| |
C © updated 29102006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
EMHA AINUN NAJIB
Lahir:
Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953
Agama:
Islam
Isteri:
Novia Kolopaking
Pendidikan:
- SD, Jombang (1965)
- SMP Muhammadiyah, Yogyakarta (1968)
- SMA Muhammadiyah, Yogyakarta (1971)
- Pondok Pesantren Modern Gontor
- FE di Fakultas Filsafat UGM (tidak tamat)
Karir:
- Pengasuh Ruang Sastra di harian Masa Kini, Yogyakarta (1970)
- Wartawan/Redaktur di harian Masa Kini, Yogyakarta (1973-1976)
- Pemimpin Teater Dinasti (Yogyakarta)
- Pemimpin Grup musik Kyai Kanjeng
- Penulis puisi dan kolumnis di beberapa media
Karya Seni Teater:
• Geger Wong Ngoyak Macan (1989, tentang pemerintahan 'Raja' Soeharto),
• Patung Kekasih (1989, tentang pengkultusan),
• Keajaiban Lik Par (1980, tentang eksploitasi rakyat oleh berbagai
institusi modern),
• Mas Dukun (1982, tentang gagalnya lembaga kepemimpinan modern).
• Santri-Santri Khidhir (1990, bersama Teater Salahudin di lapangan
Gontor dengan seluruh santri menjadi pemain, serta 35.000 penonton di
alun-alun madiun),
• Lautan Jilbab (1990, dipentaskan secara massal di Yogya, Surabaya dan
Makassar),
• Kiai Sableng dan Baginda Faruq (1993).
• Perahu Retak (1992).
Buku Puisi:
• “M” Frustasi (1976),
• Sajak-Sajak Sepanjang Jalan (1978),
• Sajak-Sajak Cinta (1978),
• Nyanyian Gelandangan (1982),
• 99 Untuk Tuhanku (1983),
• Suluk Pesisiran (1989),
• Lautan Jilbab (1989),
• Seribu Masjid Satu Jumlahnya ( 1990),
• Cahaya Maha Cahaya (1991),
• Sesobek Buku Harian Indonesia (1993),
• Abacadabra (1994),
• Syair Amaul Husna (1994)
Buku Essai:
• Dari Pojok Sejarah (1985),
• Sastra Yang Membebaskan (1985)
• Secangkir Kopi Jon Pakir (1990),
• Markesot Bertutur (1993),
• Markesot Bertutur Lagi (1994),
• Opini Plesetan (1996),
• Gerakan Punakawan (1994),
• Surat Kepada Kanjeng Nabi (1996),
• Indonesia Bagian Penting dari Desa Saya (1994),
• Slilit Sang Kiai (1991),
• Sudrun Gugat (1994),
• Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (1995),
• Bola- Bola Kultural (1996),
• Budaya Tanding (1995),
• Titik Nadir Demokrasi (1995),
• Tuhanpun Berpuasa (1996),
• Demokrasi Tolol Versi Saridin (1997)
• Kita Pilih Barokah atau Azab Allah (1997)
• Iblis Nusantara Dajjal Dunia (1997),
• 2,5 Jam Bersama Soeharto (1998),
• Mati Ketawa Cara Refotnasi (1998)
• Kiai Kocar Kacir (1998)
• Ziarah Pemilu, Ziarah Politik, Ziarah Kebangsaan (1998)
• Keranjang Sampah (1998) Ikrar Husnul Khatimah (1999)
• Jogja Indonesia Pulang Pergi (2000),
• Ibu Tamparlah Mulut Anakmu (2000),
• Menelusuri Titik Keimanan (2001),
• Hikmah Puasa 1 & 2 (2001),
• Segitiga Cinta (2001),
• “Kitab Ketentraman” (2001),
• “Trilogi Kumpulan Puisi” (2001),
• “Tahajjud Cinta” (2003),
• “Ensiklopedia Pemikiran Cak Nun” (2003),
• Folklore Madura (2005),
• Puasa ya Puasa (2005),
• Kerajaan Indonesia (2006, kumpulan wawancara),
• Kafir Liberal (2006)
• Jalan Sunyi EMHA (Ian L. Betts, Juni 2006)
Alamat Rumah:
Jalan Kadipaten Wetan K-11 Yogyakarta
Alamat Kantor:
Dewan Kesenian Daerah Istimewa Yogyakarta
|
|
| |
|
|
|
|
| CAK NUN HOME |
|
|
 |
Emha Ainun Nadjib
Kyai Kanjeng Sang Pelayan
Budayawan Emha Ainun Nadjib, kelahiran Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953,
ini seorang pelayan. Suami Novia Kolopaking dan pimpinan Grup Musik Kyai
Kanjeng, yang dipanggil akrab Cak Nun, itu memang dalam berbagai
kegiatannya, lebih bersifat melayani yang merangkum dan memadukan
dinamika kesenian, agama, pendidikan politik dan sinergi ekonomi. Semua
kegiatan pelayannya ingin menumbuhkan potensialitas rakyat.
Bersama Grup Musik Kiai Kanjeng, Cak Nun rata-rata 10-15 kali per bulan
berkeliling ke berbagai wilayah nusantara, dengan acara massal yang
umumnya dilakukan di area luar gedung. Di samping itu, secara rutin
(bulanan) bersama komunitas Masyarakat Padang Bulan, aktif mengadakan
pertemuan sosial melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas
nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metoda perhubungan kultural,
pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah
masyarakat.
Dalam berbagai forum komunitas Masyarakat Padang Bulan, itu pembicaraan
mengenai pluralisme sering muncul. Berkali-kali Cak Nun yang menolak
dipanggil kiai itu meluruskan pemahaman mengenai konsep yang ia sebut
sebagai manajemen keberagaman itu.
Dia selalu berusaha meluruskan berbagai salah paham mengenai suatu hal,
baik kesalahan makna etimologi maupun makna kontekstual. Salah satunya
mengenai dakwah, dunia yang ia anggap sudah terpolusi. Menurutnya, sudah
tidak ada parameter siapa yang pantas dan tidak untuk berdakwah. “Dakwah
yang utama bukan dengan kata-kata, melainkan dengan perilaku. Orang yang
berbuat baik sudah berdakwah," katanya.
Karena itulah ia lebih senang bila kehadirannya bersama istri dan
kelompok musik Kiai Kanjeng di taman budaya, masjid, dan berbagai
komunitas warga tak disebut sebagai kegiatan dakwah. "Itu hanya bentuk
pelayanan. Pelayanan adalah ibadah dan harus dilakukan bukan hanya
secara vertikal, tapi horizontal," ujarnya.
Emha merintis bentuk keseniannya itu sejak akhir 1970-an, bekerja sama
dengan Teater Dinasti -- yang berpangkalan di rumah kontrakannya, di
Bugisan, Yogyakarta. Beberapa kota di Jawa pernah mereka datangi, untuk
satu dua kali pertunjukan. Selain manggung, ia juga menjadi kolumnis.
Dia anak keempat dari 15 bersaudara. Ayahnya, Almarhum MA Lathif, adalah
seorang petani. Dia mengenyam pendidikan SD di Jombang (1965) dan SMP
Muhammadiyah di Yogyakarta (1968). Sempat masuk Pondok Modern Gontor
Ponorogo tapi kemudian dikeluarkan karena melakukan demo melawan
pemerintah pada pertengahan tahun ketiga studinya. Kemudian pindah ke
SMA Muhammadiyah I, Yogyakarta sampai tamat. Lalu sempat melanjut ke
Fakultas Ekonomi UGM, tapi tidak tamat.
Lima tahun (1970-1975) hidup menggelandang di Malioboro, Yogya, ketika
belajar sastra dari guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi, seorang
sufi yang hidupnya misterius dan sangat memengaruhi perjalanan Emha
berikutnya.
Karirnya diawali sebagai Pengasuh Ruang Sastra di harian Masa Kini,
Yogyakarta (1970). Kemudian menjadi Wartawan/Redaktur di harian Masa
Kini, Yogyakarta (1973-1976), sebelum menjadi pemimpin Teater Dinasti
(Yogyakarta), dan grup musik Kyai Kanjeng hingga kini. Penulis puisi dan
kolumnis di beberapa media.
Ia juga mengikuti berbagai festival dan lokakarya puisi dan teater. Di
antaranya mengikuti lokakarya teater di Filipina (1980), International
Writing Program di Universitas Iowa, AS (1984), Festival Penyair
Internasional di Rotterdam, Belanda (1984) dan Festival Horizonte III di
Berlin Barat, Jerman (1985).
Karya Seni Teater
Cak Nun memacu kehidupan multi-kesenian di Yogya bersama Halimd HD,
networker kesenian melalui Sanggarbambu, aktif di Teater Dinasti dan
mengasilkan beberapa reportoar serta pementasan drama. Di antaranya:
Geger Wong Ngoyak Macan (1989, tentang pemerintahan 'Raja' Soeharto);
Patung Kekasih (1989, tentang pengkultusan); Keajaiban Lik Par (1980,
tentang eksploitasi rakyat oleh berbagai institusi modern); Mas Dukun
(1982, tentang gagalnya lembaga kepemimpinan modern).
Selain itu, bersama Teater Salahudin mementaskan Santri-Santri Khidhir
(1990, di lapangan Gontor dengan seluruh santri menjadi pemain, serta
35.000 penonton di alun-alun madiun). Lautan Jilbab (1990, dipentaskan
secara massal di Yogya, Surabaya dan Makassar); dan Kiai Sableng dan
Baginda Faruq (1993).
Juga mementaskan Perahu Retak (1992, tentang Indonesia Orba yang
digambarkan melalui situasi konflik pra-kerajaan Mataram, sebagai buku
diterbitkan oleh Garda Pustaka), di samping Sidang Para Setan, Pak
Kanjeng, Duta Dari Masa Depan.
Dia juga termasuk kreatif dalam menulis puisi. Terbukti, dia telah
menerbitkan 16 buku puisi: “M” Frustasi (1976); Sajak-Sajak Sepanjang
Jalan (1978); Sajak-Sajak Cinta (1978); Nyanyian Gelandangan (1982); 99
Untuk Tuhanku (1983); Suluk Pesisiran (1989); Lautan Jilbab (1989);
Seribu Masjid Satu Jumlahnya ( 1990); Cahaya Maha Cahaya (1991); Sesobek
Buku Harian Indonesia (1993); Abacadabra (1994); dan Syair Amaul Husna
(1994)
Selain itu, juga telah menerbitkan 30-an buku esai, di antaranya: Dari
Pojok Sejarah (1985); Sastra Yang Membebaskan (1985); Secangkir Kopi Jon
Pakir (1990); Markesot Bertutur (1993); Markesot Bertutur Lagi (1994);
Opini Plesetan (1996); Gerakan Punakawan (1994); Surat Kepada Kanjeng
Nabi (1996); Indonesia Bagian Penting dari Desa Saya (1994); Slilit Sang
Kiai (1991); Sudrun Gugat (1994); Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (1995);
Bola- Bola Kultural (1996); Budaya Tanding (1995); Titik Nadir Demokrasi
(1995); Tuhanpun Berpuasa (1996); Demokrasi Tolol Versi Saridin (1997);
Kita Pilih Barokah atau Azab Allah (1997);
Iblis Nusantara Dajjal Dunia (1997); 2,5 Jam Bersama Soeharto (1998);
Mati Ketawa Cara Refotnasi (1998); Kiai Kocar Kacir (1998); Ziarah
Pemilu, Ziarah Politik, Ziarah Kebangsaan (1998); Keranjang Sampah
(1998); Ikrar Husnul Khatimah (1999); Jogja Indonesia Pulang Pergi
(2000); Ibu Tamparlah Mulut Anakmu (2000); Menelusuri Titik Keimanan
(2001); Hikmah Puasa 1 & 2 (2001); Segitiga Cinta (2001); “Kitab
Ketentraman” (2001); “Trilogi Kumpulan Puisi” (2001); “Tahajjud Cinta”
(2003); “Ensiklopedia Pemikiran Cak Nun” (2003); Folklore Madura (2005);
Puasa ya Puasa (2005); Kerajaan Indonesia (2006, kumpulan wawancara);
Kafir Liberal (2006); dan, Jalan Sunyi EMHA (Ian L. Betts, Juni 2006).
Pluralisme
Cak Nun bersama Grup Musik Kiai Kanjeng dengan balutan busana serba
putih, ber-shalawat (bernyanyi) dengan gaya gospel yang kuat dengan
iringan musik gamelan kontemporer di hadapan jemaah yang berkumpul di
sekitar panggung Masjid Cut Meutia. Setelah shalat tarawih terdiam, lalu
sayup-sayup terdengar intro lagu Malam Kudus. Kemudian terdengar syair,
"Sholatullah salamullah/ ’Ala thoha Rasulillah/ Sholatullah salamullah/
Sholatullah salamullah/ ’Ala yaasin Habibillah/ ’Ala yaasin
Habibillah..."
Tepuk tangan dan teriakan penonton pun membahana setelah shalawat itu
selesai dilantunkan. "Tidak ada lagu Kristen, tidak ada lagu Islam. Saya
bukan bernyanyi, saya ber-shalawat," ujarnya menjawab pertanyaan yang
ada di benak jemaah masjid.
Tampaknya Cak Nun berupaya merombak cara pikir masyarakat mengenai
pemahaman agama. Bukan hanya pada Pagelaran Al Quran dan Merah Putih
Cinta Negeriku di Masjid Cut Meutia, Jakarta, Sabtu (14/10/2006) malam,
itu ia melakukan hal-hal yang kontroversial. Dalam berbagai komunitas
yang dibentuknya, oase pemikiran muncul, menyegarkan hati dan pikiran.
Perihal pluralisme, sering muncul dalam diskusi Cak Nun bersama
komunitasnya. "Ada apa dengan pluralisme?" katanya. Menurut dia, sejak
zaman kerajaan Majapahit tidak pernah ada masalah dengan pluralisme.
"Sejak zaman nenek moyang, bangsa ini sudah plural dan bisa hidup rukun.
Mungkin sekarang ada intervensi dari negara luar," ujar Emha. Dia dengan
tegas menyatakan mendukung pluralisme. Menurutnya, pluralisme bukan
menganggap semua agama itu sama. Islam beda dengan Kristen, dengan
Buddha, dengan Katolik, dengan Hindu. “Tidak bisa disamakan, yang beda
biar berbeda. Kita harus menghargai itu semua," tutur budayawan
intelektual itu. ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|