| |
C © updated 31122007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/csis |
|
| |
Nama:
Djisman S Simanjuntak
Lahir:
Sipahutar, Tapanuli Utara, 1947
Agama:
Kristen Protestan
Pendidikan:
- Fakultas Ekonomi Universitas Prahyangan, 1973
- Program Diplom Rer-Pol dari
University of Cologne, 1979
- PhD (doktor) dari University of Cologne, 1983
Jabatan:
- Direktur Eksekutif Prasetya Mulia Business School
- Ketua Dewan Penyantun Center for Strategic and International Studies (CSIS)
|
|
| |
|
|
|
|
| DJISMAN HOME |
|
|
 |
Djisman S Simanjuntak
Persaingan Tajam 2008
Doktor Ekonomi yang menekuni ekonomi mikro dan ekonomi makro, Dr
Djiasman S Simanjuntak mengatakan kinerja ekonomi Indonesia tahun 2007
secara keseluruhan patut disebut sebagai kinerja sedang. Menurut
Direktur Eksekutif Prasetya Mulia Business School dan Ketua Dewan
Penyantun Center for Strategic and International Studies (CSIS), itu
sangat mungkin kinerja sedang itu akan bertahan pada 2008.
Hal itu dikemukakan pria kelahiran Sipahutar, Tapanuli Uatara, 1947,
itu dalam analisis ekonomi yang dirilis di halaman satu Harian Kompas,
31 Desember 2007 vertajuk: Persaingan Tajam di Bawah Pertumbuhan Sedang
Indonesia Tahun 2008. Berikut kami sajikan selengkapnya:
Bagian yang besar dari berbagai kejadian ekonomi tahun 2008 adalah
warisan dari tahun 2007 dan sebelumnya walaupun perhatian kita cenderung
semakin terpusat pada perubahan terkini dan futuristik.
Sesama peramal ekonomi ada sejenis konsensus bahwa kinerja ekonomi dunia
dalam 2008 akan melemah dibandingkan dengan tahun 2007. Krisis kredit
perumahan Amerika Serikat menyeret banyak ekonomi negara lain ke dalam
krisis serupa dan resesi berat investasi perumahan memperburuk dampak
kenaikan harga komoditas primer, terutama minyak bumi.
Dalam ekonomi dunia seperti itu, Indonesia mencatat dalam 2007 kinerja
yang secara keseluruhan patut disebut sebagai kinerja sedang. Sangat
mungkin kinerja sedang itu akan bertahan pada 2008.
Beberapa undang-undang memang sudah disahkan, tetapi pelaksanaannya
dihambat oleh macam-macam inersia dalam pemerintah dan birokrasi,
parlemen ataupun masyarakat legal.
Menguat, tetapi kalah cepat
Ada beberapa alasan untuk menyebut tahun 2007 sebagai tahun kinerja
sedang. Pertumbuhan ekonomi memang membaik, tetapi hanya sedikit menjadi
6,5 persen dari 5,48 persen dalam tahun 2006 dan masih tetap jauh di
belakang negara China, India, dan kini Vietnam.
Seperti sebelumnya, pertumbuhan terkuat terjadi dalam pengangkutan,
telekomunikasi dan listrik, yaitu sektor-sektor nondagang internasional.
Sumbangan ekspor bersih memang naik, tetapi berasal terutama dari
komoditas primer. Investasi sebagai sumber pertumbuhan hari depan memang
menunjukkan tanda-tanda kebangkitan yang menggembirakan.
Sebagai persentase produk domestik bruto, ia naik menjadi 24,4 persen
dalam triwulan ketiga 2007. Impor mesin-mesin naik tajam.
Lalu lintas keuangan dan modal asing menunjukkan surplus biarpun tidak
besar. Harga saham naik tajam seraya mendorong produksi aset produktif.
Kredit perbankan juga naik 15 persen meski penanaman dana dalam
Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang mengindikasikan intermediasi
terbalik juga naik dengan kecepatan yang sama.
Sampai Agustus 2007, persetujuan penanaman modal dalam negeri sudah naik
51 persen dibandingkan dengan masa yang sama tahun 2006 dan persetujuan
penanaman modal asing naik 213 persen dalam sembilan bulan pertama 2007.
Inflasi bertahan pada tingkat yang jauh di atas tingkat inflasi negara
tetangga karena inflasi Indonesia melaju lebih cepat ke arah 7 persen.
Cadangan devisa sudah di atas 50 miliar dollar AS, menandakan neraca
pembayaran yang sehat, terutama karena bagian yang lebih besar dari
kenaikan ini berasal dari surplus transaksi berjalan.
Sayang, citra yang dikesankan oleh angka-angka di atas harus dikeruhkan
karena beberapa hal. Pertama, Indonesia menderita pengangguran yang
parah, terutama pengangguran terselubung.
Kedua, warga miskin dan warga di pinggir kemiskinan di Indonesia masih
tetap sangat banyak.
Ketiga, inersia pemerintahan pusat dan daerah, manajemen BUMN dan BUMD,
parlemen dan masyarakat hukum masih lebih kuat dibandingkan dengan
terobosan-terobosan kebijakan.
Keempat, dalam perlombaan pembangunan Asia Timur, Indonesia masih
ditinggal semakin jauh oleh negara tetangga yang paling relevan.
Ekonomi dunia melemah
Masih ada dua faktor yang akan memengaruhi kinerja ekonomi Indonesia
tahun 2008 di samping kinerja tahun 2007. Salah satunya adalah
melemahnya kinerja ekonomi dunia dan ketidakpastian tentang akhir dari
ketimpangan makroglobal dewasa ini.
Keadaan bisa memburuk jika jatuhnya sektor perumahan ternyata lebih
buruk dari yang diperkirakan atau kalau harga minyak bumi naik ke 100
dollar AS per barrel dan bertahan di situ.
Sebelum krisis kredit perumahan ini pun, dunia sudah dihantui oleh
ketimpangan makro yang struktural. Amerika Serikat di satu pihak hidup
selalu dengan pasak yang lebih besar daripada tiang.
Defisit transaksi berjalan AS naik ke 5,6 persen dalam 2007 atau jauh di
atas batas 2,5 persen yang dianggap aman. Mendanai defisit ini dengan
utang tentu ada batasnya.
Di lain pihak, Asia Timur umumnya, serta Jepang dan "China Raya" di lain
pihak, memupuk surplus yang membesar terus. Surplus transaksi berjalan
China akan naik menjadi 11,25 persen dari produk domestik bruto tahun
2007.
Biarpun ekonomi dunia melemah, Indonesia dapat saja mengurangi dampak
pelemahan itu melalui inovasi kebijakan. Ruang gerak masih terbuka bagi
kebijakan fiskal yang lebih ekspansif digabung dengan kebijakan moneter
yang juga lebih ekspansif.
Namun, perubahan besar dalam profil kebijakan makro tampak tidak leluasa.
Di kalangan menteri-menteri ekonomi tampaknya ada kekhawatiran bahwa
kebijakan makro yang lebih ekspansif tidak menolong banyak karena daya
serap yang dibatasi oleh inersia dalam politik dan birokrasi.
Gunung yang semakin menjulang tidak dapat dipindahkan dengan cangkul
yang semakin tumpul. Dengan sentuhan manajemen, kota-kota utama
Indonesia dapat dikoneksi ke kota utama lain dunia pada umumnya dan di
Asia Timur khususnya untuk menjadi bagian dari sistem produksi global
dan aneka ragam bisnis wisata yang tumbuh pesat di Asia Timur.
Indonesia tidak mempunyai pilihan kecuali menyerang persoalan-persoalan
struktural ini kalau hendak memasuki kembali lajur pertumbuhan tinggi
yang berkelanjutan.
Peluangnya tidak besar bahwa persoalan-persoalan struktural itu akan
ditangani secara besar-besaran dalam 2008. Karena itu, peluang sukses
kebijakan makro yang lebih ekspansif di tengah ekonomi dunia yang
melambat juga adalah kecil.
Profil dasar kebijakan Indonesia tahun 2008 tampaknya akan sama saja
dengan profil dasar tahun 2007. Jika demikian, guncangan yang dapat
datang dari kenaikan harga minyak bisa menjadi pukulan berat bagi
Indonesia dengan saldo ekspor migasnya yang sudah mendekati nol.
Hubungan ekonomi AS-China dapat memburuk, tetapi tidak sedemikian jauh
hingga Indonesia mendapat durian runtuh berupa relokasi besar-besaran
industri-industri Korea Selatan, Taiwan, dan Jepang yang sekarang
mengekspor besar-besaran ke AS.
Di bawah lingkungan global, regional, dan lokal yang disketsakan di atas,
Indonesia akan tumbuh sedang-sedang lagi. Tetapi karena ukurannya yang
sudah cukup besar, ekonomi yang tumbuh dengan sedang itu akan
dipersaingkan dengan semakin tajam sesama peserta lokal, regional, dan
global.
Untuk bertahan di dalamnya, para pelaku harus bekerja semakin keras dan
kreatif seperti "Ratu Merah". (Kompas, 31 Desember 2007) ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|