| |
C © updated 30062005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/penabur |
|
| |
Nama:
Pdt Dr Eka Darmaputera
Nama Alias:
The Oen Hien
Lahir:
Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah, 16 November 1942
Meninggal:
Jakarta, 29 Juni 2005
Agama:
Kristen
Isteri:
Evang Meyati Kristiani
Anak:
Arya Wicaksana
Menantu:
Vera Iskandar
Pendidikan:
- SD Masehi, Magelang (1953)
- SMP BOPKRI, Magelang (1957)
- SMA Negeri, Magelang (1960)
- Sekolah Tinggi Teologia, Jakarta (1966)
- Doktor dari Boston College, Boston, Massachusetts, AS, (1982)
Karir:
- Pelayan di Gereja Kristen Indonesia Jawa Barat
- Dosen di STT Jakarta
- Dosen di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga
Organisasi:
- Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), 1962-1966
- Pengurus Pusat Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI),
1962-1966
- Sekjen Gerakan Siswa Kristen Indonesia, 1962-1966
- Anggota Front Pemuda Pelajar, 1965-1966
- Anggota Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja Indonesia (PGI),
1984-1989
Alamat Rumah Keluarga:
Cipinang Jaya MM/1, Jakarta Timur 13410 |
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
Pdt. Em. Eka Darmaputera Ph.D:
Gustiku Akan Membawa Aku
Ada permintaan saya. Bila Anda berdoa untuk saya, baik di sini maupun
di mana saja, saya mohon janganlah terutama memohon agar Tuhan memberi
saya kesembuhan, atau mengaruniai saya usia panjang, atau mendatangkan
mukjizat dahsyat dari langit! Jangan! Biarlah tiga perkara tersebut
menjadi wewenang dan ”urusan” Tuhan sepenuhnya!
Sinar Harapan 30/6/2005: Kalimat-kalimat di atas tentu sangat
mengejutkan bisa hadir dari orang yang justru membutuhkan kesembuhan.
Ini adalah bagian dari surat Pdt. Em. Eka Darmaputera PhD kepada
khalayak yang berkumpul di GKI Kebayoran Baru untuk mengikuti Malam Doa
Bersama Eka Darmaputera pada 9 Maret 2005.
Acara ini memang diselenggarakan untuk mendoakan kondisi fisik Eka
Darmaputera yang kian parah. Sudah 21 tahun, ia berperang melawan kanker
lever. Februari 2005, penyakit Eka semakin parah. Ia dirawat di RS
Husada, Jakarta.
Awal Mei, Eka sempat menjalani perawatan di Singapura. Di situlah dokter
mengatakan satu-satunya jalan agar Eka sembuh hanyalah transplantasi
hati, namun Eka menolak mentah-mentah dengan berbagai pertimbangan etis
dan teologis.
Jumat, 10 Juni 2005, Eka makin tak kuasa melawan penyakitnya. Ia masuk
RS Mitra International, Jatinegara. Ditunggui oleh sang istri tercinta,
Evang Meyati Kristiani, hamba Tuhan yang begitu disayang jemaatnya itu
pun mengembuskan napas terakhir, pada Rabu (29/6), pukul 08.15 pagi,
juga di RS Mitra International.
Saat SH hendak berbincang dengan Evang ketika melayat, Evang masih tak
sanggup menahan duka. Kepasrahan dan kerelaan memang terpancar dari
wajahnya, namun guratan kesedihan tak bisa disembunyikan.
Ke Militer
Eka Darmaputera lahir 16 November 1942 dengan nama The Oen Hien. Ia
adalah anak sulung dari dua bersaudara. Ayahnya mengelola sebuah warung
kecil di Mertoyudan, desa kelahirannya di Magelang, Jawa Tengah. Rumah
Eka berdekatan dengan kompleks militer. Tak heran, setamat SMA, ia ingin
meneruskan ke AMN—sekarang Akabri. Tetapi rencana hidup membawanya
mendaftar di Sekolah Tinggi Teologia (STT) Jakarta.
Setamat dari STT Jakarta, Eka ditempatkan di GKI Bekasi Timur yang
dilayaninya terus sampai masuk masa emeritus pada 23 Oktober 2000,
bahkan sampai akhir hayatnya. Eka mendapatkan kesempatan menempuh studi
lanjut di Andover-Newton, Boston, AS, pada 1977.
Ia berhasil mempertahankan disertasinya berjudul Pancasila: In Search of
Identity and Modernity.
Dalam beberapa kesempatan, Eka Darmaputera sering mempresentasikan
keyakinannya tentang Pancasila sebagai perekat dari keberagaman budaya
dan agama negeri ini. Pancasila diyakininya memiliki prinsip inklusif
yang dibutuhkan negara ini.
Saat ini, model keyakinan pemahaman Eka bisa jadi sedang diuji di tengah
maraknya “keinginan untuk melupakan” Pancasila. Simbol-simbol keagamaan
bermunculan di mana-mana, eksklusif, dan saling berbenturan satu dan
lainnya.
Dalam sambutannya pada suatu acara menandai masa emeritus, Eka berujar,
”Dulu saya memang pernah punya daftar agenda dan rencana yang panjang
dan rinci, mengenai apa yang ingin saya lakukan bila pensiun nanti. Saya
mau melakukan post-doctoral study. Saya mau menulis lebih sering. Saya
mau berkonsentrasi pada pembinaan kader. Saya mau mengalihkan kegiatan
saya ke partai. Saya mau ini. Saya mau itu. Banyak lagi.”
Tapi, menurutnya lagi, “kini daftar panjang itu sudah saya buang. Saya
tidak lagi bergairah untuk bikin rencana apa-apa. Sebab berulang-ulang
kali, sejak saya masuk STT, hampir selalu Tuhan menggagalkan rencana
saya. Ke mana pun Gustiku akan membawaku, ya, manut saja. Saya nderek
sajalah.”
Keinginannya masuk ke partai memang cukup menarik. Eka, seperti
diakuinya, memang mendaftarkan diri menjadi anggota Partai Demokrasi
Indonesia Perjuangan (PDIP). Pada masa pemilihan umum dengan sistem
pemilihan langsung untuk pertama kali di Indonesia pun, Eka dengan tegas
berpihak pada Megawati Soekarnoputri, bukan rival Mega yang akhirnya
memenangkan pemilihan—Susilo Bambang Yudhoyono—tidak pula netral seperti
biasanya para tokoh masyarakat mengambil posisi.
ìKita sebagai bangsa dan sebagai gereja telah tiba di satu titik, di
mana kita mesti mempunyai pilihan yang jelas. Tidak bisa lagi main ‘netral-netral’an,”
demikian katanya dalam sebuah artikel berjudul “Punai di Tangan atau
Burung di Udara? Mengapa saya memilih Mega?”
Tentu ini suatu sikap yang cukup mengundang kontroversi, mengingat Eka
telah diposisikan sebagai guru spiritual bagi banyak orang karena
jabatannya sebagai pendeta maupun orang yang sangat menjunjung
pluralitas. Namun, ini bukan menunjukkan Eka menjadi seorang partisan.
Tanggung jawab untuk membimbing umat ke arah bernegara yang lebih baik,
itulah yang mendorong Eka menegaskan di mana dia berdiri.
Lewat bukunya, Konteks Berteologi di Indonesia, yang terbit 1988, Eka
telah berhasil memosisikan teologi bukan sekadar dogma. Produktivitas
Eka dalam menulis bukan main hebatnya. Lewat tulisan dan bukunya, ia
menyatakan bahwa kekristenan bukan sekadar dogma, tetapi juga harus
berlaku sesuai dengan konteks zamannya.
Harian ini pun merasakan “derasnya” semangat seorang Eka Darmaputera
menerjemahkan topik-topik sulit dalam kekristenan. Lewat kolom “Sabda”
yang muncul setiap hari Sabtu, Eka berbicara tentang berbagai dogma,
namun penjelasannya begitu cair.
Orang tentu malas berbicara tentang Sepuluh Firman Allah, namun Eka
malah menantang dengan pertanyaan yang juga sangat menantang, “Apakah
Sepuluh Firman Allah dimuseumkan saja?”. Setelah itu, mengalirlah
penjelasan begitu rupa tentang bagaimana konteks Dasa Firman itu dalam
kehidupan modern.
Menulis menjadi senjatanya dalam menghadapi ketidakberesan di depan mata.
Eka sudah menulis sejak SMP, termasuk menulis puisi. ‘’Saya mendapat
kepuasan dengan menulis dan membaca,’’ kata Eka yang senang berolah raga
jogging dan bulu tangkis.
Menurut beberapa orang dekatnya, menulislah yang membuat ia masih bisa
bertahan hidup, walau waktunya tak terlalu lama dari saat dokter
memvonisnya tak tertolong lagi.
SH masih akan menurunkan kolom “Sabda” dengan tulisan karya Eka
Darmaputera sampai dua minggu ke depan. ”Bapak sudah menyiapkan tulisan
untuk kolom itu dalam bentuk disket, mungkin bisa sampai dua atau tiga
minggu ke depan,” kata Evang.
Semangat pengabdian seperti itu rasanya sulit untuk dilupakan. Eka
Darmaputera mengajarkan bagaimana sebuah komitmen harus dijalankan,
bukan pada institusi yang “mengontraknya”—dalam hal ini SH yang
menyediakan kolom untuk tulisan-tulisannyaónamun pada umat di segala
penjuru yang selalu menunggu bimbingannya lewat tulisan, tak peduli
apakah itu warga GKI atau warga dari berbagai denominasi gereja.
Pernikahan Eka dan Evang dikaruniai seorang putera bernama Arya
Wicaksana yang menikah dengan Vera Iskandar dan tinggal di Sydney,
Australia. Beberapa hari menjelang kepergiannya, Eka mendengar sebuah
kabar baik yang sudah lama ia tunggu-tunggu. Ia akan mendapatkan seorang
cucu. Namun, Eka tak sempat melihatnya, hanya kebahagiaan saja yang dia
rasakan.
Dan kemudian, biarlah tangan Tuhan dengan setia terus
tanpa putus menggandeng—bila perlu menggendong—Evang, Arya, Vera, serta
(mudah-mudahan) cucu-cucu saya melanjutkan perjalanan mereka.
(Bagian suratnya yang dibacakan pada Malam Doa Bersama Eka Darmaputera
pada 9 Maret 2005) (SH/job palar) ►ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|