| |
C © updated
08122004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Cut Nyak Meutia
Lahir:
Perlak, Aceh, pada tahun 1870
Meninggal:
Pasai, Aceh, 24 Oktober 1910
Suami:
- Suami pertama: Teuku Muhammad alias Teuku Cik Tunong
(meninggal Mei
1905)
- Suami kedua: Pang Nangru (meninggal September 1910
di Paya Cicem)
Anak:
Raja Sabil
Perjuangan:
Perang gerilya di daerah Pasai
Tanda Penghormatan:
Pahlawan Kemerdekaan Nasional |
|
| |
|
|
|
|
Cut Nyak Meutia (1870-1910)
Berani Menerjang Peluru
Pameo yang mengatakan wanita sebagai insan lemah dan harus selalu dilindungi tidak selamanya benar. Itu dibuktikan oleh Cut Nyak Meutia, wanita asal Nangroe Aceh Darussalam, yang terus berjuang melawan Belanda hingga tewas diterjang tiga peluru di tubuhnya.
Wanita kelahiran Perlak, Aceh, tahun 1870, ini adalah seorang Pahlawan
Kemerdekaan Nasional yang hingga titik darah penghabisan tetap memegang
prinsip tak akan mau tunduk kepada kolonial.
Sebelum Cut Nyak Meutia lahir, pasukan Belanda sudah menduduki daerah
Aceh yang digelari serambi Mekkah tersebut. Perlakuan Belanda yang
semena-mena dengan berbagai pemaksaan dan penyiksaan akhirnya
menimbulkan perlawanan dari rakyat. Tiga tahun sebelum perang
Aceh-Belanda meletus, ketika itulah Cut Nyak Meutia dilahirkan. Suasana
perang pada saat kelahiran dan perkembangannya itu, di kemudian hari
sangat memengaruhi perjalanan hidupnya.
Ketika sudah beranjak dewasa, dia menikah dengan Teuku Muhammad, seorang
pejuang yang lebih terkenal dengan nama Teuku Cik Tunong. Walaupun
ketika masih kecil ia sudah ditunangkan dengan seorang pria bernama
Teuku Syam Syarif, tetapi ia memilih menikah dengan Teuku Muhammad, pria
yang sangat dicintainya.
Perang terhadap pendudukan Belanda terus berkobar seakan tidak pernah
berhenti. Cut Nyak Meutia bersama suaminya Teuku Cik Tunon langsung
memimpin perang di daerah Pasai. Perang yang berlangsung sekitar tahun
1900-an itu telah banyak memakan korban baik dari pihak pejuang
kemerdekaan maupun dari pihak Belanda.
Pasukan Belanda yang mempunyai persenjataan lebih lengkap memaksa
pasukan pejuang kemerdekaan yang dipimpin pasangan suami istri itu
melakukan taktik perang gerilya. Berkali-kali pasukan mereka berhasil
mencegat patroli pasukan Belanda. Di lain waktu, mereka juga pernah
menyerang langsung ke markas pasukan Belanda di Idie.
Sudah banyak kerugian pemerintahan Belanda baik berupa pasukan yang
tewas maupun materi diakibatkan perlawanan pasukan Cut Nyak Meutia.
Karenanya, melalui pihak keluarga Meutia sendiri, Belanda selalu
berusaha membujuknya agar menyerahkan diri. Namun Cut Nyak Meutia tidak
pernah tunduk terhadap bujukan yang terkesan memaksa tersebut.
Bersama suaminya, tanpa kenal takut dia terus melakukan perlawanan.
Namun naas bagi Teuku Cik Tunong, suaminya. Suatu hari di bulan Mei
tahun 1905, Teuku Cik Tunong berhasil ditangkap pasukan Belanda. Ia
kemudian dijatuhi hukuman tembak.
Berselang beberapa lama setelah kematian suaminya, Cut Nyak Meutia
menikah lagi dengan Pang Nangru, pria yang ditunjuk dan dipesan suami
pertamanya sebelum menjalani hukuman tembak. Pang Nangru adalah teman
akrab dan kepercayaan suami pertamanya, Teuku Cik Tunong. Bersama suami
keduanya itu, Cut Nyak Meutia terus melanjutkan perjuangan melawan
pendudukan Belanda.
Di lain pihak, pengepungan pasukan Belanda pun semakin hari semakin
mengetat yang mengakibatkan basis pertahanan mereka semakin menyempit.
Pasukan Cut Meutia semakin tertekan mundur, masuk lebih jauh ke
pedalaman rimba Pasai.
Di samping itu, mereka pun terpaksa berpindah-pindah dari satu tempat ke
tempat lain untuk menyiasati pencari jejak pasukan Belanda. Namun pada
satu pertempuran di Paya Cicem pada bulan September tahun 1910, Pang
Nangru juga tewas di tangan pasukan Belanda. Sementara Cut Nyak Meutia
sendiri masih dapat meloloskan diri.
Kematian Pang Nangru membuat beberapa orang teman Pang Nangru akhirnya
menyerahkan diri. Sedangkan Meutia walaupun dibujuk untuk menyerah namun
tetap tidak bersedia. Di pedalaman rimba Pasai, dia hidup
berpindah-pindah bersama anaknya, Raja Sabil, yang masih berumur sebelas
tahun untuk menghindari pengejaran pasukan Belanda.
Tapi pengejaran pasukan Belanda yang sangat intensif membuatnya tidak
bisa menghindar lagi. Rahasia tempat persembunyiannya terbongkar. Dalam
suatu pengepungan yang rapi dan ketat pada tanggal 24 Oktober 1910, dia
berhasil ditemukan.
Walaupun pasukan Belanda bersenjata api lengkap tapi itu tidak membuat
hatinya kecut. Dengan sebilah rencong di tangan, dia tetap melakukan
perlawanan. Namun tiga orang tentara Belanda yang dekat dengannya
melepaskan tembakan. Dia pun gugur setelah sebuah peluru mengenai kepala
dan dua buah lainnya mengenai dadanya.
Cut Nyak Meutia gugur sebagai pejuang pembela bangsa. Atas jasa dan
pengorbanannya, oleh negara namanya dinobatkan sebagai Pahlawan
Kemerdekaan Nasional yang disahkan dengan SK Presiden RI No.107 Tahun
1964, tanggal 2 Mei 1964. ► juka-atur
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|