|
==
1
2 3 4 ==
Erros Djarot (2)
Ketika Elit Politik Menomorduakan Rakyat
Ketua Partai Nasional Banteng Kemerdekaan (PNBK)
Erros Djarot yakin partainya akan meraih suara yang cukup berarti dalam
Pemilu 2004. Keyakinan itu didasari keberadaan partainya yang memahami
persoalan dan penderitaan rakyat, sehingga dapat menyodorkan solusi yang
benar-benar dibutuhkan rakyat.
Kepada Yayat Suryatna dan Mangatur Lorielcide Paniroy dari
TokohIndonesia DotCom, Erros Djarot mengutarakan banyak hal, termasuk
mengenai pendirian politiknya yang ingin selalu dekat dengan rakyat
kecil. Juga mengenai kesiapannya menjadi presiden. Berikut petikannya:
Bagaimana Anda bisa berseberangan dengan Megawati,
padahal dulu dikenal begitu dekat dan akrab?
Ah, itu masa lalu tidak usah dibicarakan, yang
penting adalah ke depan.
Menurut pendapat Anda, apa yang menjadi persoalan
penting sekarang ini?
Saya rasa seluruh warga bangsa merasakan adanya suatu
situasi yang tidak sinkron antara apa yang dikerjakan dan apa dilakukan
oleh para pendiri Republik dengan realita sekarang, yang seharusnya
membangun Indonesia Raya yang benar-benar raya.
Apa yang dimaksud dengan Indonesia Raya yang
benar-benar raya dan mengapa itu belum terwujud?
Salah satu penyebab kegagalan itu menurut saya,
karena selama ini para elit politik yang menjadi pusat perhatian,
sedangkan keberadaan rakyat ini dinomorduakan. Padahal fatsoen
dari seluruh kinerja politik untuk mencapai Indonesia Raya yang benar
raya harus didasari oleh pemahaman bahwa di kekuatan rakyat yang
berdasarkan kesatuan dan kesadaran rakyatnyalah Indonesia bisa mencapai
puncak.
Jika visinya adalah membawa Indonesia mencapai
Indonesia Raya, maka misinya adalah bagaimana kita mengembangkan
masyarakat Marhaenis dengan langkah awalnya membebaskan masyarakat kaum
Marhaen dari statusnya yang sekarang terpinggirkan. Jadi perberdayaan
masyarakat Marhaen atau dalam istilah lain adalah kaum dhuafa atau
lapisan bawah untuk bisa keluar dari kehidupan dan meningkatkan kualitas
hidup lebih kaum Marhaenis.
Jadi kaum marhaenis itu diasumsikan sebagai mereka
yang sudah pisah dan membebaskan diri dari tekanan unsur apapun dan
sudah tidak lagi berada dalam wilayah yang dihisap atau ditindas.
Membebaskan orang-orang yang ditindas ini adalah salah satu misi yang
diemban. Artinya pemberdayaan rakyat untuk menjadikan Indonesia Raya.
Tujuan akhirnya adalah kemakmuran bagi rakyat Indonesia berdasarkan
ajaran para pendiri republik ini, khususnya Bung Karno.
Siapa yang dimaksud sebagai kaum Marhaen itu?
Kaum Marhaen atau Marhaenisme adalah sebuah sebutan
untuk rakyat kecil. Saya melihat bahwa bangsa kita adalah bangsa yang
Marhaen, karena bangsa kita belum bisa berdiri sendiri dan masih terikat
dengan ketergantungan global. Di dalam wilayah negara kita juga masih
terdapat sejumlah besar kelompok masyarakat yang termarginalkan dan
belum tersentuh dengan pembangunan. Walapun ada di antara mereka sebagai
pelaku pembangunan namun hanya sebagai objek.
Marhaen itu tidak berdasarkan latar belakang suku,
agama, ras, dan etnis. Marhaen sebagai istilah yang digunakan Bung Karno
kepada masyarakat kecil. Jadi bukan sebuah segmentasi dalam masyarakat
atau elemen masyarakat tertentu, tetapi bersifat umum. Dengan keadaan
masyarakat dan bangsa yang seperti ini, maka masih bisa dikatakan bangsa
kita adalah bangsa Marhaen.
Apakah dengan alasan tersebut Anda mendirikan partai
baru?
Salah satu alasan saja. Sebab, partai lain yang
mendapat suara memadai dan memiliki wakil di lembaga perwakilan ternyata
tidak cukup peka mendengar suara rakyat. Harus ada perubahan di masa
depan, dan yang paling memungkinkan serta paling demokratis untuk
meningkatkan kesejahteraan rakyat adalah dengan pembentukan partai.
Dalam pengamatan saya, rakyat Indonesia dewasa ini
telah sadar untuk memiliki sebuah buku catatan kecil yang setiap hari
dibawa dan disimpan dalam bajunya. Secara diam-diam, setiap hari mereka
mencatat perilaku para pemimpin dengan pena yang berujung mata hati dan
batinnya. Tinta yang digunakan adalah keringat dan darah penderitaan
yang ditimbulkan oleh perilaku pejabat dan pemimpin yang korup.
Sementara cara menulisnya dilakukan dengan iringan zikir dan doa
keseharian dalam melaksanakan kerja mencari nafkah untuk menghidupi anak
dan istri atau suaminya.
Secara tegas PNBK akan mengambil sikap sebagai lawan
dari musuh-musuh rakyat. Dalam bentuk yang lebih abstrak, musuh utama
bangsa ini adalah kebodohan dan kemiskinan struktural. Para pelaku
pembodohan dan pemiskinan rakyat harus disingkirkan.
Apa alasan perubahan nama partai?
Alasan kenapa PNBK yang dahulu disebut Partai
Nasionalis Bung Karno menjadi Partai Nasional Banteng Kemerdekaan,
karena menurut undang-undang kepartaian dilarang untuk setiap partai
menggunakan nama orang dalam nama partainya. Undang-undang itu dibuat
oleh orang-orang dari berbagai partai pemenang Pemilu yang berada di DPR.
Saya tidak tahu, mungkin ada orang yang merasa terancam sehingga jika
nama partai itu akan menjadi populer dan perolehan suara terhadap partai
kami menjadi signifikan. Namun dalam kenyataannya nama Bung Karno masih
populer. Tetapi justru kami tidak pernah menggunakan pendekatan itu
untuk menarik massa.
Siapa yang menjadi anggota atau konstituen PNBK?
Yang menjadi konstituen dan masa potensial bagi PNBK
adalah sangat terbuka bagi kami, terlebih dengan kedaaan saat ini. Akan
banyak orang yang akan mengalihkan suaranya dari partai-partai pemenang
Pemilu 1999. Penurunan suara itu akan sangat signifikan terhadap
penerimaan suara partai-partai besar. Tetapi itu semua tergantung juga
dari dinamika politik. Tetapi kecenderungan itu akan terlihat di dalam
Pemilu mendatang.
Dari istilah nama terkesan PNBK sebagai partai kaum
nasionalis?
Kalau dikatakan PNBK adalah untuk kaum nasionalis,
itu yang mau saya luruskan di sini. Kalau tidak, kita akan jatuh ke
sebuah dikotomi tentang siapa yang nasionalis dan siapa yang agamais.
Sedangkan Bung Karno sudah mengingatkan agar waspada terhadap pemikiran
yang salah tersebut. Bagi saya orang yang beragama itu pasti ia adalah
nasionalis.
Contohnya seperi tokoh-tokoh bangsa kita seperti Kiai Wahid
Hasyim, Agus Salim, dan Sjahrir mereka adalah orang yang beragama tetapi
nasionalis. Namun dalam konteks politiknya memiliki perbedaan. Bung
Karno ia adalah nasionalis Marhaen.
Jadi nasionalis yang diajarkan oleh para pendiri
Republik kita ini, khususnya Bung Karno yaitu bahwa nasionalisme adalah
perekat Bangsa Indonesia. Bukan seperti pengertian nasionalisme yang
telah direduksi oleh orang-orang yang tidak mengerti sekarang ini yang
seolah-olah jika disebutkan kaum nasionalis sudah pasti tidak agamais,
kemudian juga sebaliknya jika disebut kaum agamais berarti tidak
nasionalis. Jadi, saat ini ada anggapan nasionalis itu berhadapan dan
berseberangan dengan agama, dalam hal ini agama Islam. Itu berarti
nasionalis yang kabur dan aneh sehingga disamakan nasionalis itu sebagai
sekuler.
Pemahaman ini terjadi dikarenakan kurang mengerti
akan sejarah bangsa. Bung Karno sendiri belajar banyak di “pesantren”.
HOS Cokroaminoto yang membuat ukiran baru dalam sejarah politik di
Indonesia yang sangat nasionalis. Gerakan kebangsaan dimulai dari beliau
yang adalah orang Muslim. Jadi mereka yang sekarang melakukan dikotomi
itu, pasti mereka tidak tahu terhadap sejarah perjuangan bangsa dan
sejarah kebangsaan Indonesia.
Bagaimana pendapat Anda terhadap pencalonan presiden
yang sedang marak saat ini?
Sementara rakyat masih dalam kondisi yang serba sulit
dan gamang dalam menghadapi masa depan, harga-harga melambung naik,
biaya pendidikan menjadi selangit, bukannya para pemimpin itu memberikan
arahan yang jelas atau sebuah enlightment kepada rakyat, malah
hanya sibuk untuk memperebutkan bangku nomor satu negara ini. Apakah
kelakuan yang seperti ini secara moral dibenarkan? Partai politik
seharusnya berperan sebagai wadah pemberi motivasi kepada masyarakat.
Politik itu sebenaranya sebagai kanal alat
penerjemahan kehendak kebudayaan bangsa. Politik adalah salah satu
komponen demokrasi, tetapi bukan sebagai segala-galanya. Tetapi kalau
kita sendiri tidak bisa mengidentifikasi kehendak kebudayaan bangsa,
maka bangsa ini tidak akan pernah sampai pada tujuannnya. Itulah
kesalahan para politisi kita yang gagal dalam membawa bangsa ini, karena
tidak mengerti kehendak kebudayaan bangsa kita, yang sesungguhnya sudah
tercermin di dalam Pembukaan UUD 45. Itulah kehendak kebudayaan bangsa.
Strategi apa yang Anda lakukan dalam upaya
perberdayaan publik, tertutama menjelang Pemilu?
Pemilu itu adalah satu momentum di mana suara rakyat
diarahkan ke sebuah pilihan titik. Selama ini kita berorientasi kepada
titik itu, bukan kepada prosesnya, pengutannya, dan pasca Pemilu yang
tidak pernah dipikirkan. Ini berarti kemenangan partai tidak diimbangi
dengan pemberdayaan konstituennya. Partai yang seperti ini hanya akan
menjadi partai bagi pengurusnya saja. Artinya, fungsi partai sebagai
wadah aspirasi politik rakyat, sebagai lembaga pendidikan politik rakyat
terbentur oleh kepentingan pengurusnya.
Langkah kongkrit apa yang dilakukan PNBK dalam
pemberdayaan publik?
Pertama menata infrastruktur partai sebagai sebuah
instrumen partai politik. Kemudian menata sistem, karena sistem yang
memungkinkan partai itu dibangun dengan sebuah kerangka dasar yang kuat.
Di PNBK setiap oarang yang ingin masuk menjadi
anggota DPRD harus membuat kontrak dalam bentuk tertulis di atas materai.
Kontrak politik itu berisi tentang perjanjian bahwa setiap anggota DPRD
dari PNBK wajib untuk setiap bulan memberikan laporan pertaggungjawaban
tertulis kepada publik atau konstituennya.
Jika dalam 2 kali kesempatan tidak melakukan hal
tersebut, anggota DPRD yang bersangkutan akan menadapat teguran keras.
Dan jika dilakukan untuk ketiga kali maka ia akan di-recall.
Sistem yang seperti itu membuat rakyat selalu terlibat, karena akan
ditanyakan, “Uang Bapak dari mana, baru setahun sudah punya mobil tiga
dan rumah di situ atau di sini?”. Maka masyarakat dapat mengamati
kinerja wakilnya, dan rakyat itu terberdayakan bukan terperdayakan.
Bagaimana dengan akses politik yang selama ini
diabaikan?
Karena PNBK adalah partainya rakyat, sehingga harus
ada jalan bagaimana rakyat mempunyai akses ke partai, baik secara formal
maupun informal. Yang formal kita lakukan kaderisasi dari institusi ke
bawah. Sedangkan yang informal melalui pemberian pemahaman kepada
seluruh fungsionaris untuk melakukan sosialisasi ke tingkat bawah.
Contohnya, jika di sebuah rumah susun PNBK membentuk majelis taklim,
bila ada yang ikut serta, tidak harus berasal dari PNBK, dari mana saja
dapat diterima.
Saat ini seluruh partai bicara dengan pemahaman
chauvinisme, dan ini adalah pembodohon rakyat. Seluruh kekacaaun ini
terjadi oleh karena ketidakpahaman batin bangsa Indonesia itu yang
seperti apa? Wadahnya itu seperti apa? Contohnya, dalam memahami
demokrasi yang seringkali begitu sempit. Setiap pendekatan-pendekatan
yang kita lakukan dikatakan hasilnya lama, tetapi kata saya daripada
tidak sama sekali, berarti tidak akan pernah ada hasil sama sekali.
Karena waktu 10 tahun itu sebentar kalau kita melakukan pendidikan
secara intensif dan jika seluruh partai politik menjadi kompak.
Sekarang ini sederhana saja. Katakan untuk bisa masuk
5 besar itu semua partai memiliki kesempatan yang sama. Ada istilah
partai baru adalah partai kecil. Dalam kasus ini, saya katakan tidak.
Sebab yang baru belum tentu kecil dan yang besar tidak akan selamanya
besar. Itu dalam pengertian aksiomatif. Tapi kalau yang baru tidak
tambah kecil itu kondisional-situasional. Tetapi kalau berlaku
terus-menerus dan umum, yang besar tidak selamanya besar. Jadi jika ada
partai penguasa saat ini yang masih menarget 45 persen penerimaan suara,
itu tidak realistis dan tidak memahami struktur batin masyarakat dan
stuktur politik.
Pada masa lalu 90 persen dikendalikan dan ditekan
oleh penguasa, karena yang punya uang hanya Golkar. Sekarang semua
partai-partai punya uang, saya sih tenang-tenang saja. Saya hanya
menggunakan hati nurani.
Apa yang membuat Anda begitu percaya diri?
Saya tidak percaya diri, tetapi saya diyakinkan oleh
keadaan untuk hanya berpikir seperti itu, tidak yang lain. Sekarang coba
tanyakan kepada para supir-supir bis, pedagang-pedagang dan atau siapa
sajalah yang ada di jalan. Jika ada di antara mereka yang masih memilih
partai yang sekarang berkuasa, saya berhenti menjadi ketua partai. Kalau
partai yang baru sulit untuk menjadi besar, tetapi bukan berarti tidak
mungkin, sedangkan yang besar untuk menjadi besar lagi itu baru tidak
mungkin. Sekarang tinggal siapa yang paling bisa memberi hati kepada
rakyat.
Orang bisa berkata, “Pak Erros, bagaimana bikin
partai kan Bapak tidak punya uang?” Siapa yang punya uang? Itu
bukan uang saya. Itu adalah titipan kepada orang banyak. Di belakang
saya ada masyarakat yang masih memiliki nurani. Seperti perayaan HUT
PNBK di Semarang yang begitu besar. Saya sama sekali tidak membayar apa
pun. Saya memilih Semarang bukan Jakarta karena saya tidak mau bermain
di politik opini, seolah-olah hebat dan besar tetapi sehari kemudian
menghilang.
Saya buat HUT tersebut selama 4 hari di Semarang, di
tenda-tenda dengan suasana kerakyatan yang tinggi. Kalau di Jakarta
diadakan di Stadion Senayan atau di hotel-hotel, sehari langsung selesai.
PNBK mau lebih membumi. Jika menggunakan politik opini melalui koran
yang hebat, itu kan pembacanya hanya 10%-15%, tetapi jika
menggunakan koran-koran seperti Lampu Merah, Rakyat Merdeka, dan yang
lain-lain, itu adalah koran-koran yang dibaca 80% rakyat. Kemudian di
Jakarta itu pengaruh kepada masyarakat kurang signifikan, karena Jakarta
itu pasarnya abu-abu dan masyarakatnya tidak punya ruang kotemplasi.
PNBK kini sudah ada di 27 propinsi tanpa mengunakan
iming-iming uang atau tawaran apa pun. Yang kami tawarkan hanya
metodologi. Saya percaya 1/3 dari partai besar belum tentu menang dari
PNBK. Saya seorang ketua umum yang sering berkunjung ke
kecamatan-kecamatan bukan ke hotel-hotel. Saya sering berjalan-jalan di
malam hari berbicara dengan rakyat. Pagi-pagi sering mengobrol dengan
ibu-ibu di pasar, dan bagi saya itu tidak menjadi masalah.
Pemimpin partai yang seperti apa yang ada dalam benak
Anda yang mampu menjadi pemimpin bagi bangsa ini?
Terlebih dahulu ia harus memahami visi dan misi
bangsa ini. Seperti apakah yang diinginkan oleh para pendiri republik
ini? Dan seharusnya seorang pemimpin itu harus mampu menerjemahkan hal
itu ke dalam visi dan misi partainya, serta harus memahami betul konteks
hari ini adalah “National Character Building” yang seperti apa karakter
bangsa ini atau sifat jiwa, roh dan tubuh bangsa ini.
Ini harus bisa diterjemahkan. Kalau tidak, akan
seperti yang terjadi sekarang ini. Kita berlomba belajar dari luar
negeri, dari sini dan sana, kemudian yang ditemukan adalah voting,
kemudian sekan-akan dijadikan kebanggaan demokrasi, tetapi yang terjadi
apa? Karena tidak adanya kritik politik yang subtansif. Contohnya,
setiap pemilihan gubernur dan bupati, siapa yang mampu membayar 50% plus
1 dari anggota DPRD pasti bisa menang.
Sedangkan yang ada dalam pikiran Bung Karno adalah
kita bangsa Indonesia dapat mengalami suatu proses sehingga memahami dan
menemukan demokrasinya. Dalam hal ini Bung Karno menyebutnya
sosio-demokrasi dan sosio-nasionalis yang lahir dari proses empirik dan
perjuangan.
Jika seorang pemimpin tidak memahami suasasa batin
rakyat dan bangsanya, mana bisa ia memimpin rakyat dan bangsanya, sebab
ia tidak mengenal bahasa rakyatnya, tidak mengenal mimpi bangsanya. Mana
bisa memimpin.
Apakah itu pula alasan Anda hengkang dari PDIP?
Masa lalu bagi saya hanya sebuah kecelakan sejarah,
dan pertanggungjawabannya saya buktikan dengan mendirikan PNBK. Bukan
untuk motivasi apa, tetapi saya melakukan dengan pendekatan idiologi
bukan semata-mata kekuasaan. Karena bagi saya kekuasaan itu adalah
sebuah akibat.
Saya mau berpikir sebagai seorang politisi yang
memperjuangkan kerakyatan dan tidak mengenal karir dalam politik. Jadi
kekuasaan atau jabatan yang dibebankan hanya adalah sebuah amanah. Kalau
kita bekerja dengan baik pasti rakyat akan melihat. Untuk apa
menggunakan “konvensi-ria”. Itu hanya alat kampanye dan hanya
menghabiskan uang saja. Apakah itu pembelajaran ataukah pembusukan
kepada rakyat?
Pandangan Anda tentang Konvensi seperti dilakukan
Partai Golkar?
Menurut saya, mulailah jujur pada diri sendiri, bahwa
ini adalah kampanye terselubung, bilang saja begitu, untuk menjalin
legitimasi partai yang dahulu sebagai representasi Orde Baru dengan
segala kejahatan politik dan ekonominya. Kita memaafkan dalam kaitan
hubungan sosial, hubungan antarmanusia. Tetapi pertanggungjawaban
politik dan hukum tidak mungkin hanya sekadar memaafkan begitu saja,
harus ada mekanisme pertanggungjawaban yang diatur.
Bangsa ini tidak mengenal pertanggungjawaban dan
akhirnya seperti ini. “Yang korupsi ya sudahlah, nggak enak dia
sudah begini dan begitu”. Sehingga setiap kali pejabat korupsi dimaafkan
dan terus dimaafkan, dan tidak pernah berakhir. Saya sih tidak
ingin menjadi ketua umum seperti itu. Saya bilang, janganlah berdoa saya
jadi presiden, kasihan kalian teman-teman dekat saya ini. Jangan-jangan
nanti ada orang yang berusaha menyogok saya, saya suruh untuk ditangkap.
Itu baru mencoba menyogok saja sudah harus ditangkap masuk penjara,
apalagi kalau sudah menyuap.
Itu juga saya buktikan ketika saya berada di wilayah
kekuasaan, di mana saya ikut serta dalam pengawasan BPPN bekerja, ikut
juga aktif di BUMN. Kalau ditanya kepada mereka sekarang apakah pernah
Erros Djarot menerima uang? Kenapa saya bisa bersuara lantang seperti
ini, orang ‘kan bersuara lantang karena dasarnya dia tidak kotor.
Bagaimana pendapat Anda tentang agenda reformasi?
Bagi saya reformasi tidak pernah terjadi, masih
tersembunyi. Sekarang yang terjadi adalah kebangkitan Orde Baru
menggantikan yang namanya kematian reformasi.
Intinya satu. Apakah Anda percaya dengan demokrasi?
Itu saja. Sebab saya percaya hanya dengan bendera demokrasilah bahwa
negara --secara empirik dibuktikan juga-- menghasilkan kemakmuran yang
lebih merata. Dan ada check dan balance, atau keseimbangan
equabelirium, hanya jika melalui demokrasi. Kemudian apa sih yang
menjadi subtansinya? Yaitu kedaulatan rakyat.
Tampaknya sekarang apatisme rakyat mulai meninggi,
bagaimana pendapat Anda?
Itu sih terlalu didramatisir. Coba jika Anda
seorang tokoh partai. Saya juga orang partai kadang-kadang ngga
suka dengan partai, dalam pengertian yang hari ini. PNBK partai baru
kan? Saya dipanggil politisi, aduh itu rasanya rendah sekali ya, lebih
bagus disebut budayawan, itu saya bisa lebih bangga. Tetapi ini tugas
yang harus saya jalankan. Karena politisi kelakuannya rusak, siapa yang
tidak malu jadi politisi? Kita harus mengubah itu. Bagaimana caranya?
Yaitu ketika seorang politisi mendapat tugas dari negara, ia harus
berubah dari seorang politisi menjadi seorang negarawan. Jangan lembaga
kenegaraan direduksi oleh orang-orang politik dengan bersikap sempit dan
membangun oligargi partai. Itu berbahaya.
Jika keadaan bangsa terus seperti ini, akankah kita
mengalami kebangkrutan?
Kita memang sudah bangkrut secara nilai dan secara
fisik. Membangun Indonesia kembali tidak semudah orang membuat pidato.
Tetapi ada tahapan yang harus dijalani. Misalnya saja saat ini kita
berada pada posisi minus untuk mencapai zero saja sudah prestasi,
sedangkan negara lain dari tingkat zero ke atas itu kan
menyedihkan sekali.
Kalau kita minum kopi di Jepang itu tidak mungkin
masuk tenggorokan karena harganya secangkir saja 50 ribu rupiah,
sedangkan jika kita menikmatinya di Yogya, dengan uang sebesar 500
rupiah sudah dapat menikmati kopi yang sama. Jadi jangan terpaku kepada
pola-pola yang mengatakan “pertumbuhan ekonomi kita sekian, tingkat per
kapitanya meningkat”. Tetapi apakah sudah lihat kualitas kehidupan
bangsa sebagai tolak-ukur yang perlu dilakukan. Jadi bukan hanya ekonomi
saja, sosio-ekonomi juga harus diperhatikan.
Sekarang ada fundamental ekonomi yang mulai membaik
yaitu nilai tukar rupiah terhadap dollar menguat, indeks saham gabungan
meningkat, bunga bank terkendali dan baik, candangan kita membaik. Itu
kan di tingkat makro, dan kita tahu uang-uang siapa yang beredar
di situ. Hanya sekelompok orang yang dapat menikmati kesejahteraan itu.
Uangnya hanya berputar di situ-situ saja.
Apakah angka-angka ini ada relevansinya dengan
realita kesejahteraan ekonomi rakyat? Nggak ada. Apa sebabnya?
Nah itu yang kita harus cari. Sebelum para pemimpin bersih dari
orang-orang yang bermasalah, Indonesia tidak akan pernah mendapat
jawabannya. Sebab tidak mungkin bagi orang bermasalah dapat
menyelesaikan sebuah masalah besar yang dihadapi bangsa ini.
Setelah Anda memasuki politik, bagaimana dengan
kebudayaan?
Masuk politik seolah-olah meninggalkan yang lain,
tentu tidak justru malah semakin aktif di kebudayaan. Aspek kesenian dan
kebudayaan membantu kita memahami makna kehidupan. Para politisi tidak
tahu tentang hal itu sebab tidak pernah tahu bagimana menikmati sebuah
lukisan, merdunya musik dan pertunjukan konser. Yang ada dalam pikiran
mereka hanya kursi, kursi, dan kursi saja.
Kegiatan saya sebagai seniman dan budayawan masih
terus berjalan. Saya masih mengarang lagu, menulis cerpen, menulis
skenario. Itu yang membuat saya tidak pernah merasa sepi. Sampai rasanya
seminggu itu kurang bagi saya. Sehingga ada perasaan yang menyenangkan
yaitu menjadi berguna bagi orang lain.
Bagi saya kebudayaan itulah yang membuat seorang
manusia lebih mengenali dirinya, mengenal apa yang di luar dirinya untuk
semakin memperkuat jati diri. Itu yang namanya kebudayaan. Saya akan
terus melakukan ini sampai saya mati, karena itu saya rasakan sebagai
anugerah yang luar bisa dari Tuhan.
Kalau toh suatu hari, entah kenapa semua orang
memilih PNBK dan saya harus menjadi presiden Indonesia, saya pikir hanya
sekali saja. Setelah itu membuat film lagi, membuat musik dan konser.
Kegiatan apa yang Anda kerjakan selain sibuk dalam
PNBK?
Kebetulan saya orang yang suka bergaul dengan banyak
LSM. Selain itu saya suka merancang bisnis, tetapi saya tidak bisa untuk
menjadi direktur utama, mungkin jabatan yang mendekati tepat menjadi
komisaris. Tetapi memang saya melihat diri saya itu tidak berbakat.
Karena saya orangnya tidak bisa menipu, karena seorang bisnis harus bisa
menjilat pejabat, bisa berbohong, bisa membohongi pajak dan menutupi
banyak hal. Banyak teman yang datang kepada saya meminta untuk
konsultasi bisnis, ya saya berikan tanpa biaya dan tarif, hikmanya saya
bisa buat partai.
Tidak ada pemaksaan teman-teman itu memberikan
bantuan kepada PNBK. Tetapi jika waktu itu saya dibayar, ya selesai
sudah. Karena saya membantu dengan sepenuh hati. Banyak dari mereka yang
dahulu saya bantu menjadi sukses, sekarang banyak yang datang. Banyak
partai baru yang lahir kesulitan mengurusi uangnya, karena selama ini
belum pernah membantu orang lain.
Obsesi Anda yang belum tercapai?
Masih banyak impian yang belum tercapai. Terlalu
banyak yang belum saya capai dalam merampungkan mimpi-mimpi saya.
Kegiatan sosial apa yang Anda kerjakan selain di
kesenian dan kebudayaan?
Saya bertemu para Kiai dan mengobrol, tiba-tiba saya
diminta menjadi sesepuh pesantren di Kuningan. Saya tidak mengerti
padahal menyumbang uang pun tidak. Tetapi karena ia senang saja dengan
karya-karya tulisan saya. Dari situ hubungan saya menjadi dekat. Selain
itu juga masih menjalin komunikasi dengan rekan-rekan perfilman
nasional.
Pendekatan apa yang Anda lakukan dalam menjalin
hubungan dengan kalangan yang demikian luas itu?
Pendekatan saya adalah mencoba menyelami keadaan
batin bangsa kita. Sikap ini bukan sebuah sikap sok-sokan, sikap ambisi,
bukan itu. Tetapi kondisi masyarakat kita saat ini bukan sedang mencari
seorang presiden. Bangsa ini sedang memikirkan “bagaimana aku besok
hidup? Masa depan anak-anakku nanti seperti apa?” Itu yang sekarang
sedang dipikirkan.
Setiap pemuda yang ada di bangsa ini, saya yakin
tidak akan memilih lagi orang-orang yang ada saat ini. Kalau masih ada
orang yang sehat di bangsa ini pasti tidak akan memilih orang-orang yang
saat ini begitu dikenal. Sebagai pimpinan partai saya juga harus siap,
jika partai saya menang untuk menjadi presiden, jangan pernah tidak siap
menjadi presiden, tetapi jangan juga menjadi berambisi. Hanya tinggal
diberi us semua bisa jadi hancur yaitu ambisius, makanya yang
aman saja.
Apakah ada rencana untuk PNBK mengadakan koalisi?
Pertama, istilah koalisi hanya ada dikenal pada
sistem parlementer. Mungkin yang lebih tepat disebut aliansi strategi
untuk kepentingan penguasa di DPR. Kalau untuk urusan pilih-memilih
presiden, penggabungan dua partai pun tidak menjamin apakah konstituen
kita di bawah akan memilih figur yang sama. Belum tentu. Karena tidak
ada partai yang dari atas mampu memandu konstituennya di bawah.
Contohnya, pimpinannya menyuruh DPD untuk tidak
memilih orang tertentu saja tidak mau, apalagi konstituennya. Dari situ
terbukti bahwa lobby yang ada di atas tidak sampai ke level
bawah. Seperti ada analis yang berharap Golkar dan PDIP bisa berkolaisi,
akan saya tantang. Kalau mereka berkoalisi saya akan tantang, saya pasti
menang. Saya mau berkompetisi dan saya yakin menang. Analisa saya
berbeda. Memang koalisi itu akan kuat tapi hanya di DPR, tetapi untuk
presiden belum tentu. saya lawan dan tantang, bergabunglah dan saya
yakin saya menang.
Seorang presiden harus didukung para menteri. Jika
Anda terpilih jadi presiden, apakah sudah punya gambaran tentang figur
para menteri (kabinet). Apakah Anda cukup mengandalkan orang PNBK?
Kalau saya menjadi presiden apakah saya masih orang
PNBK, tentu tidak. Saya jadi bapaknya orang Indonesia. Dan saya harus
keluar dari partai ini, kalau tidak akan menjadi penyakit lagi. Apakah
kalau PNBK menang saya akan menarik semua orang PNBK? Akan hancur negeri
ini! Memangnya kualitas PNBK sejauh itu, kan tidak juga, jujur saja.
Ambillah yang terbaik.
Tetapi jika saya memilih menteri saya katakan “Jika
kamu memasuki pintu ini, tinggalkan baju kelompokmu, kalau tidak bisa
jangan, sebab jika aku tahu kamu begitu, anak-isterimu aku tanggung,
sedangkan kamu ke Nusa Kambangan.” Harus keras seperti itu, kalau tidak
tidak bakalan jalan republik ini.
Menjadi presiden itu tidak mudah. Tidak bisa
macam-macam.
Menjadi seorang persiden harus mau bekerja sosial berbaur
dengan rakyat kecil. Contohnya membantu anak-anak berprestasi
jalan-jalan ke Eropa, lalu dekat dengan anak-anak yatim piatu, ajak
bersama-sama makan dengan mereka. Soal dana pasti ada. Mengunjungi
pesantren-pesantren yang perlu dibangun. Untuk uang pasti ada, yang
penting tidak korupsi.
Saya menjadi presiden mau ditipu untuk harga? Oh
jangan sampai! Saya tahu harga terasi sampai harga sebuah pesawat
terbang dan bagaimana liku-likunya, saya juga tahu.
Saat ini ada teknologi canggih kenapa tidak
digunakan? Itu baru namanya presiden. Tapi kalau hanya
presiden-presidenan lain. Tetapi kalau saya menjadi presiden “I want
to be a real presiden in a real nation”. Bukan seorang presiden yang
takutnya sama mahasiswa. Kenapa takut untuk dikiritik.
Masa mahasiswa
dianggap musuh? Jangan beraninya dengan mahasiswa, tetapi untuk
menangkapi konglomerat yang bermasalah, para pejahat politik, penjahat
ekonomi, tidak pernah ada solusi. Begitu mahasiswa yang bersalah,
ditangkapnya cepat sekali dan cepat diadili.
Saya hanya mau menjadi presiden rakyat, bukan menjadi
presiden yang kerjanya hanya hanya duduk di istana.
Bagaimana persiapan Anda menjadi presiden
Sebenarnya saya agak malas jika ditanya punya
keinginan menjadi presiden, sebab orang yang punya keinginan untuk
menjadi presiden RI itu pasti mengidap suatu penyakit. Coba bayangkan
dengan 42 juta pengangguran, percepatan lapangan kerja dibandingkan
dengan pertumbuhan, pengangguran lebih cepat. Ini masalah yang sangat
kompleks.
Belum lagi institusi-institusi negara yang tidak karuan. Jadi
kalau ada orang yang masih mau jadi presiden berarti kan orang
sakit atau tidak mengerti masalah. Makanya saya katakan jika ini amanah
saya akan jalankan. Orang tidak pernah mengerti juga. Karena kalau sudah
ambisius dan punya keinginan yang besar mau jadi presiden pasti kan
melakukan segala cara. Itulah yang saya hindarkan.
Saya dibilang orang terlalu idealis. Sama saja ketika
dulu saya mempunyai rencana membuat film Cut Nyak Dien, banyak yang
katakan terlalu idealis, tetapi nyatanya jadi juga filmnya. Begitu juga
ketika saya membangun Detik. Katanya perlu puluhan miliar rupiah tetapi
saya buat hanya dengan ratusan juta saja dan berjalan. Apa kuncinya?
Strong will, komitmen, keteguhan, dan kejujuran. Apapun yang terjadi
tidak apa-apa, yang penting saya sudah berbuat daripada saya mati namun
tidak mempunyai arti, lebih baik mati namun berarti. Apalagi mati
berkali-kali namun tetap tidak berarti juga, lebih baik mati sekali tapi
berarti.
Karena bagi saya tidak pentinglah jabatan-jabatan ini
semua. Pada saatnya ketika sebelum mati, tidak mau saya membayangkan
dosa-dosa saya kepada rakyat. Kalau saya mati, saya telah mengerjakan
pekerjaan saya yang belum selesai. Saya tak mau meninggalkan hutang,
apalagi hutang kepada rakyat. Kalau saya dipanggil saya mau istirahat
dengan damai. Tetapi selama saya hidup saya akan bekerja. Karena sejak
umur 16 tahun saya sudah tidak dibiayai oleh orangtua saya. Apa
pekerjaan yang belum pernah saya kerjakan? Dari kuli bangunan, pedagang
jalanan, bahkan jadi kondektur juga pernah. Jadi kalau saya seperti ini,
itu karena bekerja. Saya bukan dari keluarga orang koruptor.
Tampaknya hidup Anda begitu berwarna?
Itulah proses untuk menjadi seorang pemimpin. Sebab
orang yang tidak pernah mengalami penderitaan tidak akan pernah empati
terhadap penderitaan. Kita bisa maklumi kalau sekarang ini, banyak orang
yang tidak mempunyai empati karena dulunya berasal dari status keluarga
yang terhormat, sehingga tidak sempat berinteraksi langsung dengan
rakyat. Dan, tidak sempat mengadopsi penderitaan rakyat. Kecuali
pendekatan yang sifatnya agak romantis.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |