| |
C © updated 22122008-20072006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/bs |
|
| |
BIODATA:
Nama:
Dedi Mulyadi, SH
Lahir:
Subang, 12 April 1971
Agama:
Islam
Istri:
Anne Ratna Mustika
Anak:
- Maulana Akbar Yudistira
- Ahmad Habibi
Jabatan:
- Bupati Purwakarta Periode 2008 – 2013
Pendidikan:
SD Subakti Subang (1984)
- SMP Kalijati, Subang (1987)
- SMA Negeri Purwadadi, Subang (1990)
- Sarjana hukum dari Sekolah Tinggi Hukum Purnawarman, Purwakarta (1999)
Karier:
- Anggota DPRD Purwakarta, 2001-2003
- Wakil Bupati Purwakarta Periode 2003 – 2008
- Bupati Purwakarta Periode 2008 – 2013
Organisasi:
- Ketua Umum HMI Cabang Purwakarta (1994)
- Senat Mahasiswa STH Purnawarman Purwakarta (1994)
- Wakil Ketua DPC FSPSI (1997)
- Sekretaris PP SPTSK KSPSI (1998)
- Wakil Ketua GM FKPPI Tahun (2002)
- Ketua PC Pemuda Muslimin Indonesia (2002)
- Sekretaris KAHMI Purwakarta (2002)
- Wakil Sekretaris dan Sekretaris DPD Golkar Purwakarta (1999-2004)
- Ketua Partai Golkar (2004-2007)
Alamat Kantor:
Jl. Gandanegara No. 25 Purwakarta 41112, Telp. 0264-200435, Fax.
0264-200064
E-Mail:
bupati@purwakarta.go.id
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI - VISI |
|
|
 |
BIOGRAFI & VISI:
01
02
03
04 =
Dedi Mulyadi, SH (01)
Muda, Berkarakter dan Visioner Dedi
Mulyadi, SH seorang pemimpin muda usia berkarakter, cerdas, visioner dan
teguh pada komitmen.
Dia masih tergolong muda (37 tahun) untuk sebuah jabatan yang
cukup tinggi, Bupati Kabupaten Purwakarta (2008-2013). Bupati termuda,
kelahiran Subang 12 April 1971, ini punya visi membangun
Purwakarta menuju digjaya berbasis kearifan lokal.
Sebelumnya, ia menjabat Wakil Bupati Purwakarta, dilantik pada tanggal
13 Maret 2003 mendampingi Drs. Lily Hambali Hasan, M.Si. Dia tercatat
sebagai wakil bupati termuda (32 tahun). Ketua DPD Partai Golkar dan
mantan anggota DPRD Purwakarta ini punya prinsip, “berpikir cerdas dan bekerja keras.”
Selama lima tahun menjabat Wakil Bupati, ia banyak mengunjungi
berbagai pelosok Purwakarta serta mendalami tata kelola pemerintahan
daerahnya. Pengalaman selama lima tahun itu telah menginspirasinya
menetapkan visi pembangunan Purwakarta Berkarakter. (Baca:
Wawancara Dedi Mulyadi)
Visi Purwakarta Berkarakter itu dijabarkannya dalam misi: (1)
Mengembangkan pembangunan berbasis religi dan kearifan lokal, yang
berorientasi pada keunggulan pendidikan, kesehatan, pertanian, industri,
perdagangan dan jasa; (2) Mengembangkan infrastruktur wilayah yang
berbasis nilai-nilai kearifan lokal dan berorientasi pada semangat
perubahan kompetisi global; (3) Meningkatkan keutuhan lingkungan baik
hulu maupun hilir, fisik maupun sosial; dan (4) Mengembangkan struktur
pemerintahan yang efektif, yang berorientasi kepada kepuasan pelayanan
publik, mengembangkan potensi kewirausahaan birokrasi yang berorientasi
kemakmuran rakyat. (Baca: Visi: Berbasis Kearifan Lokal
dan Sembilan Langkah Menuju Digjaya Purwakarta).
Pemimpin Sejak Belia
Dedi memang sudah dilahirkan menjadi pemimpin yang pejuang, berpikir
cerdas, gigih dan
pekerja keras.
Ayahnya, seorang prajurit TNI, meninggal pada usia muda (28 tahun),
sehingga ibunya Karsiti harus berjuang keras untuk menyekolahkannya.
Masa kecilnya sudah harus dijalani dengan perjuangan hidup, bekerja
keras sebagaimana layaknya anak-anak yang hidup di kampung. Mengembala
domba dan membantu ibunya menjadi buruh tani di sawah dan
ladang para tetangga.
Banyak kenangan yang bernuansa kejuangan pada masa kecilnya. Salah
satu yang tak pernah dilupakannya, saat ibunya harus menjual cincin
kenangan sunatan Dedi untuk membeli seekor domba untuk diternak. Dedi
kecil pun bekerja keras membantu ibunya menernak domba itu hingga
berkembang menjadi lebih 40 ekor.
Dedi menempuh sekolah
dasar dan SMP swasta di Subang. Sewaktu duduk di bangku SMP, Dedi harus mengayuh
sepeda sejauh 10 kilometer. Kemudian, dia melanjut ke SMA Negeri I
Purwadadi, Subang, tamat tahun 1990. Saat menempuh pendidikan di SMA itu
dia menyambi jadi tukang ojek sepeda motor dan tukang foto keliling.Saat
itu, dia juga sudah dikenal sebagai pelajar yang pintar pidato, ceramah
dan bermain drama, sehingga dia dijuluki si unil dan si lembe.
Setelah menamatkan SMA, ia melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi
Hukum (STH) Purnawarman, Purwakarta, meraih gelar sarjana hukum tahun 1999. Jadi pada
puncak reformasi, dia baru saja menamatkan kuliah.
Sejak hijrah dan kuliah di Purwakarta, dia sudah giat dalam berbagai
organisasi. Aktivis muda ini sudah sangat dikenal dan diperhitungkan
berbagai kalangan, baik mahasiswa maupun birokrat dan politikus. Sejak
kuliah ia sudah bersentuhan dengan dunia politik. Tahun 1993, Dedi sudah
menjadi penulis pidato ketua partai Golkar Purwakarta, almarhum Babisni.
Masalah kepemimpinan sudah digumulinya sejak anak belia. Dedi
terbilang amat gemar bergaul dengan berbagai kalangan masyarakat.
Berbicara bahkan berpidato di depan orang-orang tua, sudah dilakoninya
sejak kelas 6 SD. Dedi, sang pemimpin belia, telah menjadi ketua kelas
sejak kelas satu SD.
Bahkan di kalangan anak-anak penggembala kambing, ia menjadi ketua
penggembala kambing di kampungnya. Jadi sejak kecil, Dedi sudah terbiasa
bagaimana cara mengelola sebuah komunitas dan bagaimana cara
berkomunikasi yang baik. Memimpin dan berbicara di hadapan banyak orang
tua dan terpelajar bukan hal yang baru baginya.
"Kadang-kadang saya
terlalu ke-pede-an. Mungkin karena usia muda, saya merasa apa yang saya
sampaikan ini begitu dipahami oleh banyak orang. Padahal orang mungkin
tidak paham dan mungkin orang tidak suka dengan apa yang saya sampaikan,"
katanya kepada Wartawan Tokoh Indonesia.
Hal itu dikemukakannya tatkala ditanya masalah kepemimpinan. Sebagai
seorang muda yang memimpin sebuah kabupaten yang terdiri dari beragam
masyarakat mulai dari yang muda sampai yang tua. Tentu banyak yang
merasa lebih punya kepemimpinan dari dirinya. Bagaimana caranya untuk
tampil dan didengar?
Tatkala masih kanak-kanak, ia sudah didengar, apalagi setelah menjadi
bupati! "Nah, saya sekarang itu justru terbalik, saya belajar untuk
tidak pede. Karena, sejak kecil saya selalu pede, gitu lho. Nah, saya
takut over dosis kepercayaan diri saya. Nah, itu tidak baik. Over
confident itu kan tidak baik. Nah, saya sekarang mulai belajar untuk
tidak percaya diri," katanya.
Dedi mengaku, sebagai pemimpin akan selalu menghadapi tantangan. "Ya,
tantangan pasti banyak. Setiap pekerjaan pasti ada tantangan.
Kepemimpinan saya sangat banyak tantangan. Mungkin di antara bupati di
Indonesia ini, saya yang paling sering didemo. Bahkan, ada langganan.
Setiap jumat, saya didemo. Didemo, karena ada kerangka pemahaman
yang saya sampaikan yang menimbulkan kontroversi. Nah, saya justru
belajar dari itu," katanya.
Beberapa umat Islam, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) Purwakarta
mengecam pernyataannya yang disampaikan
pada acara Pengajian Bale Paseban, di Pendopo Purwakarta, Jawa Tengah,
pada 7 Agustus 2008, mengenai ayat-ayat kitab suci Al
Quran dan alat musik suling. Ia dinilai menyejajarkan kitab suci Al
Quran dan alat musik suling.
Menanggapi kecaman ini, Dedi menunjukkan kebersahajaan
kepemimpinannya. Dengan jiwa besar, dia mengaku pernyataan yang disampaikan dalam acara Pengajian Bale
Paseban tersebut merupakan bagian dari kekhilafan dari lemahnya
pemahaman agama yang dimiliki.
"Saya meminta maaf kepada umat Islam di Purwakarta. Itu memang
kekhilafan saya. Saya tidak bermaksud menyejajarkan eksistensi Alquran
dengan alat musik suling. Itu hanya perbedaan interpretasi dan pemahaman
saja. Saya tidak mau berargumen lebih jauh, dan saya tak ingin berdebat,"
katanya seperti dikutip KB Antara dan berbagai media.
Untuk itu, dalam perspekif ke depan, kepada Tokoh Indonesia, dia
mengatakan merasa perlu harus merubah style.
"Belajar untuk tidak percaya diri dengan apa yang
diucapkan. Sehingga proses mengkaji setiap ucapan-ucapan itu lebih
didahulukan dibandingkan dengan berucap. Karena memang kebiasan saya itu
spontan. Pikiran dan ucapan itu hampir bareng," katanya.
Dedi, memang sosok yang terbuka dan giat di berbagai organisasi sejak muda. Tahun
1994, dia menjabat Ketua Umum HMI Cabang Purwakarta. Kemudian anggota
Senat Mahasiswa STH Purnawarman, Purwakarta, pada periode yang sama. Dia
pernah menjabat Wakil Ketua DPC Federasi Serikat Pekerja Seluruh
Indonesia (FSPSI), tahun 1997, Sekretaris PP SPTSK-KSPSI, tahun 1998,
Wakil Ketua GM-FKKPI, Ketua Pimpinan Cabang Pemuda Muslim Indonesia,
dan Sekretaris KAHMI Purwakarta (semua tahun 2002)
Karir politiknya makin mengorbit pada era reformasi. Tahun 1999 dia
terpilih duduk di kursi DPRD Purwakarta dari Partai Golkar dan daerah
pemilihan Kecamatan Tegalwaru. Selama lima tahun, ia selalu terpilih menjadi Ketua Komisi E.
Dia pun menjabat Wakil Sekretaris Partai Golkar, kemudian menjadi
Sekretaris. Sampai akhirnya didaulat secara aklmasi menjadi Ketua DPD Partai
Golkar, tahun 2004 sampai sekarang.
Perihal bagaimana jalan ceritanya sampai ia bisa menjadi Ketua DPD
partai Golkar (partai besar) dan wakil bupati dalam usia 32 tahun,
kemudian jadi bupati dalam usia 37 tahun. Dedi mangakuinya sebagai
ketentuan Allah. Dia sendiri merasa semuai itu sebagai faktor perjalanan
dan bekerja saja.
Semuanya alamiah. Dia selalu meyakini, apa yang dilakukan, apa yang
didapat, dan apa yang diperbuat semuanya tidak lepas dari Allah
SWT, yang menentukan segala sesuatu. "Jadi, banyak hidup ini yang tidak
terencana dan tidak direncanakan. Satu prinsip saja dalam hidup ini,
kerja keras. Ketika orang sudah kerja keras, tidak usah merencanakan
sesuatu, karena Allah akan memberikan sesuatu. Ini yang ada dalam diri
saya," katanya.
Dia berkisah bahwa ketika reformasi, banyak orang-orang muda yang loncat
meninggalkan Golkar karena dianggap partai orde baru. "Saya malah asyik
dengan Golkar. Kenapa? Karena ada sebuah barang yang ditinggalkan oleh
banyak orang. Potensi saya jadi pemimpin itu menjadi besar, karena
saingannya menjadi sedikit. Dan hal itu memang terjadi," katanya jujur.
Bagi dia, reformasi itu sebagai berkah. "Karena tanpa reformasi ini,
tidak mungkin saya jadi ketua partai. Waktu itu kan tidak mungkin.
Sangat sulit saya menjadi anggota DPRD. Apalagi jadi bupati. Tapi dengan
reformasi ini, dimungkinkan setiap orang untuk memimpin," ungkapnya.
Memang, reformasi telah memungkinkan mutiara-mutiara kepemimpinan muncul
ke permukaan, tidak lagi mudah terbenam. Dedi mengalami itu. Ketika
reformasi, dia menjadi pengurus partai, menjadi sekretaris, menjadi
anggota DPR dan wakil bupati sebelum menjadi bupati.
Menjadi wakil bupati apalagi menjadi bupati, semula tak pernah
direncanakannya. "Ya, itu sudah menjadi ketentuan Allah, karena segala
sesuatunya sangat mendadak. Saya diminta oleh teman-teman waktu itu
untuk maju. Dimintanya untuk menjadi bupati tapi saya menolak, karena
saya melihat kapasitas diri saya. Kemudian, saya konsisten untuk
mendukung Pak Lily waktu itu menjadi bupati, dan saya menjadi wakil,"
ungkapnya.
Semula Dedi menjadi tim sukses calon bupati Drs. H. Dedi Mulyadi,
Msi. Tetapi dinamika politik yang berkembang memberi peluang kepada Dedi
maju sebagai calon wakil bupati untuk mendampingi calon calon bupati
Lily Hambali,
tahun 2003. Ternyata pasangan tersebut memenangkan pemilihan dengan
meraih 25 suara.
Selaku pembantu bupati, Dedi melihat Purwakarta telah
berkembang pesat dan masyarakatnya berkembang dinamis dalam tingkat
heteroginitas tinggi. Namun dia melihat sisi lain dari perkembangan tersebut, pemerintah
daerah harus mampu mengubah pola hidup masyarakat yang instan menjadi
alami. Pendekatan kultur budaya harus dicanangkan sebagai roh
pembangunan untuk mendongkrak perekonomian pedesaan.
Ketika menjadi wakil bupati, ia tahu wakil bupati itu sedikit
pekerjaannya. "Saya tidak pernah mengeluh dengan sedikit pekerjaan atau
tidak ada pekerjaan. Saya justru senang punya kesempatan untuk
berkeliling," ujarnya.
Dalam setiap saat bertemu dengan masyarakat, berkomunikasi, berdialog,
Dedi berupaya memahami mereka. Dia pun melihat dan mendalami alur
birokrasi. "Saya belajar betul selama lima tahun," katanya.
Dedi pun kemudian ikut pilkada berpasangan dengan Drs Dudung B Supardi, MM,
mantan Sekretaris Kabupaten Purwakarta, dengan keyakinan sejak awal
bahwa ia akan menang, karena ia berkeyakinan lebih mengenal rakyat
dibanding dengan yang lain. "Saya lebih mengenal Purwakarta. Sampai
jalan kecilnya saya tahu. Jalan bagusnya, jalan jeleknya saya tahu di
sebelah mana. Dengan keyakinan itulah saya maju dan alhamdulillah, saya
terpilih. Dan ketika saya terpilih, saya sudah tidak bingung lagi
program apa yang akan mau saya kembangkan. Karena selama lima tahun
sudah tahu apa yang harus dilakukan," jelasnya.
Suami Anne Ratna Mustika, mantan mojang Prahyangan, dan ayah dari Maulana Akbar Yudistira dan Ahmad Habibi ini, memang dikenal
supel, cerdas, dan merakyat. Ketika menjadi anggota DPRD pun, ia rajin
mengunjungi dan rutin Salat Jumat di Tegal Waru, di tengah konstituennya.
Banyak waktunya
yang dihabiskan dengan rakyat. Bagi dia, figur seorang pemimpin harus merakyat dan jangan ada
pembatas.
Menurut Dedi, politisi itu harus membangun karakter dan bersahaja agar apa yang
diucapkan dan apa yang melekat dalam tubuhnya menjadi simbol jati
dirinya, tanpa bersikap dibuat-buat. Sikap bersahaja dengan sering tampil dengan pakaian
tradisional Sunda,
hitam-hitam dan "lepas iket" di kepala membuat
dirinya semakin dikenal banyak orang. Hal ini sesuai dengan programnya "balik kalembur"
dengan konsep kesundaan.
Dukungan Isteri
Seorang pemimpin, keberhasilannya sangat banyak dipengaruhi dari
rumah. Titik berangkatnya dari rumah. Kondisi rumah, keluarga, terutaama
isteri. Dedi cukup merasa beruntung, berbahagia dan bersyukur karena
didukung isteri yang cantik dan baik.
"Alhamdulillah, saya punya istri walaupun masih relatif muda usianya,
sangat memahami tentang pekerjaan yang saya miliki. Tidak pencemburu.
Kemudian dia tegar ketika menghadapi berbagai tekanan politik yang
begitu kuat," ungkap Dedi Mulyadi meenjelaskan peran isterinya Anne Ratna Mustika, mantan mojang Prahyangan.
Isterinya juga memahami bahwa pemimpin hari ini harus dekat dengan
rakyat. "Secara ekonomi, kita tidak boleh lagi sayang terhadap harta
benda yang kita miliki. Penghasilan yang kita miliki bukan hanya
penghasilan kita, sudah penghasilan banyak orang. Suatu saat harus kita
bagi. Jadi sudah terbiasa menerima tamu puluhan orang ke rumah."
Di bawah asuhan Sang Isteri, anak-anaknya pun tumbuh menjadi anak-anak
yang memahami betul pekerjaan bapaknya. Mereka tahu ayahnya seorang
politisi, pemimpin di daerahnnya. Kedua anaknya, Maulana Akbar Yudistira dan Ahmad Habibi,
juga mengikuti jejak Sang Ayah, menjadi pemimpin di lingkungannya.
Dedi dan isteri mendidik anak-anaknya bersahaja. Mereka memilih lebih
sering tinggal di kampung daripada tinggal di rumah dinas. Hal ini
sengaja dilakukan agar anak-anaknya jangan tumbuh menjadi eksklusif. "Di
rumah dinas, anak saya tumbuh menjadi eksklusif. Dia tidak punya teman,
hanya berdua. Saya khawatir kalau dewasa punya kelainan. Sehingga saya
bawa lagi ke desa. Anak-anak saya suruh bergaul dengan anak-anak desa.
Mancing di pinggir kali, kemudian kemarin itu kan ada pemilihan kepala
desa, ada ngubiak balong, anak saya ikut ngubiak balong. Kakinya
bengkak-bengkak, saya biarkan. Mereka harus tumbuh menjadi anak yang
hebat dalam linkungannya," jelas Dedi.
Bagaimana ia bisa mendapatkan isteri yang cantik dan menjadi ibu yang
baik? Ternyata diperkenalkan Nina Meinawati, yang kini menjabat Kabag
Humasnya IPemkab Purwakarta. Pertama kali mereka bertemu di rumah dinas
bupati. "Mendapatkannya, ya biasa saja. Memperlihatkan sikap keegoannya,
memperlihatkan sikap biasalah. Kalau ingin dapatkan perempuan cantik,
kita kan harus kelihatan seperti pandai," kenangnya seraya
tersenyum-senyum.
Dedi mengaku isterinya memang sangat cantik. "Pemimpin itu kan harus
punya selera. Saya melihat, presiden itu rata-rata istrinya
cantik-cantik. Tidak ada salahnya, saya pun kalau bupati, istrinya
cantik. Begitu kan," katanya.
"Jadi, kalau mendapatkan perempuan cantik kan kita harus percaya diri
dan sedikit kita sering berbohong, gitu. Akhirnya dapat. Kalau sudah
dapat kemudian isteri kita, tahu kita aslinya kan. Ia menyesal, gimana,
sudah jadi isteri, akhirnya diterima apa adanya kan," ujarnya setengah
bercanda.
Dedi mengaku cukup banyak kontribusi isterinya untuk mendorong
kepemimpinannya. "Kalau saya tidak punya isteri yang sabar, yang bisa
menerima keadaan, yah sudah berantakan. Tapi karena isteri saya selalu
menerima, bahkan dari segi sistem, sangat menghormati saya sebagai
pemimpin di keluarga. Dan tahu watak keras saya kalau sudah bersikap,"
aku Dedi.
Menurut Dedi, isterinya sudah dibiasakan untuk tidak diantar pakai
mobil. Sekali-kali naik angkot pergi ke pasar, tidak boleh perintah staf.
"Istri saya tidak boleh perintah staf saya. Tidak boleh mencampuri
urusan saya sebagai kepala daerah. Tidak bisa isteri saya nitip orang
untuk jabatan tertentu," katanya. Ia mengaku termasuk lelaki yang sangat
konvensional, punya sikap sangat primitif sebagai suami. Bukan laki-laki
modern seperti kebanyakan orang.
Tapi, akunya, semuanya itu memang didasari sikap isterinya yang juga
lebih memilih peran sebagai ibu rumah tangga. Ibunya anak-anak. Seorang
ibu yang baik, yang melahirkan dan mengasuh anak-anak yang kuat dan
soleh. ►mti/ch. robin simanullang
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|