| |
C ゥ updated
19012003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti-polri |
|
| |
Nama:
Da段 Bachtiar
Lahir:
Indramayu, Jabar, 25 April 1951
Agama:
Islam
Pangkat:
Jenderal Polisi Jabatan:
Kepala Kepolisian Republik Indonesia
Jabatan Sebelumnya:
Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Koordinasi Narkotika Nasional
Pendidikan:
Akpol (1972)
Pendidikan CID (investigasi) di Jerman (1982)
Sespim (1987)
Sesko ABRI (1996)
Pengalaman:
Kapolres Blora (1987)
Kapolres Boyolali (1989)
Kapolres Klaten (1990)
Sesdit Serse Polda Jatim (1992)
Kapoltabes Ujungpandang (kini Makassar) (1993)
Kadispen Polri (1998)
Dankorserse Mabes Polri (1998-2000)
Kapolda Jatim (2000)
Gubernur Akpol (2001)
Kalakhar BKNN (2001)
|
|
| |
|
|
|
|
Jenderal Pol Da段 Bachtiar
Memikul Pencitraan Kepolisian
Prestasi Kepolisian Negara Republik Indonesia boleh dikatakan sudah
cukup membanggakan setelah mampu mengungkapkan kasus ledakan bom di
Bali, 12 Oktober 2002, dan di Hotel JW Marriott, Jakarta, 5 Agustus 2003
lalu. Meskipun demikian, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia
Jenderal (Pol) Da段 Bachtiar masih mengemban tugas berat untuk lebih
meningkatkan citra kepolisian.
Alumni Akademi Kepolisian (Akpol) 1972, ini dinilai sangat
menguasai lapangan tugasnya. Ia tiga kali menjabat Kapolres yakni
Kapolres Blora (1987), Kapolres Boyolali (1989) dan Kapolres Klaten
(1990). Kemudian menjadi Sesdit Serse Polda Jatim (1992) dan Kapoltabes
Ujungpandang (1993). Sukses di Makassar, dan setelah ia
mengikuti
Sesko ABRI (1996), ia dipercayakan menjabat Kadispen Polri (1998).
Sejak itu, karirnya terus menanjak. Tak sampai satu tahun menjabat
Kadispen Polri ia diangkat menjabat Dankorserse Mabes Polri (1998-2000).
Lalu tahun 2000 ia pun diangkat menjabat Kapolda Jawa Timur. Setahun
kemudian dipercayakan menjabat Gubernur Akpol (2001) dan Kalakhar BKNN
(2001). Hingga akhirnya mencapai puncak sebagai Kapolri.
Sebelum menjabat sebagai Kapolri, Da段 yang dipilih oleh Presiden
Megawati sebagai calon tunggal ini harus melewati ujian dari kalangan
DPR. Pada waktu itu, di kalangan DPR tumbuh berbagai macam pendapat.
Salah satunya adalah Da段 dianggap turut bertanggung jawab dalam kasus
bentrokan berdarah di Bondowoso Jawa Timur, November 2000, yang menelan
sejumlah korban tewas.
Ketika itu Da'i menjabat Kapolda JawaTimur. Bahkan Fraksi Kebangkitan
Bangsa dan beberapa aktivis yang menamakan diri Pro Demokrasi, menolak Da'i Bachtiar karena
mereka anggap
pernah melakukan kebohongan public di era Soeharto dan prestasinya
dianggap tidak terlalu menonjol baik ketika menjabat Kapolda Jatim dan
juga Kepala Badan Koordinasi Penanggulangan Narkoba Nasional.
Tapi, Da段 menepis semua tudingan dan keraguan itu dengan kinerjanya
setelah menjabat Kapolri. Secara jujur harus diakui bahwa ia menunjukkan
prestasi yang mampu mengangkat harkat dan citra Kepolisian Republik
Indonesia di mata dunia. Keberhasilannya mengungkap kasus ledakan bom di
Bali memperlihatkan bahwa ia seorang Kapolri yang patut diacungi jempol.
Tentu, masih banyak yang harus dilakukannya, terutama dalam situasi dan
kondisi bangsa yang sangat gamang pada era reformasi ini. Kini ia juga
dituntut harus sigap menangani segudang masalah ancaman ketertiban dan
keamanan serta kejahatan narkotika yang belakangan ini semakin meningkat.
Dalam melakukan tugasnya sekarang ini, alumni
Pendidikan CID (investigasi) di Jerman (1982) ini
mengatakan bahwa selain masalah teroris, kepolisian juga harus mengatasi
kejahatan narkotika dan pencurian dengan kekerasan menggunakan senjata
api dan tajam.
Untuk menangkal semakin merajalelanya sindikat narkotika internasional
beroperasi di Indonesia, Polri membentuk Badan Narkotika Nasional (BNN).
BNN mempunyai tugas pokok memberantas peredaran dan penggunaan narkotika
di seluruh Indonesia. Semua Direktorat Narkotika yang ada di lingkup
Polda seluruh Indonesia kini berada di bawah naungan BNN bukan pada
Badan Reserse Kriminal Mabes Polri seperti yang berlaku selama ini.
Dengan demikian, BNN yang selama ini tidak bekerja secara operasional
kini berubah 100 persen. BNN yang diketuainya itu bekerja full untuk
memberantas peredaran narkotika di Indonesia, bukan sekadar memantau
seperti yang selama ini berlangsung.
Menyangkut kejahatan kekerasan dengan menggunakan senjata api, Da段
mengatakan bahwa kepolisian akan mengantisipasi secara ketat penggunaan
senjata api oleh masyarakat sipil. Senjata-senjata api itu diperoleh
secara ilegal dari daerah konflik seperti Ambon, Poso, ataupun Aceh.
Selain dari daerah konflik, senjata api yang ada di masyarakat sipil
juga ditengarai dari penyelundupan. Oleh karena itu, tahun 2003 ini
kegiatan patroli kawasan pantai oleh petugas Polri akan ditingkatkan.
Selain itu, jajaran Polri juga akan meningkatkan razia terhadap
masyarakat, khususnya di daerah konflik.
Polri juga akan memperketat pemberian izin kepada masyarakat yang akan
menggunakan senjata api. Prioritas penanganan yang lain adalah soal
senjata api yang sering diperjualbelikan oleh oknum-oknum militer dan
senjata api hasil rakitan oknum masyarakat.
Belum lama ini, sekitar bulan September 2003 yang lalu, Da段 menghadiri
Konferensi Para Kepala Kepolisian di Kawasan Asia Tenggara atau ASEAN
Chiefs of National Police (Aseanapol) Ke-23 di Manila, Filipina sebagai
ketua delegasi Indonesia. Dalam pertemuan tahunan yang sudah diikuti
Da段 sejak tahun 1998 itu banyak membahas masalah terorisme. Da段
berharap, dari pertemuan para kepala kepolisian di Asia Tenggara ini
dapat dihasilkan kerja sama yang lebih erat untuk memerangi terorisme.
Rencananya pada Oktober 2003 ini ia akan menerima penghargaan Australian
Order dari Pemerintah Australia atas kerja sama yang terjalin selama ini
antara Polri dan Australian Federal Police (AFP). Sebelumnya, Da段 sudah
menerima penghargaan dari Pemerintah Malaysia dan menerima gelar
kehormatan Tan Sri, juga berkat kerja sama antar kepolisian dalam
memerangi terorisme. *** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|