| |
C © updated 02122007-27062003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ |
|
| |
Nama:
Prof Dr Emil Salim
Lahir:
Lahat, Sumsel, 8 Juni 1930
Agama:
Islam
Isteri:
Roosminnie Roza (12 Januari 1934)
Anak:
1. Amelia Farina (1 Februari 1962)
2. Roosdinal Ramdhani (17 Desember 1966)
Pendidikan:
- Frobel School, Banjarmasin (1935-1936)
- Europesche Lagere School, Banjarmasin (1936-1940), Lahat (1940-1942)
- Dai Ichi Syo-Gakko, Palembang (1942-1944)
- Sekolah Menengah Umum Pertama, Palembang (1945-1948)
- Sekolah Menengah Atas I, Bogor (1948-1951)
- Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1951-1958)
- University of California, Berkeley, AS, Department of Economics
(1959-1964), (Master of Arts, 1962; Ph.D, 1964 dengan disertasi berjudul
Institutional Structure and Economic Development)
Karir:
- Asisten Dosen FE UI
- Dosen, dan selanjutnya guru besar FE UI
- Tim Penasihat Ekonomi Presiden (1966)
- Anggota DPR GR (1967-1969)
- Anggota Tim Penasihat Menteri Tenaga Kerja (1967-1968)
- Ketua dan Anggota Tim Teknis Badan Stabilitas Ekonomi (1967-1969)
- Dosen Seskoad dan Seskoal (1971-1973)
- Menteri Negara Penyempurnaan dan Pembersihan Aparatur Negara merangkap
Wakil Kepala Bappenas (1971-1973)
- Menteri Perhubungan (Kabinet Pembangunan II 1973-1978)
- Menteri Negara Urusan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (Kabinet
Pembangunan III 1978-1983)
- Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup (Kabinet
Pembangunan IV-V 1983-1993)
- Guru Besar FEUI (1983)
- Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN-1999-2000)
- Anggota Dewan Penasihat Presiden (2007-2009)
Kegiatan Lain:
- Anggota Korps Mobilisasi Pelajar Siliwangi (1950)
- Ketua IPPI Bogor (1949)
- Ketua Tentara Pelajar Palembang (1946-1949)
- Ketua Perhimpunan Peningkatan Kebudayaan Masyarakat (1983)
- Anggota Komisi Lingkungan dan Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (Komisi
Brundtland) mewakili Asia bersama Saburo Okita dari Jepang (1984-1987)
- Deputy Chairperson pada Dewan Penasehat Tinggi PBB untuk Pembangunan
Berkelanjutan (1992)
- Anggota Kehormatan Persatuan Insinyur Indonesia (1992)
- Co-chair pada Komisi Dunia untuk Hutan dan Pembangunan Berkelanjutan
(1994)
- Pendiri dan Ketua Yayasan Pembangunan Berkelanjutan - Program
Kepemimpinan Mengenai Lingkungan dan Pembangunan - LEAD (1994)
- Pendiri dan Ketua Umum Yayasan Keragaman Hayati - Kehati (1994)
- Ketua Tim Screening UNDP (1999)
- Anggota Komnas HAM
Organisasi:
- Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI) Sumatera Selatan
(1946-1949)
- Ketua Tentara Pelajar Palembang (1946-1949)
- Ketua IPPI Bogor dan anggota Korps Mobilisasi Pelajar Siliwangi (1949)
- PPMI (Perserikatan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia) 1954
Karya/Buku:
- Collection of Writings 1969-1971, Secretariat of Bappenas, 1971
- Masalah Pembangunan Ekonomi Indonesia (1976)
- Perencanaan Pembangunan dan Pemerataan Pendapatan, Idayu, 1974
- Lingkungan Hidup dan Pembangunan, Mutiara, 1981
- Kembali ke Jalan Lurus (kumpulan esai 1966-1999)
Penghargaan:
- Bintang Mahaputera Adipradana (1973)
- Pria Berbusana Terbaik (1980)
- Golden ARK (Comandeur) of Netherlands (1982)
- J Paul Getty Wildlife Concervation Prize (1990)
Doctor Honoris Causa dari University Kebangsaan Malaysia (1996)
- Zayed International Prize for the Environment dari Uni Emirat Arab
(2006)
- Blue Planet Prize ke-15 dari Yayasan Asahi Glass, Jepang (2006)
Alamat Rumah:
Jalan Bona Indah C II / 1, Lebak Bulus, Jakarta Selatan 12440
Telepon (021) 7503115
Alamat Kantor:
Kompleks Bina Graha, Jalan Veteran, Jakarta Pusat
|
|
| |
|
|
|
|
| EMIL SALIM HOME |
|
|
 |
Emil Salim
Mencari Kearifan Masa Lalu
Ia memiliki kecerdasan dan daya analisa setiap kali mengambil kesimpulan,
menyampaikan pendapat dan beragumentasi. Keterbukaan sikap dan
keterusterangann menempatkannya menjadi seorang pribadi yang disenangi
banyak orang. Ia termasuk salah seorang peletak dasar ekonomi Orde Baru yang
dijuliki "Berkeley Mafia" yang dikenal lurus dan bersih.
Menurut mantan
guru besar FE-UI ini, keliru besar jika sarjana ekonomi kemudian jadi
koruptor. Sarjana ekonomi harus berpikir, bekerja, dan mengabdi dengan
landasan hati nurani.
Ia mengecap pendidikan dasar di Lahat, sebuah kota kecil di pinggir sungai
Lematang, Sumatera Selatan. Ketika itu hutan masih tumbuh lebat di sekeliling kota. Pohon duren tumbuh bebas di pinggir jalan dan dalam hutan. Tiap kali
sehabis hujan deras dengan angin kencang, ia bersama teman-teman sering
masuk hutan mencari buah duren yang banyak berjatuhan ditimpa angin.
Selain itu, guru kelasnya di Sekolah Dasar setiap hari Sabtu suka mengajak
murid-murid berjalan-jalan masuk hutan, di kaki bukit Serelo yang
tersohor di daerah. Sambil berjalan di hutan, guru menjelaskan berbagai
peranan pacet penghisap darah manusia, yang rupanya juga berguna
bagi manusia sebagai penunjuk arah matahari karena sifat kepala pacet
selalu mencari kehangatan.
Dan dengan mengetahui letak arah matahari, sekaligus kita memiliki kompas
alami penunjuk jurus Utara-Timur-Barat-Selatan. Guru juga mengajak mereka
(murid) belajar "minum madu" dari sejenis bunga sebagai pengganti air bila
tersesat. Dan mencari sisa makanan beruk di tanah untuk memperoleh
petunjuk jenis buah mana bisa dimakan manusia. Karena apa yang bisa
dimakan monyet dapat pula dimakan manusia. Dan sambil bertualang guru
bercerita tentang hutan sehingga dalam alam fikiran Emil hutan itu menjadi
buku pembuka rahasia alam.
Secara selang seling, pada hari-hari Sabtu berikutnya, guru membacakan
buku pada jam pelajaran terakhir. Guru pandai membawakan suaranya sehingga
pelaku dalam buku terasa hidup. Guru suka membacakan isi buku Karl May
menceritakan petualangan Old Shatterhand dengan kawan karibnya Winnetou,
kepala Suku Appachen. Tetapi gurunya ini cerdik. Ia mengambil adegan dalam
bab yang mengasyikkan dan seru. Pada saat cerita mencapai klimaksnya dan
Winnetou tertembak lalu guru berhenti membaca dan mempersilahkan murid
membaca sendiri. “Bisalah dibayangkan bahwa kita berebutan mencari buku,
tidak saja dalam perpustakaan sekolah tetapi juga di toko-toko buku,”
kenang Emil Salim dalam tulisannya yang sengaja dibuat atas permintaan
Penjaga Wigwam (15 September 2000).
Akibat pengaruh gurulah ia menjadi "kutu buku" membaca semua buku karangan
Karl May dan mengenal tokoh-tokoh Old Shatterhand, Winnetou, Kara-ben-Nemsi
dan lain-lain. Lalu bersama teman-teman di waktu libur ia menjelajahi
hutan di sekitar Bukit Serelo dan sepanjang sungai Lematang untuk
berlaku-gaya sebagai Old Shatterhand. Daging semur dari dapur dibungkus
untuk dipanggang di hutan meniru gaya para Indian membakar daging. Mereka
bikin tanda-tanda sepanjang jalan yang dilalui agar tidak sesat di hutan.
Mereka mencoba menghidupi daya khayal cerita bacaan menjadi kenyataan.
“Dan hidup terasa begitu tenteram mengasyikkan. Karena benang merah yang
ditonjolkan dalam buku-buku Karl May adalah kedamaian, keikhlasan,
keadilan, kebenaran dan ketuhanan,” urai Emil.
Setelah selesai membaca buku "Kematian Winnetou" ia termenung dan air mata
meleleh. Alangkah agungnya pribadi Winnetou, kepala suku Indian Appachen
ini.
Puluhan tahun kemudian, ketika ia ditugaskan mengembangkan lingkungan
hidup di tanah-air, ingatannya pada cerita Karl May bangkit kembali. Hutan
tidak lagi dilihat sebagai obyek pengusaha HPH, tetapi sebagai "rumah
besar" bagi segala makhluk yang hidup. Maka terbayang di matanya peranan
pacet, bunga pemberi madu, monyet dll. Terpampanglah keterkaitan antara
hubungan manusia dengan hutan sebagaimana tergambarkan pada besarnya
peranan hutan bagi Winnetou dan suku Apachennya.
Tapi, katanya, hidup di abad "modern" telah "memakan" hutan alami untuk
disubstitusi dengan "hutan buatan manusia." Namun bisakah "hutan buatan
manusia" ini masih menumbuhkan keterkaitan akrab antara manusia dengan
alam-buatan ini?
Akan mungkinkah "kedamaian, keihlasan, keadilan, kebenaran dan ketuhanan"
ini ditumbuhkan dalam hutan buatan manusia? Akan mungkinkah tumbuh sosok
tubuh seperti Winnetou yang mempersonifikasikan berbagai ciri-ciri
kehidupan asri ini?
Dalam bergelut dengan tantangan permasalahan ini, ingatannya kembali pada
"dunia alamnya" Old Shatterhand, Winnetou dan Kara-ben-Nemsi. Mencari
kearifan di masa lalu untuk bekal menanggapi tantangan masa depan.
Kebanggaan di Masa Purnabakti
Jika ada pejabat negara risi dengan hibah yang dicantumkan dalam daftar
kekayaannya, lain halnya dengan Prof Dr Emil Salim. Mantan Meneg KLH di
masa pemerintahan rezim Orde Baru itu mengaku terharu dan bangga atas
hibah yang diterimanya. "Saya bangga dan mengucapkan terima kasih atas
pemberian hibah cincin ini," ujar Emil Salim di hadapan civitas akademika
yang sedang merayakan hari jadi ke-51 FE UI di Kampus Universitas
Indonesia Depok.
Emil merupakan salah satu guru besar FE UI yang memasuki purnabakti.
Sebagai wujud tali kasih, FE UI memberikan hibah cincin kepadanya. Selain
Emil, guru besar FE UI yang purnabakti lainnya adalah Prof Dr Subroto,
Prof Dr Saleh Afiff, Prof Dr Rustam Didong, Prof Dr B.S. Muljana, dan Prof
Dr Moh. Arsjad Anwar.
Emil termasuk salah satu peletak dasar ekonomi Orde Baru. Dia dikenal
lurus dan bersih. Karena itu, saat memberikan pidato perpisahan, ia
meminta para sarjana FE UI peduli terhadap nasib rakyat. Dia minta agar
para sarjana UI tidak menjadi pekerja otak yang berusaha mendapatkan
penghasilan maksimal.
"Dan, keliru besar jika sarjana ekonomi kemudian jadi koruptor. Keliru
besar dan sesat juga jika menjadi bajingan-bajingan seperti itu," katanya.
Tak jelas betul siapa yang kena tohok anggota Komnas HAM itu sebagai
koruptor bajingan. "Sarjana FE UI harus berpikir, bekerja, dan mengabdi
dengan landasan hati nurani," tambahnya.
Meski resmi purnabakti, ia tampak masih disegani civitas akademika UI.
Karena itu, civitas akademika tampak keberatan atas kepergiannya dari
almamater. Lalu, apa kata Emil? "Sudah lama saya mengabdi pada almamater
ini. Sekarang, giliran anak-anak muda," kata Emil.
Revolusi Berhenti Hari Minggu
Kompas 13 Juli 2000: Andaikan orang Jawa, istilahnya, "...ora nduwe wudel,
tak punya pusar. Karena tanpa mengenal istilah lelah, setiap hari dan di
segala macam kesempatan, ada saja yang dia lakukan. Malah kalau mengundang
rapat, hari libur dan hari Minggu dia trabas seenaknya sendiri," komentar
rekannya semasa mahasiswa.
Akan tetapi tiba-tiba, mulai suatu waktu, dia tak pernah lagi
menyelenggarakan rapat pada hari Minggu. Keanehannya berlanjut, sebab
ternyata dia juga tak pernah datang, kalau diundang pada kegiatan Minggu.
Tentu saja, kehidupan kampus yang penuh rumor, desas-desus, dan gosip,
segera memancing perasaan ingin tahu. Apalagi, yang dipergunjingkan
pimpinan mahasiswa, dengan posisi strategis, Ketua Dewan Mahasiswa
Universitas Indonesia.
"Akhirnya, tim penyelidik lapor. Bisa dipastikan, dia tak akan pernah mau
datang rapat hari Minggu, ... karena, waktu tersebut sedang dia pakai
pacaran," kata Wisaksono Noeradi sambil menambahkan "...boleh saja, setiap
hari masa itu Bung Karno berteriak, revolusi belum selesai. Tetapi untuk
Emil Salim, segala macam kegiatan, bahkan sampai revolusipun, harus
berhenti pada hari Minggu, sejak masa pacarannya datang..."
Revolusi Berhenti Hari Minggu, demikian judul yang dipakai untuk merangkum
kumpulan tulisan para sahabatnya dalam menyambut 70 tahun usia Prof Dr
Emil Salim. Hasil kerja keras panitia lima; Koesnadi Hardjasoemantri, Alwi
Dahlan, Sabam Siagian, Wisaksono Nuradi, dan MS Kismadi, diterbitkan
Penerbit Buku Kompas dan diluncurkan pada Kamis (13/7) malam di Grand
Melia Hotel, Jakarta.
Tentang pemakaian istilah tersebut, Emil Salim berkata, "Bertolak dari
anggapan, kerja harus berhenti pada hari Minggu dan perlu dicurahkan untuk
kegiatan non-dinas. Pekerjaan saya selalu menumpuk dan sudah jadi
kebiasaan, bekerja 12 jam sehari. Keluarga saya masih muda dan anak-anak
berteriak, cukup, biarkan 'revolusi' berhenti hari Minggu. Tak ada teori
serius di balik ini, sekadar menarik garis antara tugas kantor dan
kewajiban keluarga..."
Emil Salim bertemu Roosminnie Roza pada masa perpeloncoan Gerakan
Mahasiswa Djakarta (GMD) tahun 1956. Dua tahun kemudian mereka menikah dan
sekarang, keluarga bahagia tersebut sudah disemarakkan dengan kehadiran
dua putra dan tiga cucu.
Lahir di Lahat, Sumsel, tanggal 8 Juni 1930, sejak remaja kegiatannya
tidak sekadar mencari ilmu. Selain duduk di bangku sekolah, dia
mengembangkan talenta alaminya dengan berorganisasi. Ketika perang
kemerdekaan memanggil, ial dipilih sebagai Ketua Ikatan Pemuda Pelajar
Indonesia (IPPI) Sumatera Selatan, sekaligus Ketua Tentara Pelajar
Palembang (1946-1949). Ketika tahun 1949 terpaksa pindah ke Bogor, karena
ditangkap Belanda, dia langsung terpilih sebagai Ketua IPPI Bogor dan
anggota Korps Mobilisasi Pelajar Siliwangi.
"Kupaksakan nama-nama majalah mahasiswa luar negeri berparade di kepala.
Ingatanku tak mau lepas dengan Academia. Tiba-tiba, asosiasi pikiranku
melekat pada Forum Academiale, majalah mahasiswa di Belanda. Mengapa tidak
pakai nama Forum? Bibir Nahar Tanjung mencucu ke depan, sepasang gigi
putih Jusuf Indradewa hanya nampak di kegelapan, Asharsono Munandar
mengangguk dengan sifat kebapakan, dan kereta api terus melaju ke
Surabaya..."
Demikian Emil Salim dengan kalimat plastis menuliskan penemuan nama Forum,
majalah mahasiswa UI yang kemudian dia pimpin. Penemuan tersebut tercetus
ketika bersama rekannya, sedang menuju ke Surabaya menghadiri Kongres PPMI
(Perserikatan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia) bulan April 1954.
Tangkas berbicara sekaligus lancar menulis, kedua bakat tersebut sejak
remaja melekat pada dirinya. Kegemarannya berdebat, dan tidak gentar untuk
menghadapi siapa pun, semula diharapkan bisa membawa angin segar dalam
sidang kabinet, ketika tahun 1971 ia ditunjuk menjadi Menteri Negara
Penyempurnaan & Pembersihan Aparatur Pemerintahan merangkap Wakil Ketua
Bappenas.
"Andaikan era Pak Harto lebih demokratis dan lebih pluralistik dalam
kebudayaan, Emil sebagai orang Minang dengan dukungan nama besar Salim,
seharusnya menjadi aset serta kontribusi untuk kultur politik. Tetapi
lingkungan pada masa itu, bahkan juga oleh Widjojo, diupayakan agar Emil
menyerap kultur Jawa, terutama dalam hubungannya dengan Pak Harto," kata
Prof Dr M Sadli.
Harapan tinggal harapan. Emil yang muda dan agak pemberang malahan mulai
terjinakkan. Keberaniannya berbeda pendapat dengan Pak Harto, misalnya
ketika mereka membicarakan Bulog, lama-kelamaan luluh, karena suasana
sidang kabinet tidak pernah mendukung. Begitu seterusnya, sampai akhirnya
sejak tahun 1993, sesudah 22 tahun menjadi menteri di beragam bidang, Emil
dilepaskan.
Sebagaimana pernah diramalkan oleh ibu kandungnya ketika Emil Salim
pertama kali dijadikan menteri, "Tapi baiko ndak paralu lai di si Soeharto,
dicampakannyo Emil. Ka mangga? (Tapi bila nanti tak perlu lagi oleh si
Soeharto, dicampakkannya Emil. Mau apa?")
Pembangunan selalu memerlukan kader. Dekan FE UI Prof Sumitro
Djojohadikusumo memimpikan para kadernya menambah ilmu di bekas sekolahnya,
London School of Economics and Political Science di Inggris. Sayangnya,
British Council tidak punya dana, yang ada justru tawaran dari AS. Maka
mereka dikirim ke Departemen of Economics Universitas California di
Berkeley AS. Sambil belajar, kelompok tersebut rutin berdiskusi
membicarakan pemerintahan Bung Karno yang meskipun secara politis populer
dan namanya menjulang di dunia internasional namun perekonomiannya
morat-marit.
Begitu rezim Sukarno jatuh, para pendekar ekonomi ini beramai-ramai pulang,
mencoba resep baru untuk memacu pembangunan. Mereka inilah, di bawah
pimpinan Widjojo Nitisastro, kemudian menerima julukan, "Berkeley Mafia."
Prof Widjojo Nitisastro mengakui, "Di antara murid Prof Sumitro, Emil
Salim yang paling setara dengan gurunya, dalam hal kecerdasan, daya
analisa, mengambil kesimpulan, penyampaian pendapat, daya beragumentasi,
keterbukaan sikap, dan keterusterangan."
Emil Salim melukiskan, "Antara tahun 1962-1964, pemikiran pembangunan yang
perlu dikaji adalah menemukan model yang tidak kapitalis seperti AS atau
komunis macam Rusia, namun cenderung ke mixed system dan khusus Indonesia
dengan nuansa Islam. Saya tertarik gagasan Nasser menerapkan Sosialisme
Islam." Hasil studinya ditulis sebagai disertasi dengan kasus Mesir dan
analisa, "Institusional arrangement bisa berbeda sesuai sistem politik
negara, tetapi bingkai teori pembangunan dasarnya universal."
Pertengahan tahun 1998, angin musim semi perubahan seolah-olah bertiup
kencang. Emil Salim dengan tegar mengajukan diri sebagai calon Wakil
Presiden. Apa latar belakangnya?
"Saya, dan semua rekan tahu, kemungkinan lolos sangat kecil, karena memang
tidak bakal dimungkinkan dalam konstelasi politik masa itu. Namun yang
ingin kami ungkapkan adalah hadirnya voice of dissent, ada calon lain di
luar yang sudah ditunjuk dari atas." (Kompas, Julius Pour)
Good Governance
Dalam proses memahami apa dan bagaimana proses penyelenggaraan negara yang
baik dan korporasi yang bertanggung jawab, penghormatan atas nilai-nilai
hak asasi manusia merupakan bagian yang paling integral. Nilai-nilai
tersebut bisa disebut dengan pilar yang sangat penting bagi pembangunan
masyarakat dan warga. Dalam pandangan ini nilai-nilai hak asasi manusia
merupakan sokoguru bagi pengembangan masyarakat dan warga itu sendiri.
Mekanisme pengelolaan sumber daya ekonomi dan sosial di dalam pengertian
good governance yang substansi dan pelaksanaannya menunjang pembangunan
yang stabil dengan syarat yang utama: efisiensi dan pemerataan.
Dalam pelaksanaannya, good governance mengandalkan rule of Law terutama
yang mencakup bidang ekonomi dan politik, penentuan kebijakan yang
transparan, pelaksanaan kebijakan yang accountable, birokrasi yang
berkualitas dan juga masyarakat yang capable.
Elemen-elemen accountability (political dan publik), adanya kerangka hukum
dalam pembangunan yang menjelaskan prediktibilitas abdi negara terhadap
sektor swasta, informasi mengenai kebijakan pemerintah yang terjangkau
oleh publik dan transparan berisikan kebijakan terbuka untuk pengawasan
yang sangat berkaitan dengan convenant on Civl and Political Rights dan
Convenant on Economic, Social, and Cultural Rights.
Good Governance pun mempunyai inti yaitu mempromosikan demokrasi, aturan
hukum dan juga hak asasi manusia berdasarkan pemikiran bahwa pasa dan
pemerintah hanya dapat berfungsi efisien jika dikontrol oleh pemberi suara.
Inti lainnya adalah mengakui bahwa pasar memliki keterbatasan untuk
mempromosikan pembangunan ekonomi. Yang terakhir adalah mengkonstruksikan
kembali hubungan tiga sektor yaitu negara, pasar dan masyarakat negara.
Dalam pasar yang berperan penting adalah pengusaha. Karena untuk
memungkinkannya Good Governance berkembang adalah pentingnya corporate
governance yang bertanggung jawab. Dengan Corporate governance bisa
mengartikan proses dan struktur yang digunakan untuk mengarahkan dan
mengelola perusahaan dalam meningkatkan kesejahteraan bisnis dan
akuntabilitas korporat dengan tujuan akhir mewujudkan nilai-nilai jangka
panjang pemegang saham sambil memperhitungkan kepentingan stakeholders
lain.
Unsur-unsur yang terkandung didalam good governance itu sendiri meliputi
beberapa hal. Pertama, Kewajaran (Fairness) dalam hubungan dengan semua
pemegang saham dan kewajaran dalam bertransaks dengan rekanan.
Kedua,Transparansi mengenai keuangan dan operasi perusahaan terhadap
pemegang saham dan pemerintah. Ketiga, Akuntabilitas dalam hubungan
pertanggungjawaban dewan komisaris dan dewan direksi pada perusahaan.
Keempat, Pertanggungjawaban perusahaan dalam melaksanakan peraturan
perundang-undangan.
Yang dimaksud dengan tanggung jawab bisnis terhadap perijinan dan
peraturan terhadap karyawan, tanggung jawab sosial, tanggungjawab terhadap
lingkungan, terhadap masyarakat sekitar serta tanggung jawab etika dan
moral. Secara ideal tanggung jawab perusahaan harus menjadi bagian dari
filosofi perusahaan.
Unsur-unsur tanggungjawab perusahaan ini terjalin erat dengan isi hakekat
dari hak asasi manusia. Dengan demikian akan tergambar dengan jelas alur
penyatuan hakekat hak asasi manusia sebagai pilar masyarakat warga yang
perlu diwujudkan oleh good governance dan tanggung jawab corporate
governance. Dalam hal ini perlu diperjelas dan kajian yang lebih mendalam
ke unsur-unsur pokok dalam porses penegakkan dan pengembangan hak asasi
manusia sebagai pilar masyarakat warga yang diwujudkan oleh good
governance dan tanggung jawab corporate governence.
Dalam sejarah perkembangan Indonesia memberikan kesempatan untuk belajar
dari masa lalu dan mencegah kembali terulangnya kesalahan-kesalahan dalam
mengembangkan lebih lanjut hal-hal yang sudah benar. Dalam masa lalu
masyarakat bangsa kita telah menderita pelanggaran hak asasi manusia
(Human Rights Abuse).
Untuk mencapai good governance itu sendiri sangatlah penting bagi rakyat
Indonesia untuk memahami apa, bagaimana, mengapa terjadi pelanggaran HAM
untuk mengidentifikasi ciri-ciri pokok sebagai diagnosa bagi terapi
selanjutnya. Setelah mengetahu sebabnya, langkah selanjutnya adalah
bagaimana menegakkan hukum dan keadilan terhadap pelaku dan korban, baik
militer dan/atau sipil baik secara sendiri-sendiri (terpisah) maupun
secara bersama-sama. Bagaimanakah mengganti kerugian korban dan
menyembuhkan derita, azab dan sengsara korban. Bagaimanakah perlakuan atas
pelaku, bilakah diperlukan amnesti, serta mungkinkah dibeberkan kebenaran
untuk menegakkan rekonsiliasi.
Rumusan dari proses diatas bisa mencakup masing-masing good governance,
corporate governance atau kelompok warga saja, bahkan mencakup ketiganya.
Salah satu contoh adalah gagasan yang sedang dibahas dengan Indonesian
Detherlands Association (Suatu organisasi masyarakat warga), adalah
penyusunan kriteria dan indikator HAM yang perlu dilaksanakan perusahaan
untuk dinilai secara berkala oleh KOMNAS HAM dan diberi Performance Rating
dan penghargaan "HAM AWARD" pada hari HAM.
Pada kesempatan ini termuat
langkah-langkah yang kongkrit dari kelompk masyarakat warga dalam menekan
dan merangsang corporate governance dan melaksanakan ketentuan Good
Governance di bidang HAM. Langkah-langkah ini pun sekaligus mengajak
pengusaha dan masyarakat langsung berperan serta dalam mengembangkan HAM.
Hindari Penyalahgunaan Kekuasaan
Kompas Rabu, 17 Februari 1999: Untuk menghindari praktik korupsi di masa
depan, para pejabat hendaknya tidak lagi menyalahgunakan kekuasaan. Bentuk
penyalahgunaan kekuasaan diyakini sebagai salah satu pemicu terjadinya
korupsi. Untuk mewujudkan pemerintahan yang baik dan bersih di masa depan,
dalam Pemilihan Umum 1999 rakyat hendaknya tidak memilih orang yang dahulu
dan saat ini patut diduga telah melakukan praktik korupsi.
Ini dikemukakan pengamat ekonomi-politik Emil Salim dalam acara bedah buku
Pengembangan Sistem Integritas Nasional dengan penyunting Jeremy Pope
sebagai Buku Panduan Transparency International (TI) yang diselenggarakan
Pact Indonesia di Jakarta, Senin (15/2) lalu.
Korupsi, menurut Emil Salim, akibat adanya keterkaitan dan kondisi saling
bergantung yang diciptakan masyarakat dan pejabat di suatu negara. Dikenal
adanya praktik smiling money yang dapat diartikan, pejabat akan
melontarkan senyum manakala jasa yang diberikannya mendapatkan imbalan
sejumlah uang, padahal itu tidak perlu dilakukan.
Keadaan ini akibat adanya penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan seorang
pejabat. Karena jabatan yang melekat padanya itu, menurut Emil,
memungkinkan ia memainkan perannya untuk meminta sejumlah uang dari
pekerjaaannya dalam melayani masyarakat.
Kuat cenderung korup
Untuk memberantas praktik korupsi, Emil Salim menyatakan perlu melalui
berbagai tahapan yang melibatkan peran rakyat secara maksimal. Tetapi
untuk sampai ke sana perlu diingatkan akan adanya peranan negara dan
kekuatan rakyat. "Negara yang kuat sementara rakyatnya lemah jelas ada
kecenderungan maraknya praktik korupsi. Untuk itu perlu ada keseimbangan
peran atau check and balance antara negara dan rakyatnya," tegas Emil.
Untuk itu, kata Emil Salim, peran rakyat di masa depan harus terus
diberdayakan. Demikian juga peran media massa sebagai salah satu alat
kontrol agar peran negara jangan menjadi terlalu kuat. Setiap peran dan
kiprah negara dan pejabatnya harus terus dikontrol.
"Salah satu caranya adalah dengan memberdayakan rakyat dalam Pemilu Juni
1999 mendatang. Rakyat harus diberitahu haknya untuk tidak memilih
wakilnya atau adanya pribadi yang patut diduga melakukan korupsi sebagai
wakilnya kelak di parlemen. Ini penting untuk setidaknya mencegah
berkelanjutannya praktik korupsi," papar Emil Salim.
Empat Skenario Indonesia 2010
Kompas, 5 Agustus 2000: Empat skenario mengenai masa depan Indonesia tahun
2010 yang diharapkan menjadi wacana diskusi dalam Sidang Tahunan MPR 7-18
Agustus 2000, Jumat (4/8), disampaikan oleh Kelompok Kerja Prakarsa
Bersama Indonesia Masa Depan (KKPBIMD) kepada Ketua MPR Amien Rais.
Keempat skenario ini mengungkapkan kemungkinan terburuk dan terbaik yang
bisa dihadapi Indonesia berdasarkan proses politik yang berjalan. Skenario
ini disusun berdasarkan proses dialog di 14 kota yang melibatkan sekitar
500 partisipan selama 15 bulan.
Emil Salim sebagai anggota KKPBIMD menyebutkan, skenario "biar lambat asal
selamat" adalah skenario yang terbaik bagi masa depan Indonesia 2010.
Skenario keempat ini memberi gambaran masa depan Indonesia yang
dicita-citakan, karena bukan hanya tatanan masyarakat sipilnya yang secara
politis kuat, tetapi juga kehidupan ekonomi. Dalam skenario ini, demokrasi
dikedepankan dan terjadi pertumbuhan dan pemerataan ekonomi.
"Pilihan skenario ini akan mengarah pada demokratisasi, tidak adanya
konglomerasi, sampai sistem pemilu distrik dan pemilihan Presiden secara
langsung," kata Emil Salim,
usai menyampaikan Empat Skenario Indonesia 2010 kepada Ketua MPR.
Sedangkan tiga skenario lainnya, adalah "berada di ujung tanduk", "masuk
ke rahang buaya", dan "mengayuh biduk retak". Keempat skenario itu
merupakan skenario terburuk bagi masa depan Indonesia.
Menurut anggota KKPBIMD lainnya, MM Billah, skenario "berada di ujung
tanduk" adalah penggambaran kondisi Indonesia yang menunjukkan negara
menjadi korban. Pemerataan dan pertumbuhan ekonomi tidak berjalan,
sedangkan masyarakat sipilnya lemah. Hal ini dikhawatirkan akan mengundang
kembalinya Orde Baru dan militerisasi.
Sedangkan skenario "masuk ke rahang buaya" merupakan skenario yang
memperlihatkan terjadinya proses politik yang melemahkan kekuatan
reformasi. Dalam skenario ini, kekuatan reformasi terpinggirkan, sementara
kekuatan lama kembali bangkit.
Sementara skenario "mengayuh biduk retak", menggambarkan kembalinya
kekuasaan Orde Baru, yang memperlihatkan ekonomi kembali dikuasai
konglomerat. Dalam skenario ini, meskipun ada sedikit suasana demokratis,
tidak terjadi pemerataan ekonomi. Pemerintah hanya menekankan pada
pertumbuhan dan mengabaikan pemerataan ekonomi.
Disambut baik
Menurut Emil Salim, yang juga Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Ketua
MPR menyambut baik empat skenario tersebut dan ingin menyebarkannya kepada
anggota MPR untuk dibahas dalam Sidang Tahunan MPR. Ditegaskan, tujuan
dari penyampaian skenario itu adalah menjadikan empat skenario tersebut
sebagai wacana publik.
"Keprihatinan yang menonjol adalah keprihatinan apakah pemerintah bersifat
otoriter atau demokratis, di bidang ekonomi apakah bersifat pemerataan,
terpusat, atau konglomerasi. Maka, kombinasi dari keduanya itu dibahas
dalam empat skenario," ujarnya.
"Sekarang ini diharapkan kenegarawanan dari para peserta Sidang MPR
Tahunan untuk dapat mengutamakan bangsa daripada kepentingan kelompok.
Kalau membahas, perhatikan dampaknya pada totalitas keberlanjutan negara
ini. Saya harap yang merugikan kepentingan negara harus ditolak," ujar
Emil Salim.
"Masa depan Indonesia dalam 10 tahun mendatang bisa saja terjadi hal-hal
yang buruk sampai terbaik. Nah, semuanya itu harus diperjuangkan oleh
rakyat Indonesia sendiri. Mana yang mau dipilih?" tambahnya.
Fenomena Emil Salim
Majalah D&R, 28 Februari 1998: Komentar di sekitar pencalonan Emil Salim
sebagai kandidat wakil presiden adalah: ini negara demokrasi, tiap orang
boleh dicalonkan, asalkan lewat jalur konstitusional. Dan, sejauh ini,
jalur konstitusional itulah yang ditempuh kelompok Gerakan Masyarakat
Madani, yang mencalonkan mantan Menteri Lingkungan Hidup itu (lihat Sidang
Akbar yang Tinggal Ketok Palu).
Apa maknanya? Kata kunci komentar itu ada pada kata konstitusional,
bukannya demokrasi. Sebab. untuk demokrasi, sejauh ini sudah tercerminkan.
Tak ada yang mencoba secara "inkonstitusional" menjegal pencalonan Emil,
terang-terangan maupun diam-diam, misalnya mengintimidasi. Malah fraksi di
DPR pun, Fraksi Utusan Daerah, dengan serius menerima wakil kelompok
Madani yang mengusulkan Emil.
Secara konstitusional, agar nama Emil Salim masuk dalam sidang umum (SU)
MPR, nama ini harus diusulkan tertulis oleh fraksi kepada pimpinan Majelis.
Disinilah masalahnya. Ketentuan apa yang menyebabkan fraksi di DPR itu
mengusulkan atau tidak mengusulkan nama calon yang masuk ke fraksi.
Tak Menjamin Demokrasi
Aturan itu tidak ada, karena itu semacam sikap sewenang-wenang terbuka di
sini. Maksudnya, traksi mengusulkan nama calon atau tidak kepada pimpinan
Majelis, sepenuhnya tergantung fraksi itu sendiri.
Maka, komentar di atas -- karena ini negara demokrasi, siap pun boleh
dicalonkan, asalkan konstitusional -- menjadi sesuatu yang kontradiktif.
Ternyata yang "konstitusional" itu tak menjamin berjalannya "demokrasi".
Bila nama Emil Salim tak masuk dalam perdebatan (kalau memang ada
perdebatan) SU MPR, fraksi yang menerima usulan nama itu tak bisa dimintai
peetanggungjawaban. Tak ada pasal dalam aturan mana pun sekitar pencalonan
wakil presiden bisa menjeratnya.
Dari sisi inilah lalu bisa dibilang bahwa peluang Emil masuk nominasi
calon wakil presiden sangat kecil. Bila nanti ternyata Emil terpilih,
agaknya bukan karena demokras, tapi karena presiden terpilih menghendaki
Emil menjadi wakilnya. Jadi, peluang itu tetap ada, juga karena ketentuan
yang tidak jelas. Yang tidak jelas itu umpamanya, bila pencalonan presiden
harus masuk ke pimpinan Majelis paling lambat 24 jam sebelum SU MPR dibuka,
untuk calon wakil presiden tidak ada satu ayat pun yang mengatur kapan
paling lambat pencalonan bisa masuk. Artinya, bila dikehendaki, sesudah
presiden terpilih dilantik, bisa saja masih ada nama yang diusulkan oleh
fraksi untuk calon wakil presiden -- dan itu sah-sah saja.
Sebaliknya, betapa pun kuatnya dukungan dari masyarakat, umpama saja tanda
tangan untuk Emil Salim datang dari seluruh penjuru Tanah Air, bisa saja
nama ini masuk ke pimpinan Majelis pun tidak. Fraksi-fraksi bisa bilang
bahwa pencalonan sudah ditutup, dan calon tunggal sudah disebutkan.
Ini mencerminkan salah satu dari sejumlah kontradiksi di tubuh parlemen
kita. Misalnya, ihwal orsospol kita yang tiga itu. Golkar, tampaknya ingin
konsekuen, mencalonkan Ketua Umum dan Koordinator Pelaksana Dewan Pembina
Golkar --bukan sebagai presiden dan wakilnya, tapi keduanya sebagai calon
wakil presiden. Meski kemudian ketua umumnya pun legawa, memberikan jalan
licin untuk yang satu.
Untuk Apa Pemilu?
Mcstinya, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pun mencalonkan orangnya.
Juga Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Yang terjadi, dua partai ini
ternyata mencalonkan orang yang sudah dicalonkan Golkar: B.J. Habihie
sebagai wakil presiden. Juga calon presidennya, dari Golkar. Bila memang
pilihannya begitu, untuk apa pemilu dengan korban-korban segala macam itu?
Apa bukan PPP dan PDI adalah bentuk lain dari Golkar?
Konon, pemilu bukan ajang pencalonan nama-nama, tapi arena untuk adu
program pembangunan. Tapi, yang ramai disiarkan di media cetak dan
elektronik adalah nama-nama yang mewakili orsospol. Dan, pernahkah jelas
apa program pembangunan PDI? PPP?
Walhasil, bisa disimpulkan dalam satu kalimat. Yakni, pemilihan presiden
dan wakil presiden beserta proses yang menyertainya (ada tiga orsospol,
kampanye pemilu, pemilu beserta undang-undangnya) belum mewadahi aspirasi
masyarakat luas. Segalanya cenderung mengukuhkan status quo, persisnya
mengegolkan apa maunya penguasa.
Emil Salim boleh didukung sekian puluh ribu tanda tangan, tapi perkara ia
menjadi wakil presiden atau tidak menunggu pilihan presiden terpilih,
nanti. Mungkin presiden itu (siapa lagi bila bukan Presiden Soeharto)
memang sudah punya pilihan (misalnya Habibie). Cuma, tetap ada peluang,
sekecil apa pun, bila ia menghendaki Emil Salim (atau siapa pun yang tidak
bakal membuka peluang bahwa ini tidak demokratis), jadilah!
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), dari berbagai sumber
Emil Salim
Emil Salim salah satu ekonom yang dipercaya menjadi penasihat ekonomi
presiden di awal Orde Baru berkuasa. Kepakarannya di bidang ini memang
mumpuni. Ilmu ekonomi ia timba dari Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia, 1958. Gelar doktor bidang ekonomi ia raih dari University of
California, Berkeley, AS. Emil termasuk arsitek ekonomi dan pembangunan
Orde Baru.
Selama Orde Baru, 22 tahun ia menjabat sebagai menteri. Pernah menjabat
Menteri Negara (Meneg) Penyempurnaan dan Pembersihan Aparatur Negara.
Ketika itu ia diharapkan membawa angin segar perubahan. Salah seorang
pendiri dewan mahasiswa UI ini memang terkenal pemberani, kritis, dan
pandai berdebat. Toh, tak banyak yang bisa dilakukannya dalam posisi
tersebut –tampaknya KKN di Indonesia memang sulit dibasmi hanya dalam
waktu singkat, kurang dari lima tahun. Pernah ia menjadi Menteri
Perhubungan. Paling lama berurusan dengan lingkungan hidup. Tiga periode,
atau 15 tahun, Emil menjabat Meneg Lingkungan Hidup.
Emil pernah berada di pos “basah” dan pos “kering”. Bagaimana rasanya? "Ketika
saya menjabat Menteri Perhubungan, karena banyak proyek, setiap lebaran
selalu datang puluhan karangan bunga ke rumah. Tapi ketika jadi Menteri
Lingkungan Hidup, yang tak banyak proyek, tak ada sekuntum bunga pun,"
paparnya.
Di tengah arus reformasi, ia sempat mencalonkan diri jadi wakil presiden,
1998. Juga salah satu kandidat presiden, 1999. Tapi “takdirnya”,
barangkali, ada di bidang ekonomi. Kepakarannya dalam bidang tersebut
masih dibutuhkan. Melalui Keppres No. 144 tanggal 30 November 1999,
Abdurrahman Wahid (presiden saat itu) mengangkat Emil menjadi Ketua
Dewan Ekonomi Nasional –sebuah lembaga pengkaji masalah ekonomi, terdiri
atas 13 pakar ekonomi dari berbagai bidang keahlian. Apa hasilnya? Tidak
ada, kata para pengamat. Bukan karena Emil tak bisa bekerja, tapi karena
tugas Dewan memang hanya memberi masukan kepada presiden. Jadi, terserah
presidennya.
Di samping masih terus mengikuti berbagai masalah ekonomi, pencinta
buku-buku Karl May ini tak pernah surut perhatiannya terhadap persoalan
lingkungan hidup. Sampai sekarang, Emil memimpin Yayasan Keanekaragaman
Hayati (Kehati) yang bergerak pada bidang pelestarian dan pemanfaatan
keanekaragaman hayati. pdat EMIL SALIM
Sejak terpilih menjadi Menteri Negara PPLH (Pengawasan Pembangunan dan
Lingkungan Hidup), 1978, nama Emil Salim tidak pernah usai
diperbincangkan. Terutama karena gebrakannya dalam soal lingkungan hidup.
Konsep Andal (analisa dampak lingkungan)-nya berhasil menyelamatkan
beberapa kerusakan lingkungan akibat proyek- proyek raksasa. Emil
memberi contoh tentang perlunya Andal, yaitu ketika ada rencana
membangun Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) di Kota Panjang, Riau. Waduk
yang dibutuhkan akan menenggelamkan areal yang ditempati candi Muara
Takus. Andal ternyata berhasil mencegah penenggelaman candi tersebut.
Emil juga pemrakarsa translokasi gajah dari Air Sugihan ke hutan Lebong
Hitam di Palembang, Sumatera Selatan, November 1982. Ketika itu, ratusan
gajah dilaporkan merajah kebun jagung milik transmigran.
Rupanya, gajah-gajah itu kehilangan daerah pengembaraannya lantaran
dijadikan lokasi transmigrasi. Emil segera turun tangan bersama ratusan
prajurit Kodam IV Sriwijaya -- waktu itu -- dibantu transmigran setempat,
menggiring gajah ke tempat yang baru.
Meski ayahnya, seorang kepala Pekerjaan Umum (PU) tergolong mampu, Emil
sempat mengalami hidup prihatin. Masih duduk di SMP, di Palembang, ia
ditunjuk menjadi Ketua Tentara Pelajar dan Ketua Ikatan Pemuda Pelajar
Indonesia (IPPI).
Tamat SMP, Emil merantau ke Bogor, masuk ke SMA Republik, menjadi Ketua
Cabang IPPI dan anggota Korps Mobilisasi Pelajar Siliwangi. Tidak heran
jika di balik bajunya selalu terselib sepucuk pistol.
Emil, yang menyukai kisah petualangan karangan Karl May, menemukan
kesamaan antara cerita dalam buku dan kenyataan yang dialaminya ketika
berjuang dahulu. Kalau dalam buku terdapat adegan tidur di tengah hutan,
makan daging bakar, dan melihat orang tertembak mati, ''Semua itu juga
kami alami. Mengerikan memang, tapi mengesankan,'' ujarnya.
Setelah lulus SMA, Emil masuk Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Tempat kuliah waktu itu di Gedung Kesenian, Pasar Baru. Suatu ketika,
gedung tempat Emil dan kawan-kawan kuliah dipakai untuk kegiatan lain.
''Terpaksa kami ramai-ramai naik sepeda ke suatu tempat, dan kuliah di
bawah pohon,'' tuturnya mengenang.
Sebagai mahasiswa, ia aktif dan tercatat sebagai pelopor pembentukan
Dewan Mahasiswa di Universitas Indonesia. Emil sempat pula menjadi
asisten dosennya, Sumitro Djojohadikusumo. Lulus UI, Emil dikirim ke
Universitas California, Berkeley, AS, dan meraih gelar doktor dengan
disertasinya Institutional Structure and Economic Development, 1964.
Setelah itu, kariernya berjalan mantap. Dimulai menjadi anggota Tim
Penasihat Ekonomi Presiden, 1966, kemudian menjabat Ketua Bappenas
merangkap anggota MPRS dan DPRGR. Diangkat menjadi Menteri Negara
Penyempurnaan dan Pembersihan Aparatur Negara, 1977, kini selain menjadi
Menteri Negara KLH, sejak 1983 ia juga guru besar FE UI.
Menteri yang mudah tersenyum ini selalu tampak rapi berpakaian. Tidak
heran jika ia pernah terpilih sebagai Pria Berbusana Terbaik, 1980.
Padahal, menurut Emil, yang mengatur pakaiannya adalah Nyonya Roosmini,
sang istri.
Sebagai Menteri KLH, ia tampak sangat mencintai tugas- tugasnya.
Terlihat dari lukisan-lukisan yang tergantung di dinding ruang kantornya,
hampir semuanya dari bahan bekas. Seperti lukisan burung cenderawasih
dari bungkus rokok. Tidak ketinggalan foto-foto satwa dan hutan.
Satu-satunya lukisan pastel di ruang kerjanya adalah lukisan gajah karya
Gilang Cempaka, pelukis cilik dari Bandung.
Emil penggemar atletik dan tenis.
►e-ti/crs
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|