| |
C © updated
18112003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
rpr sh |
|
| |
Nama:
Edie Haryoto
Lahir:
Yogyakarta, 19 September 1952
Pendidikan:
Sarjana akuntansi Universitas Gajah Mada
S2 Institut Teknologi Bandung (cum laude)
Jabatan:
Direktur Utama PT (Persero) Angkasa Pura II
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (2002)
Hobi:
Mengendarai Harley Davidson
Alamat Kantor:
Jakarta Soekarno-Hatta International Airport Buiding 600,
PO. Box 1001 Jakarta 19120
Phone. (62-21) 5505074, 5505002, 5505021
Fax. (62-21) 5502141 Telex. 43585/PBSH IA
Sumber:
= Kementerian BUMN
= Sinar Harapan Senin, 15 September 2003
|
|
| |
|
|
|
|
EdieHaryoto
Obsesi Wujudkan Kota Bandara Soekarno-Hatta
Direktur Utama PT (Persero) Angkasa Pura II ini berobsesi menjadikan
Bandara Soekarno-Hata sebagai airport city berkelas internasional. Mantan
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia, ini ingin mewujudkan gerbang utama
Indonesia, itu tidak lagi sekadar tempat bagi orang yang hendak bepergian
dengan pesawat, tetapi juga sekaligus sebagai tempat berbisnis dan
rekreasi. Bandara Soekarno-Hatta akan dikelilingi oleh trade center,
tempat konferensi, supermarket, pusat hiburan, fasiltas olahraga, hotel
dan kantor-kantor.
Pria kelahiran Yogyakarta 19 September 1952, ini kepada TokohIndonesia
DotCom memang mengakui bahwa ia sangat menyadari tidaklah mudah mewujudkan
hal itu. Namun ia optimis dapat mewujudkannya dengan dukungan berbagai
pihak. Ia pun bertekad bekerja keras untuk mewujudkan impian itu. Sebab
impian itu bukanlah impian pribadinya tetapi merupakan impian bangsa ini
untuk menjadikan gerbang utama Indonesia itu setara dengan bandara kelas
dunia di beberapa negara lainnya.
Ia seorang eksekutif yang kreatif, inovatif dan pekerja keras. Tak jarang
ia bekerja hingga larut malam. Maka tak heran bila ia dengan cepat dapat
memahami dan menguasai seluk-beluk bisnis kebandarudaraan dan berbagai
bisnis pendukungnya tak berapa lama setelah terpilih menjabat Dirut PT AP
II tahun 2002. Kemauan belajar dan bekerja keras yang sudah menyatu dalam
kehidupan kesehariannya telah menjadikannya terbiasa mampu dengan cepat
menguasai bidang pekerjaannya di mana pun ia ditempatkan.
Pria yang hobi mengendarai Harley Davidson ini memang harus berkorban.
Karena kesibukan pekerjaan dan besarnya tanggung jawab yang diembannya,
Edie, biasa dia dipanggil, seringkali hanya bisa bertemu sekali seminggu
dengan keluarganya yang kini masih bermukim di Bandung.
Sarjana akuntansi Universitas Gajah Mada dan Pascasar-jana ITB dengan
predikat cum laude ini berharap bisa mema-jukan PT AP II. Perusahaan BUMN
yang akan diprivatisasi ini mengelola 10 unit bandara yang semuanya berada
di wilayah Indonesia bagian barat. Adapun ke-10 bandara yang dikelola
tersebut yakni Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Hussein
Sastranegara (Bandung), Sultan Mahmud Badaruddin II (Palembang), Polonia (Medan),
Bandara Kijang (Riau), Supadio (Pontianak), Sultan Iskandarmuda (Banda
Aceh), Sultan Syarif Kasim II (Pekanbaru) dan Bandara Tabing (Padang).
Menurut rencana, Bandara Soekarno-Hatta akan diperluas menjadi kira-kira
3.000 hektar dari sebelumnya seluas 1.800 hektar yang akan memakan waktu
20 tahun. Jika tahun 2002, bandara ini hanya menampung 15 juta lebih penum-pang,
kelak diharapkan akan mencapai 100 juta. Bila diban-dingkan dengan bandara
lainnya, Changi (Singapura) yang 30 juta dan Bangkok (Thailand) yang
mencapai 35 juta, jumlah 15 juta belumlah seberapa. Menyinggung soal
target 2004, arus penumpang diharapkan dapat mencapai 18 juta orang.
Tahap pertama proyek perluasan dan pembangunan ini akan dimulai dengan
memperluas terminal 1 dan 2 yang direncanakan akan rampung dalam waktu
tiga tahun. Anggaran sebesar Rp 800 miliar sampai Rp 1 triliun diharapkan
dapat menyatukan kedua terminal yang selama ini masih terpisah.
Begitu selesai, PT AP II akan membangun jalur kereta api khusus bandara
yang akan menghubungkan bandara dengan Stasiun KA Manggarai, Jakarta.
Rencananya, stasiun akan dibangun di bawah kedua terminal yang digabung.
Pengadaan kereta api khusus ini dibuat mengikuti negara-negara seperti
Kuala Lumpur, Changi, Shanghai, dan Schipol yang sudah lebih dulu
membangunnya. Jalur kereta api khusus bandara ini akan dibangun bekerja
sama dengan PT Kereta Api Indonesia dan PT Industri Nasional Kereta Api (INKA).
Di Stasiun KA Menggarai rencananya akan disiapkan fasilitas yang sekaligus
berfungsi sebagai terminal city check-in. Artinya, ketika penumpang masuk
di stasiun terpadu KA Manggarai, mereka sudah bisa check-in tiket pesawat
lalu naik KA menuju bandara dan mereka bisa langsung masuk ruang tunggu
pesawat di bandara. Dengan adanya kereta api ini, masyarakat bisa tiba ke
bandara dalam waktu 20 menit dan terhindar dari masalah kemacetan dan
banjir yang sering terjadi di jalan tol bandara.
Proyek pembangunan Bandara Soekarno Hatta yang sudah masuk dalam program
Kementerian Negara BUMN ini juga diikuti oleh rencana PT AP II
mengembangkan bandara bertaraf internasional lainnya yaitu Bandara Kuala
Namu, menggantikan Bandara Polonia, Medan. Bandara Kuala Namu dinilai
sangat strategis untuk bisa bersaing dengan Singapura, Kuala Lumpur dan
Bangkok karena lokasinya berada di bawah lintas udara internasional yang
menghubungkan benua Australia, Asia dan Eropa.
Pengembangan Bandara Soekarno-Hatta dan bandara lainnya yang dikelola PT
AP II, memang terkait dengan upaya mendongkrak pendapatan perusahaan. Di
samping itu, manajemen PT AP II juga membentuk beberapa usaha patungan,
antara PT Angkasa Pura Schiphol (PT APS) dalam bidang jasa konsultan
kebandarudaraan, PT Gapura Angkasa dalam bidang pengelolaan ground
handling, dan PT Purantara Mitra Angkasa Dua (PT PMA Dua) untuk layanan
jasa boga pesawat udara (inflight catering).
Selain itu, dalam meningkatkan pelayanan penanganan kargo, PT AP II juga
merencanakan pembangunan Air Cargo Transhipment Village dalam satu kawasan
berikat (bonded zone). Di dalamnya akan dibangun pula perkantoran,
pergudangan ekspor-impor dan industri lunak yang memproduksi barang-barang
bercirikan air cargo. Pembangunan Air Cargo Transhipment Village ini
menjadi bagian dari persiapan konsep bandara Soekarno-Hatta sebagai hub
cargo.
Tantangan Global
Persaingan bisnis di usaha jasa bandara semakin ketat, terutama bagi
bandara bertaraf internasional. Apalagi bisnis bandara itu sangat erat
kaitannya dengan banyak faktor seperti keamanan dan ekonomi baik secara
nasional, regional maupun global. Semenjak pemerintah memberlakukan
kebijakan open sky, PT AP II harus memacu diriya untuk meningkatkan
pelayanan dan melakukan berbagai pembenahan karena banyak bandara telah
meningkatkan statusnya menjadi bandara internasional.
Perubahan ekonomi global dan suhu politik dunia yang memanas di
negara-negara Amerika, Eropa dan Asia, misalnya, mengambil peranan yang
sangat penting. Peristiwa seperti Tragedi WTC di Amerika Serikat, 11
September 2001, peristiwa pengeboman di Bali, 12 Oktober 2002, wabah virus
SARS, dan Perang Irak misalnya, secara tidak langsung mempengaruhi kinerja
PT AP II dalam bidang pendapatan. Akibat peristiwa ini banyak perusahaan
penerbangan internasional yang mengurangi frekuensi penerbangannya ke
Indonesia dan banyak masyarakat yang membatalkan perjalanannya ke luar
negeri.
Namun, dalam kondisi sosial, politik dan ekonomi di Indonesia yang belum
stabil serta situasi dunia ketika itu, PT AP II masih meraih laba bersih
sebesar Rp 371 miliar tahun 2002. Tapi untuk tahun 2003 pendapatan maupun
laba bersih AP II dipastikan turun. Porsi terbesar pendapatan justru
diperoleh dari luar jasa pelayanan pesawat (non aeronautica) seperti
airportax, properti dan lainnya.
Hal ini tidaklah mengherankan karena bandara Changi, Schipol, Frankfurt
atau Charles de Gaulle juga mengalami sukses besar dari sektor pendapatan
nonaeronautica. Sedangkan pendapatan dari pelayanan pesawat (aeronautica)
sangat kecil. Di samping itu, besarnya pendapatan PT AP II didominasi oleh
pendapatan dari penerbangan internasional terutama pelayanan terhadap
perusahaan penerbangan asing yang menggunakan tarif dolar AS.
Karena itu, ketika jumlah penumpang turun, pendapatan bandara juga ikut
anjlok. Tahun 2003 misalnya, target laba AP II yang tadinya diproyeksikan
Rp 550 miliar, diperkirakan turun tajam menjadi hanya sekitar Rp 300
miliar. Penurunan pendapatan akibat pengaruh domestik dan global ini
mungkin menjadi salah satu pertimbangan pemerintah untuk menunda dulu
privatisasi PT AP II hingga tahun 2004. ► e-ti/sum-atur.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|