| |
C © updated 29062005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/penabur |
|
| |
Nama:
Pdt Dr Eka Darmaputera
Nama Alias:
The Oen Hien
Lahir:
Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah, 16 November 1942
Meninggal:
Jakarta, 29 Juni 2005
Agama:
Kristen
Isteri:
Evang Meyati Kristiani
Anak:
Arya Wicaksana
Menantu:
Vera Iskandar
Pendidikan:
- SD Masehi, Magelang (1953)
- SMP BOPKRI, Magelang (1957)
- SMA Negeri, Magelang (1960)
- Sekolah Tinggi Teologia, Jakarta (1966)
- Doktor dari Boston College, Boston, Massachusetts, AS, (1982)
Karir:
- Pelayan di Gereja Kristen Indonesia Jawa Barat
- Dosen di STT Jakarta
- Dosen di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga
Organisasi:
- Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), 1962-1966
- Pengurus Pusat Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI),
1962-1966
- Sekjen Gerakan Siswa Kristen Indonesia, 1962-1966
- Anggota Front Pemuda Pelajar, 1965-1966
- Anggota Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja Indonesia (PGI),
1984-1989
Alamat Rumah Keluarga:
Cipinang Jaya MM/1, Jakarta Timur 13410 |
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
Eka Darmaputera, The Oen Hien (1942-2005)
Sang Pendeta Pejuang Toleransi
Dia pendeta pejuang toleransi. Pendeta Emeritus Eka Darmaputera alias
The Oen Hien pantas jadi panutan dalam hal toleransi dan kemajemukan
agama. Pria kelahiran Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah, 16 November
1942, itu meninggal dunia dalam usia 63 tahun, Rabu 29 Juni 2005 pukul
08.15 WIB di RS Mitra Internasional Jakarta. Eka mengidap penyakit lever
yang berkembang menjadi sirosis dan kanker hati.
Jenazah Eka disemayamkan hingga Minggu (3/7) di Gereja Kristen Indonesia
(GKI) Jatinegara, Jalan Bekasi Timur IX No 6, Jakarta Timur. Selanjutnya
jenazah diberangkatkan dari gereja untuk dikremasi di Krematorium
Cilincing. Eka meninggalkan seorang istri, Evang Meyati Kristiani, dan
seorang putra, Arya Wicaksana, yang tinggal di Australia bersama
istrinya Vera Iskandar.
Pendeta bergelar doktor dalam bidang agama dan masyarakat dari
Andover-Newton, Boston, Amerika Serikat (1982) itu selama ini bertugas
sebagai pengerja (pengurus) di GKI Jatinegara sampai pensiun (emeritus).
Dia telah melayani dan mengabdikan diri di lingkungan gereja kurang
lebih 21 tahun. Hampir seluruh waktunya tercurah dalam pelayanan gereja
dan sosial baik di dalam negeri maupun luar negeri. Berbagai buku hasil
karyanya sudah banyak diterbitkan dan diminati pembacanya.
Berbagai tulisan dan makalahnya disajikan dalam bahasa yang lugas dan
tegas. Dia juga sering menjadi pembicara dalam berbagai seminar. Rubrik
“Sabda” yang merupakan artikel tetap Eka Darmaputera di Sinar Harapan
dan dimuat setiap hari Sabtu merupakan kumpulan tulisan-tulisan yang
sangat diminati pembacanya, dan telah dibuat dalam bentuk buku.
Sinar Harapan (29/6/2005) memberitakan bahwa pada acara Malam Doa
Bersama untuk Eka Darmaputera 9 Maret 2005,, Eka dalam pesan tertulisnya
berkata, ”Saya cuma mohon didoakan agar sekiranya benar ini adalah tahap
pelayaran saya yang terakhir, biarlah Tuhan berkenan memberikan saya dan
keluarga keteguhan iman, kedamaian dan keikhlasan dalam jiwa.”
Kendati dia sudah pensiun (emeritus), Eka tetap melayani jemaat GKI
Jatinegara hingga akhir hayatnya. Idia juga mengajar di almamaternya di
Sekolah Tinggi Teologia (STT) Jakarta dan Universitas Kristen Satya
Wacana Salatiga.
Terlahir dengan nama The Oen Hien, anak seorang pewarung kecil di desa
Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah. Sebuah keluarga yang hidup pas-pasan.
Terkadang mereka berminggu-minggu hanya makan singkong. Dia anak sulung
dari dua bersaudara.
Dalam pergaulan keseharian, dia lebih dikenal dengan nama Eka
Darmaputera. Sejak kecil, dia memang sudah lebih senang bergaul dengan
anak-anak muda penduduk asli. Kendati ayahnya melarang bergaul dengan ''anak
kolong tangsi'' (rumah mereka berdekatan dengan kompleks militer), Eka
dengan sembunyi-sembunyi sering pergi ke rumah teman di kompleks militer
itu.
Dia mengganti pakaiannya dengan sarung dan pici. Seringkali Eka
bergabung dengan para ‘gang tangsi’ itu berkeliling naik sepeda ke
Pecinan (perkampungan Cina). Tidak jarang mereka terlibat perkelahian.
Dia menamatkan pendidikan daasar dan menengah di SD Masehi, Magelang
(1953), SMP BOPKRI, Magelang (1957) dan SMA Negeri, Magelang (1960).
Setamat SMA, ia ingin masuk AMN, ingin menjadi militer. Tetapi, dengan
pertimbangan ekonomi, akhirnya dia menerima ajakan seorang teman
mendaftar di Sekolah Tinggi Teologia Jakarta (STTJ).
Di sana dia
diterima dan diasramakan di Jalan Proklamasi. Selama di asrama,
seringkali dia kehabisan uang karena kiriman orangtua memang terbatas.
Kadangkala saat kehabisan uang kenakalannya kambuh. Bersama teman-teman,
dia malah pernah mencuri barang dalam gudang asrama untuk dijual.
Masalah keuangan kemudian sedikit teratasi setelah dia diterima mengajar
di SMA BPSK Jakarta, dengan gaji Rp 1.500 sebulan. Selain itu, Eka juga
aktif dalam berbagai kegiatan Dewan Gereja Indonesia (kini Persekutuan
Gereja di Indonesia). Dengan aktivitasnya di DGI itu, ia pun mendapat
beasiswa.
Dia meraih gelar STh dari STTJ pada 1966. Setelah melayani di Gereja
Kristen Indonesia Jawa Barat selama sebelas tahun, kemudian ia dikirim
mengambil gelar doktor di Boston College, Massachusetts, Amerika Serikat.
Enam tahun dia di sana bersama istri dan anak tunggalnya, Arya. Setelah
meraih gelar doktor (PhD) dengan disertasi berjudul Pancasila and the
Search for Identity and Modernity in Indonesian Society -- An Ethical
and Cultural Analysis, dia bersama keluarga kembali ke Indonesia.
Selama di Amerika, dia terutama puteranya, Arya, sangat bangga dengan
keindonesiaannya. Tetapi beberapa hari setelah kembali ke tanah air,
Arya dengan wajah murung datang menemui Eka, ayahnya. ''Why do they call
me Chinese? I'm not, am I?'' katanya. Eka dengan lirih menjawab, ''Ya,
kau memang Cina. Namun, lebih dari itu, engkau Indonesia.'' ►ti/crs
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|