| |
C © updated 03072004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/depdiknas |
|
| |
Nama:
Pangeran Diponegoro
Nama Kecil:
Raden Mas Ontowiryo
Lahir:
Yogyakarta, 11 Nopember 1785
Meninggal:
Ujungpandang, 8 Januari 1855
Ayah:
Sutan Hamengku Buwono III
Tanda Kehormatan:
Pahlawan Nasional |
|
| |
|
|
|
|
Pangeran Diponegoro (1785-1855)
Pejuang Berhati Bersih
Dilahirkan dari keluarga Kesultanan Yogyakarta, memiliki jiwa
kepemimpinan dan kepahlawanan. Hatinya yang bersih dan sebagai seorang
pangeran akhirnya menuntunnya menjadi seorang yang harus tampil di depan
guna membela kehormatan keluarga, kerajaan, rakyat dan bangsanya dari
penjajahan Belanda.
Namun resiko dari kebersihan hatinya, ia ditangkap oleh
Belanda dengan cara licik, rekayasa perundingan. Namun walaupun begitu,
beliau tidak akan pernah menyesal karena beliau wafat dengan hati yang
tenang, tidak berhutang pada bangsanya, rakyatnya, keluarganya, terutama
pada dirinya sendiri.
Kejujuran, kesederhanaan, kerendahan hati, kebersihan hati, kepemimpinan,
kepahlawanan, itulah barangkali sedikit sifat yang tertangkap bila
menelusuri perjalanan perjuangan Pahlawan kita yang lahir di Yogyakarta
tanggal 11 November 1785, ini.
Pangeran Diponegoro yang bernama asli Raden Mas Ontowiryo, ini
menunjukkan kesederhanaan atau kerendahan hatinya itu ketika menolak
keinginan ayahnya, Sultan Hamengku Buwono III untuk mengangkatnya
menjadi raja. Beliau menolak mengingat bunda yang melahirkannya bukanlah
permaisuri.
Bagi orang-orang yang tamak akan kedudukan, penolakan itu pasti sangat
disayangkan. Sebab bagi orang tamak, jangankan diberi, bila perlu
merampas pun dilakukan. Melihat penolakan ini, sangat jelas sifat tamak
tidak ada sedikitpun pada Pangeran ini. Yang ada hanyalah hati yang
bersih. Beliau tidak mau menerima apa yang menurut beliau bukan haknya.
Itulah sifat yang dipertunjukkannya dalam penolakan terhadap tawaran
ayahnya tersebut.
Namun sebaliknya, beliau juga akan memperjuangkan sampai mati apa yang
menurut beliau menjadi haknya. Sifatnya ini jelas terlihat jika
memperhatikan sikap beliau ketika melihat perlakuan Belanda di
Yogyakarta sekitar tahun 1920. Hatinya semakin tidak bisa menerima
ketika melihat campur tangan Belanda yang semakin besar dalam persoalan
kerajaan Yogyakarta. Berbagai peraturan tata tertib yang dibuat oleh
Pemerintah Belanda menurutnya sangat merendahkan martabat raja-raja Jawa.
Sikap ini juga sangat jelas memperlihatkan sifat kepemimpinan dan
kepahlawanan beliau.
Sebagaimana diketahui bahwa Belanda pada setiap kesempatan selalu
menggunakan politik ‘memecah-belah’-nya. Di Yogyakarta sendiri pun,
Pangeran Diponegoro melihat, bahwa para bangsawan di sana sering di adu
domba Belanda. Ketika kedua bangsawan yang diadu-domba saling mencurigai,
tanah-tanah kerajaan pun semakin banyak diambil oleh Belanda untuk
perkebunan pengusaha-pengusaha dari negeri kincir angin itu.
Melihat keadaan demikian, Pangeran Diponegoro menunjukkan sikap tidak
senang dan memutuskan meninggalkan keraton untuk seterusnya menetap di
Tegalrejo. Melihat sikapnya yang demikian, Belanda malah menuduhnya
menyiapkan pemberontakan. Sehingga pada tanggal 20 Juni 1825, Belanda
melakukan penyerangan ke Tegalrejo. Dengan demikian Perang Diponegoro
pun telah dimulai.
Dalam perang di Tegalrejo ini, Pangeran dan pasukannya terpaksa mundur,
dan selajutnya mulai membangun pertahanan baru di Selarong. Perang
dilakukan secara bergerilya dimana pasukan sering berpindah-pindah untuk
menjaga agar pasukannya sulit dihancurkan pihak Belanda. Taktik perang
gerilya ini pada tahun-tahun pertama membuat pasukannya unggul dan
banyak menyulitkan pihak Belanda.
Namun setelah Belanda mengganti siasat dengan membangun benteng-benteng
di daerah yang sudah dikuasai, akhirnya pergerakan pasukan Diponegoro
pun tidak bisa lagi sebebas sebelumnya. Disamping itu, pihak Belanda pun
selalu membujuk tokoh-tokoh yang mengadakan perlawanan agar menghentikan
perang. Akhirnya, terhitung sejak tahun 1829 perlawanan dari rakyat pun
semakin berkurang.
Belanda yang sesekali masih mendapatkan perlawanan dari pasukan
Diponegoro, dengan berbagai cara terus berupaya untuk menangkap pangeran.
Bahkan sayembara pun dipergunaan. Hadiah 50.000 Gulden diberikan kepada
siapa saja yang bisa menangkap Diponegoro. Diponegoro sendiri tidak
pernah mau menyerah sekalipun kekuatannya semakin melemah.
Karena berbagai cara yang dilakukan oleh Belanda tidak pernah berhasil,
maka permainan licik dan kotor pun dilakukan. Diponegoro diundang ke
Magelang untuk berunding, dengan jaminan kalau tidak ada pun kesepakatan,
Diponegoro boleh kembali ke tempatnya dengan aman. Diponegoro yang jujur
dan berhati bersih, percaya atas niat baik yang diusulkan Belanda
tersebut. Apa lacur, undangan perundingan tersebut rupanya sudah menjadi
rencana busuk untuk menangkap pangeran ini. Dalam perundingan di
Magelang tanggal 28 Maret 1830, beliau ditangkap dan dibuang ke Menado
yang dikemudian hari dipindahkan lagi ke Ujungpandang.
Setelah kurang lebih 25 tahun ditahan di Benteng Rotterdam, Ujungpandang,
akhirnya pada tanggal 8 Januari 1855 beliau meninggal. Jenazahnya pun
dimakamkan di sana. Beliau wafat sebagai pahlawan bangsa yang tidak
pernah mau menyerah pada kejaliman manusia. ► juka
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|