| |
C © updated 22122008-20072006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/bs |
|
| |
BIODATA:
Nama:
Dedi Mulyadi, SH
Lahir:
Subang, 12 April 1971
Agama:
Islam
Istri:
Anne Ratna Mustika
Anak:
- Maulana Akbar Yudistira
- Ahmad Habibi
Jabatan:
- Bupati Purwakarta Periode 2008 – 2013
Pendidikan:
SD Subakti Subang (1984)
- SMP Kalijati, Subang (1987)
- SMA Negeri Purwadadi, Subang (1990)
- Sarjana hukum dari Sekolah Tinggi Hukum Purnawarman, Purwakarta (1999)
Karier:
- Anggota DPRD Purwakarta, 2001-2003
- Wakil Bupati Purwakarta Periode 2003 – 2008
- Bupati Purwakarta Periode 2008 – 2013
Organisasi:
- Ketua Umum HMI Cabang Purwakarta (1994)
- Senat Mahasiswa STH Purnawarman Purwakarta (1994)
- Wakil Ketua DPC FSPSI (1997)
- Sekretaris PP SPTSK KSPSI (1998)
- Wakil Ketua GM FKPPI Tahun (2002)
- Ketua PC Pemuda Muslimin Indonesia (2002)
- Sekretaris KAHMI Purwakarta (2002)
- Ketua Partai Golkar (2004-2007)
Alamat Kantor:
Jl. Gandanegara No. 25 Purwakarta 41112, Telp. 0264-200435, Fax.
0264-200064
E-Mail:
bupati@purwakarta.go.id
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI - VISI |
|
|
 |
BIOGRAFI & VISI:
01
02
03
04 =
Dedi Mulyadi, SH (04)
Pembangunan Berbasis Kearifan Lokal WAWANCARA:
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, SH, seorang pemimpin berusia muda (37
tahun) punya visi membangun Purwakarta Berkarakter berbasis religi dan
kearifan lokal. Dan untuk mewujudkannya, ia menggariskan kebijakan
strategis Sembilan Langkah Menuju Digjaya Purwakarta.
Untuk lebih mengenal dan mendalami pikiran, kebijakan dan program-programnya,
Wartawan Tokoh Indonesia dan Berita Indonesia, mewawancarainya Oktober
2008 di ruang kerjanya, Kantor Bupati Purwakarta. Kantor itu termasuk
bangunan tua yang dibangun Belanda dulu. Konstruksinya kokoh dan tinggi.
Jendelanya pun lebar dan tinggi. Jendela itu sengaja dibiarkan terbuka
lebar, supaya sirkulasi udara lancar. Sehingga tidak perlu memakai
pendingin ruangan. Bahkan lampu listrik pun tidak perlu dinyalakan,
karena ruang kerjanya itu cukup terang dengan jendela terbuka tersebut.
Dia kelihatan sangat bersahaja. Memakai topi hitam kebanggannya. Semua
pekarangan Kantor Pemerintah Kabupaten Purwakarta itu pun dibebaskannya
dari kenderaan bermotor. Tidak boleh ada yang parkir di situ. Hal itu,
sengaja dilakukannya dengan tujuan mendorong para staf dan karyawan
serta warga masyarakat lebih menikmati naik sepeda atau jalan kaki.
Saat wawancara, ia pun sangat lepas, luwes dan cerdas. Jika tidak
berulangkali diberi kode dengan menunjuk arloji oleh Kabag Humasnya Ibu
Nina Meinawati, yang mendampinginya, percakapan dengannya akan terus
mengalir cerdas hingga beberapa jam. Padahal, ia masih punya agenda yang
lain, di samping puluhan tamu masih menunggunya. Berikut petikan
wawancara dengan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, SH.
Anda seorang pemimpin muda, berusia 37 tahun. Sebelum terpilih
menjabat Bupati Purwakarta, sudah lima tahun menjabat Wakil Bupati.
Tampaknya Anda berpotensi jadi Obama Indonesia. Kini, sebagai Bupati,
mau seperti apa Purwakarta ini dalam pikiran Anda?
Saya ingin selalu mengembangkan sesuatu itu berdasarkan potensi yang
dimiliki atau berdasarkan karakter yang dimiliki. Purwakarta, punya
beragam karakter. Dari mulai karakter masyarakat industri, karakter
sebagai masyarakat pertanian, baik dalam arti sempit maupun dalam arti
luas. Termasuk di dalamnya adalah perikanan, perkebunan, kehutanan dan
berbagai potensi yang dimiliki. Termasuk potensi-potensi yang bersifat
identiti lokal masyarakat. Misalnya, kemampuan untuk membuat gerabah
atau keramik, kemampuan untuk membuat makanan yang punya citra rasa
Purwakarta.
Nah, kerangka itulah yang ingin dikembangkan. Karena, tidak ada kekuatan
untuk membangun sebuah bangsa kecuali berasal dari kekuatan bangsa itu
sendiri. Kekuatan bangsa sebenarnya kan kekuatan kultur wilayahnya.
Kekuatan kultur wilayahnya ditopang oleh kekuatan manusianya. Sehingga
menurut saya, setiap orang harus terintegrasi dengan potensi di
sekitarnya. Nah, inilah yang ingin dikembangkan. Dalam sisi idealisme,
ini sebenarnya sebuah kerangka berpikir jangka panjang yang tidak
mungkin dicapai dalam waktu lima tahun. Tetapi obsesi saya adalah
meletakkan kerangka dasar yang kuat.
Karena selama ini, ketika memimpin sebuah daerah, kebanyakan ingin
membuat yang instan saja dan berpikirnya dalam parameter lima tahun atau
parameter sepuluh tahun. Saya tidak. Saya ingin membangun parameter jauh
lebih ke depan dengan memanfaatkan waktu yang lima tahun ini membuat
fondasi yang kuat tentang Purwakarta. Karena dengan kekuatan itulah kita
akan mempunyai daya tahan.
Di dalam hidup ini, setiap manusia yang punya integrasi dengan
lingkungannya, punya integrasi dengan alamnya, maka dia sangat kebal
terhadap penyakit. Ini yang ada dalam frame berpikir saya tentang
pembangunan. Jadi kalau pembangunan bisa mengintegrasikan diri dengan
seluruh potensi dirinya maka akan sangat kuat daya tahannya terhadap
krisis global.
Sebuah pikiran yang sangat mendasar. Jadi Anda mau membangun daerah
ini dengan karakter, kemampuan dan potensi sendiri?
Karena begini, saya melihat ya, waktu tahun 1997-1998-1999, kita
mengalami krisis yang begitu kuat. Ternyata krisis ini sangat terasa
kekuatannya, kemudian hantamannya bagi mereka yang membangun kekuatan
industri, membangun kekuatan pertanian dengan modal pinjam tanpa ada
kekuatan potensi diri yang dimiliki. Sehingga banyak bank yang tidak
likuid, banyak perusahaan yang tidak mampu lagi bersaing kemudian
bangkrut. Banyak industri-industri sektor riil yang tidak bisa lagi
memperoleh pinjaman dari perbankan.
Tapi, bagi mereka kaum petani, para pedagang kecil, industri-industri
kecil, dari mulai indusri makanan, sampai pakaian dan kerajinan, tetap
mempunyai ketahanan yang kuat. Mereka memang goyah tetapi kegoyahan itu
tidak menghancurkan. Artinya, hanya oleng sedikit. Saya selalu ngomong,
beberapa kali, misalnya Purwakarta dihantam oleh badai perubahan sistem
keuangan, tetap saja tukang puyeh masih tetap bertahan sampai sekarang.
Tetap saja yang namanya tukang simping masih bertahan. Tetap saja para
pedagang tradisional itu masih bertahan. Tetap saja ternyata pasar-pasar
tradisional masih bisa bertahan dengan kuat. Ternyata, sebenarnya itulah
yang kita miliki, daya tahan ekonomi informal ini. Negara-negara maju
itu sangat sulit menghadapi krisis. Kenapa? Karena negara-negara maju,
seluruh sistem keuangannya itu menggunakan sistem yang digital. Semuanya
terkontrol dengan kekuatan digital. Sehingga ketika sistem digitalnya
kena sebuah penyakit, maka semua terjangkit penyakit.
Indonesia, itu kan, dalam dunia kesehatan sendiri tidak hanya dunia
kesehatan medik tetapi banyak yang nonmedik. Bahkan yang nonmedik ini
kadang-kadang sangat dipercayai oleh mereka yang sangat paham terhadap
medik. Dalam sistem ekonomi juga saya lihat, yang punya kekuatan
fundamental adalah ekonomi nonformal yang tidak bisa dikontrol oleh
kekuatan perbankan. Begitu kuat, peredarannya juga sangat sulit
diprediksi, sehingga hantaman krisis apa pun tetap dia punya daya tahan
dan tetap berjalan.
Ini sebuah keunggulan. Yang kalau dalam sistem perang, dulu kita dalam
sistem perang konvensional, kita kalah. Tapi ketika kita memasuki perang
gerilia, kita memiliki kekuatan yang begitu besar, kuat dan sulit
dikalahkan. Berangkat dari metodologi itu, sehingga kultur kita ini sama
dengan Vietnam. Jadi, kita harus belajar terhadap keberhasilan Vietnam
hari ini. Karena, berangkat dari situlah dia membangun kekuatan
kebangsaannya. Jadi kita harus belajar.
Artinya, kalau itu dipedomani oleh pemimpin bangsa ini, kita akan
kuat. Tapi, langkah-langkah konkrit untuk itu, apa yang akan Anda
gerakkan?
Kita melihat dan membuka dulu lembaran Purwakarta. Dalam hal ini, saya
cenderung mengembalikan Purwakarta pada habitatnya, pada karakteristik
wilayahnya. Karakteristik wilyahnya harus senantiasa dijaga dan diriksa
kalau dalam bahasa seharian.
Dalam bahasa saya itu, ‘laksadariksa lemburkula raharja ning bangsakula’.
Artinya, memelihara kampung itu sebenarnya membangun kejayaan bangsa.
Nah, kita hari ini selalu bicara tentang Indonesia, bicara tentang
kebangsaan tetapi kita tidak bicara tentang desa. Sehingga menjadi rapuh.
Nah, saya ingin mengembangkan Purwakarta itu berdasarkan potensi-potensi
itu.
Misalnya, daerah-daerah perikanan, seperti Jatiluhur, itu harus
berkembang sesuai dengan kultur perikanannya. Maka sistem perikanan
harus tersistem dalam kehidupan masyarakat, dimulai dari sistem
pendidikannya yang harus mengarahkan anak-anak itu pada pemahaman
persoalan-persoalan perikanan air tawar. Sehingga mereka ke depan
menjadi sebuah kekuatan yang bisa mengelola potensi danau yang
dimilikinya. Tidak seperti hari ini, kita menjadi kuli dari berbagai
kepentingan ekonomi yang ada di Jakarta, Bandung dan di kota-kota besar
lainnya. Ini yang harus diubah. Dan untuk itu, harus ditumbuhkan kultur
kepercayaan anak-anak kita.
Kemudian, misalnya ke wilayah selatan, itu adalah daerah perkebunan,
daerah hutan. Maka anak-anak ini harus dididik kembali untuk memahami
bagaimana kultur teh. Bagaimana anak-anak itu memahami bagaimana menanam
teh, bagaimana memetik teh, bagaimana memasarkan teh. Begitu juga
misalnya sektor yang bersifat agrobisnis lainnya, palawija, sayur dan
sejenisnya. Anak-anak harus dididik kembali. Dikembalikan lagi kepada
habitatnya. Sekolah-sekolah harus tumbuh menjadi kekuatan yang
terhabitat dalam lingkungan masyarakat dan lingkungan alamnya. Kemudian
juga daerah persawahan dikembalikan menjadi kekuatan. Padinya Purwakarta
sebenarnya, ingin saya gagas dengan sistem organik.
Kemudian, ke wilayah utara sudah jelas kita sudah memproklamirkan diri
sebagai daerah industri. Maka anak-anak harus ditumbuhkan mental
memahami keragaman. Keragaman etnis, keragaman budaya. Keragaman bisa
jadi keyakinan karena tumbuh menjadi daerah industri.
Sikap toleran, harus tumbuhkan etos kerja, daya saing sejak dini.
Bangunnya tidak boleh lagi kesiangan. Sekolahnya tidak boleh lagi
kesiangan, harus disiplin, ketat, keras. Kenapa? Karena mereka sudah
memproklamirkan diri menjadi masyarakat industri. Nah, sehingga nanti
mereka tidak lagi tergopoh-gopoh menghadapi persaingan dengan luar
daerah, dengan luar provinsi, dengan luar negara. Karena ke depan, ada
sebuah aspek global yang tidak bisa dibantah. Kita tidak bisa lagi
menolak kunjungan tenaga kerja dari yang lain kalau dia memang jauh
lebih berkualitas. Kita juga tidak bisa menolak kuli kasar dari
negara-negara lain kalau mereka jauh lebih murah. Nah, semangat itulah
yang sebenarnya harus dibangun sejak sekarang.
Kebanyakan selama ini kita ini shock. Ketika ada perubahan dari kultur
masyarakat, kita tidak terbiasa dengan perubahan itu dan tiba-tiba.
Ketika tiba-tiba, kita shock. Begitu kita shock, kita pingsan. Begitu
kita bangun, semuanya sudah berubah. Karena itu, kita itu menjadi
masyarakat yang pinggiran. Nah, ini yang harus dibangun. Pola inilah
yang ingin diwujudkan di Purwakarta ini dengan sistem yang disebut
dengan ‘Sembilan langkah ngawal nguna negri raharjo’.
Sembilan langkah ngawal nguna negri raharjo, dimulai dengan membangun
sistem pendidikan yang berbasis kearifan lokal. Sistem pendidikan
berbasis kearifan lokal ini diharapkan mampu membangun keunggulan
global, karena dengan kearifan lokal itulah keunggulan global itu bisa
diwujudkan. Saya jujur saja, sangat kagum terhadap China yang dalam
pergulatan ekonomi yang begitu kuat sekarang, pergulatan politik dunia,
aspek global yang begitu kuat, mereka muncul dengan integritas dirinya,
sehingga China menjadi sebuah negara yang sangat diperhitungkan dengan
integritas ke-China-annya.
Saya juga kagum terhadap negara kecil yang namanya Iran. Di
tengah-tengah tekanan dunia internasional yang begitu kuat pada dirinya,
dia tumbuh menjadi orang yang mempunyai integritas diri. Punya kemapanan
dalam berpikir, punya kestabilan dalam emosi, sehingga menjadi negara
yang diperhitungkan.
Saya juga sangat kagum sekarang pada Malaysia sebagai reprentasi dari
Melayu. Mereka tumbuh dengan kekuatan Melayunya. Nah, sehingga kalau
Indonesia kan tidak bisa diidentikan dengan Melayu, karena Indonesia itu
sangat beragam. Nah, bagaimana kalau identiti-identiti ini muncul dalam
setiap karakter wilayah, dan semangat yang dibangun dalam setiap orang
untuk tidak membangun semangat eksploitatif.
Hari ini orang selalu ingin instan, ingin menggali sumber daya alam,
disebut eksploitatif. Melupakan aspek-aspek jangka panjang yang jauh
lebih bermanfaat. Hari ini orang berorientasi pada uang, pada
aspek-aspek yang bersifat material, padahal itu tidak menghasilkan
kebahagiaan. Tetapi yang inmaterial semakin ditinggalkan, padahal yang
inmaterial itulah kebutuhan esensi manusia.
Nah, sistem pendidikan perlu dibangun dengan itu. Kalau dalam bahasa
saya, ‘hari ini kita hanya menyekolahkan anak di sekolah saja, tapi di
jalan anak kita, tidak disekolahkan. Di rumah anak kita, tidak
disekolahkan. Sehingga kita menjadikan sekolah itu menjadi berhala
pendidikan. Karena menjadi berhala pendidikan, maka sekolah dianggap
segala-galanya dalam mendidik anak-anak agar menjadi orang-orang cerdas.
Ternyata tidak bisa memberikan jawaban, karena sekolah itu adalah hanya
bagian kecil dari sistem pendidikan. Tapi sistem pendidikan yang
dikembangkan di rumah, di jalan, di warung, di tempat kerja, semuanya
harus tersistem dalam satu sistem yang namanya pendidikan.
Hari ini, pendidikan diidentikkan sekolah, sehingga orang yang tidak
sekolah dianggap orang yang tidak dididik, sehingga hanya orang yang
bersekolah dianggap orang yang terdidik. Dan ternyata yang dilahirkan,
banyak yang tidak sekolah jauh lebih terdidik daripada orang yang
sekolah. Nah, berbagai problematika yang dilahirkan oleh bangsa hari ini,
dilahirkan oleh orang-orang yang terdidik problematika itu. Bukan oleh
orang-orang yang tidak terdidik. Nah, ke depan barangkali, bukan saya
anti pendidikan formal, tetapi bagaimana pendidikan formal terintegrasi
dengan semangat pendidikannya, bukan hanya semangat sekolah untuk dapat
sertifikatnya. Hari ini kan, orang cenderung itu. Nah ini yang pertama.
Yang kedua, saya ingin mengembangkan sistem pembangunan yang berbasis
pedesaan. Berbasis pedesaan itu, dari mulai sistem otonomisasi desa dari
sisi aspek fiskal, otonomisasi desa dari sisi aspek kebijakan-kebijakan
daerah, di mana kepala desa harus tumbuh menjadi kekuatan, pemimpin yang
mandiri di setiap desa. Hal ini adalah bagian dari upaya untuk melakukan
keadilan ekonomi. Karena kalau sistem keuangan negara ini, RAPBN yang
begitu besar ini nanti muncul menjadi RAPBD provinsi, terus RAPBD
provinsi menjadi RPBD kabupaten. Kalau seluruh RAPBN, RAPBD provinsi dan
kabupaten ini tersentral pada yang namanya desa, seluruh uang yang ada
tersebar di situ, maka terjadilah keadilan ekonomi. Tidak ada lagi
sentralisasi keuangan pada sebuah wilayah.
Kemudian membangun semangat transparansi. Dengan keuangan tersebar ke
wilayah-wilayah terkecil, maka akan mudah sekali orang melakukan kontrol
tehadap sistem keuangan tersebut. Mengontrol uang yang jumlahnya lebih
kecil lebih mudah dibanding dengan yang besar. Bukunya lebih tipis,
lebih mudah membacanya.
Nah, kalau sistem keuangan ini paradigmanya sudah dibangun dalam
paradigma pedesaan, maka seluruh rakyat kita mengawasinya tidak akan
terlalu jauh. Tidak akan ngomongin Jakarta, tidak ngomongin Bandung,
tidak ngomongin Purwakarta. Dia akan ngomong tentang desanya. Bagaimana
pembangunan? Apakah terlaksana tidak di desanya? Apakah kebijakan negara
sudah terserap di desanya. Ini yang menjadi fokus kita tentang pedesaan.
Yang berikutnya adalah, kita ingin membangun sistem bagaimana para
pegawai ini tumbuh dan berkembang menjadi kekuatan yang memberikan
pelayanan terhadap masyarakat. Tetapi di situ harus jelas reward and
punishment (penghargaan dan sanksi)-nya sebagai seorang pegawai negeri.
Selama ini, sistem kepegawaian kita itu kan, yang rajin-yang tidak rajin,
ya sama saja gajinya. Yang malas-yang tidak malas, ujung-ujungnya
tergantung nasib juga. Banyak yang rajin tidak bisa jadi apa-apa. Banyak
yang malas tapi bisa jadi apa-apa. Nah, ini juga problem yang harus
diluruskan. Sistem kepegawaian kita harus mulai diubah ke arah paradigma
dimana kekuatannya harus mengarah pada profesionalisme. Kalau
profesionalisme, harus mengarah kepada tingkat kesejahteraan. Dan
kesejahterannya harus mencerminkan keadilan yaitu, kemampuan dia bekerja
dan ketidakmampuan dia bekerja.
Kemudian orientasi berikunya adalah, kita ingin mendekatkan seluruh
pelayanan ini pada masyarakat, termasuk pelayanan di bidang kesehatan.
Orang selalu bicara tentang rumah sakit. Rumah sakit ini punya
keterbatasan-keterbatasan, daya jangkaunya. Saya cenderunglah di setiap
kecamatan itu minimal di beberapa daerah wilayah kecamatan, ada satu
Puskesmas yang punya kemampuan untuk merawat dan menginapkan para
pasiennya sehingga daya mobilitasnya tidak terlalu menonjol ke kota. Dan
yang paling utama adalah antisipasi berbagai wabah yang kadang menyerang
secara mendadak. Contoh muntaber, ketika muntaber, orang semua dirujuk
ke rumah sakit pemerintah di tingkat kabupaten. Yang muntabernya kompak
lagi, sekabupaten. Maka problemnya, terjadi penumpukan. Tapi kalau di
setiap kecamatan ada Puskesmas yang bisa menangani, tidak terjadi lagi
penumpukan-penumpukan pasien itu. Ketika ada bencana-bencana yang
bersifat kejadian luar biasa.
Kemudian yang berikutnya orientsi kita adalah ingin mengoptimalkan
seluruh potensi air yang dimiliki. Karena, Purwakarta ini walaupun punya
Danau Cirata dan Jatiluhur, tidak bisa mengoptimalkan potensi air
tersebut, karena letak kita lebih tinggi. Sehingga kita ingin
memanfaatkan aliran-aliran sungai yang ada di Purwakarta ini. Itu
bermafaat bagi kepentingan dunia pertanian. Tidak terbuang airnya
percuma ke laut. Ini yang fokus kita.
Yang berikutnya adalah, kita ingin mengembangkan sistem jalan. Jalan itu
mulai dibangun dengan jalan-jalan yang disebut dengan jalan hotmix dan
beton. Orientasi kita, seluruh jaringan jalan darat sampai tingkat
pedesaan itu harus baik. Jadi, jangan sampai terjadi ketimpangan
pembangunan. Orang kota menikmati hotmix setiap saat. Orang desa,
badannya sakit-sakit kalau lewat. Tapi anehnya, orang kota itu yang
sakit kalau bangun tidur, karena oksigennya sudah tidak baik lagi. Orang
desa, walaupun jalannya jelek tapi badannya tak pernah sakit kalau
bangun tidur, karena badannya tiap hari digerakkan. Itu lebihnya. Ada
berkah di situ.
Jadi pengembangan jalan ini, harus diimbangi oleh kesadaran publik,
rakyat, terutama kepemilikan tanah. Karena saya lihat ada ketimpangan di
situ. Ketika jalan masuk ke pedesaan, maka harga tanah naik. Ketika
harga tanah naik, rakyat cenderung menjual tanahnya. Sehingga orientasi
jalan membangun kekuatan ekonomi rakyat, berbanding terbalik dengan
realita. Ketika ada jalan hotmix, rakyat sudah tidak punya tanah lagi.
Akhirnya dia tidak bisa lagi optimalisasi potensi hutan, potensi
perkebunan, potensi pertanian sawah, perikanan. Karena apa? Karena
kepemilikannya sudah berubah. Jadi giliran desa itu mengalami kemajuan,
giliran mobilitasnya mudah, mereka malah tidak memiliki aset apa pun.
Ketika dulu jalannya terjal, itu aset mereka. Ini problem, lho. Dan ini
mungkin bukan hanya di Purwakarta. Setiap daerah mengalami hal seperti
itu. Kalau begitu, untuk apa pembangunan itu dilaksanakan kalau tidak
melahirkan rasa keadilan di masyarakat. Begitu kan?
Jadi logikanya sebenarnya, kalau dikasih jalan hotmix, tanahnya malah
dijual, lebih baik nggak dikasih jalan sekalian. Sebenarnya logikanya
seperti itu kalau ingin menggunakan logika keadilan ekonomi. Tetapi kita
ingin juga secara pelan memberikan pemahaman. Jadi kalau jalannya baik,
tanahnya mahal, jangan cepat-cepat dijual hanya untuk beli mobil, beli
motor untuk keperluan konsumtif.
Ini problem pedesaan hari ini dan dialami oleh dorongan anak-anak muda
yang tidak tertarik lagi terhadap dunia pertanian. Sehingga yang harus
dilakukan adalah bgaimana menghormati dunia pertanian menjadi dunia yang
terhormat. Maka, kalau ingin menghormati dunia terhormat maka bagaimana
produk-produk pertanian itu mendapat perlindungan dari negara, dan
petani merupakan bagian yang harus dilindungi. Karena tidak punya arti
bangsa ini, walau punya berbagai produk, tapi pertaniannya mengalami
kebangkrutan. Tidak ada lagi minat, kenapa? Karena uang banyak tapi
kalau nggak punya beras, kan rugi juga. Nggak bisa apa-apa. Nggak punya
ikan, buat apa juga biar uang banyak. Tapi kalau punya ikan, punya beras,
nggak punya uang juga tetap aman. Logikanya kan seperti itu.
Yang berikutnya, kita ingin mengembangkan konsep sistem industri dengan
berbasis pelayanan publik. Di mana pemerintah daerah ingin ke depan itu,
tanah-tanah untuk kepentingan industri ini, industri ini nggak usah beli
tanah. Tapi pemerintah yang menyiapkan dengan konsep sewa. Sewanya pun
diberikan, bebrapa tahun ketika industri ini sudah mulai ke arah
produksi. Sehinga ketika ada investor datang, mereka tidak usah lagi
mikir tentang pembebasan, tetapi mereka tinggal membangun dengan seluruh
fasilitas disiapkan oleh pemerintah. Ini kan dilakukan oleh China, oleh
Vietnam. Tapi saya juga berpikir, kemampuan saya dari mana kalau bikin
begitu. Tapi saya punya obsesi ke arah itu. Minimal obsesilah. Lebihnya
orang miskin kan, bisa mimpi jadi orang kaya. Saya karena pemimpin kecil
di daerah, begitu kan, punya obsesi seperti itu. Kalau saya sudah jadi
pemimpin yang besar mungkin tidak bisa punya obsesi lagi.
Yang terakhir adalah, kita ingin mengembangkan pembangunan ini berbasis
karakternya, dari sisi fisiknya, desain-desainnya harus mulai terlihat.
Gedung-gedung tua mulai harus direnovasi, tidak boleh kehilangan
nilai-nilai orisionalitasnya. Jangan sampai bangsa ini kehilangan latar
belakang sejarahnya dan lupa terhadap terhadap masa lalu. Sehingga dia
tidak punya masa depan. Dan kemudian, di dalamnya kita ingin memberikan
perlindungan kepada seluruh pedagang tradisional sehinga bisa
mengembangkan sitem pasar tradisional dengan baik, pasarnya baik,
pembelinya baik, kemudian regulasi keuangannya bejalan secara lancar.
Dengan konsep sewa. Itu pun kita harus mengkaji, uangnya dari mana kalau
kita membangun pasar sendiri. Tepai saya punya obsesi, negara ini
menyiapkan berbagai fasilitas, rakyat ini tinggal mengisi dan menyewanya.
Ini yang pikiran-pikiran saya tentang Purwakarta yang disebut dengan
‘Salapan lengka ngawal nguna negri raharjo’ (sembilan langkah menuju
digjaya Purwakarta)
Konon ada program pelayanan publik gratis?
Ya. Di dalamnya, itu tadi yang disebut dengan pembangunan berbasis
pedesaan. Pembangunan berbasis pedesaan itu di dalamnya kita memberikan
layanan gratis bagi pengurusan KTP, kartu keluarga dan akte kelahiran.
Yang sudah mulai sejak 6 Oktober dan kemudian nanti kita akan membentuk
satuan pelayanan pmerintah di tingkat desa.
Berapa pos anggaran untuk itu?
Kita akan siapkan anggarannya untuk insentif pegawai operator komputer,
insentif pelayan di tingkat desa, kemudian pembelian blangko dan
kelengkapan teknis. Dari sisi pendapatan, memang kita mungkin menurun.
Tapi saya akan mngejar di sektor lain.
Artinya, tidak memperhatikan anggaran berapa banyak.
Oh, tidak. Kalau untuk publik, kenapa tidak. Hanya berapa persen dari
anggaran.
Tadi, masalah pendidikan yang pertama. Dan itu sangat mendasar, bahwa
pendidikan tidak hanya di sekolah, tapi di semua aspek kehidupan, mulai
dari keluarga, di jalan dan di mana-mana, begitu. Sementara konsep
pendidikan dari pemerintah masih cenderang melalui sekolah. Lalu,
bagaimana pendidikan di masyarakat ini, langkah apa yang bisa dilakukan
pemerintah daerah?
Mengembalikan kembali pola kultur dan penegakan. Di kita ini yang kurang
itu kan penegakan. Di jalan orang tidak dididik karena sistem pendidikan
kita agak berat. Akhirnya lalulintas kita semakin semraut. Tingkat
kecelakan semakin tinggi. Kan aneh itu? Terus kemudian, anak-anak kecil
usia 7 -9 tahun sudah menggunakan kendaran bermotor. Itu kan problem.
Di Inggris, saya pernah dengar, gitu lho dalam cerita, putranya pangeran
Charles mengendarai mobil di jalan tol, dikejar oleh polisi, ditilang,
karena usianya baru 14 tahun. Artinya, yang diperlukan adalah
ketauladanan bagi semua. Artinya, orng-orang punya kemampuan lebih
uangnya, jangn mempertontonkan anak-anaknya menggunakan kendaraan
bermotor kalau belum cukup umur untuk menggunakan. Jika melanggar harus
ditindak, siapa pun dia. Dan nanti bisa diterapkan di sekolah-sekolah.
Sekolah-sekolah secara tegas membuat peraturan sekolah. Dimana, melarang
anak-anaknya ke sekolah menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat
dan dikembalikan lagi bila perlu pakai sepeda.
Langkah-langkah apa yang dilakukan untuk menyosialisasikan itu?
Ya. Saya secara rajin ya tetap mngampanyekan menggunakan sepeda ke
sekolah. Tetapi secara tegas saya belum membuat kerangka kerja yang
jelas bagi kepala sekolah. Tetapi nanti setelah konsolidasi internal
organisasi saya berjalan dengan baik dan efektif, insyallah, ke depan
setelah infrastruktur, jalannya sangat memadai, saya akan mencoba untuk
melakukan pendekatan dengan pola ini.
Saya kira itu sangat mendasar. Kesadaran pendidikan harus muncul dari
bawah, bukan hanya di sekolah tapi dari rumah tangga, begitu ya? Itu
yang sagnat kurang sehingga masyarakat ini tidak hanya tergantung kepada
pendidikan di sekolah.
Ya. Persis. Dulu kan banyak yang dilahirkan oleh pendidikan nformal.
Banyak para sastrawan yang lahir bukan dari pendidikn formal. Banyak
jurnalis handal, lahir bukan dari sekolah-sekolah jurnalistik, tetapi
lahir secara alamiah. Banyak juga para pengusaha, para pengrajin,
seniman dan budayawan dan kelompok-kelompok profesi lainnya yang lahir
secara alamiah dengan karakter pendidikan informal pada lingkungannya.
Nah, karakter informal itulah yang harus kita kembangkan menjadi
kekuatan. Dan yang paling utama dari seluruh karakter itu sebenarnya
kemampuan kita dan keinginan kita untuk melangkah. Itu yang dikembangkan.
Keteladanan perlu di situ ya. Terutama instansi pemerintah, para
pejabatnya harus menjadi teladan?
Saya, contoh kecil misalnya, mencoba untuk area pemerintah ini, yang
sederhana ini, tidak ada lagi kendaraan. Hanya untuk menyuruh orang
jalan kaki. Kenapa? Karena jalan kaki, hari ini menjadi barang yang
langka, dengan banyaknya naik-turun mobil, naik-turun motor.
Kecenderungan orang tidak jalan kaki. Maka ancaman terhadap kesehatan,
semakin tinggi degradasi kesehatannya.
Jadi menyuruh orang supaya jalan?
Ya. Minimal orang jalan dari situ ke sini. Sederhana saja.
Yang kedua tadi, pembangunan berbasis pedesaan. Dan itu berarti untuk
mewujudkannya tidak semudah program dari atas ya? Kalau program dari
atas, kita konsep, kita drop dananya, itu bisa dijalankan. Jadi ini
tentu bukan pekerjaan mudah. Lalu, apa kiat untuk bisa memudahkannya?
Untuk memudahkannya adalah diberikan kembali keyakinan kepada masyarakat
bahwa kita berpegang teguh pada pola-pola kultur yang diwariskan oleh
orang tua kita dulu. Itu bisa melahirkan kesejahteraan. Ini yang harus
diyakinkan betul. Kenapa orang desa sekarang tidak percaya diri lagi
terhadap lingkungan pedesaannya, karena mereka menganggap bahwa dengan
berpegang teguh pada sistem yang diwariskan oleh orang tuanya dulu, itu
melahirkan kemiskinan material. Bagaimana kita melakukan
sentuhan-sentuhan strategi agar anggapan kemiskinan material itu berubah.
Nanti menjadi kekayaan material. Kemudian yang terutama juga, kekayaan
spiritual. Karena, kekuatan spiritualitas inilah yang menjadi roh dalam
kehidupan kita. Kita mengandalkan logika dan materialisme saja ternyata
tidak melahirkan kebahagiaan apa pun.
Kemarin itu, saya melihat ada running text di sebuah stasiun tv yang
mengatakan bahwa 30 ribu warga Jepang bunuh diri karena gangguan ekonomi.
Padahal kalau kita lihat, Jepang itu jauh lebih maju secara ekonomi
dengan kita, tapi kenapa malah angka bunuh dirinya malah tinggi. Mungkin
di situ ada kekuatan-kekuatan spiritual yang mulai ditinggalkan. Ini
yang harus menjadi orientasi kita, dan bangsa kita kan mengajarkan
tentang spiritualitas. Dan hari ini spiritualitas ditinggalkan orang ke
materialitas semua. Materialitas itulah akhirnya melahirkan kefrustasian,
karena tidak ada kepuasan di situ.
Tadi Anda sebut ada satuan pelayanan pmerintahan di pedesaan.
Bagaimana formatnya?
Formatnya itu nanti, kita tergabung dengan yang disebut dengan polisi
desa. Di situ nanti ada unsur Babinkamtibmas, Babinsa, unsur-unsur
perwakilan pemerintah yang berfungsi memberikan pelayanan secara
langsung terhadap masyarakat, petugas penyuluh, bidan desa, dokter kalau
dimungkinkan. Terus kemudian tenaga fungsional pertanian, kehutanan,
koperasi, dan berbagai hal yang memang diperlukan oleh pedesaan. Selama
ini kan para pegawai negeri itu tertumpu di kota, di SKPD-SKPD di
tingkat ibu kota kabupaten. Nah, problemnya kan mereka jadi tidak
bersentuhan. Sehingga kalau membuat perencanaan pembangunan, itu kadang
tidak disurvei dulu. Dia mengira-ngira saja. Dan nanti kalau setiap
satuan kerja mempunyai staf yang bertugas di lapangan, maka seluruh
program itu nanti didasarkan pada metodologi dan sistematika yang lebih
riil dan kemudian juga menyentuh kepentingan masyarakat.
Karena melibatkan polisi dan yang lain, tidak ditakutkan menjadi
represif?
Oh, nggak. Polisi desa, itu kan konsep Babinkamtibmas. Itu kan
sebetulnya tidak mengedepankan pola represif. Mereka itu kan lebih
mengedepankan pola kebinamitraan. Jadi, polisi persahabatan. Dari sisi
kultur, bisa saja dalam perspektif ke depan hal-hal yang bisa ditangani
secara musyawarah di pedesaan dikembalikn lagi dengan pola lama. Tidak
harus mesti ditangani selalu menjadi aspek hukum formal. Kalau bisa
ditangani dari sisi aspek kultur, kenapa tidak diselesaikan dengan
kultur? Karena ditangani dengan aspek hukum formal juga high cost.
Semua program memerlukan dana. Berbasis pedesaan, berarti ada alokasi
dana. Ada peningkatannya nggak dana untuk pembangunan pedesaan?
Saya berencana memang akan melakukan peningkatan. Peningkatan itu dua
hal. Yang pertama, dari sisi aspek nilai mungkin meningkat. Kedua juga
mulai mengarah kepada keadilan. Sistem yang akan saya gunakan nanti,
perkembangan dana pedesaan itu nanti disesuaikan dengan luas wilayah dan
jumlah penduduk. Tidak dibikin sama dalam setiap desa.
Saya memerhatikan kemarin, ketika Pilkada di sini kita memberikan
bantuan Rp 9 juta per desa. Ternyata itu tidak mencerminkan rasa
keadilan karena ada yang jumlah pemilihnya 800, ada yang jumlah
pemilihnya 3.000, dan ada yang jumlah pemilihnya 8.000. Bayangin,
subsidi untuk yang 800 sama dengan 8.000, tidak mencerminkan rasa adil.
Ini yang menjadi bahan koreksi kita ke depan.
Artinya, untuk satu tahun ke depan ini seperti apa konkritnya?
Ya, kita berdasarkan indeks jumlah penduduk. Misalnya, kita subsidi
pembangunan desa, dana alokasi desa, kita hitung, misalnya per penduduk
misalnya Rp 5.000 kali sekian ribu penduduk, berarti sekian. Begitu.
Nah, sekarang itu kan dibikin sama. Penduduk banyak atau sedikit dibikin
sama. Sehingga sekarang, banyak yang menjadi problem, misalnya wilayah
kabupaten kota yang kebetulan sangat sedikit penduduknya, sangat sedikit
kecamatannya, sangat sedikit jumlah desanya, mereka kadang sampai
kebingunan uangnya harus disalurkan kemana karena wilayahnya sangat
kecil. Jalannya sudah pada bagus, fasilitasnya sudah pada bagus, kan
begitu. Sedangkan yang luas, uangnya sangat sedikit, terbatas. Bikin
jalan nggak cukup-cukup karena ruas jalannya sangat panjang. Ini kan
aspek-aspek yang menjadi bahan pengkajian kita.
Terus yang lain tadi, masalah kesehatan, dimana akan diadakan
penyebaran pelayanan, kalau memungkinkan Puskesmas mempunyai fasilitas
rawat inap. Itu salah satu program. Kemudian, masalah kesehatan ini, ada
seorang dokter yang baru kami wawancara, dia bilang misalnya kesehatan
itu, pengobatan hanya 10 persen dari masalah kesehatan. Ini yang perlu
dicermati, begitu dia bilang. Seharusnya yang dilakukan yang pertama
adalah mencegah orang sakit. Bagaimana pendapat Anda?
Nah, inilah kesalahan kita. Kita ini kalau bicara kesehatan selalu
bicara Puskesmas. Bicara kesehatan, bicara rumah sakit. Padahal sudah
jelas, kalau Puskesmas sih ada unsur mencegahannya ya. Kalau rumah sakit
itu kan murni pengobatan. Jadi sebenarnya, bukan dinas kesehatan kalau
begitu, tapi dinas kesakitan. Karena program yang diurus adalah
bagaimana membangun fasilitas untuk orang sakit. Berarti dinasnya bukan
dinas kesehatan tapi dinas kesakitan. Karena yang diurusnya orang sakit
bukan orang sehat. Sehingga paradigma yang harus kita kembangkan adalah
memahami kesehatan sebagai integrited pembangunan.
Jadi bicara tentang kesehatan, itu bukan bicara tentang Puskesmas saja.
Rumah sakit itu bengkel. Nah, bicara tentang kesehatan adalah bicara
tentang sistem pembangunan yang sehat. Dari mulai sistem tata ruang,
sistem tata wilayah, sistem pertanian, sistem peternakan, perikanan,
perhubungan, kemudian kebinamargaan, keciptakaryaan, pendidikan,
semuanya harus melahirkan sistem yang masyarakatnya di situ sehat.
Sekarang ini kan, bagaimana rumah sakit tidak terus penuh oleh pasien,
karena lingkungan kita sudah menjadi lingkungan yang tidak dimungkinkan
untuk hidup sehat. Airnya sudah tercemar, udaranya sudah tercemar,
lingkungannya sudah tercemar, bakteri sudah dimana-mana, virus
dimana-mana. Makannya serampangan, olahraganya nggak pernah, misalnya.
Ini kan problem. Nah untuk itu, maka dalam perspektif saya adalah,
sebenarnya setiap individu, setiap SKPD, setiap dinas, setiap departemen,
itu punya tanggung jawab untuk menciptakan iklim yang sehat.
Saya contohkan misalnya ruangan ini. Dulu itu Belanda koq kenapa lebih
pintar dari kita. Karena daerah ini daerah tropis, maka Belanda bikin
bangunan itu tinggi. Habis tinggi, dikasih lubang untuk sirkulasi udara.
Habis itu dikasih jendela agar sirkulasi udaranya lancar. Disinilah akan
melahirkan penghuni bangunan yang sehat. Digantilah oleh bangsa kita.
Bangunannya dipendekkan, ventilasi udaranya tertutup rapat semua, lalu
dipasang AC. Kemudian tengah hari itu makan, makannya banyak lagi. Habis
makan banyak, masuk ke ruang ber AC, keringatnya nggak keluar. Kalorinya
tidak terbakar, ngantuk, tidur, diabet. Ini yang belum menjadi kesadaran.
Jadi pelayanan kesehatan itu mencegah orang sakit ya?
Ya, mencegah orang sakit. Sehingga dalam prospek kesehatan, ukurannya
bukan semakin banyaknya rumah sakit, kalau menurut saya. Bukan semakin
banyak dokter spesialis. Ukuran keberhasilan kesehatan itu adalah
semakin kosongnya rumah sakit karena tidak ada orang sakit. Semakin
sedikit dokter spesialis, karena orang sakit itu semakin tidak ada.
Berarti berhasil itu dunia kesehatan. Tapi kalau dokter spesialisnya
semakin banyak berarti jumlah sakitnya semakin banyak, penyakitnya
semakin bertingkat, kemudian kadar obatnya semakin tinggi. Berarti gagal
dunia kesehatan. Makanya menjadi dunia kesakitan.
Mengenai tata kelola air. Sungguh tidak adil sebenarnya orang Jakarta
terhadap Purwakarta. Jadi bagaimana tadi pemikiran Anda tentang tata
kelola air itu supaya bisa dimanfaatkan, jangan percuma mengalir ke laut?
Purwakarta ini kan mengalirkan air ke wilayah utara. Dari wilayah utara,
jadilah lumbung padi Jawa Barat, lumbung padi nasional. Menjadi cadangan
pangan bagi masyarakat Indonesia. Kemudian, kita mengalirkan air ke
Jakarta, kemudian diminum orang-orang Jakarta. Tetapi kita sendiri tidak
mendapat apa pun. Untuk itu, sudah hal yang wajar kalau pemerintah
memberikan kompensasi. Kompensasinya, saya tidak menuntut uang. Saya
nuntut agar aliran-aliran sungai yang terbuang airnya ini bisa dikelola
masyarakat kita dengan membangun sistem irigasi yang baik.
Apakah hal itu sudah pernah diajukan atau belum?
Sering. Mudah-mudahanlah dengan kepemimpinan saya, pengajuannya
dikabulkan.
Apakah pengajuannya itu lewat prosedur. Ada keputusan DPRD?
Kalau pengajuan, bupati kan bisa mengajukan ke pemerintah pusat melalui
Departemen Pekerjaan Umum.
Kan bisa ditingkatkan supaya lebih diperhatikan?
Ya. Mudah-mudahan ke depan. Saya hanya minta itu saja kok, aliran-aliran
sungai ini bisa dimanfaatkan untuk kepentingan dunia pertanian karena
itu prasyarat untuk membangun kesejahteraan rakyat. Orang bertani,
misalnya padi, sekali setahun cuman sekali musim hujan. Kalau musim
hujannya kayak sekarang ini, nggak karu-karuan begini kan, nggak
kemana-mana, masih bisa mempertahankan orang untuk hidup. Apalagi kalau
sistem irigasinya terkelola dengan baik mungkin bisa melahirkan seperti
yang disebutkan tadi, kesejahteraan material.
Tadi Anda juga mengemukakan mengenai pembinaan aparatur negara.
Program itu, kalau tidak didukung dengan keteladanan, juga seperti tadi
Anda bilang, itu bisa hanya dalam pikiran?
Persis. Selama ini mungkin, konsepsi itu berada di pikiran saya tetapi
secara perlahan ia netes sedikit-sedikit ke dunia birokrasi di Kabupaten
Purwakarta. Kenapa? Karena kita masih baru. Kita kan tidak mungkin dalam
tujuh bulan ini melakukan langkah-langkah yang frontal. Dari sisi aspek,
jurus dalam sebuah ilmu pencat silat misalnya, maka kuda-kuda saya harus
kuat dulu. Saya yakinlah dalam tahun ini, kuda-kuda ini sudah kuat. Dan
tahun depan itu, kita sudah mulai mengarah pada profesionalisme itu.
Profesionalisme dalam tanda kutip. Dalam perspektif kita yang masih awam
tentang makna profesionalisme. Tetapi nanti, secara kolektif itu akan
terbangun.
Pak Harto dulu juga kan dalam waktu 32 tahun memimpin, kan tidak
langsung ke-32 tahun itu kokoh. Lima tahun pertama, ini yang dikerjakan,
lima tahun kedua, ini. Dan, dia betul kuat kan pada tahun ketiga, tahun
keempat. Kan gitu.
Masalah kepemimpinan. Anda itu seorang muda yang memimpin sebuah
kabupaten yang terdiri dari beragam masyarakat mulai dari yang muda
sampai yang tua. Tentu banyak di sini yang merasa lebih punya
kepemimpinan dari Anda. Bagaimana cara Anda untuk tampil dan didengar?
Ya. Saya selama ini termasuk orang yang lamalah bergaul dengan
masyarakat. Berkomunikasi dengan masyarakat. Bicara di depan orang tua,
itu bukan hal ketika saya jadi pemimpin sekarang. Saya sejak kelas 6 SD
sudah bisa ngomong di depan orang tua, pidato. Jadi bukan hal yang baru.
Saya waktu kecil saja pidato didengarin orang koq. Apalagi sudah jadi
bupati pasti lebih didengarin lagi. Jadi tidak ada hal aneh, gitu.
Karena kita terbiasa bergaul. Saya menjadi ketua kelas itu sejak kelas
satu SD. Memimpin itu sejak kelas satu SD.
Dalam informal, saya dulu penggembala kambing. Saya ketua penggembala
kambing sejak kecil. Jadi kita tahu bagaimana mengelola, bagaimana
berkomunikasi. Jadi bukan hal yang baru lagi. Kadang-kadang saya terlalu
ke-pede-an. Mungkin karena usia muda, saya merasa apa yang saya
sampaikan ini begitu dipahami oleh banyak orang. Padahal orang mungkin
tidak paham dan mungkin orang tidak suka dengan apa yang saya sampaikan.
Nah saya sekarang itu justru terbalik, saya belajar untuk tidak pede.
Karena, sejak kecil saya selalu pede, gitu lho. Nah, saya takut over
dosis kepercayaan diri saya. Nah, itu tidak baik. Over confident itu kan
tidak baik. Nah, saya sekarang mulai belajar untuk tidak percaya diri
agar ada kataleduran dalam diri saya.
Jadi memang mengasah wisdom ya. Kebijaksanaan?
Ya. Anda pintar mujinya.
Bukan muji. Tapi memang Anda menguasai bidang tugas pelayanan Anda
sebagai pemimpin. Kami banyak bertemu dengan para pemimpin di negeri ini
karena mengelola Tokoh Indonesia. Tapi terkadang kami sulit untuk
menulis seseorang, karena tidak tahu apa yang akan ditulis. Hanya
standar saja, gitu?
Ya, mengalir begini karena ditanya sama orang cerdas. Kalau ditanya sama
orang biasa-biasa, nggak mengalir begini.
Tapi kembali dulu ke masalah kepemimpinan yang tadi. Walaupun
jawabannya begitu, tapi ada tantangan kali dalam masalah kepemimpinan
ini?
Ya, tantangan pasti banyak. Setiap pekerjaan pasti ada tantangan.
Kepemimpinan saya sangat banyak tantangan. Mungkin di antara bupati di
Indonesia ini, saya yang paling sering didemo. Bahkan, ada langganan.
Setiap jumat, saya didemo, gitu. Didemo, karena ada kerangka pemahaman
yang saya sampaikan yang menimbulkan kontroversi, gitu. Nah, saya justru
belajar dari itu.
Untuk itu, dalam perspekif ke depan, mungkin saya harus merubah style.
Untuk itu tadi, belajar untuk tidak percaya diri dengan apa yang
diucapkan. Sehingga proses mengkaji setiap ucapan-ucapan itu lebih
didahulukan dibandingkan dengan berucap. Karena memang kebiasan saya itu
spontan. Pikiran dan ucapan itu hampir bareng.
Bisa Anda flashback dulu biografi Anda. Dari masa kecil sudah
menjadi pemimpin, ketua kelas dan yang lain. Bisa diceritakan bagaimana
proses itu bisa terjadi?
Semuanya alamiah. Saya selalu meyakini, apa yang saya lakukan, apa yang
saya dapat, dan apa yang saya perbuat semuanya tidak lepas dari Allah
SWT, yang menentukan segala sesuatu. Jadi, banyak hidup ini yang tidak
terencana dan tidak direncanakan. Satu prinsip saja dalam hidup ini,
kerja keras. Ketika orang sudah kerja keras, tidak usah merencanakan
sesuatu, karena Allah akan memberikan sesuatu. Ini yang ada dalam diri
saya.
Jadi kalau kita menjadi seorang karyawan, sudahlah, jangan dulu berpikir
mendapatkan gaji. Karena pada akhirnya gaji itu akan diberikan manakala
kita bekerja dengan baik. Nah, prinsip-prinsip itu yang kuat dalam diri
saya. Dan kemudian, saya sangat asik dengan penerawangan berpikir
tentang Indonesia ke depan. Dan kemudian saya asik juga melakukan
kontempelasi tentang Indonesia masa lalu. Sehingga saya itu, orang yang
selalu terkontempelasi oleh nilai-nilai masa lalu dan terobsesi dengan
nilai-nilai masa depan. Itulah yang membikin saya selalu menjadi enjoi
dalam setiap kesempatan dan selalu optimis dalam menghadapi segala
sesuatu. Karena segala sesuatu yang diberikan, yang berat, itu pasti ada
titik ringannya. Sesuatu yang diberikan ringan, pasti ada titik beratnya.
Sehingga kita hadapi segala sesuatu itu dengan sikap optimis, kemudian
juga tetap dengan gaya yang biasa-biasa saja, sederhana.
Bagaimana ceritanya sampai bisa menjadi wakil bupati dalam usia 32
tahun?
Faktor perjalanan saja. Faktornya, saya bekerja saja.
Sebelum menjabat ketua Golkar?
Saya sekretaris Golkar. Sebelum sekretaris, saya wakil sekretaris Golkar.
Pada usia berapa memasuki politik?
Sejak kuliah saya sudah bersentuhan dengan dunia politik. Dimulai dari
tukang nulis pidato. Tukang nulis pidato ketua partai Golkar Purwakarta,
almarhum Babisni waktu itu. Tahun 1993 itu, saya sudah menjadi penulis
pidatonya ketua partai. Ketika reformasi, banyak orang-orang muda yang
loncat meninggalkan Golkar karena dianggap partai orde baru, saya malah
asyik dengan Golkar. Kenapa? Karena ada sebuah barang yang ditinggalkan
oleh banyak orang, potensi saya jadi pemimpin itu menjadi besar, karena
saingannya menjadi sedikit. Dan hal itu memang terjadi. Dan bagi saya,
berkah juga reformasi ini, karena tanpa reformasi ini, tidak mungkin
saya jadi ketua partai. Waktu itu kan tidak mungkin. Sangat sulit saya
menjadi anggota DPRD. Apalagi jadi bupati. Tapi dengan reformasi ini,
dimungkinkan setiap orang untuk memimpin.
Jadi saya mengalami itu. Ketika reformasi, saya menjadi pengurus partai,
menjadi sekretaris, saya menjadi anggota DPR, dan saya tidak
merencanakan menjadi wakil bupati waktu itu. Ya, itu sudah menjadi
ketentuan Allah, karena segala sesuatunya sangat mendadak. Saya diminta
oleh teman-teman waktu itu untuk maju. Dimintanya untuk menjadi bupati
tapi saya menolak, karena saya melihat kapasitas diri saya. Kemudian,
saya konsisten untuk mendukung Pak Lily waktu itu menjadi bupati, dan
saya menjadi wakil.
Dan kemudian ketika menjadi wakil bupati, saya tahu wakil bupati itu
sedikit pekerjaannya. Saya tidak pernah mengeluh dengan sedikit
pekerjaan atau tidak ada pekerjaan. Saya justru senang punya kesempatan
untuk berkeliling. Dalam setiap saat bertemu dengan masyarakat,
berkomunikasi, berdialog, memahami mereka, kemudian melihat alur
birokrasi. Saya belajar betul selama lima tahun, dan kemudian saya ikut
pilkada dengan keyakinan sejak awal bahwa saya akan menang, karena saya
lebih mengenal rakyat dibanding dengan yang lain. Saya lebih mengenal
Purwakarta. Samapi jalan kecilnya saya tahu. Jalan bagusnya, jalan
jeleknya saya tahu di sebelah mana. Dengan keyakinan itulah saya maju
dan alhamdulillah, saya terpilih. Dan ketika saya terpilih, saya sudah
tidak bingung lagi program apa yang akan mau saya kembangkan. Karena
selama lima tahun sudah tahu apa yang harus dilakukan. Itu yang dimiliki.
Tadi ada program berbasis desa. Membangun bangsa dari kampung.
Seperti apa bangsa ini maunya dalam pikiran Anda?
Dalam pikiran saya, bangsa Indonesia itu dalam kebhinekatunggalikaan,
dalam keragaman, dalam perberdaan. Kampung-kampung harus tumbuh menjadi
kekuatan kampung. Punya integritas kebudayaan, punya integritas ekonomi,
punya integritas politik, punya integritas pertahanan. Ini yang saya
inginkan.
Anda juga mungkin pasti menerawang daerah Tapanuli sana, Danau Toba,
Medan sana. Saya juga ingin menerawang tentang Purwakarta, tentang Jawa
Barat dalam karakter kesundaannya. Nah, kalau setiap orang
mempertahankan lingkup kampungnya maka Indonesia akan kuat. Kampung kita
tidak lagi tercabik-cabik. Dan kalau saya, ingin melihat keanekaragaman
itu, perbedaan itu, orang toleran satu sama lain, saling menghormati dan
saling menghargai. Kultur itulah yang ada dalam diri saya.
Jadi, kebhinekatunggalikaan itu adalah bagian dari sunatullah yag tidak
bisa terbantahkan. Memang kita diciptakan berbeda. Karena kita
diciptakan berbeda, maka kita harus menghormati perbedaan itu. Yang
membedakan di antara kita itu hanya satu, logat bahasa, warna kulit,
jenis makanan, tapi esensinya sama. Esensinya sama, secara roh,
kemanusiaan itu sama. Yang membedakan hanya itu saja. Nah, ini yang saya
inginkan dan saya membayangkan tentang Indonesia.
Seorang pemimpin, keberhasilannya sangat banyak dipengaruhi dari
rumah. Dari titik berangkatnya dari rumah. Kondisi rumah, keluarga,
terutaama isteri. Bagaimana kondisi rumah mndukung kegiatan Anda?
Alhamdulillah, saya punya istri walaupun masih relatif muda usianya,
sangat memahami tentang pekerjaan yang saya miliki. Tidak pencemburu.
Kemudian dia tegar ketika menghadapi berbagai tekanan politik yang
begitu kuat. Kemudian memahami juga bahwa pemimpin hari ini harus dekat
dengan rakyat. Secara ekonomi, kita tidak boleh lagi sayang terhadap
harta benda yang kita miliki. Penghasilan yang kita miliki bukan hanya
penghasilan kita, sudah penghasilan banyak orang. Suatu saat harus kita
bagi. Jadi sudah terbiasa menerima tamu puluhan orang ke rumah.
Anak-anak saya tumbuh menjadi anak-anak yang memahami betul pekerjaan
bapaknya. Menjadi seorang politisi, diangkat pemimpin pada daerahnnya.
Dan anak-anak saya juga menjadi pemimpin di lingkungannya segala. Saya
malah tinggal di kampung. Waktu itu, tinggal di rumah dinas, dan hari
ini memilih tinggal di desa. Kenapa? Di rumah dinas, anak saya tumbuh
menjadi eksklusif. Dia tidak punya teman, hanya berdua. Saya khawatir
kalau dewasa punya kelainan. Sehingga saya bawa lagi ke desa. Anak-anak
saya suruh bergaul dengan anak-anak desa. Mancing di pinggir kali,
kemudian kemarin itu kan ada pemilihan kepala desa, ada ngubiak balong,
anak saya ikut ngubiak balong. Kakinya bengkak-bengkak, saya biarkan.
Mereka harus tumbuh menjadi anak yang hebat dalam linkungannya.
Isteri Anda kelihatan seorang ibu yang cantik. Bagaimana Anda
mendapatkannya?
Mojang ini. (Sambil menunjuk ke arah Kabag Humasnya Ibu Nina Meinawati).
Ya, cantik. Pemimpin itu kan harus punya selera. Saya melihat, presiden
itu rata-rata istrinya cantik-cantik. Tidak ada salahnya, saya pun kalau
bupati, istrinya cantik. Begitu kan.
Mendapatkannya, ya biasa saja. Memperlihatkan sikap keegoannya,
memperlihatkan sikap biasalah. Kalau ingin dapatkan perempuan cantik,
kita kan harus kelihatan seperti pandai.
Di mana ketemunya pertama kali?
Di Purwakarta, di rumah dinas bupati. Yang menjodohkan malah dia. Jadi,
kalau mendapatkan perempuan cantik kan kita harus percaya diri dan
sedikit kita sering berbohong, gitu. Akhirnya dapat. Kalau sudah dapat
kemudian isteri kita, tahu kita aslinya kan. Ia menyesal, gimana, sudah
jadi isteri, akhirnya diterima apa adanya kan.
Melihat penampilannya, cukup banyak kali kontribusinya untuk
mendorong kepemimpinan Anda?
Ya, cukup banyak. Kalau saya tidak punya isteri yang sabar, yang bisa
menerima keadaan, yah sudah berantakan. Tapi karena isteri saya selalu
menerima, bahkan dari segi sistem, sangat menghormati saya sebagai
pemimpin di keluarga. Dan tahu watak keras saya kalau sudah bersikap.
Isteri saya itu kan sudah dibiasakan oleh saya untuk tidak diantar pakai
mobil. Sekali-kali naik angkot pergi ke pasar, tidak boleh perintah staf.
Istri saya tidak boleh perintah staf saya. Tidak boleh mencampuri urusan
saya sebagai kepala daerah. Tidak bisa isteri saya nitip orang untuk
jabatan tertentu. Istri saya nggak bisa. Dia tetap lebih banyak berperan
sebagai ibu rumah tangga. Ibunya anak-anak. Saya lebih bangga isteri
saya menjadi ibunya anak-anak. Dan lebih baik isteri saya melahirkan
anak-anak yang kuat dan soleh.
Dan itu bisa dilakukan karena ibunya memang hebat?
Dan saya termasuk lelaki yang sangat konvensional. Jadi sikap saya
sangat primitif sebagai suami. Bukan laki-laki modern seperti kebanyakan
orang.
Terimakasih. Anda sangat memberikan wawasan yang baik. Bisa dibagi ke
kepala daerah yang lain?
Sama-saama, terimakasih. ►mti/crs-benhard sihite
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|