| |
C © updated 02062006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ad |
|
| |
Nama:
Des Alwi Abubakar
Lahir:
Banda Naira, 17 Nopember 1927
Agama:
Islam
Jabatan:
Direktur Utama PT. Avisarti Film Corporation
Istri:
(Alm) Anne Marie Mambu (Lahir Tondano, 21 Maret 1929, Menikah,
Jakarta, 8 Mei 1953)
Anak:
1. Karma Alwi (Alm)– Laki- laki
2. Mira Alwi – Perempuan
3. Tanya Alwi – Perempuan
4. Ramon Alwi - Laki- laki
7. Tempat & Tgl Lahir Anak:
1. Karma Alwi (Alm) Bern (Swiss) 17 Juli 1954
2. Mira Alwi Bern (Swiss) 30 Juni 1956
3. Tanya Alwi Hong Kong 02 Oktober 1960
4. Ramon Alwi Kuala Lumpur, Malaysia 27 Juni 1962
Pendidikan:
1. E.L.S lulus 1953-1941
2. IVELO (STM) lulus 1942-1945
3. British Institute of Technology London lulus 1947-1950
Pendidikan Pasca Sarjana
1. Philips NSF Advance School Hilversum Jan-Juli 1950 Hilversum
2. Special Antena Penyiaran Rombek ITB dan PT (Pos, Telegraph dan
Telepon) 1951 Bandung
Pekerjaan:
1. Penterjemah Siaran Teknik dan Bahasa Asing RRI 1950-1951
2. Atache Press/Kebudayaan KBRI di Bern 1952-1956
3. Atache Press/Kebudayaan KBRI Australia 1956-1957
4. Atache Press/Kebudayaan KBRI Philipina 1957-1958
5. Operasi Khusus Tim Penyelesaian Konfrontasi
Indonesia-Malaysia (Dinas Diplomatik) 1965-1975
6. Komisaris Bank Danamon 1977-1981
7. Wakil Ketua PPFI (Pusat Persatuan Film Indonesia) 984-1987
8. Direktur Utama pt Avisarti Film Corporation 1974-sekarang
9. Wakil Ketua Bidang Energi & Pertambangan Kadin 1980
10. Direktur Utama PT Kaliraya Sari 1981-2000
11. Ketua Himpunan Masyarakat Banda 1981-1983
12. Ketua Yayasan Warisan dan Budaya Bunda 1988-sekarang
13. Ketua Yayasan 10 Nov’45 1990-sekarang
14. Wakil Ketua II Departemen Usaha Sea And Island
Resort DPP Gahawisri 1990-sekarang
Penghargaan:
- Bintang Pejuang 45 -
- Bintang Pejuang 50 -
- Bintang Mahaputra Pratama 2000
Alamat Kantor:
PT. Avisarti Film Corporation
10. Alamat Kantor dan No Telp : Jl. Narada No 36 Tanah Tinggi
Jakarta Pusat. Telp. 4251613
Fax. 4240151
Alamat Rumah:
Jl Taman Biduri Blok N 1 No 7
Permata Hijau, Jakarta Barat
Telp. 5482565
|
|
| |
|
|
|
|
| DES ALWI HOME |
|
|
 |
Des Alwi Abubakar
Tokoh Simbol Masyarakat Banda
Di Banda Naira ia bukan saja tokoh, tapi juga ‘pusat komunikasi’ sebagai
tempat mengadu, berkeluh kesah, meminta petunjuk untuk memecahkan
masalah. Di Jakarta, ia terkenal sebagai pelobi tingkat tinggi dan
simbol masyarakat Banda. Lalu, siapa Des Alwi?
“Sebuah kapal putih tampak merapat ke dermaga. Semua mata tertuju pada
dua orang tua mengenakan setelan jas putih dan berdasi yang menuruni
tangga kapal. Kedua tuan berparas pucat itu membawa delapan koper besar
dari kayu dan empat tas besar dari kulit. Dengan celana renang dan
rambut yang masih basah saya perhatikan mereka. Yang salah seorang di
antaranya memakai kaca mata. Seorang di antara mereka tersenyum kepada
saya,” demikian kenangan Des Alwi saat pertama kali bertemu Muhammad
Hatta dan Sutan Sjahrir di masa pembuangan mereka di Banda Naira.
Saat itu Des Alwi baru berusia 8 tahun dan duduk di kelas dua ELS
(Europeesche Lagere School). Namun ia mengaku sudah mengetahui dengan
pasti bahwa kedua tuan itu dari Boven Digul, karena wajah mereka pucat.
“Setiap orang yang datang dari Digul senantiasa berwajah pucat. Agaknya
di sana mereka kekurangan makan dan banyak yang menderita malaria,”
ungkapnya.
Kedua orang itu lalu bertanya pada Des dengan bahasan Belanda, apakah
tahu di mana rumah dokter Tjipto Mangunkusumo? “Tahu, tetapi jauh dari
sini. Kalau rumah Mr. Iwa Kusumah Sumantri persis di depan dermaga ini,”
jawab Des kecil. Nama dokter Tjipto dan Mr. Iwa memang sangat di kenal
di Banda, karena mereka telah cukup lama berdiam di Naira dan Des Alwi
adalah teman putra-putri mereka.
Belakangan Des baru tahu, kedua ‘tamu jauh’ itu bernama Muhammad Hatta
dan Sjahrir, orang tahanan politik Belanda yang dibuang ke Boven Digul.
Pertemuan dengan kedua tokoh itulah yang hingga kini tak pernah ia
lupakan. Bahkan ia menganggapnya sebagai pertemuan yang kemudian menjadi
arah hidupnya hingga menjadi Des Alwi yang sekarang ini. Karena
kecerdikan, kepandaian dan ‘kenakalan’nya, kedua tokoh tersebut konon
sangat menyukai cucu Said Baadila ini. Hingga kemudian Bung Hatta
mengambil Des Alwi sebagai anak angkat.
“Saya merasa sebagai orang pertama yang mereka tangani. Dalam kehidupan
saya selanjutnya, ketepatan dan ketelitian dalam bekerja yang telah
beliau tanamkan merupakan salah satu nilai tambah yang besar dalam
karier saya selama ini. Dari Oom Sjahrir, saya mendapat banyak wawasan
dan pengertian,” kata Des Alwi.
Cucu Raja Mutiara Maluku
Des Alwi Abubakar lahir 17 November 1927 di Desa Nusantara, Naira
sebuah pulau kecil dalam kelompok Banda di Kepulauan Maluku. Ayahnya
bernama Alwi, berasal dari Ternate yang konon masih keturunan Sultan
Palembang yang dibuang ke Banda. Sang ibu bernama Halijah Baadilla, anak
perempuan dari Said Baadilla, pengusaha mutiara yang pernah terkenal
dari Naira.
Sang kakek, Said Baadilla terkenal sebagai pebisnis ulung di Banda.
Dengan bendera perusahaan Baadilla Brothers, ia mengembangkan bisnis
mutiara Banda dan perkebunan Pala yang terkenal dengan Perk Kele
Norwegen di Lonthor dan di Pagar Buton, Banda Besar. Mutiara dan Pala
itu diekspor ke berbagai negara di Eropa, hingga ia dikenal sebagai
eksportir berpengaruh. Berkembangnya perusahaan Baadilla Brothers
menjulangkan nama Said Baadilla, hingga Pemerintah Hindia Belanda
menjulukinya sebagai Raja Mutiara Maluku. Dengan julukan itu, pada tahun
1896 Said Baadilla mendapat kehormatan menjadi tamu istimewa Ratu Emma,
istri Wilhelm III di Belanda.
Namun, kebesaran sang kakek hanya kenangan di benak Des Alwi. Sebagai
cucu raja mutiara, Des Alwi lahir saat usaha Baadilla sudah hampir
ambruk. Masa kebesaran sang kakek sudah mulai memudar, bahkan kondisinya
semakin memburuk ketika sang kakek meninggal tahun 1934. Sampai usia 6
tahun Des sama sekali tidak tahu jika sang kakek pernah menjadi orang
terkaya di Banda Naira, bahkan di Maluku. Ia mengaku tak sempat
menikmati kejayaan sang kakek, walaupun sisa-sisa kejayaan itu masih
terlihat.
Namun, betapa buruknya kondisi ekonomi keluarga, Des mengaku kehidupan
masa kecilnya sangat menyenangkan. Setiap hari ia mengaji, berenang di
laut sambil berebut memburu coin yang dilempar orang, mencuri buah dari
kebun tetangga dan bermain dengan teman-temannya. “Masa kecil saya
demikian indah. Saya bangga lahir di Naira,” ungkap ayah Mira, Tanya dan
Ramon Alwi ini.
Ahli Lobi Dan Model Komunikasi
Kebesaran nama keluarga tidak membuat Des Alwi terlena. Ia tumbuh
sebagai sosok pemuda yang begitu mencintai tanah kelahiran dan
negaranya. Barangkali karena ‘pengaruh’ pendidikan Hatta dan Sjahrir, di
samping sekolahnya di ELS, Des tumbuh menjadi pemuda yang tidak sekedar
berani dan penuh percaya diri, tapi juga memiliki ‘kelebihan’ dalam
berdiplomasi.
Sebagian orang menilai, kepiawaian Des Alwi dalam hal melobi, hingga
mendapat julukan pelobi tingkat tinggi, dari petinggi nasional hingga
internasional itu salah satunya hasil dari kebiasaannya bergaul dengan
tokoh-tokoh tahanan politik yang dibuang ke Banda. Des banyak belajar
dari dr. Tjipto Mangunkusumo yang disebutnya sebagai Oom Tjip, Dr.
Muhammad Hatta yang dipanggilnya sebagai Oom Kaca Mata, Sjahrir sebagai
Oom Rir, Mr. Iwa Kusumah Sumantri dan beberapa anggota Sjarikat Islam
Indonesia lainnya.
Maka, dalam perjalanan karier selanjutnya, ia pernah beberapa kali
menjadi Atache Press/Kebudayaan KBRI di luar negeri yaitu KBRI Bern,
KBRI Austria dan KBRI Philipina. Bahkan ketika terjadi konfrontasi
antara Indonesia – Malaysia tahun 1965-1975 ia sebagai Dinas Diplomatik
terlibat dalam Operasi Khusus Tim Penyelesaian Konfrontasi itu. Des
berhasil menjadi perantara ‘sulit’. Jurus-jurus kepiawaian diplomasinya
mendekati almarhum mantan PM Tun Abdul Rahman dan almarhum mantan DPM
Tun Abdul Razak berhasil meredakan konfrontasi itu.
Sebagai putra daerah ia berperan aktif dalam lobi-lobi nasional dan
internasional, untuk berbagai kepentingan Indonesia di dalam maupun luar
negeri. Secara lebih spesifik, Des Alwi memiliki jalur lobi kepada
tokoh-tokoh nasional di Jakarta. Dalam hal ketokohan Des Alwi ini, maka
realitas yang ada bahwa hampir sembilan puluh persen pembangunan fisik
dan masyarakat Banda yang membutuhkan peran lobi, semuanya dipengaruhi
oleh hasil lobi Des Alwi di tingkat nasional. Dalam hal ini pula maka
sebenarnya semua keputusan tentang pembangunan Banda yang berskala besar
pada kenyataannya bukan diputuskan di tingkat Maluku atau Maluku Tengah,
akan tetapi diputuskan di tingkat Jakarta.
Bahkan kini, dalam perkembangan masyarakat Banda, tokoh Des Alwi menjadi
salah satu model komunikasi. Model komunikasi yang memusat pada tokoh
Des Alwi ini adalah semua komponen masyarakat yang terlibat langsung
dalam usaha dan kegiatan Des Alwi. Termasuk mereka yang pernah mendapat
bantuan Des baik fasilitas, dana maupun koneksitas.
Melihat ketokohan dan peran Des Alwi yang begitu dominan terhadap
pengembangan masyarakat di Banda, terutama pariwisata, maka umumnya
masyarakat Banda berpendapat bahwa Banda sangat identik dengan kehendak
Des Alwi. Pendapat-pendapat macam ini dan kaitan-kaitan kepentingan
masyarakat dengan bidang-bidang yang bersentuhan dengan usaha Des Alwi
di Banda inilah yang melahirkan model-model komunikasi memusat kepada
tokoh ini. ►e-ti/anna
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|