|
|
 |

Nama :
dr. H. Djailani
Mayor Jenderal TNI (Purn)
Lahir :
Jakarta, 17 Juni 1942
Suku Bangsa:
Betawi
Agama :
Islam
Status perkawinan:
1 (satu) Isteri, 4 (empat) orang anak
Sumber PA/TH :
Pendidikan Dokter Angkatan Darat (PDAD) tahun 1964.
Jabatan :
Wakil Gubernur Bidang Kesejahteraan Masyarakat Pemda DKI Jakarta.
Pendidikan :
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (1960-1966)
|
|
dr. H. Djailani, Mayjen (Purn)
Memberdayakan Akar Rumput
Manjan Wakil Gubernur DKI Jakarta Bidang Kesra ini mengatakan Jakarta barometer ekonomi nasional, sekaligus menjadi tumpuan harapan bagi
penduduk dari propinsi lain. Implikasinya, arus urbanisasi terus meningkat.
H. Djailani seorang dokter dan pensiunan mayor jenderal kelahiran
Jakarta 17 Juni 1942.
Bicara soal Jakarta, agaknya tepat bila dr. H. Djailani mengutarakan pandangan dan
harapannya.
Menurut analisisnya, kota Jakarta mengalami pembangunan fisik dan ekonomi
yang berjalan dengan pesat, menjadi suatu kota metropolitan. “Kemajuan
yang dicapainya telah menjadikan kota ini sebagai barometer bagi kemajuan
perekonomian nasional", katanya.
Tidak mengherankan jika dalam perkembangan kemudian, Jakarta menjadi
tumpuan harapan bagi penduduk dari propinsi lain. Implikasinya, arus
urbanisasi terus meningkat. Hal ini tentu saja membawa dampak permasalahan
yang tidak sederhana. Karena persoalan ikutan yang muncul bersamaan dengan
arus urbanisasi, ternyata cukup kompleks.
Di bidang kependudukan, misalnya, urbanisasi telah mendorong terjadinya
pengangguran dan kemiskinan kota. Sedangkan di bidang pemukiman, telah
menimbulkan persoalan baru berupa makin bertambahnya pemukiman kumuh.
Menurut Djailani, permasalahan pokok yang dihadapi Jakarta setidaknya bisa
dilihat dalam tiga dimensi. Pertama, situasi kesejahteraan. Kedua, situasi
sosial budaya yang menggambarkan kerukunan, kepedulian, kemandirian serta
kemajuan. Ketiga, terjadinya krisis kepercayaan. Ketiga dimensi ini pada
hakikatnya dialami seluruh elemen masyarakat yang tinggal dan hidup di
Jakarta.
Jika kini ibukota negara ini dihadapkan kepada permasalahan sosial budaya
yang kompleks, hal itu merupakan dampak interaksi yang berkesinambungan
diantara berbagai pihak.
Krisis ekonomi yang berkepanjangan, katanya, telah menyebabkan terjadinya
penurunan tingkat kesejahteraan hidup secara lahir dan batin. Karena
bersamaan dengan krisis moneter, terjadi pula peningkatan aksi kekerasan
kolektif. Jakarta seakan-akan menjadi tidak nyaman bagi warganya.
Situasi kesejahteraan di Jakarta khususnya setelah krisis moneter dan
ekonomi, cenderung mengalami penurunan. Bukan saja dibidang ekonomi, tapi
melebar ke bidang sosial dan budaya. Untuk membangun Jakarta dengan segala
permasalahannya, tidak bisa dilakukan sepotong-sepotong, tapi secara
keseluruhan melalui perencanaan yang mendasar.
Jadi, yang mesti dilakukan adalah menetapkan strategi pembangunan, dengan
menyikapi perubahan sosial budaya yang berkembang. Dengan kondisi Jakarta
seperti sekarang, ujarnya, perencanaan pembangunan harus dirumuskan
bersama para pakar, tokoh masyarakat, pemimpin agama sampai kepada lapisan
paling bawah. Artinya, perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pembangunan
diserahkan kepada komunitas, bisa dimulai ditingkat RT/RW dan kelurahan,
melalui Dewan Kelurahan. "Saya kira hal ini yang diprioritaskan, disamping
upaya penegakan kepastian hukum dan perlindungan hak warga kota," kata
Djailani. Untuk itulah maka organisasi di tingkat komunitas, perlu
dihidupkan dan difungsikan, agar komunitas siap menjadi unit pelaku
pembangunan yang dapat diandalkan.
Intinya adalah bagaimana membangun Jakarta yang mengikutsertakan seluruh
elemen masyarakat. Memberdayakan masyarakat akar rumput, sehingga menjadi
kekuatan yang mendukung pembangunannya, dengan jalan membuka akses sumber
modal dan akses politik kepada seluruh warga, agar peran mereka dapat
dikerahkan secara lebih optimal.
Diakui oleh Djailani, selama ini RT/RW yang merupakan organisasi warga di
tingkat komunitas yang merupakan perpanjangan tangan birokrasi, peranannya
selalu dikesampingkan. Bila pemerintah merasa perlu membagi peran, maka
peran tersebut lebih banyak diberikan pada swasta.
Masyarakat tidak pernah
dapat mengontrol hubungan antara pemerintah dan swasta. Bahkan, untuk
suatu pembangunan yang sederhana sekalipun, mereka tak pernah dilibatkan.
Pemerintah sering mengunakan istilah partisipasi untuk menunjukkan peran
serta masyarakat dalam pembangunan. Tetapi, konsep partisipasi di masa
lalu ternyata hanya dibatasi pada peran menunjang kegiatan pemerintah. "Ke
depan, cara-cara seperti ini tidak bisa di pakai lagi. Yang dikembangkan
adalah pembangunan dari rakyat untuk rakyat. Artinya, mulai dari tingkat
perencanaan sampai kepada pelaksanaannya diserahkan kepada mereka melalui
mekanisme yang ada. Karena merekalah yang mengetahui aspirasi warganya,"
kata Djailani.
Jadi, peranan pemerintah adalah memotivasi, memfasilitasi dan melakukan
pengawasan. Disamping itu, katanya, pembangunan Jakarta tidak saja
berorientasi kepada pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tetapi juga harus
mempertimbangkan dampak sosialnya bagi masyarakat. Untuk menciptakan hal
tersebut, maka pembangunan ekonomi DKI Jakarta harus lebih diarahkan
kepada pemberdayaan ekonomi rakyat, tentunya dengan memperhatikan hubungan
ekonomi antar daerah dan internasional.
Pembangunan ekonomi Jakarta juga harus dijiwai oleh citra kota ini sebagai
ibukota negara dan sebagai pusat kegiatan ekonomi yang menjadi dinamisator
bagi perkembangan wilayah lain, melalui pemihakan kepada golongan kecil.
Untuk mewujudkannya diperlukan strategi pokok, yaitu penataan kembali
manajemen pemerintahan, melakukan perbaikan sekaligus pengembangan
kehidupan bermasyarakat, baik dalam bentuk peningkatan disiplin dan rasa
kebersamaan diantara sesama warga.
Barometer Perekonomian Jakarta menjadi barometer bagi kemajuan dan
kestabilan pembangunan nasional, karena memikili kondisi umum yang jauh
lebih baik dibanding propinsi lain. Sebagai ibukota negara dan wilayah
konsentrasi dari berbagai kegiatan perekonomian nasional dan internasional,
Jakarta memiliki basis ekonomi yang lebih baik. Karena, didukung oleh
sumber daya manusia yang relatif baik, infra-struktur yang lebih memadai
serta daya tarik investasi di sektor-sektor produktif.
Daya tarik dan
keunggulan ekonomi ini pula yang secara terus menerus berpotensi
menciptakan urbanisasi ke Jakarta., dengan dampak negatif pada melemahnya
daya dukung lahan dan lingkungan serta masalah-masalah kemasyarakatan.
Krisis ekonomi yang ditandai dengan anjloknya nilai tukar rupiah terhadap
dolar Amerika sejak Juli 1997, memberi dampak luar biasa pada berbagai
kehidupan masyarakat. Secara ekonomi, kota Jakarta menerima dampak paling
buruk dibanding propinsi lain.
Sebabnya, pertama karena struktur industri yang dimiliki sangat tergantung
pada bahan baku, barang modal, dan teknologi impor. Kedua, Jakarta tidak
memiliki sumber daya alam. Ketiga, kegiatan perekonomian banyak dibiayai
pinjaman luar negeri.
Dampak krisis itu, menurut Djailani akhirnya meluas pada kehidupan sosial,
politik dan hukum, yang memunculkan semangat reformasi secara luas di
segala bidang. Walaupun dilanda krisis, banyak kalangan baik birokrat
maupun pengamat percaya bahwa kondisi perekonomian Jakarta tetap lebih
baik dibanding wilayah lain, karena memiliki basis ekonomi yang kuat.
Kemerosotan ekonomi telah berdampak pula pada menurunnya penghasilan dan
daya beli masyarakat yang menyebabkan ketahanan masyarakat menjadi rentan,
mudah marah dan merusak, emosional dan mudah terprovokasi. Sifat mudah
merusak ini sangat berbahaya bagi eksistensi prasarana yang ada.
Di pihak lain, masalah ekonomi yang dihadapi Jakarta saat ini, masih harus
ditambah dengan tantangan ke depan berkaitan dengan kuatnya arus
globalisasi dan persaingan antar negara yang semakin ketat. Sebagai pusat
pertumbuhan nasional, Jakarta harus menempatkan dirinya, ke depan, mampu
menghadapi persaingan dalam perdagangan dan investasi. Ke belakang, mampu
menarik daerah-daerah lain untuk meningkatkan sektor produksi dan membuat
sinergi ekonomi yang saling menguntungkan.
Pekerjaan ini tentunya tidak mudah dilakukan bila tidak dibarengi dan
dipadukan dengan pemikiran dan terobosan baru berkaitan dengan strategi
pembangunan ekonominya. Dari kenyataan ini, kata Djailani, pembangunan
ekonomi di Jakarta akan menghadapi tiga persoalan pokok. Bagaimana
mengupayakan rehabilitasi prasarana dan sarana ekonomi secepatnya, agar
dunia usaha dapat beroperasi kembali secara normal.
Penataan kembali sektor usaha terutama pedagang kaki lima yang sekarang
ini semakin semrawut dan sementara penegakan ketertiban menghadapi
hambatan psikologis. Menciptakan investasi awal (initial investment)
sebagai prasyarat menjadikan Jakarta sejajar dengan kota-kota besar di
negara maju yang mampu bersaing dalam era globalisasi dan perdagangan
bebas. *** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), Repro Garda)
|
|