| |
C © updated
20122003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
rpr kompas |
|
| |
Nama:
Cyrillus Harinowo
Lahir:
Yogyakarta, 9 Februari 1953
Agama:
Kristen Katolik
Pendidikan :
Doctor in Monetary and International Economics, diperoleh dari
Vanderbilt University, Nashville, Tennesse, USA, April 1985.
Master of Arts in Economic, Williams College, USA 1981
Sarjana Ekonomi Akuntansi, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta (1977)
SMA Katholik Yogyakarta (1971)
SMP Katholik Yogyakarta (1968)
SD Katholik Yogyakarta (1965)
Pekerjaan:
Komisaris BCA (2003)
Alternate Executive Director di IMF Washington DC (1998-2003)
Pegawai Utama setingkat Direktur di Direktorat Sumber Daya Manusia BI
Sumber:
Dari berbagai sumber antara lain Kompas 10 Juli 2003 dan
Tempointeraktif.com |
|
| |
|
|
|
|
Cyrillus Harinowo
Integritas Seorang Banker
Mantan nominator calon Gubernur Bank Indonesia 2003 ini dikenal memiliki
intregritas dan kredibilitas tinggi dalam dunia perbankan. Berpengalaman
selama puluhan tahun di Bank Sentral (Bank Indonesia) dan IMF sebagai
Alternate Executive Director, membuktikan kehandalannya dalam dunia
perbankan, sekaligus membuat pergaulannya dengan komunitas finansial
internasional sangat luas.
Meninggalkan pekerjaan lamanya sebagai Technical Assistance Advisor,
Monetary and Exchange Affairs Departement di Dana Moneter Internasional (IMF),
Washington DC, AS, kemudian tidak berhasil menjabat Gubernur BI tidak
berarti dunia kiamat bagi karier pria yang sudah puluhan tahun melanglang
buana di dunia perbankan ini. Dengan kemampuan, integritas, kredibilitas
dan pengalamannya yang sangat handal itu, akhirnya menarik hati kelompok
Farindo (Farallon dan Djarum) sebagai pemegang saham mayoritas Bank BCA ‘meminang’-nya
jadi komisaris di bank tersebut.
Walupun gagal menduduki jabatan tertinggi di lembaga keuangan negeri ini
namun berhasil menjadi salah satu dari tiga besar pilihan utama bersama
Miranda S.Goeltom dan Burhanuddin Abdullah, telah menunjukkan integritas
dan kredibilitas tersendiri bagi penulis buku Utang Pemerintah:
Perkembangan, Prospek dan Pengelolaannya ini.
Karena sebelumnya, sejumlah nama yang juga disebut-sebut bakal menjadi
calon Gubernur BI waktu itu, seperti Kwik Kian Gie (Menteri Perencanaan
Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas), Laksamana Soekardi (Menteri Negara
BUMN), Boediono (Menteri Keuangan), ECW Neloe (Presiden Direktur Bank
Mandiri), Jusuf Anwar (mantan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal/Bapepam),
Edwin Gerungan (mantan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional), dan
Aulia Pohan (Deputi Gubernur BI) masih diunggulinya.
Masih mengenai integritas dan krediblitasnya. Dalam masalah BLBI (Bantuan
Likuiditas Bank Indonesia) namanya tidak tersangkut dalam daftar 80 orang
yang menurut Badan Pengawas Keuangan. Menurutnya, saat krisis terjadi dia
memegang tanggung jawab operasi pengendalian moneter. Tugasnya menangani
instrumen-instrumen moneter seperti SBI (Sertifikat Bank Indonesia) dan
SBPU (Surat Berharga Pasar Uang). Namun di akhir 1997, karena saldo debet
yang begitu banyak, penanganannya dialihnamakan menjadi SBPU khusus. Jadi
bukan SPBU instrumen yang sehari-hari digeluti operasi pengendalian
moneter. Sehingga, dia tidak mungkin dikaitkan dengan saldo debet itu,
karena bukan termasuk wewenangnya.
Di bank sentral, ayah empat orang anak, ini memulai karier sejak tahun1978
sebagai staf perencanaan kredit BI. Pernah menjadi andalan bank sentral
meraih posisi Direktur Eksekutif IMF untuk kawasan Asia Tenggara. Sayang
langkahnya terjegal aturan yang menyebut pejabat BI yang bisa menjadi
Direktur Eksekutif IMF harus pernah menjadi anggota dewan gubernur.
Dia memang pernah gagal menjadi Deputi Gubernur. Pada Maret, 2000 lewat
proses beauty contest yang berlangsung maraton sejak pukul 20.00 Rabu
hingga pukul 05.30 pagi Kamis, di Komisi IX DPR, Aulia Pohan mengungguli
dua kandidat pesaingnya, yaitu Burhanuddin Abdullah dan dirinya. Dengan
begitu, Aulia Pohan yang waktu itu masih menjabat Deputi Gubernur BI,
kembali menduduki posisi tersebut setelah habis masa jabatannya. Setelah
itu dia sendiri menempati posisi sebagai pegawai utama setingkat direktur
di Direktorat Sumber Daya Manusia.
Pria yang meraih Sarjana Ekonomi Akuntansi tahun 1977 dari Universitas
Gajah Mada, Yokyakarta ini akhirnya ditugaskan ke IMF Washington sebagai
Alternate Executive Director setelah kurang lebih dua puluh tahun
berkarier di Bank Sentral.
Mulai November 2000 hingga mencalonkan diri menjadi Gubernur BI, dia
ditunjuk sebagai Technical Assistance Advisor, Monetary and Exchange
Affairs Departement di Dana Moneter Internasional (IMF), Washington DC,
AS.
Kembali ke sekitar pencalonannya jadi Gubernur Bank Indonesia. Pria
kelahiran Yogyakarta 9 Pebruari 1953 ini kala itu baru sepekan lewat dua
hari kembali ke tanah air dari Washington DC, AS. Tiba-tiba datang kabar
dari istana. Sekretaris Negara, Bambang Kesowo memintanya mengirimkan
daftar riwayat hidupnya sekaligus juga diminta menyiapkan diri dalam
pencalonan Gubernur Bank Indonesia.
“Saya dapat surat cinta,” katanya menanggapi kabar dari istana, yang pas
saat ‘valentine day’ itu. Bahkan dia menyebut tugas berat itu sebagai
‘kejutan yang manis’.
Menantu Palaoensoeka –anggota dewan dari PDI juga PDI Perjuangan selama 40
tahun -- ini, sebelumnya yakin akan menggantikan posisi Syahrill Sabirin
sebagai Gubernur BI saat itu. Jika tidak yakin, tentu dia akan berpikir
dua kali mengambil keputusan untuk melepas pekerjaannya sebagai technical
assisttant advisor di lembaga donor dunia (IMF). Apalagi dari pekerjaan
itu dia memperoleh hasil sekitar Rp 1 miliar setahun. Bahkan bukan hanya
pekerjaan yang ditinggal, keluarganya pun ketika itu masih menetap di
Amerika Serikat
Alumni Doctor in Economic Monetary Vanderbilt, Masschusett Amerika Serikat
(1985), ini berencana akan membawa optimisme bagi bangsa ini jika terpilih
jadi Gubernur BI. Namun persaingan menuju kursi penguasa bank sentral
terbukti tidak mudah. Dewan memilih Burhanuddin Abdullah sebagai Gubernur
Bank Indonesia. Mengalahkannya dan Miranda Goeltom sebagai calon yang
diusulkan Presiden Megawati Soekarnoputri untuk dipilih DPR.
Namun tidak terpilih menjadi Gubernur BI bukan berarti kariernya tamat.
Tidak lama,
oleh penentu kata akhir dari Farallon di Amerika Serikat dan di Djarum (Parindo)
sebagai pemegang saham mayoritas Bank Central Asia (BCA) menawarkannya
jabatan komisaris.
Dengan Integritas dan kredibilitasnya yang tinggi, dia memang pantas duduk
sebagai pengawas BCA. "Saya tidak akan mengkompromikan integritas saya di
sini," kata putra Yogyakarta yang selalu bertutur sapa dengan tingkat
kesantunan prima kepada siapa pun.
Menurutnya, faktor atau alasan yang mendorongnya menerima tawaran tersebut
karena BCA itu merupakan bank aset bangsa. Disamping itu, dua hal yang
menurutnya sejalan dengan misinya, misi pemerintah dan misi Bank
Indonesia, yaitu bagaimana mengembangkan bank ini dan bagaimana
mempercepat pertumbuhan kreditnya.
Pihak Farallon yang mempercayainya sebagai komisaris berharap, bagaimana
agar BCA dijalankan secara profesional, sebagaimana halnya bank-bank di
AS. Mengenai komitmennya di Bank BCA ini dia mengatakan bahwa sama seperti
harapan masyarakat agar bank ini semakin berguna bagi bangsa.
Setelah dia masuk, memang dia melihat bank ini kuat sekali sebagai bank
transaksi dengan luas jaringannya. Kekuatannya mengumpulkan dana luar
biasa, ada 6,5 juta nasabah. Itu elemen sangat penting bagi suatu bank.
Namun di sisi penyaluran kredit, boleh dikata kurang aktif. Itulah yang
akan mereka coba lebih perkuat lagi.
Sebagai indikasinya total kredit BCA yang sudah disepakati untuk
dikucurkan mencapai Rp 29 triliun. Tetapi sampai 26/6-2003, baru terserap
oleh nasabah sebesar Rp 22 triliun sehingga masih ada Rp 7 triliun yang
belum terserap. Dalam hal pertumbuhan kredit ada empat area yang
betul-betul dicoba. Keempat area itu adalah sektor ritel, sektor komersial,
sektor konsumen, dan sektor korporasi.
Menurutnya, saat ini (Juni 2003) kekuatan BCA itu di level menengah ke
bawah, yakni sektor komersial dan ritel dengan kredit Rp 50 miliar ke
bawah. Tetapi, infrastrukturnya harus dikembangkan sedemikian rupa dengan
cepat sehingga dapat melayani transaksi dengan cepat dan efisien. Mereka
akan mengembangkan sentra-sentra kredit di wilayah tertentu. Bagaimana
sentra-sentra ini bisa cepat mengambil keputusan dalam hal penyaluran
kredit.
Sedangkan sektor korporat juga harus dikembangkan sedemikian rupa karena
sektor ini juga menurutnya menghadapi persaingan. Maksudnya bukan
persaingan antar bank, tetapi bersaing dengan instrumen obligasi. Nasabah
bisa saja menerbitkan obligasi, lalu melunasi utangnya pada bank sehingga
bank harus mencari nasabah lainnya.
Mengenai penilaian orang bahwa BCA akan dipakai oleh kelompok Djarum
sebagai kendaraan untuk meraup kredit lebih besar, dia kira itu tidak
benar. Sebelum Farindo (kelompok Farallon dan Djarum) membeli saham
pemerintah, Djarum sudah menjadi nasabah BCA dan kreditnya pun memang
sudah besar. Setelah masuk, jumlah kreditnya justru lebih rendah.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|