Edi Subekti
Kemauan Jalan Menuju Sukses
Presiden Direktur PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) ini tidak
memandang jabatan dan karier yang telah diraihnya sebagai ukuran sukses.
Baginya sukses adalah saat dapat berbuat baik bagi orang lain. Sementara,
jalan menuju sukses itu adalah kemauan memanfaatkan kesempatan. Pepatah
mengatakan: Di mana ada kemauan di situ ada jalan.
Pria kelahiran Purbolinggo yang berpenampilan bersahaja ini, selalu
berupaya mengejawantahkan prinsip ini dalam jejak langkah kehidupannya.
Baginya, orang-orang yang sukses adalah orang-orang yang bisa
memanfaatkan kesempatan. Orang yang punya kesempatan luas tapi tidak
bisa memanfaatkannya, tentu tidak akan berhasil. Sukses itu bukan
ditentukan oleh dukungan dan fasilitas yang dimiliki, melainkan dari
kuatnya kemauan sendiri.
Kemauan belajar dan bekerja keras telah terpatri dalam diri pria yang
gemar berolahraga ini sejak kecil. Ia menamatkan jenjang pendidikan dasar
sampai dengan tingkat atas di Purbolinggo. Selepas lulus sekolah tingkat
atas ia telah mandiri. Edi Subekti mengadu nasib ke kota metropolitan
Jakarta. Di kota besar ini, ia hidup mandiri, mencari uang sekaligus
melanjutkan pendidikannya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Ia beruntung diterima bekerja sebagai pegawai pada biro tata usaha
Departemen Keuangan pada tahun 1964. Satu tahun setelah itu, dia pindah
ke BNI 46, untuk mencari penghasilan yang lebih tinggi. Penghasilan yang
lebih tinggi itu tak membuatnya lalai bahkan makin mendorong kemauan
kerasnya untuk meningkatkan kualitas diri. Ia pun mengikuti kuliah malam
di FE-UI.
Selama tujuh tahun (1967-1974) ia menekuni kerja sambil kuliah. Pada
kurun waktu ini pula ia menikah (1971). Sehingga ayah dari tiga orang
anak ini, selain harus berkonsentrasi pada pekerjaan dan pelajaran, juga
harus memperhatikan isteri, anak dan adik-adiknya yang membutuhkan
bantuan materi. Bagi anak keempat dari 13 bersaudara ini hidup bukan
untuk diri sendiri. “Saya sukses pun, kalau adik-adik saya tidak, nggak
ada guna kan?” ujarnya.
Sampai menjadi seorang kakek, Edi selalu menjaga keseimbangan antara
karier dan keluarganya. Buatnya, keluarga merupakan bagian hidupnya yang
tidak bisa dipisahkan. Baginya, keberhasilan seseorang tidak akan pernah
lepas dari dukungan keluarga. Tidak ada yang dinomorsatukan dan yang
dinomorduakan antara keluarga dan karier. Buatnya, keluarga dan karier
adalah dua hal yang jalan beriringan.
Selain meraih sukses, perjalanan hidupnya tentu juga melampaui berbagai
tantangan dan beberapa kali harus berhadapan dengan kegagalan. ”Kegagalan
yang saya hadapi biasanya timbul dari lingkungan pekerjaan, artinya
ekspektasi saya yang mungkin terlalu berlebihan. Selain menuntut kegigihan
dan kepintaran, dunia kerja juga menuntut kemampuan untuk ‘memasarkan’
diri sendiri,” ujarnya.
Karier di dunia perbankan berhasil dititinya dengan baik. Dia seorang yang
aktif mengantarkan BNI 46 menjadi perusahaan publik sebagai wakil ketua
sub tim Initial Public Offering (IPO) pada tahun 1996. Keputtusannya
memilih pindah kerja dari Departemen Keuangan ke perbankan dianggapnya
sebuah hikmah. Sebab ketika itu banyak yang mengatakan bahwa Depkeu adalah
departemen yang strategis.
Kebersahajaan tergambar juga dalam perjalanan karirnya. Dari dulu ia tidak
pernah memiliki ambisi yang berlebihan. Ia hanya ingin memberikan yang
terbaik bagi perusahaan. Namun kemauan dan kebersahajaan itu telah
mengantarkannya berhasil meraih jabatan puncak sebagai Presdir Jasindo,
sebuah perusahaan jasa asuransi yang cukup diperhitungkan keberadaannya.
Sejak pertengahan 1999, Edi ditunjuk untuk menempati posisi direktur
keuangan di perusahaan asuransi BUMN yang tergolong besar. Sebuah
kepercayaan yang senula tak pernah dibayangkan akan diperolehnya. Sebab
dunianya adalah perbankan bukan asuransi. Sejak itu pula, dia sadar
bahwa tantangan dunia asuransi, jauh lebih besar ketimbang dunia
perbankan.
Menurutnya, rendahnya pengetahuan dan kesadaran berasuransi di
masyarakat Indonesia, membuat para pelaku bisnis asuransi harus banting
tulang untuk mengembangkan industri ini. Tanpa bermaksud mengecilkan
tantangan yang dihadapi industri perbankan, ia mengakui, industri
asuransi lebih berat dibandingkan perbankan.
Profesional yang telah berkiprah di dunia perbankan selama lebih dari 30
tahun ini mengatakan meski sama-sama menjual jasa, industri perbankan jauh
lebih dikenal luas oleh masyarakat dibandingkan dengan produk asuransi.
Bahkan bank ‘dikejar’ oleh para businessman untuk mendapatkan kredit. Tapi
tidak demikian halnya dengan jasa asuransi.
Jika ditanyakan kepada para pelaku di dunia usaha, apakah mereka lebih
butuh asuransi atau bank? Jawabannya pasti jelas memilih lebih butuh
bank. Fungsi bank sebagai lembaga intermediari, bank bisa membantu
penyelesaian transaksi, memberikan kredit dan bisa memberikan jasa
pelayanan yang baik, sudah lebih tersosialisasi dengan baik.
Menjual jasa asuransi lebih sulit. Karena untuk mendapatkan proteksi
asuransi, si pemegang polis harus membayar sejumlah premi kepada
perusahaan asuransi. Sementara, kurangnya kesadaran akan pentingnya
proteksi, membuat orang enggan menggunakan jasa asuransi. Insurance minded
pada dunia usaha Indonesia masih sangat minim. Sehingga pekerjaan untuk
meyakinkan orang agar membeli jasa asuransi, sangat sulit.
Para pelaku bisnis asuransi harus melakukan sosialisasi dari fungsi dan
kegunaan asuransi lebih optimal. Dengan demikian kesadaran masyarakat
Indonesia berasuransi menjadi lebih tinggi.
Menurutnya, dari sisi awareness dunia usaha terhadap dunia asuransi
dan perbankan, rasanya pelaku usaha juga lebih aware terhadap dunia
perbankan daripada asuransi. Begitu pula dari sisi mekanisme usaha, dunia
perbankan jauh lebih besar dalam perolehan margin, dibandingkan industri
asuransi. Membesarkan industri asuransi yang seharusnya dilakukan lewat
peningkatan perolehan premi, bukanlah pekerjaan gampang.
Namun baginya, itulah tantangan yang harus dijawab dengan kemauan keras
untuk menuju sukses dalam dunia asuransi. Prinsip hidupnya untuk selalu
berusaha memberikan yang terbaik, telah membuatnya optimis untuk
meningkatkan kinerja Jasindo. “Meski dibesarkan di industri perbankan,
saya juga harus mampu memberikan yang terbaik bagi industri asuransi dan
perusahaan ini,” ujarnya optimis.
Ia bertekad mengantarkan Jasindo menjadi yang terbaik dan mampu melakukan
kaderisasi dengan baik. Sesuai dengan visi yang tertuang dalam Rencana
Jangka Panjang Perusahaan (RJPP), ia juga bertekad menjadikan Jasindo
masuk dalam peringkat 10 besar di ASEAN. Meskipun mimpi tersebut belum
terwujud, dia yakin rencana tersebut akan jadi kenyataan dengan bantuan
semua jajaran direksi dan karyawan Jasindo. Saat ini di lingkungan ASEAN
Jasindo berada di urutan 16.
Untuk bisa merealisasikan rencana tersebut, berbagai usaha pun dilakukan.
Sejak awal tahun 2000, Jasindo yang sebelumnya dikenal bisnis
korporasinya, mulai terjun ke bisnis ritel. Bisnis ritel dinilai cukup
menjanjikan dan memang diincar oleh cukup banyak perusahaan asuransi. Di
samping pasarnya yang masih luas, underwriting result dari bisnis ritel
ini juga dinilai cukup besar. Untuk itu, Jasindo harus mampu menciptakan
produk-produk yang inovatif agar mampu bersaing dengan para pesaingnya.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|