| |
C © updated 05032008 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/atur |
|
| |
Biodata
Nama:
Djenar Maesa Ayu
Nama Panggilan:
Nai
Lahir:
Jakarta, 10 Januari 1970
Karya Buku:
- Mereka Bilang, Saya Monyet!, kumpulan cerpen (2002)
- Jangan Main-main Dengan Kelaminmu, kumpulan cerpen (2003)
- Cerita Pendek tentang Cerita yang Pendek, kumpulan cerpen (2006)
- Naila, novel (2005)
- Ranjang, novel (segera terbit 2008)
Karya Film:
- Mereka Bilang, Saya Monyet! (2007)
Televisi:
- Fenomena (TranTv, 2006)
- Silat Lidah (Antv, 2007)
|
|
| |
|
|
|
|
| NAI HOME |
|
|
 |
Djenar Maesa Ayu
Melawan Ketabuan dengan Pena
Dari segelintir perempuan penulis Indonesia saat ini, nama Djenar Maesa
Ayu terasa sangat menonjol dari yang lainnya. Pada mulanya ia menulis
cerita pendek (cerpen), lalu beringsut ke novel. Namanya semakin
melangit ketika ia melebarkan sayap ke dunia televisi dan layar lebar.
Dan, saat ini, ia bahkan telah menjadi sutradara lewat film yang
diangkatnya dari karya cerpennya sendiri, “Mereka Bilang, Saya Monyet!”
Djenar lahir dari keluarga seni. Kedua orangtuanya sendiri adalah tokoh
perfilman Indonesia. Ayahnya adalah Sjumanjaya seorang sutradara
terkemuka dan ibunya, Toeti Kirana aktris era 70-an yang cukup punya
nama.
“Dari kecil saya terbiasa melihat kesibukan kedua orang tua yang enggak
jauh-jauh dari dunia seni. Baca buku sastra, nonton film dari banyak
negara…” kata perempuan kelahiran Jakarta, 20 Januari 1970 itu
Dulunya Djenar merasa tidak terlalu pandai menulis. Lalu ia memulai
kiprahnya di dunia kepenulisan dengan menemui sejumlah sastrawan besar
Indonesia yang dijadikannya sebagai “guru” menulisnya. Nama seperti Seno
Gumira Ajidarma, Budi Darma, dan Sutardji Coulzum Bachri kerap
disebut-sebut dalam ucapan terimakasihnya di setiap karyanya terbit.
“Mereka yang memperkenalkan saya pada keberanian dalam menulis. ‘belajar
menulis, ya menulislah!’ kata Sutardji. Lalu saya nulis apa saja.
Keberanian memang sudah ada dalam diri saya. Selanjutnya mengalir saat
proses pembelajaran. Dari sini saja saya sudah tak pantang dengan tabu.
Enggak bisa nulis, tapi ngotot belajar nulis…”katanya sambil tertawa
lepas.
Cerpen pertamanya Lintah yang dimuat harian Kompas (2002) menjadi debut
yang mengesankan. Keberaniannya memaparkan banyak fakta bertema
feminisme dianggap sebagai kelanjutan dari kebangkitan perempuan
pengarang era 2000-an. Setelah itu belasan cerpennya bermunculan di
sejumlah media masa. Rata-rata Djenar menulis tentang perempuan dan
dunianya. Berkat cerpen-cerpennya, Djenar kerap menuai pujian sekaligus
kritik pedas.
“Yang saya ingin tulis, saya tulis. Kalau ternyata banyak orang yang
mengatakan karya saya itu sebagai karya sastra, atau ada yang mengatakan
porno itu saya anggap sebagai komplimen. Tugas saya hanya menulis…Saya
tak pantang dengan tema yang dianggap orang tabu,” kata ibu dua anak ini
spontan.
Djenar adalah feminis tanpa jargon. Sejumlah cerpennya dianggap banyak
kritikus sastra sebagai karya yang mengelaborasi tema seksualitas dan
dunia perempuan. Tak jarang, setiap karyanya terbit, selalu saya
disertai kontroversi. Djenar sendiri tak sungkan memasukan sejumlah
tema-tema krusial seksualitas berikut idiom dan frasanya. Hubungan tak
lazim dalam dunia seks, dan sejumlah tema pemberontakan perempuan yang
selama ini masih jarang dijamah penulis seangakatannya sekalipun.
“Kadang kita sering berlebihan memandang seks. Padahal pembaca dewasa
membutuhkan diskusi tentang itu, buang dulu istilah tabu…” katanya.
Djenar termasuk perempuan penulis yang produktif. Dalam kurun waktu
tujuh tahun, empat judul buku sudah tergarap, dan tiga di antaranya itu
masuk sebagai shortlist anugerah sastra tahunan Khatulistiwa Literary
Award tahun 2002, 2004 dan 2006. Dan setiap buku karyanya selalu
termasuk deretan daftar buku bestseller.
Sejak tanggal 3 Januari 2008 yang baru saja berlalu, Djenar menambah
satu lagi karyanya. Film Mereka Bilang, Saya Monyet! Yang
disutradarainya itu tak lain adalah gubahan atas karya cerpennya sendiri.
“Selalu saja ada niat untuk menuangkan sisi-sisi keberanian feminis yang
berbeda. Dalam film ini saya tuangkan kekayaan sastra dalam bentuk
visual…”
►ti/chs
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|