|
|
 |

Nama :
Hj. Elza Syarief, SH
Lahir :
Jakarta, 24 Juli 1957
Agama :
Islam
Suami :
Laksamana Muda (purn) H Yuswaji SIP MBA
Anak :
- Berlianti (25, sudah menikah)
- Lia Alizia SH (24)
- Mia Vinita (21)
- Intan (20)
- Fikri Ghanie (5)
Pendidikan :
Fakultas Hukum Universitas Jayabaya, Jakarta
Pekerjaan :
(sebagai corporate lawyer)
PT Mandala Permai
PT Citra Nasional
PT Timor Motor
PT Timor Industri Complement
PT Mandala Citra Unggulan
PT Humpuss
Organisasi:
Wakil Sekjen DPP-HAPI 1999-2004
Alamat :
Jl Kramat Sentiong 38A Jakarta Pusat
E-mail:
elza_lawfirm@hotmail.com
|
|
Hj. Elza Syarief, SH
Takkan Berhenti Menolong Orang
Reformasi yang diwarnai euforia demokrasi, penegakan hukum, khususnya
pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), telah mendongkrak
popularitas banyak pengacara. Salah satu di antaranya Elza Syarief, SH.
Namanya berkibar sejak dipercaya menangani kasus putera bungsu mantan
Presiden Soeharto. Namun, dia pun tersandung, diduga menyuap saksi dalam
kasus itu.
Wajah Elza Syarief sudah akrab dengan pemirsa televisi dan pembaca media
cetak. Sebab wajah itu sudah amat sering disorot kamera televisi lokal dan
internasional maupun kamera para fotografer media cetak. Penampilannya
tenang dan simpatik. Cara bicaranya pun teratur, sopan dan tidak
meledak-ledak. Padahal waktu kecil, dia telat bicara. Pada umur 3 (tiga)
tahun baru dia bisa ngomong. Sampai masa remaja, dia juga masih banyak
diam. Kata dokter, cara berpikirnya lebih cepat daripada berbicara,
sehingga banyak kalimat yang hilang. Namun, dia dapat mengatasi dengan
banyak belajar.
Kini, popularitasnya merekah, mirip selebritis yang naik daun, terutma
sejak menangani kasus Hutomo Mandala Putera alias Tommy Soeharto.
Kehadirannya selalu menghiasi layar kaca dan media cetak setiap kali kasus
itu mencuat di publik.
Wanita kelahiran Jakarta 24 Juli 1957 ini begitu sering tampil di media
masa dan diburu wartawan. Maklum, dialah pengacara Tommy Soeharto, anak
mantan Presiden Soeharto, yang setahun buron, kemudian diadili dalam kasus
pembunuhan seorang hakim agung.
"Kalau Mas Tommy enggak buron, masalahnya juga enggak akan heboh," kata
pengacara yang sudah pernah menangani aneka kasus, kecuali kasus politik
ini. Jadi pengacara Tommy, katanya, "Bukan karena mau jadi sorotan. Saya
cuma ingin memberi solusi hukum yang tepat."
Mulanya Hanya Ingin Jadi Ibu Rumah Tangga
Sebagai kakak tertua dari 3 bersaudara, Elza sering kebagian tugas menjaga
adik-adiknya. Karena ibunya, Hj.Betty, sering mendampingi ayahnya, Drs.
Syarief, pejabat sebuah bank pemerintah, tugas ke luar kota. Karena
kesibukan kedua orang tuanya, Elza jadi tak punya cita-cita muluk. "Saya
hanya ingin menjadi ibu rumah tangga yang mengurus anak-anak di rumah, "
katanya.
Sederhana, ya? Tapi, sekarang kenyataannya berbeda. Pekerjaan telah
membuatnya harus meninggalkan anak-anak. Apakah profesi advokat sebagai
pilihan utamanya? "Kalau masih boleh memilih, sih, saya ingin jadi dokter.
Biar bisa praktek dekat. Atau punya katering, buka jahitan. Pokoknya,
tanpa harus meninggalkan anak-anak," ungkapnya.
Pada masa kecil, Elza sering berpindah-pindah mengikuti tempat tugas
ayahnya. Dia pernah tinggal di Tegal, Semarang, Ambon, dan Tanjung Karang.
Gara-gara itu juga, saat SD dia harus pindah sekolah di empat kota. "Baru
kenal teman sudah harus pindah lagi, sebel," ujarnya.
Sehingga dia tak sempat punya sahabat. Baru saat di SMP, di Makasar, Elza
bisa punya sahabat. Dia adalah Andi Meriem Matalata. Sampai sekarang
mereka masih menjalin persahabatan. "Memang saya tak punya banyak teman.
Mereka enggan ke rumah karena kalau datang harus izin dulu, tak bisa masuk
seenaknya. Malaslah mereka.
Mungkin karena itu, kami bersaudara jadi amat dekat. Semuanya sudah
tersedia di rumah. Mau berolah raga, di dekat rumah ada," ungkapnya.
Sehari-hari, dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan belajar dan
membaca. Bukunya berpeti-peti. Sampai orang bilang, hidupnya terkekang.
Jika liburan dia memilih kursus menjahit, membuat kue, salon. Pokoknya,
dia tidak pemah berhenti melakukan kegiatan. Dia pernah membuat kue dan
membuka catering dan salon. "Lucunya, apa pun yang saya buat, selalu
laku," kenang Elza. Makanya banyak yang bingung, kok, Elza jadi pengacara?
Sebab dulu mereka mengenal Elza membuka usaha catering, kue dan salon.
Kuliah Setelah Punya 2 Anak
Elza memang soerang tipe manusia yang dapat menerima apa adanya. Dia
seorang penurut yang amat menghormati orang tua dan suaminya. "Pernikahan
saya pun karena dijodohkan. Sebagai anak yang penurut, saya mau saja,"
katanya terbuka. Perkawinan ini dikaruniai dua anak.
Namun, berhubung menikah dalam usia sangat muda, banyak hal-hal yang tidak
dia mengerti dalam kehidupan perkawinan. Sehingga sewaktu suaminya yang
bekerja di Kejaksaan Agung RI menyatakan ingin menikahi wanita lain, Elza
memilih untuk mengundurkan diri sebagai istri dan sepenuhnya mengasuh
kedua anaknya tersebut secara baik. ”Perpisahan ini berlangsung secara
baik,” katanya kepada Tokoh Indonesia. Elza tidak dapat apapun kecuali
ingin memelihara kedua anaknya hingga dewasa.
Didalam menghidupi kedua anaknya, Elza menolak untuk dibiayai oranng
tuanya. Walaupun pada saat itu ayahnya mempunyai jabatan cukup tinggi
sebagai Inspektur Wilayah di DKI Jaya, Jawa Barat dan Kalimantan Barat.
Dia memilih membuka kost-kostsan dan katering sambil kuliah di Universitas
Jayabaya dekat rumahnya di Pulo Mas.
Sebelum diwisuda, Elza sudah mulai membantu teman wanita yang belajar
menjadi pengacara, membuat dia tertarik di bidang kepengacaraan. Kasus
pertama yang dipegangnya sendiri adalah PHK masal Satpam di Telkom, yang
dirasakan penyelesaiannya cukup memuaskan bagi para pihak baik Telkom
maupun Satpam.
"Wah, bahagia sekali. Akhirnya saya total memilih membantu orang. Di situ
keberhasilan saya membela mereka dengan rasa bahagia. Ternyata kalau kita
hendak beramal itu bukan semata-mata pakai uang saja. Memberi bantuan
hukum juga bisa menyenangkan orang lain yang dihimpit kesulitan. Sehingga
saya lihat dari sisi kemanusian bermanfaat," katanya.
Sejak itu, ia memutuskan untuk tetap memilih jalur jadi pengacara. Awalnya
ia sekadar ikut-ikutan dengan kantor pengacara lainnya. Pertama di Ikatan
Warga Satya, yaitu kumpulan mantan CPM maupun POM AD. Kemudian ngumpul
lagi di Kantor Pengacara Palmer Situmorang SH, lalu di Kantor Pengacara OC
Kaligis SH.
Lalu dia pun memutuskan ikut ujian pengacara tahun 1989, Advokat 1992,
corporate lawyer 1998, dan pasar modal 1999. Dia mengaku banyak belajar
ketika bekerja di kantor O.C.Kaligis. "Saya banyak belajar dari dia,"
katanya merendah. Di situ dia pernah menjadi Direktur Pidana tahun
1988-1991. Sampai akhirnya memutuskan membuka kantor advokat dan konsultan
hukum sendiri di daerah Salemba.
Setelah buka kantor sendiri, Elza mendapat jodoh lagi yaitu H.
Yuswaji,SIP,MBA adalah seorang perwira TNI-AL dan pernah menjabat sebagai
Asintel Kasum ABRI dengan pangkat Laksamana Muda. Perkawinan ini menambah
besar dan ramai keluarga dimana anak Elza bertambah menjadi 5 (lima)
orang. Elza tidak pernah membedakan anak yang dilahirkan dari rahimnya
atau bukan, dan mendapat perhatian dan kasih sayang yang sama sesuai
kebutuhan anak-anak tersebut.
Sang suami sangat mendukung profesi Elza. Sehingga banyak sekali kemajuan
yang dialami Elza setelah perkawinan tersebut dan tidak lupa volume
menolong para pekerja lebih luas karena Elza menjadi Direktur Advokasi DPP
SPMI (Serikat Pekerja Metal Indonesia) yang merupakan cabang dari
International Metal Workers Federation.
Sejak membuka kantor sendiri pada tahun 1991, sudah begitu banyak jenis
perkara yang ditangani, kecuali perkara politik dan narkotik. Masalah
politik hukum sangat terpengaruh dengan kekuasaan, sedangkan narkotik
sangat rawan dengan jaringan mafia narkotik tersebut yang dapat
membahayakan dirinya.
"Hidup itu kan harus balanced, misalnya mengambil suatu dana untuk
disalurkan kepada yang berhak. Seperti khususnya pekerja yang menjadi
korban PHK massal, perlu saya bantu secara cuma-cuma," ungkapnya lagi.
Menurut dia, jadi pengacara itu tidak gampang. Ia mencontohkan, yang ia
rasakan berat adalah permintaan atau target yang terlalu tinggi dari
seorang klien untuk memenangkan kasusnya. Karena betapapun sulitnya suatu
perkara, kalau target yang dibebankan tidak terlalu tinggi, hal tersebut
bisa dikerjakan dengan sungguh-sungguh namun dengan suasana santai. Karena
walaupun secara hukum dapat menang tetapi hukum di Indonesia belum
sepenuhnya tegak atau dengan kata lain Hukum belum sepenuhnya menjadi
Panglima bagi kehidupan bangsa dan Negara Indonesia.
Wanita berkacamata yang berkantor di Jl Kramat Sentiong 38A Jakarta Pusat
ini juga mengaku tidak menargetkan masalah uang sebagai hal yang utama.
"Karena saya punya kewajiban moral untuk membantu orang-orang yang memang
tidak punya," ujarnya.
Sejak kecil, Elza memang sudah menaruh empaty pada kaum papa. Ketika
sekolah dulu, ibunya tak pernah memberi uang jajan tapi selalu dibekali
makanan kecil. Satu hari, waktu mencoba pulang sendiri karena tidak
dijemput, dia melihat ada orang minta-minta. Dia iba sekali karena
terbiasa melihat yang bagus-bagus. Elza kecil juga heran, kok, pengemis
itu jelek sekali. Akhirnya, bekal makanannya diberikan pada pengemis itu.
Tapi karena makanan yang dia berikan itu kurang, dia pun menyuruh para
pengemis itu datang ke rumah mengambil makanan. Maka saat keluarga Elza
mau pindah ke Ambon, ibunya heran sekaligus bingung, karena begitu banyak
pengemis datang ke rumah. Ternyata mereka sedih akan kepergian Elza.
Tenang dan Simpatik
Penampilan yang tenang dan simpatik serta kredibilitasnya sebagai
pengacara yang sudah cukup lama, ternyata mampu menderek gerbong
kepercayaan keluarga Cendana. Bermula ketika perkenalannya dengan Bambang
Trihatmodjo untuk memegang kasus tanah di salah satu perusahaannya. Satu
peluang besar masuk lingkungan bisnis besar keluarga Cendana tak
disia-siakannya. Ibarat gayung bersambut, keberhasilan memenangkan kasus
itu telah mendongkrak kredibilitasnya di mata keluarga Cendana.
Tommy Soeharto ternyata juga melirik keberhasilannya. Secara pribadi,
Wakil Sekjen DPP-HAPI periode tahun 1999-2004, dipanggil secara pribadi
oleh bos PT Humpus itu. Pada tahun 1996, ia diminta menjadi bagian dari
corporate lawyer di beberapa perusahaan milik Tommy. Antara lain menangani
kasus PT Mandalapratama Permai, PT Timor Putra Nasional, PT Timor Industri
Komponen, PT Mandala Citra Umbulan, Yayasan Bakti Putra Bangsa dan Humpuss
Group. Tak pelak dirinya memperoleh sertifikat corporate lawyer tahun
1998.
Padahal sebelumnya, selama perjalanan karirnya, nama Elza di keluarga
Cendana memang tak pernah terdengar. Meski pernah pengacara Siti
Hardiyanti Indra Rukmana alias Tutut, namanya baru benar-benar berkibar
setelah Tommy Soeharto mengajukan Peninjauan Kembali (PK) atas tuduhan
terlibat kasus tukar guling PT Goro Bathara Sakti-Bulog. Ia secara pribadi
diminta Tommy pribadi untuk menjadi salah satu anggota penasihat hukumnya
pada September 2000. Saat itulah mulai mendampingi Tommy bersama Nudirman
Munir dan muncul di televisi.
Sebenarnya Elza masuk ke tim pembela Tommy belakangan. Semula, tim pembela
anak kesayangan Pak Harto itu adalah Bob R.E. Nasution, B.E.D. Siregar,
Erman Umar, L.M.M. Samosir, dan Nudirman Munir. Sewaktu akan Peninjauan
Kembali Elza diminta khusus untuk mengurus Peninjauan Kembali Tommy
pribadi. Tapi, sejak Tommy "kabur" pada awal November 2000, para pengacara
tersebut mengundurkan diri, kecuali Nudirman Munir. Sejak itulah Pengacara
Tommy adalah Elza dan Nudirman.
"Ada yang bilang, saya pengacara Keluarga Cendana. Bukan, kok. Memang
sudut pandang orang berbeda-beda dan itu hak mereka untuk menilai," kata
Elza.
Dia pun membantah dirinya sebagai pembela orang yang salah. "Yang jelas,
jika menolong orang, saya lihat dulu bagaimana kasusnya dan apa target
yang akan dituju. Saya tidak bisa secara ajaib menghilangkan kesulitan
mereka tapi memberikan solusi masalah hukum yang mereka hadapi. Jadi,
bukan berarti saya membela mas Tommy apapun yang terjadi harus bebas,
tetapi meletakkan fakta-fakta yang sebenarnya dan mendampingi klien di
dalam menjalani proses hukum. Kalau mas Tommy bebas, karena memang
faktanya dia tidak bersalah.
Masyarakat sekarang, kan, keliru menyatakan saya pembela. Dikiranya tukang
pukul, main hantam orang kanan-kiri. Siapa pun yang meminta bantuan saya,
akan saya lakukan upaya hukum semaksimal mungkin. Saya akan membantu siapa
saja yang meminta bantuan hukum kepada saya. Setiap klien mendapat
perlakuan sama baik buruh maupun Tommy, saya bantu," kata Elza.
Dalam menjalankan profesinya sebagai advokat, Elza mengaku tak ingin jadi
miliarder. "Memang selama hidup saya bersyukur, tak pernah mendapat
kesulitan yang berarti, sepertinya Allah enggak pernah memberi saya susah.
Makanya saya enggak ingin mencari uang sebanyak-banyaknya," kata putri
Minang ini.
"Apa, sih, yang mau saya cari lagi? Saya enggak pernah melihat ke atas.
Kalau begitu, pasti merasa serba kekurangan. Yang berada di atas, itu,
kan, sedikit. Justru yang di bawah banyak. Makanya saya lebih banyak
melihat ke bawah.
Saya selalu berdoa agar jangan putus-putus diberi rezeki oleh Allah SWT.
Maksudnya tak lain agar saya bisa membantu orang. Yang saya cari dalam
hidup ini, bagaimana caranya bisa menolong dan berguna bagi orang lain
sehingga kita bisa bahagia. Manusia tak akan hidup jika tak berguna.
Bayangkan saja, orang tak menyapa kita, tak minta tolong. Hiii... Makanya
saya enggak bakal berhenti jadi lawyer sampai saya enggak mampu lagi.
Pendeknya, jangan pernah berhenti menolong orang," ujar Elza kepada
Tabloid Nova.
Perempuan Harus Bisa Masak
Pada awal karirnya sebagai advokat, Elza sangat bergairah dalam kerja.
Dalam seminggu, dia bisa 2-3 kali keluar kota. Untunglah suaminya tidak
protes. Bahkan suaminya senang melihat Elza aktif. Begitu juga anak-anak.
"Melihat saya rajin bekerja, mereka jadi rajin membantu ibunya di rumah,"
katanya. Walau kadang di antara mereka ada yang senewen juga kalau melihat
Elza sedang talk-show di teve. Anak perempuannya yang sensitif bisa
mematikan teve.
Dalam mendidik anak, Elza tidak pemah bikin target, anak-anak harus jadi
apa. Kasihan, ah. Dia memberi kebebasan, tapi sambil diberi pengarahan.
Sehari-hari mereka kami saling terbuka. Pada anak perempuan, Elza selalu
menekankan, minimal harus bekerja. Karena untuk zaman sekarang, enggak
mungkin cuma satu orang yang bekerja. Suami saja, misalnya.
Perempuan juga jangan bangga tidak bisa masak. Menurutnya, pembantu yang
baca-tulisnya rendah saja, bisa masak. Enggak bisa masak bukan pekerjaan
orang pintar atau priyayi. Justru mereka itu bodoh dan pemalas.
Kalau libur Elza selalu masak. "Anak dan suami selalu menunggu masakan
saya. Saya jago masak makanan Cina dan steak. Ini juga sudah diakui orang,
lho. Saya, kan, pernah buka katering. Kalau ada acara di rumah, saya pasti
masak sendiri. Saya merasa terpuji kalau bisa masak dan saya ingin menjadi
wanita yang sempurna.
Elza tidak mau jadi penentang kodrat wanita. Misalnya, bangga bisa melawan
pria. Kalau minta persamaan hak, apa, sih, yang dipersamakan? Kalau
mampu,enggak usah minta persamaan. Sampai kiamat pun enggak ada persamaan
antara pria dengan wanita karena wanita bisa datang bulan dan hamil. Tapi
kalau direndahkan pria, memang jangan," ujar Elza. Karena pria dan wanita
diciptakan Allah SWT mempunyai fungsi dan kegunaan masing-masing didunia
ini.
***Ensiklopedi Tokoh Indonesia, tsl dari berbagai sumber
|
|