| |
C © updated
10122003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
|
|
| |
Penempatan/Penugasan ke Luar Negeri :
=Malaysia : Kuala Lumpur (Law Asia, 1967)
=Nederland : Riset untuk Promosi Doktor, 1971
=Jepang : Memenuhi Undangan Pemerintah Jepang untuk studi perbandingan
Hukum, 1984
=Amerika : Memenuhi Undangan Pemerintah Amerika Serikat untuk studi
perbandingan Hukum Laut, 1984
=Thailand : Utusan Pemerintah RI ke AALCC, 1987
=Singapura : Utusan Pemerintah RI pada Konferensi AALCC, 1987
=New York : Sidang ke-28 Sub Komite Hukum Komite PBB Tentang Penggunaan
Antariksa Untuk Maksud-maksud Damai (UNCOPUOS/ United Nations
Committee on Peaceful Uses of Outer Space ),1989
=Geneva : - Mengikuti 1st World Electronic Media Symposium yang
diselenggarakan
oleh ITU (International Telecommunication Union), 1989
- Sidang ke-29 Sub Komite Hukum Komite PBB Tentang Penggunaan
Antariksa Untuk Maksud Damai, 1990
=Washington: Sidang World Space Congress, 1992
Pengalaman Organisasi:
=Desember 1998- April 2000 sebagai Ketua DPP PDI Perjuangan
=Maret 1999- Juni 2000 sebagai Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPR R1
=Maret 1999 -3 Februari 2002 sebagai Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan
= 4 Februari 2002 mengundurkan diri dari berbagai status di PDI Perjuangan
= 8 Februari 2002 sampai sekarang menjadi Ketua Umum Partai Indonesia
Tanah Air Kita (PITA) berdasarkan hasil Rapat Dewan Pendiri di Hotel
Wisata Internasional, Jakarta
Tanda Jasa/Tanda Penghargaan :
1. Medali Satya Lencana Dharma (SK. MENPANGAD No. Kep. 891/7 1967,
tgl 20 Juli
1967)
2. Medali Satya Lencana Penegak ( SK. MENPANGAD No. Kep. 891/17 1967, tg1
20
Juli 1967)
3. Medali Satya Lencana Karya Satya Kelas II (SK. Presiden RI. No.1079 Tk/Th.1986,
tgl 23 Oktober 1986)
Karya Tulis :
• "Pengamanan/Pemagaran Yuridis Kawasan Nusantara Negara RI", Judul
desertasi untuk memperoleh Gelar Doktor dalam Hukum Laut
• "Menjamin Lestarinya Kepentingan Nasional Atas Wilayah Laut", Ceramah
pada mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Airlangga, Surabaya Maret 1980
• "Wawasan Nusantara, Perlukah Pengakuan Internasional?" Ceramah
diselenggarakan oleh Yayasan 17 Agustus 1945 dalam menyongsong Hari
Kebangkitan Nasional, Jakarta 1980
• "Wawasan Nusantara dalam hubungan dengan Pancasila dan UUD 1945",
Ceramah pada Mahasiswa Universitas Negeri Sumatera Utara, Medan 1982
• "Konservasi Sebagai Usaha Menjamin Kelestarian Manfaat Laut Bagi Bangsa
Indonesia", Ceramah pada Mahasiswa Universitas Islam Sumatera Utara, Medan
1982
• "Perkembangan Hukum Laut dan Fungsi Penegakan Kedaulatan dan Hukum di
Laut Dalam Rangka Pengimplementasian Wawasan Nusantara", Ceramah Tentang
Wawasan Nusantara di MAKOWILHAN-I, 1982
• Yurisdiksi Nasional Indonesia sebagai Negara Nusantara, BPHN Bina Cipta,
1983
• "Pengelolaan Sumber daya Alam di ZEE dan Beberapa Permasalahannya",
Ceramah pada Penataran Hakim seluruh Indonesia, Jakarta 1987
• "Perspektif Pengelolaan Tata Guna Wilayah Pantai dan Lepas Pantai Dalam
Rangka Pembangunan Nasional", Makalah disampaikan pada Seminar Pemanfaatan
Wilayah Pantai Jakarta 1988
• "Kejahatan Komputer Dilihat Dari Segi Hukum Internasional", Makalah
disampaikan pada Seminar Penanggulangan Kejahatan Komputer, Jakarta 1988
• "Hukum Sebagai Faktor Penentu Pemanfaatan Teknologi Telekomunikasi",
Pidato Pengukuhan Guru Besar UNDIP, Semarang 1988
Piagam :
1974 : Panitia Seminar Laut Nasional
1979 : Pembina Penataran Tingkat Nasional
1984 : Manggala P4
1991 : Ketua Pelaksana Konferensi Ke-2 Menteri-Menteri Pos dan
Telekomunikasi
Negara Anggota Organisasi Konferensi Islam di Bandung
|
|
| |
|
|
|
|
==
1
2
3 4 ==
Prof. Dr. M. Dimyati Hartono, SH
Dekat dengan Megawati
Mengenai kedekatannya dengan Presiden Megawati Soekarnoputri, Guru Besar
Tetap Universitas Diponegoro dan Pasca Sarjana Universitas Indonesia ini
mengatakan, “Sebenarnya saya sudah lama kenal dengan Mbak Mega yaitu
ketika Mbak Mega belum jadi apa-apa. Waktu itu yang namanya keluarga
Soekarno ini ibarat virus, dimana orang mendekat saja sudah takut, karena
sikap orde baru yang memotong semua lini hubungan-hubungan dari semua
pengikut-pengikut Soekarno,” katanya.
“Jadi Mbak Mega dan Taufik waktu itu datang ke rumah saya, dan saya merasa
sangat senang, karena dulu di hati kecil saya, saya itu bisa menjadi orang,
bisa menjadi sarjana, terangkat derajat keluarga saya, hal itu bisa karena
merdeka, dan Indonesia merdeka karena jasa Soekarno. Jadi saya ingin
sekali bisa membalas jasa pada beliau, tetapi belum apa-apa beliau sudah
wafat. Tapi, datanglah putrinya ke rumah, dalam pikiran saya, barangkali
Tuhan menunjukkan jalan bagi saya, inilah tempat untuk membayar utang saya
kepada Bung Karno. Maka dari awal saya mendukung Mbak Mega,” katanya lebih
lanjut.
“Kalau datang ke rumah selalu jam 20 ke atas. Rumahnya saat itu masih di
Jalan Sumatera, yaitu rumah orang tuanya Taufik. Kemudian di lain hari
dikasih rumah oleh Ali Sadikin di Cempaka Putih. Sementara yang lain-lain
ini, misalnya yang di Tubagusan apalagi yang di Teuku Umar itu masih belum
ada. Kalau mereka datang, kita ngomong-ngomong sampai soal-soal politik,”
katanya mengingat-ingat. Dan menurutnya, kalau Ibu Mega atau Pak Taufik
mau datang, mereka selalu telepon dulu. “Datangnya malam-malam sebab
diawasi oleh Soeharto. Kalau sudah hampir dekat ke rumah, lampu teras saya
matikan dulu. Kemudian mobil mereka masuk. Demikian juga kalau mereka
hendak pulang, lampu masih tetap saya matikan. Kalau mobil mereka sudah
agak jauh barulah lampu saya nyalakan lagi. Kita ngobrol-ngobrol sampai
jam 12 atau jam 1 malam. Dan itu tidak berhari-hari atau berbulan tapi
bertahun-tahun,” katanya lebih jelas.
Sampai ketika Ibu Megawati ditawari oleh Suryadi (mantan Ketua Umum PDI)
agar masuk PDI, itupun menurutnya didiskusikan dulu di rumahnya. “Mbak
Mega tanya pada saya, masuk apa nggak. Terus saya jawab, masuk saja,”
katanya. Karena menurutnya kalau Ibu Megawati masuk PDI, nanti bisa
membesarkan partai itu.
Kemudian waktu Ibu Megawati ditawari masuk anggota DPR, itupun
didiskusikan dulu di rumahnya dengan Pak Taufik. Dia menyarankan agar Ibu
Mega mau masuk karena menurutnya dengan duduk di bangku DPR, Ibu Mega bisa
tahu banyak tentang pemerintahan Soeharto. Di samping itu ada keuntungan
yang bagus buat Ibu Mega dan Pak Taufik, sebab kalau masuk DPR, berarti
ada perlindungan ‘Protokoler’. Jadi tidak bisa ditangkap begitu saja, tapi
harus dengan ijin Presiden. Akhirnya Ibu Mega kemudian masuk jadi anggota
DPR,” katanya lagi.
Ketika Ibu Megawati mulai keliling untuk kampanye, Dimyati menyarankan
agar Ibu Mega memegang UU Politik agar aman berkampanye. “Mbak Mega setuju,
terus saya buatlah matriks,” katanya. Akhirnya PDI menjadi besar, tapi dia
sendiri masih belum masuk PDI karena PDI itu masih PDI Suryadi.
Akhirnya terjadi konflik antara Suryadi dan Mega. “Saya saat itu sudah
diminta untuk menjadi Penasehat Hukumnya. Saya mengatakan pada Mbak Mega
bahwa saya membantu dari segi hukum saja. Jadi kemana-mana saya selalu
ikut, tiap-tiap Munas, Raker, sampai kongres di Bali,” katanya sambil
menunjukkan surat kuasa dari Megawati kepadanya, dan fotonya bersama
Megawati saat peluncuran bukunya yang berjudul ‘Lima Langkah Membangun
Pemerintahan yang Baik’.
Ketika Kongres di Bali, dia mengatakan bahwa dia mendampingi Mega secara
tidak langsung. Ketika Mega sudah terpilih sebagai Ketua Umum, dalam
pembicaran berdua, Mega mengajaknya masuk PDI. Namun sebelum mengiyakannya,
dia tanya dulu jadi apa, Mega mengatakan bahwa dia nanti jadi Ketua DPP.
Kemudian dia telepon dulu istrinya, dia bilang, “Ini Mbak Mega, minta saya
untuk masuk partai jadi Ketua DPP, saya belum ambil keputusan, terserah
anda”. Menurutnya, ia harus bertanya dulu kepada istrinya karena
disadarinya, kalau sudah terjun ke dunia politik, berarti waktu harus 24
jam. Istrinya harus setuju. Kalau tidak setuju, tidak akan jalan. Jadi dia
katakan lagi pada istrinya, ”Kalau anda bilang ya, maka saya bilang pada
Mbak Mega, ya, tapi kalau anda bilang tidak, saya juga bilang tidak pada
Mbak Mega”. Baru ngomong begitu, Ibu Mega berkata padanya, “Mas, saya
nanti bicara sama Mbak”.
Istrinya kemudian menjawab, “Pertama, saya sudah lihat, anda itu orang
dekatnya Mega, jadi untuk mengatakan tidak, saya nggak bisa. Jadi daripada
setengah-setengah, ya... sudahlah ikut sekalian. Kedua, saya lihat anda
mempunyai kontribusi yang besar kepada perkembangan partai dalam hal
pemikiran-pemikiran anda. Kalau itu dijalankan orang lain, belum tentu
seperti yang anda konsepsikan. Jadi kalau anda di dalam, anda bisa
melaksanakannya”. Dan terakhir istrinya mengatakan, “Kalau saya hitung,
hidup kita ini kan sudah cukup. Tuhan sudah memberikan kemurahan yang
banyak, anak kita sudah tidak menjadi beban, kita diberi rejeki cukup dan
anda diberi kepandaian. Mungkin Tuhan ada maunya, anda harus berbuat untuk
orang banyak”. “Jadi bagaimana?” tanyanya lagi meminta kepastian. Istrinya
jawab, ”Boleh”.
“Pada Ibu Mega, langsung saya bilang, boleh Mbak. Kemudian Mbak Mega
bilang, Ya, kalau begitu sudah Mas, saya turun dulu. Kami langsung turun
ke lantai bawah,” katanya mengisahkan.
Ibu Mega didampinginya terus sampai pemilu sukses. Sebelum pemilu, PDI-P
sudah dibentuk. Dialah yang mencari Notaris dan menghubungi teman-teman
separtai mereka di seluruh Indonesia, membuat fax, surat kuasa dan segala
macamnya. Dia juga yang membicarakan soal nama PDI-P dan soal lambang
‘Kepala Banteng’ dengan Menteri Kehakiman yang waktu itu Pak Muladi. Saat
itu, Pak Muladi bilang, kalau tidak pakai tambahan nggak boleh karena
nanti jadi sama dengan PDI sebelumnya. Pada Ibu Mega dia tanya, “Bagaimana
Mbak, kata ‘Perjuangan’ ini dipakai nggak?” Mega kemudian menyetujui.
Sehingga dia total mendampingi Ibu Mega sampai menjadi Presiden.
Berani Menentang demi Perubahan
Tapi akhirnya sejarah berkata lain. Karena sudah menjadi sifatnya seperti
‘Brotoseno’, kalau tidak lurus, dia berani menentang. Ketika sudah menang,
dia melihat partai itu tidak berjalan dengan benar tapi jadi lucu-lucu,
rebutan kedudukan, rebutan rejeki, dan macam-macam.
Dia mengingatkan, pertama, sebaiknya Ketua Umum jangan merangkap jabatan.
Karena dulu sudah janjinya, kalau sudah jadi presiden atau wakil presiden,
itu berarti menjadi milik rakyat Indonesia, bukan milik PDI-P saja. Tapi
dia merasa saran-sarannya tidak didengar. Kedua, partai jangan dibuat
bergantung pada satu orang, tapi harus dibangun dengan manajemen yang baik.
Karena itu dia mengusulkan perubahan-perubahan. Tapi itu juga tidak
didengar sehingga dia merasa sudah tidak terlalu berkenan lagi di hati Ibu
Megawati. “Namun tidak apa-apa, saya tetap sampaikan. Dalam rapat, saya
usulkan buat buku kecil. Maksud saya buku itu jadi bukunya DPP tapi tidak
didengar. Akhirnya secara pribadi saya cetak beberapa puluh ribu dan saya
bagikan pada teman-teman di seluruh Indonesia supaya mendapat respon, tapi
nggak dapat respon juga, responnya malah negatif, saya dicap mau
merongrong pimpinan,” katanya sambil menunjukkan buku tersebut yang
berjudul, ‘Evaluasi Akhir Tahun 1999 dan Prediksi Dasawarsa Abad ke 21 PDI-P.
Isinya antara lain sebagai berikut: Langkah-langkah yang perlu antara
lain… perbaikan sebagai persiapan menjadikan PDI-P sebagai suatu partai
yang modern, solid, tangguh, berwawasan ke depan…
Ketika Pak Dim panggilan Pak Dimyati ditanya apakah pemikirannya tersebut
sebelumnya sudah pernah diutarakan secara pribadi dengan Ibu Mega, dia
mengatakan sudah. Namun Ibu Megawati katanya tidak meresponnya, hanya diam
saja.
Akhirnya pada Kongres Semarang, teman-temannya dari beberapa daerah datang
padanya mengatakan bahwa mereka berniat mencalonkannya sebagai Ketua Umum.
Dia menyetujui. “Boleh tapi dengan syarat, kalau anda mencalonkan saya,
harus berjuang di dalam kongres, tidak di luar kongres,” katanya kepada
temannya dari daerah tersebut.
“Saya sadar, pada tahun 2000 belum ada yang bisa menandingi Megawati.
Jangankan di dalam tubuh partai, di Indonesia saja tidak ada yang
menandingi,” katanya bermaksud meluruskan masalah tersebut.
Mengenai alasannya melakukan tindakan itu, dia mengatakan bahwa dia
tadinya mempunyai keinginan. Pertama, menjadikan partai PDI-P menjadi
partai yang menunjukkan diri kepada publik sebagai partai demokrasi. Salah
satu contohnya yaitu dimana calonnya tidak tunggal seperti jaman orde baru.
Karena menurutnya orde baru itu selalu mengajarkan demokrasi yang tidak
benar, misalnya selalu membuat calon tungggal sehingga demokrasi saat itu
lebih pantas disebut ‘dekorasi’. Kedua, dia ingin memberikan pendidikan
politik kepada bangsanya bahwa berdemokrasi itu harus begitu. Jika perlu,
berani mengambil resiko demi kebenaran.
Itulah awal dari pemutaran haluan. Sejak itu dia mulai dikucilkan dari DPP.
Saat tugas sebagai anggota DPR ke Jerman bersama Ketua DPR, dia diberitahu
seseorang dari tim yang mengatakan bahwa di internet dilihatnya bahwa dia
sudah dicopot sebagai ketua fraksi. * Atur Lorielcide Paniroy -
Marjuka =>
Bersmbung
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|