| |
C © updated 05032007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/jawa pos |
|
| |
Nama:
Eric FH Samola, SH
Lahir:
Minahasa, Sulawesi Utara, 26 Agustus 1936
Meninggal:
Singapura, 10 Oktober 2000
Istri:
Dorothea Sara Luntungan
Anak:
Dua orang
Pendidikan:
- ALS, Airmadidi,
Minahasa, Sulawesi Utara (1950)
- SMPN, Airmadidi, Minahasa, Sulawesi Utara (1953)
- SMAN, Tomohon, Minahasa (1956)
- FHIPK UI, Jakarta (1964)
Karir:
- Pegawai Departemen Perdagangan RI (1964-1966)
- Staf PT Pembangunan Jaya, Jakarta (1966-1974)
- Wakil Direktur PT Pembangunan Jaya, Jakarta (1974-1977)
- Direktur PT Pembangunan Jaya, Jakarta (1977-sekarang)
- Dirut PT Grafiti Pers merangkap Pemimpin Umum MBM TEMPO (1974)
- Pemimpin Umum Majalah Zaman (1979- 1985)
- Direktur Harian Jawa Pos (1982)
- Wakil Pemimpin Umum Majalah Swasembada (1985)
Sumber:
Pusat Data dan Analisis Tempo, dan lain-lain
|
|
| |
|
|
|
|
| ERIC SAMOLA HOME |
|
|
 |
Eric FH Samola
Pengusaha Peduli wartawan
Pria kelahiran Minahasa, Sulawesi Utara, 26 Agustus 1936, ini seorang
pengusaha yang peduli pada profesi jurnalistik. Dialah yang meletakkan
dasar-dasar manajemen baru Jawa Pos sehingga menjadi salah satu koran
terbesar di Indonesia. Eric Samola meninggal dunia 10 Oktober 2000 di
rumah sakit Mount Elizabeth, Singapura dan dimakamkan di Jakarta.
Eric Samola ketika masih di Bagian Hubungan Masyarakat PT Pembangunan
Jaya, ketika direktur utamanya, Ciputra, memintanya memikirkan sejumlah
wartawan yang keluar dari majalah Ekspres.
''Wah, mengurusi wartawan repot,'' katanya, kendati tugas itu
diterimanya juga. Ternyata, ia bukan saja mampu membesarkan majalah
TEMPO, tetapi juga mengembangkan
Medika dan Swasembada, serta harian Jawa Pos di Surabaya.
Sibuk di perusahaan pers tidak membuatnya menelantarkan tugas awalnya di
Jaya Group. Memulai sebagai pegawai biasa, dari keberhasilannya merebut
satu-satunya lowongan tenaga sarjana hukum di antara 26 SH yang melamar,
ia menjadi salah seorang direktur PT Pembangunan Jaya.
''Saya tidak bisa bekerja setengah-setengah,'' tulis Samola dalam
Suplemen 15 Tahun TEMPO, Maret 1986, seperti hendak menjelaskan kunci
keberhasilannya.
Di waktu kecil, ia ingin menjadi polisi. ''Pekerjaan itu kelihatan
berwibawa sekali,'' kata Eric, yang yatim ketika berusia satu tahun,
sedangkan satu-satunya adiknya masih dalam kandungan ibunya yang tetap
menjanda. Perjuangan sang ibu yang membiayai sekolah mereka dengan gaji
seorang guru SD melecutnya rajin belajar. Tamat SMA, ia merantau ke Jawa,
dan untuk memenuhi cita-cita masa kecilnya, Eric melamar -- dan diterima
-- di sekolah polisi di Sukabumi.
Tiba-tiba cita-citanya beralih ingin menjadi hakim. Ia lalu mendaftarkan
dan diterima di Fakultas Hukum & Pengetahuan Masyarakat UI, rampung
1964. Melamar kerja di Departemen Kehakiman, lowongan hakim yang
tersedia hanya di Timor, padahal Eric ingin ditempatkan di Jakarta atau
Bandung.
Sebenarnya keinginannya itu bisa terpenuhi, bila ia sudi ''mengeluarkan
biaya''. Semasa mahasiswa, Eric aktif di organisasi mahasiswa Kristen
GMKI. ''Sejak SMP saya memang sudah senang berorganisasi,'' tutur
Direktur
Utama PT Grafiti Pers, yang menjadi penerbit TEMPO itu. Maka, tidak
heran, di tengah-tengah kesibukannya, ia masih menyempatkan diri
menjabat Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia. Di DPP Golkar, Eric menjadi
Ketua Departemen Koperasi dan Wiraswasta.
Pada usia 50 tahun (1986), dengan tinggi 175 cm, berat badannya ''berlebih''
5 kg. ''Karena itu, kalau malam saya jarang makan nasi,'' kata Samola,
yang suka main golf dan jalan kaki pagi. Dulu, 1968-1972, ia menyenangi
reli mobil, dan Eric muda pernah menjadi juara keempat dan ketiga Rally
Jawa-Bali I dan II.
Penggemar film James Bond dan musik Idris Sardi ini menikah dengan
Dorothea Sara Luntungan, anak pendeta yang dulu sama- sama aktif di GMKI.
Mereka dikaruniai dua anak.
Pada tahun 1982, Eric FH Samola yang ketika itu menjabat Direktur
Utama PT Grafiti Pers (penerbit Majalah Tempo) mengambil alih Jawa Pos.
Dialah yang kemudian meletakkan dasar-dasar manajemen baru Jawa Pos.
Eric memilih Dahlan Iskan, Kepala Biro Tempo di Surabaya untuk
menjalankan ide-idenya itu. Tahun 1990 Eric Samola menderita sakit yang
amat panjang dan akhirnya meninggal dunia di tahun 2000. Dahlan selalu
mengatakan Eric Samola bukan saja sebagai seniornya tapi juga bapaknya. ►e-ti/sumber
pdat-jawa pos profil
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|