|
|
 |

Nama:
Dewi Lestari Simangunsong
Lahir:
20 Januari 1976
Ayah:
Yohan Simangunsong
Ibu:
Turlan br Siagian (alm)
Saudara Kandung :
Anak ke-4 dari 5 bersaudara
Pendidikan :
SMU 2 Bandung
Sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Katolik Parahyangan
Bandung, 1999
Pengalaman/Prestasi:
Backing vokal untuk Iwa K, Java Jive dan Chrisye.
Album Antara Kita (1995), Bertiga (1997), Satu (1999), The Best of Rida
Sita Dewi (2002) bersama Trio Rida, Sita, Dewi (RSD)
Album Solo Out of The Shell
Novel Supernova 1 berjudul Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh
Novel Supernova 2.1 berjudul Akar
Tulisan dan Cerpen di berbagai media
|
|
Dewi Lestari Simangunsong
Semakin Terkenal karena Pena
Sebelum dikenal sebagai penulis novel, Dewi Lestari Simangunsong yang
akrab dipanggil Dee sudah lebih dulu dikenal sebagai seorang penyanyi yang
tergabung dalam Trio RSD (Rida Sita Dewi). Kini, namanya termasuk dalam
jajaran penulis hawa yang diperhitungkan di belantara dunia sastra
Indonesia setelah ia meluncurkan novel “Supernova Satu”: Ksatria, Puteri
dan Bintang Jatuh, 16 Februari 2001 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Novel yang laku 12.000 eksemplar dalam tempo 35 hari dan terjual sampai
kurang lebih 75.000 eksemplar ini banyak menggunakan istilah sains dan
cerita cinta.
Gadis lajang yang sebentar lagi akan menikah dengan pria ganteng bernama
Marcell Siahaan ini lahir di Bandung, 20 Januari 1976 sebagai anak ke-4
dari 5 bersaudara dari pasangan Yohan Simangunsong dan Turlan br Siagian (alm).
Ayahnya adalah seorang anggota TNI yang belajar piano secara otodidak
sedangkan saudara-saudaranya pemain biola, guru piano, yang profesional.
Keluarga Dee sama seperti keluarga kebanyakan yang hidup sederhana dan
harus pandai-pandai mengatur keuangan.
Sebelum ia bergabung dengan RSD, ia pernah menjadi backing vokal untuk Iwa
K, Java Jive dan Chrisye. Sekitar bulan Mei 1994, ia bersama Rida Farida
dan Indah Sita Nur Santi bergabung membentuk trio RSD atas prakarsa Ajie
Soetama dan Adi Adrian. Mereka kemudian meluncurkan album perdana, Antara
Kita (1995) yang kemudian dilanjutkan dengan album Bertiga (1997). RSD
kemudian berkibar di bawah bendera Sony Music Indonesia dengan merilis
album Satu (1999) dengan nomor andalan, Kepadamu dan Tak Perlu Memiliki.
Menjelang akhir tahun 2002, RSD mengemas lagu-lagu terbaiknya ke dalam
album The Best of Rida Sita Dewi dengan tambahan dua lagu baru, yakni
Ketika Kau Jauh ciptaan Stephan Santoso/Inno Daon dan Terlambat Bertemu,
karya pentolan Kahitna, Yovie Widianto.
Tak banyak yang tahu bahwa sebelum ia banyak dibicarakan orang karena
novelnya Supernova, ternyata cerpen Dee pernah dimuat di beberapa media.
Salah satu cerpennya berjudul Sikat Gigi pernah dimuat di buletin seni
terbitan Bandung, Jendela Newsletter. Sebuah media berbasis budaya yang
independen dan berskala kecil untuk kalangan sendiri. Tahun 1993, ia
mengirim tulisan berjudul Ekspresi ke majalah Gadis yang saat itu sedang
mengadakan lomba menulis dimana ia berhasil mendapat hadiah juara pertama.
Tiga tahun berikutnya, ia menulis cerita bersambung berjudul Rico the Coro
yang dimuat di majalah Mode. Bahkan ketika masih menjadi siswa SMU 2
Bandung, ia pernah menulis sendiri 15 karangan untuk buletin sekolah.
Sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Katolik Parahyangan
Bandung ini mengakui bahwa novel Supernova berawal dari pergumulan dan
perenungannya yang dalam tentang spiritualitas. Di akhir 1999, ia merasa
ada sesuatu yang salah dengan dirinya tentang pemahaman religi di tengah
masyarakat. Dee mulai banyak membaca. Ia ingin tahu lebih banyak ajaran
Hindu, Budha, Islam termasuk mengenal lebih jauh tokoh-tokoh dunia seperti
Einstein dan Hawking yang dikenal brilian dalam mencari jawaban atas
eksistensi manusia di muka bumi ini.
Selama menulis “Supernova Satu”, Dee ngendon di rumah ditemani dua
anjingnya. Selama berbulan-bulan ia tidur tidak teratur, tidur jam delapan
pagi, bangun jam dua siang lalu kerja sampai pagi di depan komputer.
Menurutnya masa-masa itu adalah masa yang paling mendamaikan dan
mengasyikkan. Sedangkan kegiatan show bersama RSD, ia lakukan dua kali
seminggu.
Dalam memasarkan “Supernova Satu” ini, Dee merogoh kocek dan tabungannya
sendiri lalu membentuk penerbit bernama Truedee Books. Alasan ia memilih
merangkap menjadi penerbit selain menjadi penulis karena ia tidak ingin
naskahnya diedit oleh penerbit apalagi ia sempat beberapa kali ditolak
oleh beberapa percetakan.
Maret 2002 lalu, Dee meluncurkan “Supernova Satu” edisi Inggris untuk
menembus pasar internasional dengan menggaet Harry Aveling (60), ahlinya
dalam urusan menerjemahkan karya sastra Indonesia ke bahasa Inggris. Belum
lama ini, ia juga telah merilis album solo pertamanya - sebuah proyek yang
dimulainya sejak 1997 - berjudul Out of The Shell, diambil dari judul
salah satu di antara delapan lagu yang semuanya berbahasa Inggris.
Supernova pernah masuk nominasi Katulistiwa Literary Award (KLA) yang
digelar QB World Books. Bersaing bersama para sastrawan kenamaan seperti
Goenawan Muhammad, Danarto lewat karya Setangkai Melati di Sayap Jibril,
Dorothea Rosa Herliany karya Kill The Radio, Sutardji Calzoum Bachri karya
Hujan Menulis Ayam dan Hamsad Rangkuti karya Sampah Bulan Desember.
Sukses dengan novel “Supernova Satu”: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh,
bagian pertama “Supernova Dua” (Supernova 2.1) berjudul Akar sudah lepas
ke pasaran pada 16 Oktober 2002 di 20 kota utama Indonesia. Novel
Supernova 2.1 sempat mendapat protes keras dari kalangan umat Hindu karena
dianggap melecehkan lambang keagamaan Hindu – lewat surat tertanggal Bali,
26 Februari 2003 yang diatasnamakan Ketua Umum DPP FIMHD AA Ngrh Arya
Wedakarna MWS dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Forum Intelektual Muda (FIMHD)
Hindu Dharma yang berkedudukan di Bali.
Mereka menolak dicantumkannya lambang OMKARA/AUM yang merupakan aksara
suci BRAHMAN Tuhan yang Maha Esa dalam HINDU sebagai cover dalam bukunya.
Akhirnya disepakati bahwa lambang Omkara tidak akan ditampilkan lagi pada
cetakan ke 2 dan seterusnya.
Dalam memasarkan Supernova 2.1 Akar, Dee memilih tidak lagi memasarkan
‘sendirian’ bukunya dengan menjalin kerjasama dengan BArK Communication,
suatu perusahaan penerbitan yang sekaligus perusahaan promosi. Di samping
BArK, muncul sebuah wadah baru: Truedee Semesta. Di BArK dan Truedee
Semesta, Dewi memiliki sejumlah saham dan mendapatkan royalti sekitar 20%.
Namun, sayang, pertengahan tahun 2003, Dee akhirnya berpisah jalan dengan
penerbit buku keduanya ini dan kini ia kembali ‘sendirian’ memasarkan
bukunya. Menurut rencana, Dee di sela-sela kesibukannya sebagai spoken
person sebuah produk kosmetika berharap Supernova 2.2 yang berjudul Petir
sudah tuntas akhir 2003 ini.
Dalam hal strategi pemasaran, Dee yang menyukai warna hitam ini, tidak
semata bergantung pada jaringan toko buku besar. Prioritas pertama Dee
adalah memanfaatkan keunggulan internet dengan membuka sebuah website
beralamat www.truedee.net. Lewat situs ini pengunjung bisa membeli
Supernova 2.1 Akar. Lewat media ini, ia juga sempat mengundang 50 pembeli
untuk menghadiri perayaan ulang tahunnya. Prioritas kedua adalah
menggunakan strategi penjualan langsung misalnya mengadakan diskusi buku
dan temu pengarang di berbagai perguruan tinggi seperti Universitas
Indonesia (UI). Terakhir, lahirlah strategi ketiga berupa penjualan tunai
ke toko buku di sejumlah kota besar di luar Jakarta.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), Atur
|
|