| |
C © updated 25032006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/sp |
|
| |
Nama:
Dr Eka Julianta Wahjoepramono Sp BS
Lahir:
Klaten, 27 Juli 1958
Agama:
Kristen
Isteri:
Hanna K Damar
Anak:
Petra, Nico, dan Grace
Profesi:
Ahli Bedah Saraf
Pendidikan:
- Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang, 1983
Jabatan:
Kepala Neuro Science Center, RS Siloam Gleneagles, Karawaci,
Tangerang
|
|
| |
|
|
|
|
| EKA JULIANTA HOME |
|
|
 |
Dr Eka Julianta Wahjoepramono Sp BS
Dokter Ahli Bedah Saraf
Dia salah seorang dokter ahli bedah saraf yang masih terbilang langka di Indonesia.
Dia sudah menemukan teknologi baru operasi bedah saraf otak, yakni
melalui hidung yang disebutnya dengan Trans Clival.
Selama kurun waktu 10 tahun, dr Eka sudah
menangani operasi 2.839 penderita, dan hanya 2 persen yang gagal dengan
berbagai alasan medis.
Untuk melakukan operasi itu, pria bernama lengkap Dr Eka Julianta Wahjoepramono Sp BS,
kelahiran Klaten, 27 Juli 1958, yang mempelajari
ilmu yang ditekuninya itu di sejumlah negara, kini sudah menemukan
teknologi baru operasi bedah saraf otak, yakni melalui hidung yang
disebutnya dengan Trans Clival. Bahkan Eka dan tim nya sudah menangani
penderita dari berbagai negara yang mempercayainya sebagai ahli bedah
saraf otak terkemuka.
Dokter ahli bedah saraf masih sangat langka di Indonesia. Padahal kasus
bedah saraf dari tahun ke tahun meningkat. Sebagai perbandingan, RS
Siloam Gleneagles di kawasan Lippo Karawaci Tangerang pada 1996 hanya
menangani 50 kasus, namun pada 2006 ini yang perlu penanganan operasi
hampir mendekati 500 kasus.
Di tengah kesibukannya menangani pasien maupun menjadi konsultan dari
berbagai rumah sakit dan organisasi bedah saraf, maupun sebagai Honorary
President 6th Asian Conference of Neurosurgical Surgeon (ACNS) 2006, ia
bersedia menerima Pembaruan untuk berbincang-bincang di ruang kerjanya
RS Siloam, Selasa (21/3). Perbincangan dilakukan bertepatan dengan 10
tahun dia memimpin Neuro Science Centre. Berikut petikannya.
Kasus bedah saraf jumlahnya terus meningkat. Indikasi apa ini?
Betul, kami juga merekam angka yang cukup fantastis untuk kasus bedah
saraf terutama saraf otak. Beberapa sebab bisa dikemukakan, antara lain
karena kecelakaan, stroke, atau pembuluh darah pecah, tumor otak, tumor
tulang belakang, dan sebagainya. Namun, saya lebih banyak menangani
operasi otak karena stroke yang mencapai angka 902 kasus, disusul tumor
sebanyak 657 kasus, tumor tulang belakang 516 kasus, dan trauma akibat
kecelakaan sebanyak 486 kasus.
Dari penanganan kasus-kasus itu, menunjukkan indikasi selain penyakit
yang berkembang bertambah juga menunjukkan kita sudah bisa menangani
kasus ini secara baik, sehingga banyak yang percaya dan datang ke kami
agar dapat ditangani.
Penderitanya dari mana saja?
Saya dan kita semua bersyukur bisa membantu pasien yang berdatangan dari
Sabang sampai Merauke, bahkan juga dari negara lain seperti Singapura.
Padahal, mereka memiliki banyak tenaga ahli, namun datang ke saya untuk
ditangani. Yang membanggakan, semuanya bisa ditangani dengan baik. Saya
sekarang lagi menangani WN Jepang dan Amerika, dan semuanya menunjukkan
perkembangan yang menggembirakan. Saya sendiri merasa terharu. Ternyata,
kalau kita mau bekerja baik, bisa memberikan kepercayaan kepada bangsa
lain. Saya akan sangat malu kalau kita tidak bisa mengobati otak bangsa
sendiri yang perlu dioperasi karena berbagai penyakit yang dideritanya.
Selain alasan medis, ada alasan lain sehingga mereka memilih berobat
kepada Anda?
Yang pasti, jika berobat di sini, jauh lebih murah. Misalnya di
Singapura untuk operasi bisa mencapai Rp 250 juta, tetapi kita bisa
seperlimanya saja. Bahkan jika di Amerika harus ada jaminan Rp 500 juta
baru bisa ditangani oleh ahli di sana. Makanya, tidak heran jika ada
orang Singapura atau Jepang datang ke Indonesia, karena mereka sudah
percaya kita bisa menangani dengan baik dan memberikan fasilitas yang
baik pula.
Ada sejumlah pasien saya yang sudah berobat ke Amerika dan telah
menghabiskan biaya sangat banyak, ada yang lebih dari Rp 30 miliar
akhirnya kembali ke Indonesia dengan pesawat carteran dan minta
penanganan ke saya.
Mereka akhirnya percaya tidak perlu lagi berobat ke luar negeri. Karena
ada juga yang berobat ke Singapura karena didorong pihak asuransinya.
Sementara dokter di sana ada juga yang tidak jujur dan memaksakan pasien
tersebut harus dioperasi padahal indikasinya tidak perlu dilakukan.
Beberapa kasus sudah terjadi. Saya mengatakan hal itu karena si pasien
sendiri yang sebelum dioperasi menghubungi saya, dan setelah mempelajari
penyakitnya saya mengatakan tidak perlu. Hal itu kemudian didukung
pernyataan sejumlah dokter lainnya di negara itu, sehingga si pasien
langsung pergi meninggalkan rumah sakit itu dan kembali ke Jakarta.
Seorang mahasiswi mengalami kejadian buruk. Waktu itu rambutnya sudah
digundul, tinggal dioperasi. Iseng-iseng dia mengirim SMS tentang
penyakitnya. Saya kemudian memberitahu untuk menanyakan kepada dokter
lainnya dulu karena menurut saya tidak perlu dioperasi. Pendapat dokter
yang ditanya itu juga sama dengan saya.
Hal itu terjadi karena adanya kongkalikong petugas asuransi dengan
dokter di sana. Namun bukan berarti dokter di sana seperti itu semua,
karena yang baik juga masih banyak. Jadi kita perlu berhati-hati.
Kepercayaan yang Anda sebutkan bisakah dipertahankan?
Mengapa tidak? Kita harus bisa. Memang kita harus punya komitmen yang
kuat, dan mau bekerja keras. Saya selalu tekankan kepada staf saya tidak
boleh ada sedikit pun kesalahan atau human error dalam penanganan
pasien. Semuanya harus mendapat pelayanan terbaik. Penderita dan
keluarga mereka akhirnya percaya, kami benar- benar menjalankan komitmen
profesi kami.
Bidang ini sepertinya tidak men- dapat perhatian serius dari pemerintah
maupun Departemen Kesehatan?
Ya, memang investasi yang harus ditanamkan untuk mengembangkan
pengetahuan bedah saraf otak mahal, dan yang ditangani tidak sebanyak
penyakit yang berkembang di masyarakat seperti flu burung, DBD, AIDS dan
sebagainya. Untuk satu kasus bedah saraf membutuhkan dana Rp 25 juta
hingga Rp 50 juta, kecuali yang memerlukan perawatan berulang-ulang
karena terinfeksi penyakit lain.
Tapi, kita harusnya malu, hanya negara kita yang tidak memiliki
peralatan lengkap seperti Gamma Knife untuk menangani kasus bedah otak
di batang otak yang memang sulit. Saya terpaksa mengirimkan pasien
tersebut ke negara lain seperti Singapura atau Jepang, karena kami tidak
punya alat.
Untuk membelinya butuh biaya besar mencapai Rp 40 miliar dan itu pun
punya batas waktu pemakaian. Di hampir semua negara mereka memiliki alat
itu walaupun satu buah. Karena memang penting untuk penanganan bedah
saraf otak.
Kalau peralatan operasinya mahal, bagaimana menyiasatinya sehingga Anda
dan tim bisa menangani pasien yang membutuhkan pertolongan?
Jujur saya katakan, kita tidak jarang membeli alat bekas dari Jepang. Di
sana mereka biasa mengganti peralatan operasi setiap dua tahun sekali
padahal terkadang alatnya masih bagus. Nah, itu kita beli dengan harga
miring. Mereka juga terkadang menghibahkannya. Tetapi itu pun kita
kadang kesulitan membayar ongkos pengiriman.
Memang semuanya butuh perjuangan. Namun, justru dengan kenyataan itu
kita tetap bersemangat bekerja dan membuktikan kita justru bisa
melakukan banyak hal di tengah keterbatasan.
Anda juga beberapa kali mengembangkan teknologi penanganan operasi saraf
otak termasuk bedah otak melalui hidung. Bagaimana penjelasannya?
Dalam setiap pekerjaan kita perlu improvisasi termasuk ketika saya
melakukan bedah saraf otak.
Namun, tentunya dengan memperhatikan pertimbangan medis dan kondisi di
pasien. Hal yang terjadi berulang- ulang terkadang menimbulkan ide baru
dan setelah kita coba ternyata bisa menjadi pilihan baru.
Seperti Trans Clival itu bisa dilakukan karena si penderitanya memiliki
tumor di dekat batang otak dan dia memiliki rongga yang cukup besar
untuk dimasuki alat. Namun, tidak banyak penderita yang memiliki rongga
yang bisa dikerjakan melalui hidung.
Dari sekian ribu pasien, beberapa di antaranya gagal. Bagaimana Anda
menyikapi?
Saya pernah berniat mengundurkan diri empat tahun lalu sebagai ahli
bedah saraf ketika salah seorang pasien saya meninggal. Sebenarnya dia
masih sehat, namun meminta saya segera mengoperasinya. Saya yang lagi
berlibur ke Selandia Baru bersama keluarga segera pulang.
Operasi pun di lakukan dan sebenarnya sukses. Namun, menjelang finish,
tiba-tiba terjadi accident yang tidak kami ketahui dari mana, ketika ada
udara masuk yang masuk melalui pernapasan dan akhirnya ke jantung
sehingga pasien saya meninggal.
Setelah itu lebih dari dua minggu saya seperti tidak bisa bangun dan
selalu kepikiran. Dari direktur rumah sakit hingga rekan-rekan dokter
dan perawat semua berusaha menghibur, namun saya sudah tidak ambil
peduli.
Niatnya mau berhenti saja sebagai dokter sampai akhirnya istri pasien
yang meninggal itu mengirimkan SMS yang menyatakan dia ikhlas atas
kepergian suaminya dan meminta saya untuk tidak berhenti bekerja dan
mengabdi kepada kemanusiaan. Sejak itulah jiwa saya bangkit dan akhirnya
melanjutkan tugas saya lagi.
Pernah mengalami kesulitan menangani pasien?
Pernah, ketika empat tahun lalu saya harus mengoperasi penderita tumor
yang posisi tumornya berada di dalam batang otak.
Padahal, yang namanya batang otak kesenggol saja tidak boleh. Saya
melakukannya selama 24 jam dan 24 jam lagi seminggu kemudian. Itu
benar-benar pengalaman yang sangat berharga. Syukur kepada Tuhan pasien
tersebut sekarang dalam keadaan baik.
Anda juga menangani pasien tidak mampu?
Suatu kebanggaan tersendiri jika bisa membantu orang lain terutama yang
tidak mampu. Kalau memang ada yang tidak mampu kita punya Yayasan Otak
Indonesia. Kami sebagai dokter yang menangani tidak mengambil biaya
seperser pun.
Tetapi kita membutuhkan banyak peralatan dan obat. Untuk itu semua kita
mendapatkan dari donator. Sejauh ini masih ada yang suka membantu kami.
(Pewawancara: Dewi Gustiana, Suara Pembaruan Minggu, 26 Maret 2006) ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|