| |
C © updated
16012006-17022005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/dispenau |
|
| |
Nama:
Marsekal TNI AU Djoko Suyanto, S.IP
Lahir:
Madiun, Jawa Timur, 2 Desember 1950
Jabatan:
Kepala Staf AU
Agama:
Islam
Istri:
Ratna Sinar Sari
Anak:
- Yona Didya Febrian (alm)
- Kania Devi Restya
Pendidikan:
- AKABRI Bagian Udara (1973)
- Sekolah Penerbang XX/Lulusan Terbaik (1975)
- Seskoau (1990)
- KRA – XXXII Lemhanas (1999)
- RAAF Flying Instructor Course, Australia (1980)
- Test Pilot Course F-5, USA (1982)
- F-5 Fighter Weapon Instructor Course, USA (9183)
- Jaoint Services Staff College, Australia (1995)
Karir:
- Komandan Skadron Udara 14 (F-5E Tiger II), Madiun (1990)
- Komandan Lanud Jayapura (1992)
- Kepala Staf Koopsau I, Jakarta (2000)
- Panglima Koopsau II, Makassar (2001)
- Komandan Kodikau, Jakarta (2002)
- Asisten Operasi KSAU, Jakarta (2003)
- KSAU (2005)
Tanda Kehormatan:
- Bintang Yudha Dharma Pratama
- Bintang Swa Bhuwana Paksa Utama
- Bintang Bhayangkara Utama
- Satyalancana Kesetiaan VII/XVI/XXIV Tahun
- Satyalancana Dwidya Sistha
- Satyalancana GOM VII/IX
- Satyalancana Seroja.
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI
Welcome
This
site is currently under construction. Please check back at a later time.
Djoko Suyanto
Perwira AU Pertama Jadi Panglima TNI
Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), Marsekal Djoko Suyanto telah diajukan
Presiden SBY kepada DPR sebagai calon tunggal Panglima Tentara Nasional
Indonesia (TNI) menggantikan Jenderal TNI Endriartono Sutarto yang masa
jabatannya sudah tiga kali diperpanjang. Kepastian pencalonan Marsekal
Djoko Suyanto tertuang dalam surat Presiden kepada Ketua DPR yang
dikirim Minggu (15/1) malam sekitar pukul 22.30 WIB.
Ketua DPR Agung Laksono mengungkapkan, surat Presiden itu bernomor
R07/Pres/I/2006 tanggal 15 Januari 2006. Disebut pertimbangan Presiden
mencalonkan Djoko Suyanto adalah karena yang bersangkutan sudah memenuhi
syarat untuk menjadi Panglima TNI seperti tercantum dalam UU TNI.
Penunjukan Panglima TNI adalah hak prerogatif presiden, namun sesuai
Undang-Undang, calon itu harus atas persetujuan DPR.
Ketua DPR Agung Laksono mengatakan surat dari Presiden tersebut akan
dibacakan di dalam sidang paripurna DPR Selasa 17 Januari 2006,
selanjutnya akan diteruskan ke Badan Musyawarah (Bamus) DPR dan Bamus
akan merancang agenda pembahasan yang prosesnya akan dilakukan di Komisi
I DPR.
Komisi I akan mengundang Marsekal Djoko Suyanto untuk dilakukan uji
kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test. Proses itu akan
dilakukan secepatnya. “Kita akan proses segera dan waktunya pun
tidak terlalu lama, cukup tiga minggu,” kata Agung.
Djoko Soeyanto, S.IP menjabat Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU)
menggantikan Marsekal Chappy Hakim, dilantik Presiden 18 Februari 2005.
Pengangkatannya tertuang dalam Keppres No6/TNI/2005 tertanggal 16 Februari
2005, yang sekaligus menaikkan pangkat mantan Asisten Operasi KASAU ini
dari marsekal muda (bintang dua)menjadi marsekal madya (bintang tiga).
Upacara kenaikan pangkat penerbang handal kelahiran Lahir di Madiun 2
Desember 1950, ini dilakukan 17 Februari pagi sekitar pukul 08.00 WIB oleh
Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto.
Sebelumnya, dia menjabat Asisten Operasi KASAU sejak 1 Februari 2003. Dia
diterima menjadi calon prajurit taruna pada Januari 1970 dan dilantik oleh
Presiden RI menjadi Letda Tek pada Desember 1973. Selanjutnya mengikuti
pendidikan Sekbang 20 dan diwisuda (Wing Day) sebagai penerbang pada tahun
1975. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hari Jumat 18 Februari
2005 sekaligus
melantik tiga Kepala Staf TNI yang baru, yakni Letjen Djoko
Santoso sebagai KSAD (sebelumnya menjabat Wakil KSAD), Laksamana Madya Slamet Subijanto sebagai KSAL
(sebelumnya menjabat Wakil Gubernur Lemhannas), dan
Marsekal Madya Djoko Suyanto sebagai KSAU (sebelumnya menjabat
Asisten Operasi KSAU).
Kapuspen Mabes TNI Mayjen Sjafrie Sjamsuddin mengumumkan hal itu Kamis 17
Februari 2005. Disebutkan,
selanjutnya serah terima jabatan antara pejabat baru dan lama akan
dilakukan oleh markas besar angkatan masing-masing pada kesempatan yang
sama.
Dalam Keppres No6/TNI/2005 yang ditandatangani Presixden pada 16 Februari 2005,
Presiden juga telah memberhentikan dengan hormat Kepala Staf
TNI-AD (KSAD) Jenderal Ryamizard Ryacudu, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL)
Laksamana Bernard Kent Sondakh, Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal
Chappy Hakim atas tugas-tugasnya selama ini. Ketiga mantan
kepala staf itu menjadi perwira tinggi di
lingkungan Mabes TNI yang posisinya langsung berada di bawah Panglima TNI.
Tidak ada jabatan struktural seperti asisten atau inspektur.
Mereka masih aktif sambil menunggu masa bakti masing-masing berakhir.
Chappy Hakim) dan Bernard (Bernard Kent Sondakh)
sebetulnya sudah melewati masa bakti. Tapi saat mereka menjadi kepala staf
mendapat perpanjangan. Sedangkan Ryamizard masa aktifnya masih lama.
Sjafrie menambahkan, sekitar pukul 08.00 WIB Kamis 18/2/05, Panglima TNI Jenderal Endriartono
memanggil tiga kepala staf lama untuk menyampaikan keppres tersebut secara
formal. Dia menegaskan bahwa pergantian ini tidak mendadak, tapi melalui proses dan waktu yang
lama. ►ti/tsl
Indopos, Rabu, 18 Jan 2006,
Marsekal Djoko Soeyanto di Mata Teman dan Kerabatnya di Madiun
Setiap Naik Pangkat Selalu Undang Temannya ke Jakarta
Ketika duduk di bangku SMA, Marsekal TNI Djoko Soeyanto adalah penggebuk
drum andal di sekolahnya. Ini adalah cerita dari teman-temannya di
Madiun. Mereka menyambut gembira pencalonan Djoko menjadi panglima TNI.
SRI PURWATI-MEILA K., Madiun
Di Jalan Srindit, Madiun, Jatim, ada sebuah rumah berarsitektur kuno
yang menempati lahan sekitar 300 meter persegi. Itu adalah rumah orang
tua Djoko. Di rumah itulah, Djoko lahir dan tumbuh hingga di bangku SMA.
Kemarin, ketika didatangi wartawan koran ini, ada tanda-tanda rumah
tersebut sedang direnovasi. Seorang wanita setengah baya tampak berada
di teras sedang menyapu lantai.
Dia adalah adik Djoko. Ketika ditanya seputar Djoko, wanita itu awalnya
tak bersedia menjawab. "Kalau soal kakak, saya tak mau bicara apa pun.
Apalagi, kabar tentang pengangkatannya sebagai panglima itu belum
pasti," ujar wanita yang enggan menyebutkan namanya itu.
Tapi, dia akhirnya bersedia menceritakan sosok kakaknya itu meski hanya
singkat. Diceritakan, setiap mengunjungi Jatim, Djoko hampir selalu
mampir ke Madiun. Dan jika ke Madiun, dia selalu mampir ke rumah di Jl
Srindit itu. "Di rumah ini, saya tinggal bersama adik-adik dan saudara
lainnya. Kedua orang tua kami sudah meninggal," katanya.
Rumah mertua Djoko juga di Madiun. Tepatnya di Jalan Nias. "Mertua
beliau (Djoko) kini pindah ke Jakarta," ujarnya.
Djoko adalah anak ketiga dari tujuh bersaudara. Di masa muda, Djoko
dikenal sangat disiplin. Dia juga selalu bersahaja dan tak suka
neko-neko. Sikap disiplinnya diwarisi dari sang ayah, Suparno, yang juga
anggota TNI AU berpangkat lettu.
Sikap disiplin dan rapi Djoko ditunjukkan ketika dia bermain band
bersama teman-temannya satu SMA. Saat itu, semua teman Djoko
menggondrongkan rambutnya. Hanya Djoko yang tak ikut-ikutan gondrong.
"Kami memang mengenal Djoko sebagai sosok yang sangat disiplin," kata
Aryadi Syamsu, teman sekolah Djoko di SMAN 3 Madiun tahun 1966. Djoko
sempat pindah sekolah dari SMAN 3 ke SMAN 2.
Djoko membentuk grup band di SMAN 2 Madiun. Saat itu sekitar 1966. Nama
grup bandnya De Lies Ta, singkatan dari Dengan Lima Peserta.
Personel grup itu memang lima. Selain Djoko yang menjadi penggebuk drum,
ada Bagas, Fodli, Kecuk, dan Prayogo.
Menurut Aryadi, band De Lies Ta kala itu cukup dikenal di kalangan
pelajar SMA di Madiun. Grup tersebut juga sering memenangi berbagai
perlombaan band.
"Jiwa kepemimpinan dan kedisiplinan Djoko memang sudah terlihat sejak
duduk di bangku SMA. Meski aktif di band, pelajaran tetap diutamakan.
Nilainya tetap tinggi sehingga dia masuk jurusan Ilmu Pasti (PAS) dan
saya di Ilmu Alam (PAL)," cerita Bagas, salah satu teman akrab Djoko
yang juga sama-sama main di grup De Lies Ta.
Jika di kelompoknya ada masalah, lanjut Bagas, Djoko selalu dapat
mengambil keputusan dengan cepat dan bijaksana. "Jadi, jiwa kepemimpinan
dia (Djoko) sudah terlihat sejak masih sekolah," tandasnya.
Pengalaman yang paling mengesankan bersama Djoko, menurut Bagas, ialah
saat dihukum berlari mengitari lapangan sekolah sambil membawa batu
bata.
"Saya waktu itu tidak mau lari. Ingin jalan saja. Tetapi, Djoko sudah
selesai mengitari lapangan. Saat disuruh berhenti, dia justru menemani
saya yang masih menjalani hukuman," ungkap Bagas mengenang
kebersamaannya dengan Djoko kala duduk di bangku SMA.
Saat duduk di bangku SMA itu, menurut Bagas, banyak cewek yang naksir
Djoko. "Kalau dipacokne cewek -meski cantik- dia (Djoko) malah marah.
Karena waktu itu, anak-anak SMA seusia kami belum berani pacaran kayak
anak sekarang. Kami merasa bangga kalau nilai ulangan bagus meski tidak
punya pacar," ungkap Bagas yang kini menjadi kepala pengolahan di PG
(Pabrik Gula) Pajarakan, Probolinggo, itu.
Djoko baru berani pacaran, kata Bagas, setelah lulus Akabri. Gadis yang
diincar kala itu adalah Ratna, adik kelasnya di SMA 2. Ratna lulusan
1979. Ratna itulah yang akhirnya menjadi istri Djoko dan kini dikaruniai
dua anak.
Menurut Bagas, dalam berteman, Djoko juga tidak pilih-pilih. Semasa
mudanya, dia rajin ikut perkumpulan pemuda Madiun, yang waktu itu
dikenal dengan nama Kecik Boys.
Hubungan Djoko dengan teman-teman sekolahnya hingga kini masih
berlanjut. Setiap pulang ke Madiun, dia selalu mengontak teman-temannya
dan mengadakan reuni. "Meski pangkatnya sudah marsekal, dia tetap rendah
hati. Dia tetap akrab dengan teman-temannya di daerah yang jadi kawulo
alit," ujar Bagas.
Karena itu, teman-temannya yang ada di Madiun selalu mendoakan Djoko
agar berhasil dalam memangku tugasnya. "Kami mendoakan bukan lantaran
dia mau diangkat jadi panglima TNI, tetapi sejak dulu, di mana pun Djoko
bertugas, kami saat ngumpul-ngumpul selalu mendoakan agar Djoko sukses
melaksanakan tugas," paparnya.
Saat naik pangkat atau menduduki jabatan baru, Djoko sering mengundang
teman-temannya ke Jakarta. Termasuk saat dilantik menjadi KSAU di
Jakarta tahun lalu. Saat itu, Djoko pun mengundang teman-teman SMA-nya
ke Jakarta. "Dia selalu mengatakan bahwa jabatan dan tugas yang
diperolehnya berkat doa teman-temannya," ujar Bagas menirukan ucapan
Djoko. Setiap bertemu teman-temannya, Djoko selalu minta saran. "Ini
yang kami suka dari Djoko," pungkas Bagas.(*)
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|