masyarakat hingga ratusan milyar rupiah,
belum lagi puluhan perusahaan agribisnis sejenis yang ternyata cenderung
lebih merugikan masyarakat, menunjukkan kuatnya kemampuan kapital rakyat
banyak. Namun mereka kurang memperoleh informasi investasi yang ideal dan
aman.
”Kenapa ini sering terjadi? Kenapa investor tidak membeli saja saham di
pasar modal yang sudah jelas. Ini berarti pasar modal kita masih kurang
populer atau memang karena masyarakat kita senang ditipu?,” Erry
Firmansyah, lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia tahun 1981 ini
mencoba beretorika. ”Saya menyadari bahwa pasar modal atau bursa efek
belum begitu dikenal masyarakat. Jadi, kita perlu sosialisasi lagi.”
Erry, ayah dua orang anak laki-laki ini sudah bertekad bulat menjadikan
pasar modal sebagai lahan investasi yang menarik. Demi gong popularitas
bursa saham, di awal tahun 2004 dia mengajak Presiden Megawati dan
sejumlah anggota kabinet menyaksikan langsung pembukaan perdagangan
perdana saham di BEJ. Kerjasama dengan pers pun dieratkan. Apa yang dia
peroleh memang istimewa. Ketika pertamakali memimpin BEJ dia hanya
berharap angka Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) stabil pada posisi 550.
Namun setelah Ibu Presiden dan para menteri menunjukkan dukungan pada
produk kapitalis ini angka dimaksud nyaris sudah mendekati 800 –setelah
sempat menembus angka 785.
Bursa Efek Jakarta diakui masih belum seberapa dibanding bursa asing
seperti Nasdaq, New York Stock Exchange, atau bursa saham di London,
Jepang, Hong Kong dan lain-lain. Selain angka IHSG masih rendah, anggota
bursa masih sedikit, usia keaktifan BEJ pun baru seperempat abad. Namun
adalah Erry Firmansyah yang piawai memainkan setiap gejolak yang ada di
bursa asing terkenal demi memperoleh dana dari investor luar. Seperti,
pernah runtuhnya berbagai indeks di bursa asing sebagai efek domino
skandal akuntansi Amerika Serikat yang telah menenggelamkan raksasa Enron,
WorldCom, dan Merck itu berhasil dimanfaatkan Erry sebagai peluang
mengundang investor asing masuk ke BEJ.
”Pasar modal Indonesia tidak lebih buruk dari Amerika,” kata Erry
Firmansyah mencoba bijak tanpa bermaksud berapologi atas berbagai skandal
yang juga pernah menimpa BEJ. Dia lalu semakin giat mempercantik bursa
agar laku dipertontonkan di hadapan investor asing. Sementara kepada
investor lokal Erry sudah berketetapan hati bahwa segenap jajaran direksi
BEJ harus melakukan road show ke kota-kota besar untuk menjelaskan pasar
modal, mulai Sumatera hingga Indonesia Bagian Timur.
Erry menunjukkan, ada indikator sederhana yang bisa membuktikan
keberhasilan dana nganggur milik asing telah masuk ke Indonesia melalui
BEJ, terutama pasca kejatuhan Enron, WorldCom, dan Merck. Menurutnya, pada
tahun 2001 rata-rata transaksi harian di BEJ 603,2 juta lembar saham
senilai Rp 396 miliar. Pada tujuh bulan pertama tahun 2002, volume
transaksi saham menjadi 861,8 juta lembar saham senilai Rp 576,1 miliar.
Indikator lain, pada private placement PT Telkom 92 persen dana yang
terserap berasal dari investor asing, demikian pula saat penjualan perdana
(IPO) PT Surya Citra Media pengelola stasiun TV SCTV itu 80 persen pemesan
saham adalah asing. Erry pun meyakini bahwa dana-dana asing lainnya tidak
lagi mengarah hanya ke saham-saham blue chips berkapitalisasi besar,
melainkan telah pula menyentuh saham second liner, seperti saham consumer
product, chemical, dan farmasi.
Erry, lelaki kelahiran Bandung tahun 1955 dikenal sangat profesional. Dia
pernah duduk sebagai senior auditor pada kantor akuntan Drs. Hadi Susanto
&& Co. Antara tahun 1990 hingga 1996 menempati posisi direktur pada PT
Lippoland Development, dan sebelum ditunjuk menjadi Dirut BEJ selama
beberapa tahun dipercaya sebagai direktur utama pada PT KSEI.
Setelah memimpin BEJ dia mulai merasakan bahwa waktunya dalam sehari
semakin singkat saja. Sejumlah hobinya seperti memancing dan jogging mulai
jarang disentuh. Dia memang berobsesi agar BEJ bisa setara dengan
bursa-bursa penting lainnnya di dunia. Kepada emiten-emiten kecil, yang
kebetulan adalah usaha kecil menengah (UKM) yang sedang sakit, coba
diperbaiki kinerjanya sebab tidak semua mereka itu jelek. Polesan
diperlukan agar bursa tetap memiliki daya pikat terhadap investor.
Pemberian bantuan dirasakan pula sebagai dukungan terhadap keputusan
politik pemerintah yang ingin memberikan perlindungan kepada UKM. Kepada
emiten kecil yang kurang beruntung atau tidak prospektif, Erry menyebutkan
mereka tidak bisa diperlakukan semena-mena sebab sejatinya sebagai anggota
bursa mereka telah lebih dahulu lolos dalam review yang dilakukan Bapepam
serta seleksi BEJ. Karena itu, dipesakannya agar sebaiknya investorlah
yang lebih selektif agar tidak mudah termakan rumor.
Pesan itu disampaikan Erry terkait pula dengan posisinya sebagai Dirut BEJ
yang harus membantu anggota sekaligus menyehatkan bursa. Karena itu dia
sudah membuang jauh-jauh dari kamusnya tindakan pencoretan perdagangan
saham dari bursa atau delisting. Sekali dicoret, yang menjadi pertanyaan
Erry adalah bagaimana nasib dan keamanan uang investor emiten tersebut.
Bagi dia, setiap perusahaan yang berkinerja baik namun memiliki
keterbatasan modal adalah wajib hukumnya untuk masuk bursa mencari dana
secara tak terbatas. Bukan cuma perusahaan, dicontohkannya, klub-klub
raksasa olahraga seperti sepakbola dan basket maupun restoran di Amerika,
Inggris dan Italia lebih memilih pasar modal untuk mendapatkan dana. Namun
sekali masuk bursa tidak perlu berambisi menjadi emiten blue chips, sebab
di bursa manapun, contohnya di Amerika, dari ribuan emiten paling hanya
beberapa saja yang tergolomg blue chips.
Penyuka mancing dan jogging di hari libur ini menjelaskan pula, jika
pendahulunya telah merintis pelaksanaan good corporate governance maka
adalah tugas ekstranya sekarang untuk menertibkan para manipulator pasar
yang seringkali “menggoreng” harga saham atau melakukan tipuan insider
trading. Kasusnya memang rada abu-abu. Pembuktiannya agak sulit. Walau
demikian, aku Erry, BEJ dan Bapepam tidak diam atas berbagai kasus yang
terjadi. Berdasar pengalamannya, Erry melihat para perlaku sangat canggih
menjalankan aksi jahatnya sehingga tidak mudah diungkap.
”Kita sadar ada kelemahan di sini, tetapi susah untuk mengungkapkan dan
membuktikannya,” kata Erry. Untuk mengatasi kesulitan itu BEJ dalam jangka
pendek akan bekerja lebih erat dengan Bapepam, sekalian meperbaiki
peraturan yang ada. Juga akan aktif melakukan sosialisasi kepada para
pelaku, dan konsistens memberikan sanksi.
Jika terbukti melakukan insider trading Erry berjanji harus ditangkap
tidak peduli lokal atau asing, karyawan, menteri dan siapa pun. ►ti/haposan
tampubolon ***
Erry Firmansyah, Masih Punya Banyak PR
Rabu (2/1/2007) ini merupakan hari perdana perdagangan saham Bursa Efek
Indonesia tahun 2008. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan
membuka perdagangan saham perdana itu.
Seremoni mengundang para pejabat negara ke lantai bursa sudah dimulai
sejak 2004 dengan kunjungan Presiden Megawati Soekarnoputri untuk
menyaksikan langsung pembukaan perdagangan perdana saham di Bursa Efek
Indonesia (BEI), yang sebelumnya bernama Bursa Efek Jakarta (BEJ).
Pembukaan kali ini lebih istimewa karena merupakan perdagangan perdana
bursa baru. BEI merupakan penggabungan Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek
Surabaya dan baru efektif awal Desember 2007. Pada hari ini juga akan
diresmikan logo baru dari bursa baru itu, yang merupakan hasil dari
4.000 usulan logo.
Salah seorang yang turut membidani lahirnya bursa baru adalah Erry
Firmansyah, Direktur Utama BEJ dan saat ini menjabat Direktur Utama BEI.
"Bursa baru ini lebih banyak tantangannya karena lebih banyak produk.
Lihat rambut putih saya, rasanya bertambah banyak," ujarnya.
Produk BEI lebih banyak karena memang kedua bursa memiliki "barang
dagangan" berbeda. BEJ dengan sahamnya dan BES dengan obligasinya. Ayah
dari dua anak ini mengatakan, kesibukannya itu membuatnya sudah satu
tahun tidak dapat menyalurkan hobi memancing di laut lepas.
Penggabungan kedua produk utama bursa serta peningkatan harga saham dan
obligasi sepanjang tahun 2007 menggelembungkan kapitalisasi pasar bursa
menjadi lebih dari Rp 2.500 triliun, jauh melebihi simpanan dana pihak
ketiga perbankan yang per Agustus Rp 1.400 triliun.
Dana masyarakat sekarang lebih banyak tersedot ke pasar modal
dibandingkan ke perbankan. Maklum, tingkat suku bunga tabungan dan
deposito makin menciut, sementara imbal hasil di pasar modal lebih
menjanjikan walaupun risikonya jauh lebih tinggi.
Bukan orang baru
Erry bukan orang baru di lingkungan pasar modal. Setelah lulus sarjana
akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia tahun 1981, ia sempat
bekerja sebagai akuntan pada kantor akuntan Drs Hadi Sutanto.
Selanjutnya pindah ke Grup Lippo dan menjadi direktur tahun 1998.
Setelah berkiprah sebagai pengurus emiten—perusahaan yang mencatatkan
sahamnya di bursa—Erry kemudian menjadi regulator dari para emiten
dengan menjadi Direktur Utama Kustodian Sentral Efek Indonesia.
Ajang pemilihan direksi BEJ diikutinya tahun 2002. Akhirnya, ia terpilih
sebagai Dirut BEJ menggantikan Mas Achmad Daniri, hingga dua periode
jabatan. Pada masa transisi bursa hasil penggabungan ini, Erry
Firmansyah terpilih kembali dalam jajaran direksi pertama BEI.
Pembicaraan mengenai pasar modal juga tidak jauh dari kehidupan Erry dan
keluarga besarnya. Erry bukanlah satu-satunya di keluarga Firmansyah
yang menjabat sebagai direktur sebuah perusahaan.
Adiknya, Rinaldy Firmansyah, adalah Direktur Utama PT Telkom Tbk yang
merupakan emiten berkapitalisasi pasar terbesar di BEI. Adiknya lagi,
Evi Firmansyah, baru saja dilantik sebagai Wakil Direktur Utama Bank
Tabungan Negara (BTN).
"Selain mereka, ada kakak saya yang menjadi dosen," katanya. Beberapa
tahun lalu, Telkom yang juga tercatat sahamnya di Bursa Efek New York
terlambat menyampaikan laporan keuangannya, yang merupakan kewajiban
emiten. "Ketika ketemu Rinaldy di rumah, saya tanya kenapa laporan
keuangan bisa terlambat," ujar Erry.
Pada saat itu Rinaldy merupakan direktur keuangan Telkom. Apa juga
bertanya tentang aksi korporasi?
"Wah…, tentu tidak, tidak boleh. Itu namanya insider trading," katanya.
Di pasar modal ada aturan ketat yang menyatakan, pihak-pihak terafiliasi
dengan emiten dan mengetahui informasi orang dalam dan menggunakan
informasi tersebut untuk bertransaksi saham dapat dikenakan sanksi.
Sanksi dapat berupa pidana atau denda cukup besar, maksimal Rp 15 miliar.
Pihak terafiliasi termasuk anak, istri, suami, kakak, atau adik.
Menurut Erry, tidak ada resep khusus dari orangtua yang menjadikan
anak-anak dalam keluarga Firmansyah memiliki karier cemerlang. Ibunya
mendidik mereka biasa saja seperti kebanyakan keluarga lainnya. "Kalau
saat belajar ya harus belajar, kalau waktunya main ya boleh main,"
katanya.
Sang bunda, Hajjah Hasniar, yang lahir di Solok 17 April 1929, baru saja
menghadap Penciptanya 12 Desember lalu pada usia 78 tahun. Erry
menghabiskan masa kecilnya di daerah Jalan Ciawi, Kebayoran Baru.
Ketoprak Ciragil yang tak jauh dari rumahnya merupakan makanan
favoritnya.
Sebagai orang yang mengetahui seluk-beluk pasar modal, Erry juga
memanfaatkan imbal hasil tinggi di pasar modal dengan berinvestasi pada
reksa dana. Direksi dan karyawan BEI dan badan regulator lainnya
dilarang berinvestasi langsung pada saham karena berpotensi benturan
kepentingan antara fungsi sebagai regulator dan investor.
Bursa merupakan garis depan regulator yang mengetahui sepak terjang
emiten, baik aksi korporasi maupun aksi buruk. "Istri saya yang mengatur
investasi keluarga pada reksa dana," ujarnya. Sementara almarhumah
ibunya, menurut Erry, secara konservatif berinvestasi pada emas.
Target investor
Semakin banyak keluarga yang berinvestasi di pasar modal merupakan salah
satu program kerja Erry sejak ia menjabat Dirut BEJ tahun 2002.
Targetnya tidak muluk-muluk, hanya 2 juta investor perorangan hingga
akhir 2008.
Namun, pada kenyataannya, beberapa tahun sudah berlalu, tapi angka itu
belum tercapai. Ternyata tidak mudah menjaring 2 juta orang.
Belakangan, optimisme Erry meningkat seiring banyaknya produk pasar
modal yang dapat diakses investor perorangan dengan nilai minimal
investasi rendah.
"Saya berani klaim, saat ini jumlah investor perorangan mencapai satu
juta orang. Itu termasuk yang berinvestasi pada saham langsung, membeli
obligasi melalui Obligasi Ritel Negara Indonesia (ORI), atau secara
tidak langsung melalui reksa dana atau unitlink asuransi," ujarnya.
Jumlah 2 juta orang ini tentu sangat kecil jika dibanding total penduduk
yang mencapai lebih dari 220 juta orang. Membaiknya kinerja pasar modal
sering dituduh tidak menyumbangkan apa-apa terhadap sektor riil. Erry
menampik anggapan ini.
"Orang dengan gampang bilang indeks tumbuh, tapi sektor riil tidak
tumbuh. Tapi, kita lihat sekarang, berapa belanja modal Telkom, berapa
belanja modal Astra. Lihat saja berapa banyak orang yang memakai hand
phone, berapa banyak kios penjual pulsa menjamur. Tempat cuci motor
tumbuh, bengkel juga tumbuh. Itu semua sektor riil," katanya.
Emiten di BEI hanyalah 340-an dibandingkan ribuan perusahaan yang belum
masuk bursa. "Jangan dikatakan bisa langsung menunjukkan pertumbuhan
sektor riil. Pertumbuhan sektor riil dari pasar modal pasti ada, tapi
jika indeks tumbuh 50 persen tidak mungkin sektor riil tumbuh 50 persen
juga," katanya lagi.
Tahun ini, indeks saham melesat 52 persen. Erry juga tidak ingin
menggantungkan perkembangan pasar modal dengan peningkatan jumlah emiten,
melainkan dengan mengeluarkan produk-produk derivatif. Pengalaman pahit
sudah dirasakan, sukarnya mengembangkan produk derivatif seperti kontrak
opsi saham dan indeks LQ 45 Futures.
"Ketika produk derivatif diluncurkan, perusahaan sekuritas anggota bursa
awalnya memiliki komitmen. Karena saham tumbuh signifikan, sekuritas
tidak mau pusing berusaha mensosialisasikan derivatif ke nasabah,"
keluhnya. Selain itu juga ada dikotomi bursa mana yang boleh
mengeluarkan produk derivatif, BEJ atau BES.
"Sehingga kita gamang dan rebutan pasar. Akhirnya tidak 100 persen total
untuk produk itu. Selain itu juga komitmen dari perusahaan efek anggota
bursa serta sosialisasi yang akan kita perbaiki ke depannya," ujar Erry
menyampaikan pekerjaan rumah yang harus dia selesaikan. (Joice Tauris
Santi, Kompas, 2 Januari 2008) ►ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|