| |
C © updated 19012003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/al-zaytun |
|
| |
Nama:
Djafar Husin Assegaff
Lahir:
Tanjungkarang, Lampung, 12 Desember 1932
Agama:
Islam
Isteri:
Syifa Abdullah
Anak:
Lima orang (seorang meninggal)
Pendidikan:
Sekolah Dagang Menengah di Jakarta
Jurusan Publisistik FISIP Universitas Indonesia (1964)
Pekerjaan:
Redaktur Politik Harian Indonesia Raya (1956-1959)
Wakil Pemimpin Redaksi Harian Abadi (1959-1960)
Seksi Penerangan Komando Operasi Tertinggi (Koti) (1964-1968)
Managing Editor Indonesia Raya (1968)
Pemimpin Redaksi Harian Suara Karya (1972-1990)
Pemimpin Redaksi Majalah Warta Ekonomi (1990-1983)
Dubes Republik Indonesia di Vietnam (1993-1997)
Pemimpin Redaksi Harian Media Indonesia (1997-2001)
Wakil Pimpinan Umum Harian Media Indonesia 2002
Buku:
Perlawanan dalam Kungkungan (2002) |
|
| |
|
|
|
|
Djafar H. Assegaff
Wartawan Tak Kenal Pensiun
Ia seorang wartawan senior Indonesia yang telah mengecap asam garam ‘kuli
tinta’. Sejak masih pelajar hingga usia kepala tujuh, ia mengabdi dalam
dunia jurnalistik. Mantan Redaktur Politik Harian Indonesia Raya
(1956-1959) ini, sejak 2002 masih menjabat sebagai Wakil Pimpinan Umum
Harian Media Indonesia. Menurutnya, tidak pernah ada kata pensiun untuk
seorang wartawan.
Tanggal 12 Desember 2002 lalu, Djafar Husin Assegaff menapak usia 70 tahun.
Panjang sudah jalan yang telah dilewati oleh suami Syifa Abdullah serta
ayah dari lima anak (seorang meninggal) tersebut sejak dilahirkan di
Tanjungkarang, Lampung. Dari profesi yang ditekuninya sebagai seorang
wartawan, bukan saja panjang bahkan beragam jejak telah dilewatinya.
Djafar Assegaff sudah terjun dalam kegiatan menulis sejak tahun 1950-an
pada saat masih sebagai siswa Sekolah Dagang Menengah di Jakarta.
"Dulu saya tentara pelajar, sebelumnya aktif di Ikatan Pemuda Pelajar
Pejuang Lampung. Ketika sekolah di Jakarta jadi anggota IPPI (Ikatan
Pemuda Pelajar Indonesia). Ormas ini punya majalah Pemuda Masyarakat. Di
sana saya belajar menulis artikel...," kata Assegaff sambil menerawang ke
atas, menatap langit-langit ruang kerjanya yang luas dan teramat rapi.
Serasi dengan posisi yang sejak awal tahun 2002 ini dia pegang, Wakil
Pimpinan Umum Harian Media Indonesia.
Apakah ini terminal terakhir? Assegaff langsung tertawa dan menjelaskan, "Tidak
pernah ada kata pensiun untuk seorang wartawan. Tetapi, apakah di sini
nanti (tugas) saya yang terakhir... hanya Allah yang mengetahui."
Pertanyaan tersebut memang tidak mengada-ada. Dari catatan karier yang
dilaluinya, sebuah prestasi sulit dicari padanannya, khususnya dalam hal
beralih tempat tugas. Djafar Assegaff pernah menjadi Redaktur Politik
Harian Indonesia Raya (1956-1959). Koran tersebut mati ditutup Bung Karno
sehingga dia harus mencari tempat pijakan baru, diterima sebagai Wakil
Pemimpin Redaksi Harian Abadi (1959-1960). Ternyata, Abadi juga dimatikan
menyusul Indonesia Raya. Mau tidak mau Assegaff lantas menganggur.
Sesudah menjalani masa istirahat sebagai wartawan lebih kurang 12 tahun
dan setelah Orde Baru menumbangkan Orde Lama, Assegaff kembali lagi terjun
ke media massa. Ini dilakukannya ketika Indonesia Raya diizinkan terbit
kembali (1968), kali ini dalam posisi selaku managing editor.
Tahun 1972 Harian Suara Karya disegarkan, Ali Moertopo selaku god father
Golongan Karya langsung menunjuk Assegaff sebagai pemimpin redaksi di
koran resmi Golkar tersebut. Dua dasawarsa kemudian Assegaff tercatat
sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Warta Ekonomi (1990-1993), sebelum
nantinya dipercaya menjabat Pemimpin Redaksi Harian Media Indonesia
(1997-2001).
Dalam kasus Indonesia Raya (pertama) dan juga Abadi, jelas kedua koran ini
dihentikan penerbitannya karena berseberangan dengan kebijakan pemerintah
yang sedang berkuasa. Bagaimana pengalaman di koran-koran lain?
Assegaff tidak langsung menjawab, dia berkisah. "Saya masuk ke Suara Karya
sesudah meminta izin kepada Mochtar Lubis, bos Indonesia Raya. Dia setuju
dengan alasan, pembaharuan dunia politik Indonesia perlu, dan peluangnya
masa itu memang hanya bisa lewat Golkar. Dalam perjalanan waktu Ali
Moertopo meninggal, disusul pergantian pimpinan puncak di Golkar.
Pimpinan baru ternyata memberlakukan langkah De-Ali Moertoponisasi, mereka
yang dinilai pernah dekat dengan Pak Ali digeser, termasuk diri saya. Nama
saya tetap tercantum sebagai Pemimpin Redaksi Suara Karya sampai tahun
1983, sekadar memenuhi ketentuan Surat Izin Terbit (SIT). Tetapi, sejak
tahun 1977 saya praktis telah berada di luar sebab pimpinan Golkar
memerintahkan saya (hanya) untuk aktif di Persatuan Wartawan Indonesia,
mendampingi Ketua PWI Harmoko."
Untuk menandai semua pengalamannya, hari (18/12) Rabu nanti Assegaff
meluncurkan dua buku, salah satunya bertajuk Perlawanan dalam Kungkungan.
Di dalam buku tersebut dia mengemukakan penilaiannya sekitar soal
kebebasan redaksional, penegakan kode etik profesi, akurasi pemberitaan,
penyiaran polling pendapat umum, dan juga mengenai pembajakan wartawan.
Persoalan yang akhir-akhir ini tampil sebagai perdebatan hangat dalam
media adalah masalah editorial policy. Akar masalahnya adalah karena surat
kabar sudah tumbuh menjadi sebuah industri besar, dilengkapi kenyataan
sebagian media telanjur dikuasai konglomerat atau kekuatan politik, yang
kemudian ingin menggunakannya untuk bisa berkampanye dalam membela
kepentingan bisnis atau politik tertentu, selain dipakai untuk memukul
lawan bisnis atau lawan politik sang pemilik media.
Menurut Assegaff, "...redaksi serta wartawan bisa saja terancam
kebebasannya dalam menyiarkan sesuatu berita akibat datangnya intervensi
dari pemilik. Ini lebih terasa sebab bagi wartawan profesional, kredo
mereka adalah keinginan mengabdi kepentingan publik. Di atas
segala-galanya, seorang wartawan harus berjuang untuk menegakkan kebenaran
dan memenuhi hasrat rasa ingin tahu khalayak pembacanya."
Kiprah Assegaff memang tidak hanya wartawan. Alumnus angkatan pertama
jurusan publisistik Universitas Indonesia ini sejak tahun 1964 menjadi
dosen di almamaternya. Dia kemudian diperbantukan di seksi penerangan
Komando Operasi Tertinggi (Koti) antara tahun 1964-1968. Sebagaimana dia
akui, "Pada masa-masa itulah saya mulai akrab dengan sejumlah tokoh
militer, sebab di Koti setiap hari harus bergaul dengan mereka."
Kedekatan inilah yang mungkin telah melapangkan jalan bagi Assegaff naik
memimpin Suara Karya, di samping dipercaya ikut dalam kegiatan tim
diplomasi non-Deplu. "Pertama, tahun 1970-an ke Eropa Barat dan Inggris,
untuk meyakinkan pemerintah dan masyarakat setempat mengenai kebijakan
baru Pemerintah Indonesia. Kemudian tahun 1980-an ke Uni Soviet dan Eropa
Timur, meyakinkan mereka apa alasan (waktu itu) Timor Timur harus
dibebaskan dari penjajahan Portugal."
Bukankah gaya diplomasi semacam itu potensial untuk mengacau jalur resmi?
Assegaff menjawab, "Pernah ada seorang menteri luar negeri mengeluh,
perumus kebijakan politik luar negeri Indonesia ternyata bukan hanya dia
sendiri. Tetapi, saya justru yakin diplomasi dua jalur amat bermanfaat,
sebab kami hanya ingin menunjang kebijakan resmi dan melakukannya demi
membela kepentingan bangsa dan negara, nothing personal...."
Setiap pilihan akan selalu membuka sebuah wacana. Bagaimanapun, berkat
pengalaman terlibat dalam kegiatan gaya diplomasi tersebut, tidak
mengherankan apabila Djafar Assegaff kemudian bisa dipercaya menjabat
Dubes Republik Indonesia di Vietnam antara tahun 1993-1997. Penghargaan
sekaligus tugas negara yang sepantasnya memang dia peroleh. ►Julius
Pour, Kompas 17 Desember
2002
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|