| |
C © updated
10122003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
|
|
| |
Nama:
Muhammad Dimyati Hartono
Lahir:
Malang, 3 Maret 1932
Agama:
Islam
Istri:
Siti Soelastri
Anak:
Eko Djuliardhie Dimyati (Koi)
Ayah:
Marsidin Restohartono
|
|
| |
|
|
|
|
==
1
2
3 4 ==
Prof. Dr. M. Dimyati Hartono, SH
Pendiri Partai PITA
Akhirnya dia coba merintis untuk mendirikan sebuah wadah baru. Mulailah
tergagas pemikirannya mendirikan Partai Indonesia Tanah Air Kita (PITA).
Yang selanjutnya dideklarasikan tanggal 7 April 2002 di Balai Sidang
Senayan, Jakarta. Partai yang sifatnya betul-betul terbuka, untuk semua
warga negara, semua suku bangsa, semua etnik, semua agama, semua daerah
dan semua strata sosial.
Orang-orangnya adalah yang nasionalis Pancasilais,
memiliki integritas pribadi yang tinggi dan kredibel di mata masyarakat,
serta tidak tercela dari segi hukum dan moralitas.
Mengenai dewan pendiri maupun pengurus partai, dia punya prinsip, tidak
harus orang yang terkenal yang harus duduk sebagai Dewan Pendiri dan
pengurus. Tetapi siapapun boleh dan mereka akan menjadi terkenal asal bisa
membuktikan dirinya berguna untuk bangsa dan negara. Menurutnya, orang
yang pada saat mendirikan partai sudah terkenal, mereka itu orang-orang
yang lahir dan besar di jaman orde baru. Jadi sulit mencari orang terkenal
sekarang ini yang tidak terkontaminasi oleh orde baru.
Maka prinsipnya adalah, siapa saja, tidak usah terkenal pokoknya mau,
punya idealisme, berdedikasi terhadap bangsa dan negara, dan mereka mau
berjuang bersama-sama PITA. Sehingga diputuskannya, 70% pengurus harus
generasi muda, selebihnya orang yang lebih senior. Itu sudah berjalan
sekarang. Pengurus DPD-DPD umumnya orang-orang muda.
Mengenai pemberian nama PITA. Dia mengatakan bahwa Pita berarti pengikat,
sama dengan tali rantai, tali jerami dan lainnya. Tapi Pita mempunyai
karakteristik. Pita adalah tali yang dipakai untuk kesempatan tertentu
yaitu kesempatan yang baik. “Wanita mengikat rambutnya dengan pita, karena
rambut adalah mahkota wanita dan supaya lebih cantik kelihatannya. Kado
juga diikat dengan pita, karena kado itu sesuatu yang berharga dan
diberikan kepada orang yang sangat dihargai pada event yang berharga.
Manusia yang satu juga tidak bisa berhubungan dengan yang lainnya tanpa
pita yang disebut dengan pita suara,” katanya menganalogikan sambil
tersenyum.
Melihat kondisi tanah air ini, dimana tanah air kita ini berada dalam
ancaman disintegrasi, dan krisis multi dimensi, Dimyati mengatakan bahwa
penyebab semua ini adalah karena tali pengikat bangsa ini sudah kendor.
Jadi musti diikat dengan pita yaitu faham kebangsaan, nasionalisme yang
tertuang pada konstitusi kita yang disebut Pancasila dan UUD 45.
Nasionalisme Indonesia ini tidak sama dengan nasionalisme yang ada di
dunia. Itu suatu hal yang dinamis dan menghadapi tantangan yang dinamis.
Karena itu nasionalisme yang diterapkan PITA pada abad ke 21 ini berbeda
dengan nasionalisme yang diterapkan Bung Karno pada tahun 1918. Karena
tantangannya berbeda, Bung Karno menghadapi penjajahan supaya Indonesia
merdeka. Sekarang, sudah merdeka, jadi tantangan kita adalah menghadapi
globalisasi. Oleh karena itu nasionalisme yang diterapkan PITA adalah
faham kebangsaan Indonesia yang berwawasan global, yang sudah diterapkan
sejak sekarang.
Dalam pembentukan DPD, partai PITA sudah melebihi dari batas minimum yang
ditetapkan oleh UU karena DPD Partai PITA sudah terbentuk di semua popinsi
atau di 32 Propinsi yang ada di Indonesia dan DPD Tk II atau Kabupaten/Kota
juga sudah terbentuk sebanyak 360 DPD Tk II. Satu partai memang tidak
mungkin bisa berdiri tanpa dukungan keuangan, tapi Pak Dim yang mengaku
tidak punya duit ini bisa mengatasinya. “Duit untuk menghidupi keluarga,
cukup. Tapi untuk membangun sebuah partai yang membutuhkan puluhan miliar
saya tidak punya,” katanya.
Mengatasi Masalah Bangsa
Menanggapi tentang bangsa yang sedang menghadapi krisis multidimensi,
Dimyati mengatakan bahwa bangsa ini sedang terjangkit tiga penyakit mental
bangsa, The Three National Mental Disease.
Menurutnya, pertama, bangsa ini tidak punya harga diri. “Sebagai bangsa
yang merdeka dan berdaulat, bangsa ini selalu dikatakan bangsa ‘korup’
yang terbesar, tapi ketawa saja pemimpin-pemimpinnya. Dikatakan sebagai
negara yang di bidang pendidikan terendah yaitu urutan ke 112 dari 136,
kita juga ketawa saja. Juga tidak malu ketika sudah jadi terdakwapun masih
memimpin lembaga tinggi negara. Dan untuk semuanya itu, bangsa ini diam
saja,” katanya menjelaskan.
Kedua, kita tidak punya kepercayaan terhadap diri sendiri. “Sebagai bangsa
yang merdeka dan berdaulat, tapi lihatlah penanganan masalah Aceh. Gerakan
Aceh Merdeka jelas merupakan pemberontakan karena dalam melakukan
gerakannya sudah menggunakan senjata. Hukumnya pemerintah cuma satu untuk
itu yaitu, tumpas. Tetapi kenapa mesti diajak berunding. Yang mengajak
berunding adalah kita sebagai negara berdaulat, dan yang dijadikan
mediator adalah LSM. LSM itu bukan level negara kita yang berdaulat.
Akhirnya jadi berlaut-larut, karena bangsa kita tidak punya kepercayaan
terhadap diri kita sendiri,” lanjutnya.
Disarankannya juga, dalam menangani masalah dalam negeri, hendaknya jangan
ragu-ragu. Jangan seperti akhir-akhir ini dimana presiden mengatakan
alasannya kenapa tidak memberantas korupsi, “Nanti kalau saya bertindak,
disebut melangggar HAM,” katanya menirukan ucapan Ibu Presiden.
Ketiga, bangsa ini sudah tidak mempunyai kepercayaan terhadap kemampuan
bangsa sendiri. Sedikit-sedikit kita mengatakan, “Bagaimana nanti bangsa
lain, bagaimana IMF, bagaimana World Bank, investor asing nanti tidak
masuk”. Tapi tidak dilihat bangsa yang berpenduduk 220 juta ini, negara
yang kaya sumberdaya alam ini mempunyai potensi yang besar.
Untuk tiga penyakit mental itu menurutnya harus dilakukan ‘Penyembuhan
Mental Nasional’ (National Mental Healing). Caranya, dengan mengembalikan
harga diri tersebut, mengembalikan kepercayaan pada diri sendiri,
mengembalikan kepercayaan pada bangsa. Berdasarkan prinsip ini, dia
melihat hal paling pertama dan utama yang harus dibangun pada bangsa ini
adalah mental.
Dikatakannya, kalau mendirikan partai, yang harus dibangun dulu adalah
mental. Supaya orang yang datang pada partai itu tidak orang-orang yang
dengan tangan ‘menengadah’ berharap disini ada uang. Tapi yang datang itu
adalah orang yang harus mau kerja.
Oleh karena itu, diputuskannya bahwa prinsip di Partai PITA adalah prinsip
swadaya. Maksudnya, kalau mau masuk PITA, boleh tapi harus berusaha
sendiri. Kalau prinsip ini sudah berhasil dibangun, dan bila nanti menang
dalam pemilu, prinsip swadaya ini menurutnya akan dipakai sebagai prinsip
mengelola negara ini. Dengan sangat optimis prinsipnya itu pasti dipercaya
oleh rakyat, karena PITA sudah membuktikan. Dan menurutnya harus begitu
baru bisa membangun persatuan dan kesatuan. “Bagaimana mau bicara tentang
persatuan dan kesatuan, kalau partainya sendiri berkelahi satu sama lain,”
katanya.
Setelah Partai PITA berjalan selama lebih dari setahun, dia sudah melihat
sisi positifnya yaitu terjadinya saringan alami di antara
pengurus-pengurus dan anggota. Siapa yang datang ke PITA hanya mencari
duit, padahal tidak ada duit, akhirnya rontok. Mereka yang ingin mendapat
fasilitas, tidak ada fasilitas, rontok juga. Mereka yang petualang kalau
diikat aturan, akhirnya menyerah. Sehingga satu setengah tahun ini yang
tersisa di dalam partai itu adalah kader-kader yang terpercaya, loyalis,
dan berdedikasi. Namun di samping sisi positifnya, diakuinya ada juga sisi
negatifnya yaitu untuk sementara ini banyak keluhan.
Sedangkan ketika disinggung mengenai kendalanya dalam mensosialisasikan
partai ke daerah sebagai pengaruh dari prinsip swadaya tersebut, dia
mensiasatinya dengan tidak perlu ke daerah. “Kenapa musti ke daerah-daerah.
Ada yang saya bangun sejak awal yaitu empat kekuatan sebuah partai politik,
yaitu, pertama, konsepsinya harus menjangkau masa depan. Kedua, harus
dibangun sistem dalam organisasi itu. Ketiga, harus memanfaatkan mekanisme
hubungan kerja antara unsur-unsur. Keempat, network yaitu jaringan,”
katanya.
Menurutnya orang ke daerah karena network di partai itu tidak jalan,
mekanisme dan sistem tidak jalan. Kalau keempat kekuatan tersebut sudah
jalan maka dengan begitu, jika di daerah-daerah ada masalah, tinggal
dilihat permasalahannya dimana. Kalau di DPD berarti tanggung jawab DPP.
Tapi kalau permasalahannya di dalam propinsi, berarti tanggung jawab DPD.
Jadi DPD harus bisa menyelesaikan. “Pada mereka saya bilang, anda pimpinan
di daerah, itu tanggung jawab saudara. Buktikan bahwa anda seorang
pemimpin. Kalau tidak silahkan mundur,” katanya. Sehingga menurutnya tidak
ada yang cengeng minta-minta ke DPP, sedikit-sedikit ke DPP.
Begitu juga untuk memenuhi pembiayaan kampanye harus diusahakan
masing-masing. “Seperti sekarang, kaos-kaos mereka beli. Di Sumatera Utara,
Jambi misalnya mereka itu hebat-hebat. Tapi ada juga yang tidak, seperti
di Nusa Tenggara Timur,” ujarnya menerangkan.
Akhirnya DPP jarang keluyuran tanpa arah yang jelas. Dia mengaku, sejak
awal modalnya adalah teknologi informasi yaitu satu telepon dan dua mesin
fax. Dan perkenalan dengan pengurus DPD-DPD dilakukannya saat pelantikan
pengurus tersebut.
Syarat Calon Presiden
Dia yang juga sebagai calon presiden dari Partai PITA melihat, PITA
sebagai partai baru diuntungkan oleh adanya UU tentang Pemilihan Presiden
ini. Diakuinya, memang berat untuk memenuhi syarat-syarat yakni lolos dari
KPU dan lolos dalam memenuhi syarat 3%-5%. Jika persyaratan itu telah
terpenuhi, dalam hal pencalonan presiden, Partai PITA tidak mengalami
kesulitan lagi karena hubungan perolehan suara itu dengan pencalonan
presiden tidak ada. Kalau dalam pemilihan sebelumnya ditentukan oleh MPR,
sekarang tidak lagi karena pemilihan langsung oleh rakyat, dan rakyat
memilih orang bukan partai.
Dia merasa optimis. Sehingga ketika mengikuti wawancara di TPI, dia
ditanya, ”Apakah anda sudah siap untuk menjadi calon presiden?”. Dia jawab,
“Menjadi presiden RI ini saya hanya perlu dua syarat yang harus dipenuhi
yaitu pertama, Tuhan menghendaki. Dan kedua, rakyat mendukung”. Kedua hal
itu menurutnya merupakan persyaratan yang pokok. Dikatakannya, orang hebat
bagaimanapun kalau Tuhan tidak menghendaki, pasti tidak jadi. Tapi kalau
Tuhan menghendaki, ya...jalan.
Di samping syarat itu, menurutnya, presiden yang diperlukan oleh bangsa
ini agar keluar dari krisis multi dimensional harus memenuhi syarat-syarat
yaitu pertama, orang yang bersih, tidak pernah korupsi, tidak pernah KKN,
tidak punya noda politik pada jaman orde baru. “Kalau pemimpin masih
produk jaman orde baru, bagaimana bisa menyelesaikan beban politik jaman
orde baru. Kalaupun tidak produk orde baru, tapi tidak bersih juga,
bagaimana dia bisa mengatasi,” katanya. Kedua, dia harus mempunyai visi ke
depan. Jelas apa yang hendak dicapai. Ketiga, dia harus mempunyai sikap
yang tegas dan lugas tapi konsisten, mempunyai kemampuan berpikir dan
bertindak yang konsepsional. “Kalau tidak, jangan. Nanti jadi seperti
keadaan sekarang ini,” katanya.
Ketika ditanya mengenai dirinya sendiri, apakah sudah memenuhi syarat
tersebut. Dia merasa, apa yang dia kemukakan itu tidak akan sulit dia
penuhi. “Alhamdulillah, saya tidak pernah macam-macam. Saya sudah buktikan,
di saat yang tepat, yang harus saya ambil, resiko apapun, harus saya ambil,”
katanya yakin.
“Jaman Orde Baru saya ambil resiko, jaman menghadapi Megawati saya juga
menghadapi resiko. Saya tidak takut kehilangan harta maupun kedudukan,
tapi untuk kebaikan bangsa dan negara saya lakukan,” ujarnya menambahkan.
Visi Negara Maritim Terbesar
Dia mempunyai visi apabila berkesempatan menjadi presiden, ia akan
menjadikan bangsa ini menjadi negara maritim yang besar di dunia. Visinya
itu sekaligus juga dijadikannya menjadi program partai.
Menurutnya, selama ini ada kesalahan yang besar yang dibuat dalam
pembangunan nasional yaitu orientasi ke darat (The Land Oriented),
sehingga terjadi kesenjangan antara Kawasan Barat Indonesia dengan Kawasan
Timur Indonesia. Ini harus dirubah, The Land Oriented dirubah menjadi
Archipelago Sea Oriented (berorientasi kepada negara kepulauan). Karena
fakta objektifnya, Indonesia memang sebagai negara kepulauan.
“Untuk menjadikan sebuah negara maritim yang besar di dunia kondisi
objektifnya telah tersedia yaitu; pertama, kita sebagai negara kepulauan,
ada darat dan laut. Kedua, kita negara kepulauan terbesar di dunia. Ketiga,
kekayaan melimpah di laut, di darat, dan di udara. Posisi geografis
Indonesia sangat strategis dilihat dari geopolitik, pertahanan dan dari
segi security,” katanya menjelaskan. Menurutnya, faktor-faktor inilah yang
perlu ditangani dengan baik. Sekarang kesalahannya adalah manajemen negara
ini tidak baik.
Dia sudah punya rencana 5 tahun sampai 25 tahun ke depan. “Lima tahun
pertama jika Tuhan memberikan kesempatan pada saya. Akan saya letakkan
dasar-dasar pembangunan 25 tahun ke depan,” katanya setengah berharap.
“Dan 20 tahun ke depan, kalau platform itu dipegang terus, maka Indonesia
akan menjadi negara maritim terbesar di dunia,” lanjutnya yakin.
“Australia tergantung pada kita, ASEAN tergantung pada kita, Asia
tergantung kita. Samudera Hindia ke Samudera Pasifik lewat negara kita.
Jadi kuncinya bisa dikelola dengan baik atau tidak. Pemimpin harus
mendapat kepercayaan dari rakyat. Pemimpin itu harus punya visi, dan
bersih. Kalau pemimpin tidak bersih jangan bicara tentang memperbaiki
Indonesia ini,” katanya menutup. * Atur Lorielcide Paniroy - Marjuka
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|