| |
C © updated 29102004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/kompas |
|
| |
Nama:
dr David Handojo Muljono SpPD PhD
Lahir:
1954
Profesi:
Dokter dan Peneliti
Pendidikan:
- S1 Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga
- Doktor dari Jichi Medical School, Tokyo
Pengalaman:
- Dokter inpres di Kecamatan Wera, Bima (1981-1983)
- Dokter Dinas Kesehatan Mataram, Lombok (1983-1988)
- Peneliti Pusat Hepatitis Bumigora NTB (1988)
- Peneliti tamu di Universitas Sydney (1989)
- Peneliti Senior Lembaga Biologi Molekuler Eijkman sejak 1995
Alamat:
- Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jl. Diponegoro no. 69, Jakarta
10430
Telp : 62-21-3917131/62-21-3148695
Fax : 62-21-3147982
|
|
| |
|
|
|
|
David Handojo Muljono
Tekuni Penelitian Hati
Peneliti senior dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, ini terdorong
menekuni penelitian hati agar Indonesia mandiri dan tak tergantung pada
negara lain dalam hal vaksin dan alat diagnostik untuk hepatitis B.
Menurutnya, Indonesia sebagai wilayah endemis hepatitis B, merupakan pasar
potensial bagi vaksin dan alat diagnostik untuk hepatitis B.
Menurut lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, ini eragaman
etnik di Indonesia sebagai akibat persimpangan migrasi bangsa-bangsa sejak
berabad-abad lalu menyebabkan keragaman genetik, termasuk virus hepatitis
B. Nyaris semua subtipe virus hepatitis B ada di Indonesia.
Sebagai wilayah endemis, Indonesia merupakan pasar potensial bagi vaksin
dan alat diagnostik untuk hepatitis B. Karena itu, Indonesia perlu mandiri
dan tak tergantung pada negara lain.
Semasa menjadi dokter inpres di Kecamatan Wera, Bima (1981-1983), maupun
di Dinas Kesehatan Mataram, Lombok (1983-1988), David sering melihat
penderitaan pasien gagal hati yang memerlukan banyak transfusi darah dan
menjadi beban keluarga.
"Hobi" meneliti mendorongnya bergabung pada Pusat Hepatitis Bumigora NTB
pimpinan Prof Soewignjo. Hal itu dilakukan seusai jam kerjanya di Dinas
Kesehatan. Apalagi saat itu Lombok menjadi tempat proyek percontohan
imunisasi hepatitis B dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
David sempat menjadi peneliti tamu di Universitas Sydney sambil mengikuti
pelatihan tentang teknologi produksi antibodi monoklonal selama enam bulan
di tahun 1989. Ia menyelesaikan spesialisasi penyakit dalam di
almamaternya tahun 1993. Kemudian bergabung pada Lembaga Biologi Molekuler
Eijkman sejak 1995.
Disertasinya saat mengikuti program doktor di Jichi Medical School, Tokyo,
membawanya mendapatkan Ronpaku Award dari Japan Society for the Promotion
of Science sebagai penghargaan atas filosofi dalam strategi mencari
penyebab baru dari suatu penyakit. Dalam program doktor yang selesai tahun
2000, David meneliti epidemiologi molekuler virus hepatitis non A-E serta
menemukan dua genotipe baru virus TT penyebab hepatitis non-A non-B.
WHO menggolongkan Indonesia sebagai daerah endemik sedang sampai tinggi,
dengan prevalensi HbsAg positif 3-17 persen. Jika penduduk Indonesia 230
juta, artinya ada 6,9 juta hingga 39,1 juta pengidap hepatitis B, baik
yang menunjukkan gejala maupun sebagai pembawa virus, di Indonesia. Hal
ini yang melatarbelakangi concern David terhadap hepatitis B.
Di Indonesia, demikian David, terdapat empat subtipe virus hepatitis B.
Yaitu subtipe adw yang dominan di Indonesia bagian barat, terutama
Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, dan sebagian Kalimantan; ayw banyak
ditemukan di NTT; adr dominan di Papua; sedangkan ayr di Kutai,
Kalimantan, serta Bayan, Lombok.
Infeksi umumnya terjadi di masa kanak-kanak. Sering kali infeksi tidak
menunjukkan gejala, namun virus tetap berada di tubuh sehingga orang
bersangkutan menjadi pembawa virus hepatitis dan terancam mendapatkan
hepatitis kronis, sirosis (pengerasan) hati, bahkan kanker hati.
Pencegahan hepatitis B dilakukan lewat imunisasi dengan vaksin hepatitis
B. Vaksin terbuat dari antigen selubung virus hepatitis B (HbsAg).
Berpijak pada hasil penelitian para seniornya, Prof Mulyanto, dan kolega
mengenai distribusi subtipe HbsAg di Indonesia, David memetakan keragaman
virus hepatitis B di Indonesia di tingkat DNA.
Kini ia mempelajari mutasi pada gen S, yaitu gen yang menyandi selubung
virus hepatitis B. Gen ini penting bagi kesehatan masyarakat karena
menjadi dasar pembuatan alat diagnostik dan vaksin. Berdasarkan penelitian
itu bisa dibuat alat diagnostik dan desain vaksin yang sesuai dengan virus
yang beredar di Indonesia.
Saat ini vaksin yang digunakan untuk imunisasi massal hanya berdasarkan
pada salah satu subtipe yang tidak dominan di sebagian besar wilayah
Indonesia. Konsekuensinya, antibodi yang ditimbulkan hanya terbatas pada
subtipe terkait, tapi tidak subtipe lain.
Menurut David, vaksin efektif untuk mencegah transmisi virus hepatitis B
jika antibodi yang ditimbulkan sesuai dengan subtipe/genotipe virus yang
beredar di wilayah bersangkutan. Jika tidak justru berisiko menimbulkan
escape mutant, yaitu virus mutan maupun virus yang sebenarnya beredar
lolos dari gempuran antibodi karena tak dikenali.
Hal serupa juga terjadi pada diagnostik hepatitis B. Virus tak terdeteksi
jika alat diagnostik dibuat berdasarkan subtipe virus hepatitis B yang
berbeda dengan virus yang beredar. Hal ini bisa menyebabkan virus
hepatitis B lolos pada penapisan darah transfusi sehingga menyebar di
masyarakat.
Paparan hasil penelitian David sempat direspon positif oleh pejabat
Departemen Kesehatan tiga tahun lalu dan menyatakan akan mengkaji kembali
vaksin yang digunakan di Indonesia. Hal itu sempat membuat sejumlah pihak
merasa gerah.
Sayangnya respons positif tidak berlanjut, Depkes menyatakan tetap
menggunakan vaksin yang ada karena belum ada anjuran WHO untuk menggunakan
galur virus lokal dalam vaksinasi hepatitis B.
Namun, David tetap prihatin karena ada potensi ancaman terhadap
keberhasilan program vaksinasi serta penyebaran virus hepatitis B yang
lolos deteksi. Sebagai peneliti ia terus mengomunikasikan kemajuan
penelitiannya di pelbagai forum ilmiah nasional dan internasional untuk
meningkatkan awareness tentang keberagaman subtipe virus, mutasi virus,
dan pentingnya penggabungan karakteristik gen galur virus lokal pada
formula vaksin baku untuk meningkatkan keberhasilan imunisasi.
Lelaki yang santun dan pemalu ini menolak menyebutkan nama kedua anak
lelakinya, hasil pernikahannya dengan drg Ratna Setianingsih, spesialis
orthodonsi. Tentang ayahnya hanya ia sebut pernah menjadi hakim dan
berperhatian besar pada dunia pendidikan, serta menjadi anggota Dewan
Penyantun sebuah perguruan tinggi swasta di Jawa Tengah.
Selain berkutat di laboratorium, David juga membimbing para mahasiswa S2
dan S3 di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Obsesinya, Indonesia bisa memproduksi alat diagnostik dan vaksin sendiri
berdasarkan subtipe yang ada sehingga Indonesia tidak semata-mata
menggunakan produk impor.
"Teknologinya ada, namun penerapannya perlu mendapat dukungan pelbagai
pihak. Dukungan politik dari pemerintah, pendanaan, fasilitas, serta
penerimaan kalangan profesi kesehatan serta masyarakat," kata David. ►e-ti/Atika
Walujani M - Kompas 29 Oktober 2004
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|