| |
C © updated
01102003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
|
|
| |
Nama:
Erros Djarot
Lahir:
Rangkasbitung, Banten, 22 Juli 1950
Agama:
Islam
Jabatan:
Ketua Umum DPP PNBK (Partai Nasional Banteng Kemerdekaan)
Isteri:
Anak:
Pendidikan:
Sekolah Teknik Tinggi KOln, Jerman (Tahun 1970)
Sekolah Perfilman, Inggris
Profesi:
Budayawan dan Politisi
Prestasi:
Pemenang “bronze Medal” mewakili Inggris Raya dalam Lomba Photo
Internasional Competition, Nikkon, 1978;
Nominator Mike Burke's Award, BBC documentary Competition, 1979.
Pencita lagu “Badai Pasti Berlalu"
Sutradara Film “Cut Nyak Dhien
Karir Bidang Perss:
Pendiri Tabloid politik 'Detik' (dibredel Rezim Soeharto 21 Juni 1994),
Organisasi :
Kader “barisan Banteng" sebagai fungsionaris Gerakan Siswa Nasional
Indonesia (GSNI) Yogyakarta,
Pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI),
Pendiri Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras)
Anggota Dewan Etik Indonesian Corruption Watch (ICW)
Pendiri LITBANG Partai Demokrasi Indonesia (PDI) ( tahun 1983)
Fungsionaris Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
Pendiri dan Ketua Umum Partai Nasionalis Bung Karno (PNBK) (25 Juli 2002)
Pendiri dan Ketua Umum Partai Nasional Banteng Kemerdekaan (PNBK)
Alamat Kantor:
Jl. Penjernihan I/50
Telp; 5739550-51
|
|
| |
|
|
|
|
==
1
2 3 4 ==
Erros Djarot (1)
Potret Politik Seorang Budayawan
Inilah potret seorang budayawan yang secara sadar ‘menjerumuskan diri’
dalam dunia politik. Pilhan itu didorong pemahamannya tentang suasana
batin rakyat dan bangsanya. Kendati, dalam kondisi perilaku para
politisi saat ini, Ketua Umum DPP Partai Nasional Banteng Kemerdekaan (PNBK)
ini sesungguhnya merasa malu disebut sebagai politisi. Ia jauh lebih
bangga disebut seorang budayawan.
Menurut pemenang lima besar (nominator) Mike Burke’s Award, BBC
Documentary Competition 1979, ini seorang budayawan lebih memahami makna
kehidupan dan suasana batin rakyat. Hal mana aspek kesenian dan
kebudayaan membantu seseorang memahami makna kehidupan.
“Para politisi tidak tahu tentang hal itu sebab tidak pernah tahu
bagimana menikmati sebuah lukisan, merdunya musik dan pertunjukan konser.
Yang ada dalam pikiran mereka hanya kursi, kursi, dan kursi saja,” kata
Erros Djarot, putera bangsa kelahiran Rangkasbitung, Banten, 22 Juli
1950, ini dalam percakapan dengan Yayat Suryatna dan Mangatur Lorielcide
Paniroy dari TokohIndonesia DotCom, Jumat 15 Agustus 2003 di Kantor DPP
PNBK, Jalan Penjernihan I/56, Jakarta.
Menurut mantan Pemimpin Redaksi Tabloid Detik, ini politik itu
sebenarnya sebagai kanal alat penerjemahan kehendak kebudayaan bangsa.
“Politik adalah salah satu komponen demokrasi, tetapi bukan sebagai
segala-galanya. Tetapi kalau kita sendiri tidak bisa mengidentifikasi
kehendak kebudayaan bangsa, maka bangsa ini tidak akan pernah sampai
pada tujuannnya. Itulah kesalahan para politisi kita yang gagal dalam
membawa bangsa ini, karena tidak mengerti kehendak kebudayaan bangsa
kita, yang sesungguhnya sudah tercermin di dalam Pembukaan UUD 45.
Itulah kehendak kebudayaan bangsa.”
Baginya seorang politisi (pemimpin politik) harus memahami suasasa batin
rakyat dan bangsanya. Sebab bagaimana ia bisa memimpin rakyat dan
bangsanya, jika tidak mengenal bahasa rakyatnya, tidak mengenal mimpi
bangsanya.
Keputusannya membentuk partai baru pun didorong keyakinan bahwa dengan
partai yang sesuai kehendak rakyatlah, maka bangsa Indonesia akan maju.
Sementara itu, menurutnya, partai besar yang ada saat ini terlalu sibuk
mengurusi diriya sendiri sehingga lupa dengan tugasnya untuk
memperhatikan suara rakyat, dan membuat keputusan untuk mengakhiri
penderitaan sebagian besar rakyat Indonesia.
Ketika Rezim Orde Baru masih tegak berdiri, Erros Djarot dikenal sebagai
salah satu konseptor berdirinya PDI-Perjuangan. Ia dikenal dekat dengan
Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri. Bahkan, sempat menjadi penulis
naskah pidato Megawati. Namun, kedekatan itu tidak berlangsung lama.
Ketika Megawati terpilih menjadi Wakil Presiden RI, Erros termasuk yang
gencar menyuarakan agar jabatan rangkap antara pimpinan partai dan
pemimpin negara dipisahkan.
Kongkritnya, lelaki berkumis tebal itu meminta Mega melepaskan
jabatannya dari ketua umum partai. Tampaknya, itu adalah pemicu
keretakan dua tokoh tersebut. Akhirnya, Erros mundur dari partai
berlambang banteng gemuk dan kemudian mendirikan partai baru yaitu
Partai Nasionalis Bung Karno (PNBK) kini menjadi Partai Nasional Banteng
Kemerdekaan, juga dengan akronim PNBK.
Namanya sebagai budayawan mulai melambung ketika menciptakan karya musik
monumental “Badai Pasti Berlalu”. Lagu tersebut merupakan soundtrack
untuk film yang berjudul sama pada awal tahun 1970-an. Tahun 80-an,
kembali namanya mencuat setelah berhasil menjadi sutradara film Cut Nya
Dien yang juga monumental. Film itu konon menjadi film Indonesia
termahal pada zamannya dan sekaligus proyek idealis Erros. Fil ini telah
mengantarkan Indonesia untuk pertama kali berkibar di di Festifal Film
Cannes, Perancis, sebuah festifal film internasional paling bergengsi.
Sukses di dunia musik dan film tidak lantas membuat adik dari aktor
Slamet Rahardjo Djarot itu tetap di dunia entertainmen. Tahun 1990-an,
ia malah memasuki dunia jurnalistik dengan menerbitkan Tabloid Detik.
Tabloid ini pun menjadi fenomenal dan merupakan bacaan alternatif yang
menyegarkan sekaligus mencerdaskan. Tapi akhirnya, tanggal 24 Juni 1994,
tabloid yang kerap menyuarakan kritik kepada rezim Orde Baru itu
dibredel.
Ketika nama Megawati memasuki kancah politik nasional, ternyata Erros
ada di lingkaran elite Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Pada saat
terjadi konflik antara Megawati dengan Soerjadi, Erros memilih berada di
belakang Mega hingga akhirnya lahirlah partai baru PDI-Perjuangan dengan
Ketua Umum Megawati Soekarnoputri. Pada Pemilu 1999, PDI-P berhasil
meraih suara terbanyak. Mega pun duduk di kursi wakil presiden dan
kemudian menjadi presiden. Bagaimana dengan Erros? Ternyata ia malah
meninggalkan partai berlambang banteng gemuk itu.
Perpisahannya dengan PDI-P dikarenakan telah terjadinya perbedaan
ideologis, politis, dan moral. Namun, ia enggan mengungkapkan itu lebih
jauh. Ia lebih senang berbicara tentang masa depan dan strategi yang
akan dilaksanakan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Pada tanggal 25 Juli 2002, Erros Djarot mendirikan partai baru bernama
Partai Nasionalis Bung Karno (PNBK). Setelah munculnya undang-undang
yang melarang penggunaan nama dan gambar orang sebagai nama dan gambar
partai. PNBK pun kemudian bermetamorfosis menjadi Partai Nasional
Banteng Kemerdekaan (PNBK).
Bagi banyak orang, nama Erros Djarot lebih dikenal sebagai budayawan
ketimbang sebagai politisi. Karya-karya budayanya banyak beredar dan
mudah diapresiasi masyarakat. Walaupun sebenarnya sejak duduk di bangku
sekolah ia sudah aktif dalam dunia politik sebagai kader ‘barisan
Banteng’ selaku fungsionaris GSNI di Kota Yogya. Aktifitasnya di GSNI
ini tampaknya memiliki andil besar menjadikannya seorang
nasionalis-humanis.
Pada tahun 1970 ia melanjutkan studinya ke Sekolah Teknik Tinggi Koln,
Jerman. Kemudian ia juga belajar di sekolah perfilman di Inggris. Selama
11 tahun ia berada di luar negeri yang membuatnya akrab dengan
pergerakan internasional.
Ketika berangkat ke luar negeri, ia mengaku tidak memiliki dan tidak
dibekali modal. Uang yang dipunyainya hanya 12 dollar. Namun, karena
bekerja keras dan memiliki kemauan untuk maju, maka ia tetap bisa
bertahan hidup dan kembali ke tanah air dengan banyak bekal ilmu dan
pengalaman.
Ketika kembali ke Indonesia, Erros mulai tertarik terjun ke dunia
politik praktis. Tahun 1983 ia mendirikan Litbang Partai Demokrasi
Indonesia (PDI). Tahun 1988 ia sempat menonaktifkan diri dari politik
praktis. Baru pada tahun 1993 kembali aktif ke panggung politik ketika
Megawati Soekarnoputri dicalonkan sebagai Ketua Umum PDI menggantikan
Soerjadi. Sebelumnya, tahun 1983-1986, Erros sempat menjadi dosen di
Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas 17 Agustus.
Setelah tabloid Detik dibredel tahun 1994, Erros ikut mendirikan Aliansi
Jurnalis Independen (AJI). Di penghujung era Orde Baru dan awal era
reformasi ia juga turut mendirikan LSM yang sering melakukan kritik
terhadap pemerintah seperti Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak
Kekerasan (Kontras) dan ICW (Indonesian Corruption Watch).
Malu jadi Politisi
Walaupun kini telah menjadi orang partai, namun kadang-kadang ia merasa
malu dengan predikat politisi itu. “Saya kadang-kadang ngga suka dengan
partai, dalam pengertian yang hari ini. Saya dipanggil politisi, aduh
itu rasanya rendah sekali ya, lebih bagus disebut budayawan, itu saya
bisa bangga. Karena politisi kelakuannya rusak, siapa yang tidak malu
jadi politisi? Tetapi ini tugas yang harus saya jalankan,” katanya.
Lalu ia bertekad harus mengubah itu. Bagaimana caranya? Antara lain,
ketika seorang politisi mendapat tugas dari negara, ia harus berubah
dari seorang politisi menjadi seorang negarawan. Jangan lembaga
kenegaraan direduksi oleh orang-orang politik dengan sikap sempit dan
membangun oligargi partai, itu berbahaya.
Jika suatu hari nanti, misalnya, semua orang memilih PNBK dan Erros
harus menjadi Presiden Indonesia, ia hanya akan menjalaninya sekali saja.
Setelah pensiun akan membuat film lagi, membuat musik, dan menggelar
konser. Sehingga ada perasaan yang menyenangkan yaitu menjadi berguna
bagi orang lain.
Memasuki dunia politik ternyata tidak berarti Erros meninggalkan yang
lain, seperti kegiatan kebudayaan. Baginya, aspek kesenian dan
kebudayaan sangat membantu dalam memahami makna kehidupan. Kegiatannya
sebagai seniman dan budayawan masih terus berjalan, masih mengarang lagu,
menulis cerpen, menulis skenario, walaupun hanya untuk dinikmati sendiri.
Semua kegiatan kebudayaan itu membuatnya tidak pernah merasa sepi.
Sampai-sampai waktu seminggu itu kurang baginya.
Baginya kebudayaanlah yang membuat seorang manusia lebih mengenali
dirinya, mengenal apa yang di luar dirinya, dan untuk semakin memperkuat
jati diri. Ia akan terus melakukan ini sampai mati, karena itu ia
merasakan kebudayaan sebagai anugerah yang luar bisa dari Tuhan.
Selain sibuk di partai, Erros merupakan orang yang suka bergaul dengan
berbagai kalangan termasuk LSM. Ia juga suka merancang bisnis, tetapi
mengaku tidak bisa menjadi direktur utama. Jabatan yang rasanya lebih
pas adalah komisaris. Sebab, ia melihat dirinya itu tidak berbakat
karena tidak bisa menipu. Padahal, menurut pengamatannya, seorang
bisnisman harus bisa menjilat pejabat, bisa berbohong, bisa membohongi
pajak dan menutupi banyak hal. Banyak temannya yang datang meminta
konsultasi bisnis, ya diberikan tanpa biaya dan tarif. Hikmahnya adalah
sekarang bisa buat partai.
Ia juga banyak melakukan kegiatan sosial seperti berkunjung ke pesantren.
Pengalaman yang menarik adalah ketika bertemu para Kiai dan mengobrol.
Tiba-tiba kiai itu memintanya menjadi sesepuh pesantren di Cirebon,
padahal ia tidak mengerti banyak tentang dunia pesantren. Di samping itu,
ia juga tidak memberi sumbangan uang kepada pesantren tersebut. Namun,
karena kiai itu senang dengan karya-karya tulisannya, maka hubungan
mereka pun menjadi dekat.
Kegiatan lain yang masih dilakukan adalah menjalin komunikasi dengan
rekan-rekan perfilman nasional.
Erros juga mengaku masih memiliki banyak impian yang belum tercapai.
Terlalu banyak yang belum dicapai dalam merampungkan mimpi-mimpinya. Ia
juga menganggap jabatan yang disandangnya saat ini hanya sementara.
“Bagi saya tidak pentinglah jabatan-jabatan ini semua. Pada saatnya
ketika sebelum mati, saya tidak mau membayangkan dosa-dosa saya kepada
rakyat. Kalau saya mati, saya telah mengerjakan pekerjaan saya yang
belum selesai. Saya tak mau meninggalkan hutang, apalagi hutang kepada
rakyat. Kalau saya dipanggil saya mau istirahat dengan damai. Tetapi
selama saya hidup saya akan bekerja,” urainya.
Bekerja Keras dan keluarga
Ia memang dikenal sebagai seorang yang punya kemauan bekerja keras.
Erros mengaku telah banyak pekerjaan yang dilakoninya, termasuk kerja
kuli. “Saya pernah jadi kuli bangunan, pedagang di jalan, bahkan jadi
kondektur,” katanya tanpa malu mengakui pekerjaan kasar itu. Dengan
pekerjaan seperti itulah ia bisa memahami dan mendalami perasaan rakyat
saat ini.
Erros mengaku sedih dan tidak begitu suka jika melihat pemuda-pemuda
yang hanya mengandalkan uluran tangan dari orangtuanya. Sikap tersebut
menurutnya ikut andil dalam menyuburkan korupsi. Sebab, orang tua
akhirnya harus mencari pendapatan tambahan untuk menyenangkan hati
anaknya. Maka, “jika bertemu pemuda-pemuda cengeng, ingin saya tempeleng
rasanya,” katanya geram. Ia menunjukkan, kalau dirinya bisa bekerja
keras, maka pasti siapapun juga bisa. Sekarang beranikah untuk tidak
meminta-minta dan menanggung risiko hidup sendiri?
Menurut Erros, bekerja keras itu adalah proses untuk menjadi seorang
pemimpin. Sebab orang yang tidak pernah mengalami penderitaan tidak akan
pernah empati terhadap penderitaan. “Kita bisa maklumi kalau sekarang
ini, banyak orang yang tidak mempuyai empati karena dulunya berasal dari
status keluarga yang terhormat, sehingga tidak sempat berinteraksi
langsung dengan rakyat dan tidak sempat mengadopsi penderitaan rakyat.
Kecuali pendekatan yang sifatnya agak romantis,” ujarnya.
Peran isteri dan anak juga sangat penting. Diakuinya, isterilah yang
membuatnya menjadi seperti sekarang ini. Dituturkannya, sang isteri
percaya kepadanya, mendorong perjuangan dan kiprahnya, serta mampu
menjadi kawan hidup. “Dia teman saya berbicara, dia juga seorang yang
bisa hidup dalam dunia politik.” Istri Erros adalah seorang Doktor di
bidang hukum, yang ketika muda dulu adalah juga orang pergerakan. Jika
Erros aktif di Jerman, istrinya aktif di Prancis. Keduanya bertemu di
luar negeri sebagai sesama aktivis.
Agar sang istri memahami kehidupan rakyat secara utuh, tak segan-segan
Erros menyuruhnya naik biskota, berdesakan dan bergelantungan di dalam
biskota. Semua itu, menurutnya, agar meresapi penderitaan rakyat dan
bukan sekadar tahu dari membaca di berbagai media massa.
Hingga saat ini Erros mengaku kadang-kadang masih suka naik biskota.
Apakah istrinya menolak? Ternyata tidak. Semua itu adalah bagian dari
proses pendewasaan diri dan pengenalan lingkungan secara utuh. Malah,
menurutnya, sang istri sempat berkomentar negatif ketika suatu saat
dirinya membelikan hadiah seperangkat baju dan parfum seharga 3 juta
rupiah. Namun, istrinya tidak menerima hadiah itu dan berkomentar, “Kamu
ini seperti orang gila saja. Yang seperti ini di pasar bisa dapat dengan
harga 75 ribu, kenapa sih buang-buang uang untuk seperti ini?”
Erros mengaku sangat beruntung mendapatkan istri seperti itu. Selain itu,
sang istri pun tidak pernah meminta dirinya untuk membelikan mobil
Mercy, namun cukup Kijang. Istrinya pun, sebagai bekas aktivis, memahami
kehidupan orang partai yang harus bekerja hingga malam dan bahkan tidak
pulang. Tidak ada kecurigaan pada dirinya terhadap hal-hal yang sifatnya
sentimentil. “Dia paham betul kalau saya itu banyak bergadang. Bahkan
ketika pertama dia hamil, saya sedang mengetik untuk majalah Eropa, bisa
sampai jam 3 pagi, jadi sudah terbiasa suasana gerakan. Itulah yang saya
bisa simpulkan, yaitu tidak ada sukses seorang suami itu yang tidak
didukung oleh isteri dan anak-anaknya.”
Dukungan seperti itu membuatnya menjadi tegar. Anak-anak pun sudah
memahami peran dan pekerjaan orangtuanya. “Bagi saya keluarga itu
tonggak di dalam seluruh perjalanan hidup dan karir saya. Kalau keluarga
saya tidak membantu, tidak mungkin saya dapat setegar ini. Jadi peran
keluarga sangat penting dalam menentukan karakter kepemimpinan saya.
Karakter saya sebagai manusia dan karakter saya dalam menjalankan hidup
seterusnya.”
Calon Presiden
Sebagai pimpinan partai ia menyatakan juga harus siap menerima amanah
jadi presiden. “Jika partai saya menang untuk menjadi presiden, jangan
pernah tidak siap menjadi presiden, tetapi jangan juga menjadi berambisi.
Hanya tinggal diberi us semua bisa jadi hancur yaitu ambisius, makanya
yang aman saja,” jelasnya.
Kalau sejarah menentukan dirinya harus menjadi presiden, maka ia akan
jadi bapaknya orang Indonesia. Dan untuk itu harus keluar dari partai
yang dibuatnya. Sebab kalau tidak akan menjadi penyakit lagi. Namun,
tentu tidak semua orang PNBK akan menjadi elite penguasa republik. Kalau
PNBK berbuat seperti itu, menurutnya, akan hancur negeri ini.
Pertimbangannya adalah kualitas PNBK sendiri yang belum sejauh itu.
Ia akan mengambil pembantu yang terbaik. Tetapi jika memilih menteri, ia
akan katakan, “Jika kamu memasuki pintu ini, tinggalkan baju kelompokmu,
kalau tidak bisa, jangan. Sebab jika aku tahu kamu adalah begitu (korupsi
atau mementingkan kelompok), anak-isterimu aku tanggung, sedangkan kamu
ke Nusakambangan. Sikap keras harus ditunjukan, kalau tidak, tidak
bakalan jalan republik ini.”
Namun, ketika menjadi persiden pun tidak mudah. Tidak bisa macam-macam.
Menjadi seorang persiden harus mau bekerja sosial berbaur dengan rakyat
kecil. Contohnya membantu anak-nak berprestasi ajak jalan-jalan ke Eropa,
lalu dekat dengan anak-anak yatim piatu, mengajak bersama-sama makan
dengan mereka. Soal dana pasti ada. Mengunjungi pesantren-pesantren yang
perlu dibangun.
Ia juga akan menggunakan teknologi canggih untuk memonitor kinerja
menterinya. Itu baru namanya presiden, tapi kalau hanya
presiden-presidenan lain ceritanya. “I want to be a real presiden in a
real nation”. Bukan seorang presiden yang takutnya sama mahasiswa, takut
dikiritik. Mahasiswa dianggap musuh. Beraninya dengan mahasiswa, tetapi
untuk menangkapi konglomrerat yang bermasalah, para penjahat politik,
penjahat ekonomi, tidak pernah ada solusi. Begitu mahasiswa yang salah,
ditangkapnya cepat sekali dan cepat diadili.
Untuk itu ia hanya mau menjadi presiden rakyat, bukan menjadi presiden
yang kerjanya hanya hanya duduk di istana.
Erros, meskipun memahami tugas sebagai presiden, namun ia mengaku agak
malas jika ditanya punya keinginan menjadi presiden. Sebab orang yang
punya keinginan untuk menjadi presiden RI itu pasti mengidap suatu
penyakit. Coba bayangkan dengan 42 juta pengangguran, percepatan
lapangan kerja lebih lambat dibandingkan dengan pertumbuhan pengangguran.
Ini masalah yang sangat kompleks. Belum lagi institusi-institusi negara
yang tidak karuan.
Jadi kalau ada orang yang masih mau jadi presiden berarti orang sakit,
karena tidak mengerti masalah. “Makanya saya katakan jika ini amanah
saya akan jalankan, orang tidak pernah mengerti juga. Karena kalau sudah
ambisius dan punya keinginan yang besar mau jadi presiden pasti akan
melakukan segala cara. Itulah yang saya hindarkan.”
Suasana Batin Rakyat
Ia merupakan seorang ketua umum partai yang sering berkunjung ke
kecamatan-kecamatan bukan di hotel-hotel. Ia juga sering berjalan-jalan
di malam hari berbicara dengan rakyat, pagi-pagi sering mengobrol dengan
ibu-ibu di pasar. Hal itu menguatkan visinya akan perjuangan partai.
Erros menyadari bahwa partai politik merupakan media persiapan pemimpin
nasional. Maka, sebaiknya seorang pemimpin partai terlebih dahulu harus
memahami visi dan misi bangsa. Seperti apakah yang diinginkan oleh para
pendiri republik ini? Seharusnya juga seorang pemimpin itu harus mampu
menerjemahkan hal itu ke dalam visi dan misi partainya, serta harus
memahami betul konteks hari ini. “National and Character Building” yang
seperti apa bangsa ini atau sifat jiwa, roh dan tubuh bangsa ini akan
seperti apa.
Saat ini, menurutnya, seluruh bangsa Indonesia merasakan adanya suatu
situasi yang tidak sinkron antara apa yang dikerjakan dan dilakukan oleh
para pendiri Republik dengan realita sekarang. Salah satu penyebab
kegagalan itu, menurutnya, karena selama ini para elite politik
senantiasa menjadi pusat perhatian, sedangkan keberadaan rakyat
dinomorduakan
Jika visinya adalah membawa Indonesia mencapai Indonesia Raya, maka
misinya adalah bagaimana mengembangkan masyarakat Marhaenis dengan
langkah awalnya membebaskan masyarakat kaum Marhaen dari statusnya yang
sekarang yaitu terpinggirkan. Yang dimaksud rakyat Marhaen adalah kaum
dhuafa atau masyarakat lapisan bawah dalam pandangan luas.
Erros mengaku prihatin dan sedih melihat ulah elite politik saat ini.
Sementara rakyat masih dalam kondisi yang serba sulit dan gamang dalam
mengahdapi masa depan, harga-harga melambung naik, biaya pendidikan
menjadi selangit, namun para pemimpin bukannya memberikan arahan yang
jelas atau sebuah enligment kepada rakyat, malah hanya sibuk untuk
meperebutkan bangku nomor satu negara ini. Ia bertanya, apakah kelakuan
yang seperti ini secara moral dibenarkan.
Elite politik terlalu fokus perhatiannya pada Pemilu. Pemilu itu adalah
satu momentum di mana suara rakyat diarahkan ke sebuah pilihan.
Menurutnya, selama ini kita berorientasi kepada titik itu, bukan kepada
prosesnya, pemungutannya dan pasca pemilu. Ini berarti kemenangan partai
tidak diimbangi dengan pemberdayaan konstituennya. Partai yang seperti
ini hanya akan menjadi partai bagi pengurusnya saja. Artinya fungsi
partai sebagai wadah aspirasi politik rakyat, sebagai lembaga pendidikan
politik rakyat terbentur oleh kepentingan pengurusnya.
Melihat kondisi itu, Erros dengan PNBK tidak mau mengulang kesalahan
yang sama. Ia menyiapkan langkah konkrit yang akan dilakukannya di masa
depan. Dimulai dengan menata infrastruktur partai sebagai sebuah
instrumen partai politik. Kemudian menata sistem, karena sistem yang
memungkinkan partai itu dibangun dengan sebuah kerangka dasar yang kuat.
Di PNBK setiap orang yang ingin masuk menjadi anggota DPRD harus membuat
kontrak dalam bentuk tertulis di atas materai. Kontrak politik itu
berisi tentang perjanjian bahwa setiap anggota DPRD dari PNBK wajib
untuk setiap bulan memberikan laporan pertanggungjawaban tertulis kepada
publik atau konstituennya. Jika dalam 2 kali kesempatan tidak melakukan
hal tersebut anggota DPRD yang bersangkutan akan ditegur keras dan yang
ketiga kali maka ia akan di-recall.
Karena PNBK adalah partainya rakyat, sehingga harus ada jalan bagaimana
rakyat mempunyai akses ke partai, baik secara formal maupun informal.
Yang formal dilakukan kaderisasi dari institusi ke bawah. Sedangkan yang
informal melalui pemberian pemahaman kepada seluruh fungsionaris untuk
melakukan sosialisasi ke tingkat bawah. PNBK saat ini sudah ada di 27
propinsi. Erros percaya 1/3 dari partai besar belum tentu menang melawan
PNBK.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|