| |
C © updated 16042004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/dok |
|
| |
Nama:
H. Dimmy Haryanto
Lahir:
Metro Lampung, 17- 08- 1942
Agama:
Islam
Ayah:
R. Thohirrudin (almarhum) (Mantan Kepala KUA di Metro)
Ibu:
Hj. Syamsiah (almarhum)
Istri:
Hj. Kumayah
Anak:
1. Rachmad Hidayat, SH (lahir 25-10-1964)
2. Firmansyah, SE (lahir 6-6-1966)
3. Lukmasudin, SE (lahir 11-1-1967)
4. Diah Yusnaili, SE (perempuan, lahir 14-10-1969)
5. Yuston Ariq, SE (lahir 9-6-1970)
6. Zahrul RM, SE (lahir 25-10-1973)
7. Devi Yurlena, SE (perempuan, lahir 3-4-1975)
8. Azwar Yanuar Rifki (lahir 12-1-1986)
Cucu:
14 0rang (4 laki-laki & 10 perempuan)
Pekerjaan:
Pensiunan Anggota DPR-RI
Pengalaman Pendidikan:
- 1955 Lulus SR. Negeri I -Metro
- 1958 Lulus SMP Negeri I -Metro
- 1961 Lulus SMA Institut Indonesia I -Yogyakarta
- 1967 Lulus Sarjana Muda Hukum (Sm Hk) Fakultas Hukum UNIBRAW -Malang
Organisasi:
Organisasi Kemasyarakatan:
- 1954-1958 Pandu Rakyat (Pandu PNI)
- 1961-1963 Wakil Ketua DPC GMNI -Malang
- 1967-1972 Sekretaris DPC Jam'iyatul Muslimin Indonesia --Kota Malang.
- 1970-1977 Wakil Ketua DPD Jam'iyatul Muslimin Indonesia – Jawa Timur.
- 1985 Pemrakarsa berdirinya DPD Majelis Muslimin Indonesia JawaTimur.
- 1987-1993 Penasehat DPP Majelis Muslimin Indonesia.
- 1993-2001 Ketua Umum DPP Majelis Muslimin Indonesia.
Organisasi Sosial:
- 1964-1967 Ketua RT.VIII/RW.V Desa Kasin Kulon -Malang
- 1967-1970 Ketua RW. V Kelurahan Kauman Malang
- 1975- 1977 Ketua Satgas Malang Kota Indah Rayon III -Malang
- 1976-1982 Panitia Hari Ulang Tahun Kota Malang, di SK-kan Setiap tahun.
(Selalu Seksi Kemeriahan)
- 1987-1997 Ketua RT.X Wisma DPR-RI Kalibata -Jakarta Selatan
Organisasi 0lahraga:
- 1976-1982 Pengurus Kesebelasan Gajayana Malang
- 1978-1982 Pengurus Kesebelasan PERSEMA Malang.
Organisasi Politik:
- 1963-1967 Sekretaris Ranting PNI, Desa Kasin Kulon -Kota Malang.
- 1967-1972 Wakil Ketua Pengurus Anak Cabang PNI Kecamatan Klojen V Malang.
- 1972-1973 Wakil Bendahara DPC PNI Kota Malang
- 1976-1986 Ketua DPC PDI Kota Malang
- 1983-1986 Sekretaris DPD-PDI -Jawa Timur
- 1986-1993 Waki1 Sekretaris Jenderal DPP PDI
- 1996-1998 Ketua DPP PDI
- 1996-2002 Ketua DPD PDI -Jawa Timur
- 2002 -Sekarang Ketua Umum DPP Partai PDI
Lembaga Negara:
- 1971-1982 Anggota DPRD II-Kota Malang (Ketua Fraksi) - 2 Periode
- 1987-1997 Anggota DPR-RI -2 Periode (Wakil Ketua Pimpinan Fraksi)
- 1997-1999 Anggota DPRD I - Jawa Timur
- 1986-1992 Anggota Lembaga Pemilihan Umum (LPU)
- 1995-1998 Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Lembaga Pemilihan Umum (LPU)
Pengalaman Seminar:
- 1976 Penyaji Makalah "Penanaman Modal Asing" dalam Penataran Ketahanan
Nasional di UNIBRAW -Malang
- 1995 Panelis Diskusi tentang Peran Anggota Legislatif yang
diselenggarakan HMI Bandung
- 1998 Panelis Diskusi Peran Dwi Fungsi ABRI di Hotel Shangrilla
-Surabaya. |
|
| |
|
|
|
|
H. Dimmy Haryanto
Politisi Bersahaja Tiga Orde
Ketua Umum Partai Penegak Demokrasi Indonesia (PPDI) H. Dimmy Haryanto
mengatakan alasan partainya sepakat mencalonkan Siswono Yudo Husodo,
sebagai calon presiden adalah karena tokoh ini dinilai paling tinggi
resistensinya pada masyarakat, jujur, tegas, cerdas, bertaqwa dan beriman
serta sudah teruji bersih KKN dan menunjukkan prestasi di berbagai bidang
yang digeluti.
Partai Penegak Demokrasi Indonesia (PPDI) yang lahir 10 Januari 2003
merupakan kelanjutan Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Karena tidak
memenuhi persyaratan electoral threshold yakni perolehan dua persen dari
suara pemilih pada Pemilu 1999, membuat partai ini tidak bisa mengikuti
Pemilu 2004. Keadaan itu mengharuskan partai ini pada tangggal 10 Januari
2003 harus menyiasatinya dengan berganti nama dan akta pendirian baru.
Sejak itu partai ini kemudian dipimpin oleh H. Dimmy Haryanto, seorang
yang yang sudah matang dalam organisasi politik dan yang lebih dari
separoh perjalanan hidupnya berjuang dan bekerja di partai tersebut.
Sesuai dengan adanya amandemen UUD 45 dalam hal pemilihan presiden
langsung. Maka di bawah kepemimpinan Dimmy Haryanto dan sesuai dengan
permintaan para kadernya, partai ini melakukan terobosan baru. Partai yang
berazaskan Pancasila dan bervisi menegakkan Demokrasi Pancasila,
mempertahankan dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia, ini dalam
Pemilu 2004 ini mencalonkan Siswono Yudo Husodo, seorang tokoh yang
berasal dari luar Partai PPDI sendiri sebagai calon Presiden RI.
Lebih lengkapnya pria kelahiran Metro Lampung, 17 Agustus 1942, ini
mengatakan, bahwa PPDI yang merupakan kelanjutan dari PDI, itu setelah
tiarap selama 3 tahun, bukan tidur, tetap memasang telinga dan memasang
mata. Kemudian melihat, mendengar dan berpikir bahwa tujuan reformasi yang
sangat mulia itu yang tadinya diharapkan partainya bisa dilaksanakan oleh
pemerintah orde reformasi ini, menurutnya, ternyata makin hari makin
keliru.
“Kenyataan dan tujuan yang kami dapatkan jauh panggang dari api. Sebagai
warga yang merasa ikut bertanggung jawab dalam mengisi kemerdekaan ini,
melihat carut-marutnya pemerintahan, melihat terjadinya multi krisis yang
sangat menyengsarakan rakyat, kami kader-kader PDI saat itu berkumpul
untuk memikirkan, mendiskusikan mengenai keberadaan kelanjutan daripada
reformasi ini. Dan akhirnya kami berkesimpulan, pemerintah ini juga tidak
mampu dan tidak akan mampu melaksanakan agenda reformasi itu sendiri dan
harus dilakukan perubahan secara tepat. Dengan kata lain, sebetulnya sudah
tidak ada seorang pun di dalam pemerintahan ini yang bisa dipercaya untuk
melaksanakan reformasi itu sendiri,” katanya.
Dengan alasan itu dan dengan tujuan agar bisa ikut berperan mengisi
kemerdekaan, para kader partai PDI sepakat harus ikut pemilihan umum.
Menurutnya, bahwa Pemilu itu bukanlah tujuan perjuangan tapi hanya salah
satu sarana perjuangan untuk mencapai tujuan. Tapi karena PDI tidak bisa
mengikuti Pemilu sesuai dengan ketentuan UU Electoral Threshold tahun
1999, mereka akhirnya membentuk partai dengan nama baru dengan
mengetengahkan tegaknya demokrasi.
Partai ini berhasil membentuk 32 Dewan Pimpinan Daerah di 32 Propinsi dan
414 cabang di 436 Kota/Kabupaten. Sehingga dengan demikian, dari segi
struktural partai ini telah mempunyai Gubernur, Bupati, Camat, dan Lurah.
Akhirnya Pemilu bisa dijalani dengan dukungan dana secara gotong-royong.
Pada pertemuan nasional yang diadakan pada tanggal 22 Februari, DPP
mengundang semua DPD-DPD seluruh Indonesia guna membahas persiapan
Pemilihan Umum. Dalam membahas persiapan Pemilu inilah para utusan dari
banyak daerah mengusulkan agar sebelum Pemilu, partai ini mengumumkan
siapa calon presiden nantinya. Dengan begitu masyarakat tidak merasa
ibarat ‘membeli kucing dalam karung’.
Saat itulah Dimmy memberitahukan, bahwa dia sebenarnya sudah dihubungi
beberapa calon presiden seperti Wiranto, Susilo Bambang Yudhoyono, juga
oleh Siswono Yudo Husodo. Namun walaupun dia sebagai ketua umum partai,
dia mengaku belum berani memberikan komitmen-komitmen. Sehingga dia juga
mengusulkan agar saat itu jugalah didiskusikan siapa calon presiden dari
partai.
Sebagai ketua umum, dia mengusulkan syarat atau kriteria yang akan
diajukan sebagai calon presiden. Syarat pertama, yakni seorang yang
resistensinya pada masyarakat paling tinggi, sehingga ketika begitu
diumumkan tidak langsung dihujat rakyat. Syarat yang kedua adalah harus
seorang yang jujur, tegas, cerdas, dan sudah menunjukkan prestasinya di
berbagai bidang yang digeluti. Kriteria ini ditonjolkan agar apabila sudah
menjadi presiden nantinya sanggup menghadapi situasi sekarang ini. Dan
syarat yang lebih penting adalah harus orang yang bertakwa dan beriman.
Ini diutamakan karena banyak orang beriman tapi takut untuk melakukan
sesuatu, dan banyak juga orang beriman tapi malah melanggar karena imannya
tidak kuat. Itulah syarat yang paling utama.
Dengan kriteria itu, dia dan para kader partainya melihat sosok Siswono
Yudo Husodo merupakan seorang nasionalis yang cukup komit menjaga kesatuan.
Hal yang sangat sesuai dengan visi dan misi Partai PDI sendiri tentang
menjaga keutuhan NKRI, Pancasila dan UUD 45. Siswono juga mereka nilai
merupakan seorang yang sangat komit terhadap kepentingan rakyat kecil. Hal
itu mereka lihat ketika Siswono banyak memperjuangkan kepentingan para
rakyat kecil dalam himpunan yang diketuainya yakni HKTI. Maka setelah
mendiskusikan berbagai orang, nama Siswono Yudo Husodo merupakan yang
paling memenuhi kriteria dimaksud.
Selanjutnya, partai kemudian mengundang Siswono. Dalam pertemuan itu,
Dimmy memberitahukan bahwa partai yang dipimpinnya mencalonkan Siswono
sebagai calon presiden. Saat itu juga Siswono mengatakan kesediaannya.
Dalam forum itu dia mengatakan pada Siswono, “Pak Sis, karena Pak Sis
mengatakan kesediaan sebagai calon pemimpin nasional, ada satu syarat yang
kalau Pak Sis nanti menjabat sebagai pimpinan di negeri ini. Selama yang
saya lihat, banyak para pejabat cukup cerdas tetapi tidak ‘tegaan’. Pak
Sis harus menjalankan tegaan,” katanya.
Ketika itu Siswono malah balik bertanya. “Maksud Pak Dimmy apa?” tanya Pak
Sis. Diapun kemudian menjelaskan bahwa, banyak pejabat yang apabila
saudaranya, temannya maupun anaknya terjerat hukum, upaya si pejabat untuk
meloloskan jeratan hukum itu luar biasa. Itu dilakukan karena tidak tega
melihat saudara, teman, atau anaknya tersebut masuk penjara. Maka kepada
Pak Sis, ia katakan, “Kalau nanti anak Bapak ternyata melakukan perbuatan
melanggar hukum dan telah diputuskan oleh hakim, agar Bapak tidak
membelanya karena urusan ini bukan urusan eksekutif tapi urusan yudikatif”.
Saat itu Siswono mengatakan, “Akan saya lakukan”.
Menurutnya, hal ini dia tonjolkan mengingat sistem kepemimpinan negeri ini
yang tidak cukup tegas. Dia mencontohkan ketika sebelumnya seorang pejabat
sudah diputus oleh hakim untuk dihukum 3 tahun tapi tidak bisa masuk
karena tidak tega.
Dimmy dengan partainya mencalonkan Siswono sebagai calon Presiden RI ke-6
memang hanya berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk nusa dan bangsa
ini. Dia dan partainya tidak mempunyai niat untuk mencoba menempatkan Pak
Sis sebagai milik sendiri. Hal tersebut terbukti, ketika mengetahui bahwa
yang mencalonkan Pak Siswono bukan hanya PPDI sendiri tapi malah
sebelumnya juga sudah dicalonkan oleh PSI kemudian disusul oleh PNI
Marhaenisme dan PKPI, mereka dalam hal ini sangat setuju dan sangat
mendukungnya.
Dan kepada Siswono, dia mengatakan, “Makin banyak partai yang mengajukan
dan mendukung Bapak, semakin baik. Dan tolong Bapak katakan pada
teman-teman partai politik lain yang mendukung Bapak, kita harus saling
mendukung. Kalau kita sama-sama lolos electoral threshold, kita tidak usah
bicara macam-macam aktivitas teknis. Kalau kita tidak lolos electoral
threshold, akan kita kumpulkan suara itu dan tetap mencalonkan Siswono
sebagai calon presiden”.
Maka sampai hari-hari terakhir pencalonan presiden, meskipun perolehan
suara partainya tidak begitu signifikan tapi dia dan partainya tetap
berjuang terus sampai tercapainya Pak Siswono menjadi calon yang
sesungguhnya. Berbagai cara akan ditempuh seperti misalnya jika tidak
lolos electoral threshold, partainya akan mencari partner dari partai yang
lain sampai bisa mencapai syarat yang ditentukan. Jadi jika sekarang sudah
ada PPDI, PSI, PNI Marhaenisme dan PKPI yang hendak bergabung mencalonkan
Pak Sis, di samping itu mereka juga akan mencoba mengajak partai-partai
yang lain baik yang mendapatkan suara yang besar ataupun yang kecil dalam
Pemilu 2004 yang memiliki semangat yang sama untuk menjadikan Pak Sis
sebagai RI 1.
Ditanya, apakah PPDI akan meminta jatah di kabinet seandainya Siswono Yudo
Husodo menjadi presiden, Dimmy mengatakan tidak berpikiran sepert itu.
Menurutnya, mereka harus bersama-sama menyeleksi yang terbaik di antara
220 juta penduduk negeri ini dan tidak harus dari PPDI. Soal calon wakil
presiden pun, berlaku sama. Siswono dan PPDI bersama-sama mencari
putra-putri terbaik yang bisa bekerjasama dengan Siswono dan mempunyai
komitmen moral seperti beliau. “Jadi kesepakatan politik yang ada adalah,
PPDI menginginkan Siswono menjadi pemimpin negara, berani menegakkan hukum
dan mensejahterakan rakyat,” katanya menjelaskan.
Politisi Tiga Orde
H. Dimmy Haryanto lahir 17 Agustus 1942 di Desa Kurnisasi di Lampung yang
kini menjadi Kota Metro. Semenjak kecil, ia dibesarkan dengan jiwa seorang
santri. Ayahnya adalah Kepala Urusan Agama, dan ibunya seorang tokoh
Aisyah. Sejak masih di SR, jiwa kebangsaannya terbentuk karena sering
mengikuti pidato Bung Karno. Setiap tanggal 17 Agustus atau hari nasional,
ia rela berjalan kaki sejauh 4 kilometer ke jawatan penerangan karena di
di desanya belum ada radio kecuali di kantor jawatan penerangan tersebut.
Menjalani pendidikan di bangku sekolah semasa SMP dan SMA ia lalui dengan
gigih. Menginjak bangku kuliah di di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya,
Dimmy menjadi salah satu sebagai pengurus GMNI. Tidak lama kemudian, ia
terpilih menjadi sekretaris ranting PNI pada tahun 1963. Pada 1967, ia
terpilih sebagai Wakil Ketua. Tahun 1970, ketika Konferensi Cabang, ia
terpilih sebagai Wakil Bendahara Ikatan PNI. Dan pada 1971, saat Pemilihan
Umum, ia diangkat menjadi anggota DPRD Tk II, Malang.
Tahun 1973, ia dipilih menjadi Ketua Fraksi DPRD - fusi PDI - yang waktu
itu fusi dengan berbagai partai seperti Partai Parkindo dan lain-lain.
Tahun 1976, ia akhirnya dipercaya menjadi Ketua Cabang PDI Kota Malang.
Tahun 1983, pada Konferensi Jawa Timur, ia dipercaya menjadi Sekretaris
DPD PDI Jawa Timur. Dan tahun 1986, pada Kongres PDI Pondok Gede, ia
terpilih sebagai Wakil Sekjen DPP PDI sampai tahun 1993.
Kemudian pada tahun 1993 itu, ia memimpin kongres yang memutuskan Pak
Soerjadi secara aklamasi sebagai Ketua Umum yang akhirnya dibatalkan oleh
pemerintah. Saat itu namanya disebut-sebut tidak bisa duduk sebagai
pengurus apapun. Dan sejak tahun 1993 itu, ia sudah tidak lagi di DPP.
Pada tahun 1994, pada Muktamar Majelis Musimin Indonesia, ia terpilih
sebagai Ketua Umum. Pada tahun 1996, ketika Kongres Medan yang kedua, ia
terpilh menjadi salah satu Ketua DPP PDI Soerjadi waktu itu. Tapi akhirnya
pada tahun 1996 bulan Agustus ia diberi tugas harus kembali ke JawaTimur
untuk melerai pertarungan antara Pak Cipto dengan Latief Pujosakti. Waktu
itu ada dualisme kepemimpinan DPD Jawa Timur, ia terjun ke sana dan
menjadi Ketua DPD PDI Jawa Timur. Dan sejak 2003 tahun lalu, ia menjadi
Ketua Umum DPP-PPDI sampai sekarang. Jadi, terhitung sudah 41 tahun
(1963-2004) ia berkecimpung menjadi pimpinan partai.
Di bidang legislatif, pada tahun 1971, ia terpilih menjadi anggota DPRD
sampai 1982 atau dua periode. Tahun 1982, ia adalah orang pertama dalam
tubuh partaii yang mengusulkan agar masa jabatan anggota DPRD dibatasi dua
periode saja. Saat itu ia memberi contoh dengan tidak mau lagi dicalonkan
di DPRD. Setelah itu, ia malah naik menjadi Wakil Sekjen DPP PDI pada
tahun 1986. Tahun 1987 karena sudah menduduku posisi Sekjen, ia terpilih
menjadi anggota DPR-RI sampai tahun 1997 (2 periode).
Tahun 1997, karena ia merupakan Ketua DPD PDI Jawa Timur, maka ia menjadi
anggota DPRD Tk I Jawa Timur sampai tahun 1999, hanya dua tahun ketika itu.
Tahun 1999, ia pensiun. Ia hanya memimpin partai, mengkordinir partai
secara nasional dan banyak melakukan koordinasi dengan teman-teman dari
daerah.
Keluarga
Dimmy menikahi Hj. Kumayah pada Januari 1964 dengan dikaruniai 8 orang
anak, dua perempuan dan enam laki-laki serta 14 cucu. Dari delapan anak
itu, tujuh sudah sarjana dan sudah menikah. Si bungsu yang saat ini masih
bersekolah di STM terpaut jauh 10 tahun dengan kakaknya yang ketujuh.
Dalam kesehariannya Dimmy sangat sederhana. Sebagai Ketua Umum Partai,
setiap hari ia naik kereta api. Sekali-sekali ia naik kendaraan menantunya
yang kebetulan pulang. Selebihnya, setiap hari ia naik kereta api sampai
ke Kota dan dari Kota ke kantor DPP PPDI naik angkutan umum. Kesehariannya
ini sering ia kemukakan pada semua DPD-DPD sehingga mereka tidak kaget
bila bertemu atau berkunjung ke rumahnya. Dimmy merasa tidak malu dengan
kesederhanaanya sehingga ketika ia melihat sosok Siswono, ia bisa
merasakan bahwa Siswono komit terhadap kesejahteraan rakyat kecil.
Menyikapi soal gaya hidup sederhana, Dimmy mengatakan bahwa hidup yang
diberikan Tuhan sebenarnya tidak berlebihan dan harus disyukuri apa adanya.
Ia pernah mendapat tugas ke luar negeri dengan pelayanan yang istimewa.
Begitu turun pesawat, ia langsung dijemput dengan mobil Roll Royce. Di
situ ia tidak merasa heran, karena tidak merasakannya sebagai suatu hal
yang luar biasa. Mengapa? Karena baginya naik bis atau angkutan kota, itu
sebenarnya adalah kehendak Tuhan yang mengalir.
Menurutnya, orang kadang lupa kalau sudah berada di atas, lalu merasa dia
lebih hebat dari yang lain. Baginya itulah yang keliru. “Kalau dia selalu
mensyukuri apa yang diberikan Tuhan, di bawah juga berarti dari Tuhan.
Jadi naik angkutan kota atau naik Roll Royce juga dari Tuhan. Sebetulnya
kapanpun Tuhan menghendaki, kita ini bukan apa-apa. Kalau ini kita nikmati,
tidak perlu terkejut kok,” sambungnya lagi. ►ht
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|