|
|
 |

Nama :
Prof Dr Dorodjatun Kuntjoro-Jakti
Lahir:
Rangkasbitung, Banten, 25 November 1939
Agama:
Islam
Istri :
Emiwaty Kuntjoro-Jakti
Pendidikan:
- S1: Fakultas Ekonomi UI, 1964
- S2: Master of Finance Administration, University of California,
Berkeley, AS, 1966
- S3: Doktor bidang Political Science, University of California at
Berkeley.
Jabatan :
Menko Perekonomian
Dubes Indonesia untuk AS (Maret 1998-Juni 2001)
Dekan FE-UI (1994-Februari 1998)
Anggota tim ahli Pacific Business Forum
Anggota tim ahli APEC
Alamat Kantor:
Jalan Taman Surapati II, Jakarta Pusat
|
|
Dorodjatun Kuntjoro-Jakti
The Dream Team Ingin Bergerak Cepat, Tapi…
Menko Bidang Perekonomian Kabinet Gotong Royong ini ingin bergerak cepat
pada strategi penciptaan lapangan kerja. Sungguh ia risau tiga tahun
terbengkalai sehingga banyak rakyat Indonesia tidak mendapat pekerjaan
yang layak. Ia juga sangat galau mengenai utang Indonesia. Menurutnya,
dibandingkan dengan utang pada IMF dan Bank Dunia, justeru yang paling
gawat adalah utang dalam negeri Indonesia.
Ia juga ingin mempertimbangkan jenis pajak. Jangan sampai (pajak)
membebani perusahaan yang justru menciptakan lapangan kerja, seperti mebel
dan kerajinan tangan. Perbaikan ekonomi tidak mungkin dilakukan tanpa
adanya investasi. Juga ingin proyek konstruksi jalan laut, prasarana udara
mulai kita laksanakan kembali. Kalau tidak, kita tidak siap masuk AFTA
yang sudah diambang pintu.
Selama tiga tahun lebih, ia aktif ikut dalam tim negosiasi dengan IMF.
Meskipun sesekali ada ketertundaan dalam melakukan kesepakatan dengan IMF,
ia harapkan pemerintah dapat dengan cepat menyetujui langkah yang dapat
diambil bersama dengan IMF.
Ekonom kawakan ini masuk Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE UI)
bagai suatu 'kecelakaan'. Kendati kemudian, ia menemukan kenikmatan
tersendiri dalam mempelajari ilmu ekonomi itu. Maka, begitu meraih gelar
SE, pada 1964, ia melanjut ke Universitas Berkeley, California, AS. Ia
merai gelar MA di universitas ini pada 1966. Gelar doktor (Ph.D.) pun
diraih di universitas ini empat belas tahun kemudian. Disertasinya
berjudul, Political Economy: The Case on Indonesia under the New Order,
1966-1980.
Ayahnya memberinya nama Dorodjatun. Nama itu rupanya diambil dari nama
kecil Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Karena tanggal lahir Djatun, 25
November 1939 di Rangkasbitung, Jawa Barat, bertepatan dengan hari naik
tahtanya Sultan.
Mantan Dekan FE UI ini selain sering memberikan tanggapan di koran-koran,
juga banyak menulis. Setidaknya ada tiga bukunya terbit di Singapura, oleh
ISEAS, dan tiga lainnya diterbitkan oleh LP3ES Jakarta, ADC New York, dan
Universitas Tokyo/Unesco.
Ia memang rajin membaca, mulai dari buku ekonomi, politik, filsafat,
sejarah, sampai mitologi dan novel. Anggota berbagai kelompok studi di
luar negeri ini menyukai novel karangan Boris Pasternak dan Solsyenitsin
dari Rusia, serta Kawabata dan Mishima dari Jepang. Ekonom yang sempat
ditahan ketika Peristiwa Malari (1974) ini adalah bekas anggota regu
renang mahasiswa UI. Sampai saat ini ia masih rajin berenang, di samping
jogging.
Suami Emiwati (kepala dokumentasi Matari Advertising, Jakarta) ini sangat
terkenal di kalangan pelaku pasar. Dia juga dianggap pandai dalam
melakukan lobi, apalagi terhadap AS. Penunjukan dirinya sebagai Menko
Perekonomian pun disambut positif pasar. Bahkan, karena faktor namanya,
tim ekonomi Kabinet Gotong Royong yang dipimpinnya disebut banyak orang
sebagai The Dream Team.
Kendati belakangan harapan yang terlalu besar
digantungkan kepada tim ini, tidak sepenuhnya dapat dipenuhi. Bahkan tim
ini sering bersilang pendapat di media massa, terutama dengan Kwik Kian
Gie, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional yang lebih
berperangai sebagai pengamat.
Setelah enam bulan masuk tim ekonomi, Djatun panggilan akrab Prof Dr
Dorodjatun Kuntjoro-Jakti- berdiskusi di depan masyarakat Indonesia di
Washington, USA. Pada diskusi itu, ia berbicara gambling. Ia membeberkan
unek-uneknya soal utang dalam negeri Indonesia. Menurutnya, dibandingkan
dengan utang pada IMF dan Bank Dunia, justeru yang paling gawat adalah
utang dalam negeri Indonesia.
Pada kesempatan itu, ia juga mengungkap isu yang melibatkan para obligor
raksasa maupun menengah. Diakuinya, isu itu sangat kompleks. Apalagi,
sering dipolitisasi dan diplintir. Ia mengaku sedang berpacu melawan waktu
yang mepet, terutama dengan deadline berakhirnya tugas BPPN pada Desember
2003.
Dalam diskusi saat ramah-tamah dengan sekitar 200 orang masyarakat
Indonesia di KBRI Washington, yang juga dihadiri antara lain Atase
Pertahanan RI di AS Brigjen Hendrawan Ostefan, dan Ketua IKI (Ikatan
Keluarga Indonesia) Ambar Abbink, ia bicara apa adanya. Diskusi itu
dipandu KUAI KBRI Thomas Aquino Samodra Sriwijaya, mantan Dubes RI di AS.
Nilai utang luar negeri itu sama dengan dalam negeri, yakni kurang lebih
USD 70-an miliar. Sekitar USD 70 miliar di luar, USD 70 miliar dari dalam.
Bedanya, utang dari luar itu berupa soft loan, sehingga jangka
pengembaliannya lama. Bunga pinjaman Bank Dunia hanya 1-2 persen. Bunga
pinjaman ODA (official development assistance) bahkan 0,3 persen. Pinjaman
dari IMF juga dikenai bunga rendah, yakni hanya 3-4 persen. "Tetapi, yang
dari dalam negeri itu kan sama dengan bunga SBI (Sertifikat Bank
Indonesia), yakni kurang lebih 17 persen. Coba bayangkan," katanya.
Ia mengajak hadirin berhitung. Dalam hitungan rupiah, utang USD 70 miliar
itu sekitar Rp 655 triliun. Dengan bunga 17 persen, berarti pembayaran
bunganya Rp 60 triliun setiap tahun. "Itu sama dengan USD 6 miliar toh.
Yang di luar paling banter hanya USD 2 miliar, Anda bayar. Yang di luar
selalu bisa dijadwalkan kembali. Dan, ini kebanggaan Indonesia.
Sejak dulu, tak pernah ngemplang. Indonesia terkenal di lembaga
multilateral. Kita nggak pernah ngemplang, selalu bayar. Tapi, jika mepet,
kita minta penjadwalan kembali, yaitu dari pokok (pembayaran pokok utang,
Red), principal, dan dari bunga," jelasnya. Yang parahnya adalah utang
dalam negeri. Sebab, harus dibayar lewat budget (anggaran negara).
"Itu
diambil dari penghasilan negara, masuk sebagai pengeluaran, lalu dikasih
ke
bank-bank yang bangkrut itu. Supaya bank-nya enggak bangkrut, kita kasih
obligasi. Lantas, kita kasih penghasilan pada bank, sehingga bank jalan.
Jadi, itu sebetulnya kita subsidi bank-bank itu. Tapi kalau kita
tenggelamkan bank itu, sekian juta nasabah bank kita ini nggak punya
lembaga penjamin. Tidak ada deposit insurance, seperti yang semestinya,"
katanya.
Di Indonesia belum ada peraturan penjaminan dana nasabah di bank. Jadi
kalau banknya bangkrut maka pemerintah yang harus ganti. Kalau di AS,
jaminannya dilakukan melalui asuransi, terbatas maksimal 100 ribu USD.
Sedangkan untuk Indonesia, untuk jumlah berapa pun, tidak ada jaminan
seperti itu.
Di Indonesia tidak ada. Karena itu, terpaksa dikasih blanket guarantee (jaminan
menyeluruh) saat krisis 1998. Nggak peduli sebabnya, pokoknya semua yang
berurusan dengan bank, digaransi. Jadi, enak saja, diganti. “Jangan tanya
saya kenapa itu diberikan. Itu kan 1998. Saya cuma mewarisi. Yang hebat,
on budget dan off budget digaransi," ungkapnya.
Ia mengaku tengah berupaya bagaimana mengurangi beban dalam negeri. "Sebab,
yang diberikan kepada orang miskin lewat dana kompensasi sosial kan hanya
Rp 2,85 triliun. Sedangkan yang dipakai untuk rekapitalisasi Rp 60 triliun.
Coba, berapa juta orang miskin bisa ditolong, kalau bisa dikurangi. Tapi,
untuk mengurangi, bond-nya itu harus di-redeem (bond redemption, penebusan
obligasi). Bond-nya itulah yang bisa ditarik kalau obligor besar,
penghutang besar yang bikin berantakan negeri kita ini, memenuhi
kewajibannya membayar utang-utang itu. “Ini lupa dilakukan selama 4 tahun,"
ujarnya dengan nada tinggi.
Ia tidak berhenti sampai di situ. Soal obligor ini dicecarnya terus,
dengan kalimat mengalir deras dan bahasa lugas. "Jadi, para obligor besar
itu, baik top 21, top 50, dan top 100, kecil sekali pengembaliannya.
Bahkan, 39 bank yang dibekukan kewajibannya Rp 27 triliun. Tapi, cuma
bayar Rp 1 triliun sampai kini. Itu sudah empat tahun!" imbuhnya.
Ia melihat saat ini masalah itu makin kompleks dan gawat. "Sudah mau habis,
Desember 2003, kalau tidak diselesaikan, pas nanti itu BPPN nya habis
tugasnya. Tahun 2004 saya harus bikin pidato ibu (Presiden Megawati, Red)
di MPR: 'Saudara-saudara
sebangsa setanah air, ternyata sesudah kita hitung pengembalian yang
dilakukan oleh para obligor besar dan bank-bank beku itu, tak mungkin
mengembalikan seluruh Rp 655 triliun. Masih tersisa kurang lebih Rp 400
triliun yang harus dibawa sebagai beban
utang dalam negeri Indonesia.' Terus, bagaimana reaksi rakyat?" papar
Djatun panjang lebar.
Suasana ruang pertemuan hening. Seolah paham betapa persoalan utang yang
dihadapi Indonesia, khususnya Menko Perekonomian, begitu dahsyat. "Ini
yang saya pusingkan sekarang. Saya mulai bilang sama mereka. Bayar dong,"
katanya. Yang jadi masalah, ungkap Djatun, syaratnya ketika itu melalui
kontrak perdata. "Karena syaratnya dulu, kontraknya itu dibikin kontrak
perdata. Karena out of court settlement (penyelesaian di luar pengadilan),
ya segitu disetujui dua-duanya tanda tangan pemerintah Indonesia saat Pak
Habibie dan kemudian dengan orang obligornya tandatangan, itu settle.
Dan sesudah settle, pemerintah mengeluarkan surat letter of discharge and
release (surat bebas dari tuntutan lain) dan tidak bisa dipidanakan.
Sesudah itu, seluruh asset nya dikembalikan ke mereka, ke pemilik lama.
Oleh mereka, disuruh dilola, dijalankan
terus. Kita bayar management fee sama dia untuk menjalankan itu. Sesudah
itu, arus kasnya tidak di-escrow (escrow account, ditaruh di rekening
penjamin, red) di bank. Kemudian di perusahaan-perusahaan itu, kita tidak
menempatkan chief financial officer (CFO). Now you tell me, siapa, betapa
luar biasanya imaginasi penyusun kontrak saat itu. Don't ask me!" ujarnya,
sengit.
Djatun tampak berapi-api membeber isu yang selama ini enggak pernah
terungkap di depan publik. Masalah obligor yang diwarisi pemerintah
Megawati saat ini, ditambah tetek-bengek keanehan praktik era lama dan
jadi beban saat ini dan di masa depan, Djatun tidak mau tedheng
aling-aling.
"Lha, sesudah itu diharapkan mereka sukarela menjual aset. Sudah
dibuktikan, kita dimaki: 'Itu harga Indomobil, Indosiar Pak Djatun dan
sebagainya.' Eh, itu bukan aku yang jual! Itu pemilik lama yang jual. Itu
kewajiban dia. Kenapa nggak dipenjarakan
saja, seperti dibilang nyonya saya (isteri Djatun, Red). Nggak bisa! Sebab,
itu perdata perjanjiannya. Mungkin barang buktinya sudah susah dicari,
duitnya sudah lama ke mana, owners-nya lari ke luar negeri semua. Kalau
saya panggil, kan mesti pakai red
notice interpol.
Makanya, jangan mau gampang jadi Menko," tukasnya di
akhir kalimat seolah menetralisir tegangnya pembeberan soal obligor itu.
Djatun kemudian membuka sedikit cerita awalnya jadi menko. "Ketika saya
jadi menko, saya lihat bagian dalamnya. Ini gimana. Siapa in the end of
the game, yang tanggung jawab semua ini. Kan obligor itu. Sekarang kita
mau coba mereka. Ayo, penuhi janji itu. Tapi, secepat- cepatnya dan
sehebatnya, menurut perkiraan saudara Ade Sumantri (pejabat BPPN, Red) dan
teman-teman, paling banter kita bisa kembalikan hanya 26 persen. Jadi,
yang Rp 400 triliun, itu sisa dalam negeri," katanya.
Karena itu, Djatun heran kenapa justru IMF yang dicibir. Padahal, bunga
pinjaman IMF sangat rendah. "Jadi, banyak cerita diplintir- plintir di
luar. Yang kita pakai di LoI IMF itu adalah semua yang tidak dikerjakan
pemerintah Soeharto dalam 30 tahun. Saya nggak gerti kenapa disebarkan
cerita mengenai IMF. Nggak ngerti saya. Alternatifnya apa? Bank Dunia
digituin juga," ujarnya masygul.
Djatun malah heran, soal obligor ini, para pengkritik itu diam. "Tetapi,
obligor yang tidak mau bayar malah tidak dimarahi. Kita yang mau
selesaikan malah dibilang mau gampang saja sama obligor. Kita nggak
berbuat apa-apa, dimarahin. Kita jual, dibilang harganya terlalu rendah.
Kita diam, dimarahi juga. Jadi, mau yang mana ini? Padahal, waktunya sudah
mau habis, tahun 2003. Itu cerita utang kita," tutupnya soal utang.
Djatun minta siapa saja supaya mengedepankan fakta ketimbang persepsi.
"Hey, bung. Jangan main persepsi hari-hari ini, tapi main fakta. Asyik
kalau main fakta. Soal persepsi memang sengaja dikembangkan oleh
orang-orang yang mau bermain politik. Saya nggak main politik. Sampai jam
ini, saya nggak mau main politik. Karena itu, lontarkan saja," jelasnya.
Sebagian hadirin puas campur masygul dengan problematika utang yang
dibeber Djatun. Apalagi, Djatun tampil bersemangat, terbuka, dan apa
adanya. Itu mengingatkan orang pada integritas, kejujuran, dan
idealismenya hingga pernah dua tahun dipenjara tanpa diadili oleh rezim
Soeharto ketika Malari 1974. Djatun di AS menghadiri World Economic Forum
di New York, sekaligus melakukan pembicaraan dengan IMF, World Bank, dan
Treasury (Depkeu AS). Selain Djatun, anggota delegasinya adalah staf
pejabat kantor Menko Perekonomian, BPPN, dan Depkeu.
*** Tokoh Indonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), dari berbagai sumber, antara lain Djon D. Siregar
national@mail2.factsoft.de
|
|