| |
C © updated
31102003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► rpr kompas |
|
| |
Nama:
Christian Hadinata
Lahir:
Purwokerto, 11 Desember 2003
Istri:
Yoke Anwar
Anak:
Mario Hadinata (20 tahun)
Mariska Hadinata (19 tahun)
Prestasi:
1971
Juara nasional ganda putra berpasangan dengan Atik Jauhari
Juara Asia ganda campuran berpasangan dengan Retno Kustijah.
1972
Juara All England ganda putra berpasangan dengan Ade Chandra
1973
Juara All England ganda putra berpasangan dengan Ade Chandra
1978
Juara Asian Games ganda putra berpasangan dengan Ade Chandra
1979
Juara All England ganda campuran berpasangan dengan Imelda Wiguna
1980
Juara Dunia ganda putra berpasangan dengan Ade Chandra
Juara Dunia ganda campuran berpasangan dengan Imelda Wiguna
1981
Juara Jepang Terbuka ganda putra berpasangan dengan Lius Pongoh
1982
Juara Aian Games ganda campuran berpasangan dengan Ivana Lie
1983
Juara All England ganda putra berpasangan dengan Boby Ertanto
1984
Juara Indonesia Terbuka ganda putra berpasangan dengan Boby Ertanto
Juara Indonesia Terbuka ganda campuran berpasangan dengan Ivana Lie
1985
Juara Piala Dunia ganda campuran berpasangan dengan Ivana Lie
1972-1986
Memperkuat Tim Piala Thomas selama enam kali dengan berganti-ganti
pasangan antara lain dengan Hadibowo dan Liem Swie King.
Aktivitas Olahraga:
Pemain bulutangkis Pelatnas (1971-1986)
Pelatih
Pengurus PBSI
Direktur Pelatnas PBSI |
|
| |
|
|
|
|
Christian Hadinata
Legenda Hidup Bulutangkis Indonesia
Nama Christian Hadinata layak menjadi simbol kekuatan bulutangkis
Indonesia. Dia adalah legenda hidup yang berhasil mengukir prestasi
internasional baik ketika menjadi pemain, pelatih, maupun saat ini
sebagai pengurus Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia.
Lahir di Purwokerto, 11 Desember 1949, Christian tidak menyangka akan
menjadi pebulutangkis andal. Waktu kecil, cita-citanya justru menjadi
pemain sepakbola. Sebagai keluarga sederhana, Christian merasa
bulutangkis adalah olahraga yang mahal. Untuk bermain diperlukan raket,
senar, sepatu, dan suttlekock. Hal itu belum ditambah dengan biaya
menyewa tempat latihan.
Sampai lulus SMA di Purwokerto, Christian belum tertarik dengan
bulutangkis. Padahal, saat itu usianya sudah 16 tahun, usia yang cukup
tua untuk memulai olahraga sebagai prestasi. Bandingkan misalnya dengan
Michael Owen yang sejak balita sudah muali menendang bola dan sebelum
menginjak 17 tahun sudah mulai debut sebagai pemain profesional bersama
klub Liverpool. Atau, Wayne Rooney yang bergabung dalam klub Everton di
usia 17 tahun telah dipercaya pelatih nasional kesebelasan Inggris Sven
Goran Erricson untuk membela The Three Lions.
Setelah lulus SMA, Christian diajak kakak sulungnya tinggal di Bandung.
Di sanalah ia dimodali sang kakak untuk bermain bulutangkis, dan ia pun
masuk klub Mutiara. Suatu kali ia diajak kakak sulungnya itu ke Jembatan
Semanggi (Jakarta) untuk melihat Stadion Senayan. Ketika ia ingin
mendekat menuju Stadion itu, kakaknya bilang, "Sudah, dari jauh saja,
nanti juga engkau akan ke sana."
Prestasi emas Christian dicetak pertama kali tahun 1971 sebagai pemain
ganda putra dan ganda campuran. Di ganda putra berpasangan dengan Atik
Jauhari menjadi juara nasional. Sedangkan di ganda campuran menjadi
juara Asia berpasangan dengan Retno Kustijah.
Selanjutnya, dengan bergabti-ganti pasangan, Christian dapat mencapai
prestasi terbaik seperti dengan Ade Chandra, menjuarai Asian Games 1978,
All England 1972 dan 1973, serta juara dunia 1980. Bersama Boby Ertanto
juara di All England 1983 dan Indonesia Terbuka 1984. Dengan Lius Pongoh
menang di Jepang Terbuka 1981. Berpasangan dengan Imelda Wiguna
memenangi All England 1979 dan juara dunia 1980. Main bersama Ivana Lie
berjaya di Asian Games 1982, Indonesia Terbuka 1984, dan Piala Dunia
1985. Sepanjang enam kali memperkuat Tim Piala Thomas (1972-1986),
Christian bersama pasangannya (siapa pun dia) selalu merebut poin. Di
ajang beregu itu Christian pernah berjodoh dengan Hadibowo dan Liem Swie
King.
Pada tahun 1986 atau dalam usia 37 tahun Christian pensiun sebagai
pemain. Usia 37 adalah usia yang cukup tua untuk ukuran atlet
bulutangkis. Hanya atlet tertentu yang rajin menjaga penampilan saja
mampu bertahan di usia setua itu.
Setelah gantung raket, Christian beralih menjadi pelatih. Ia ingin
mewariskan "tradisinya": "menjadi pemain terbaik" kepada anak-anak
asuhnya. Dari tangannyalah lahir pasangan-pasangan Ricky Achmad Subagdja/Rexy
Mainaky, Gunawan/Bambang Suprianto, dan Denny Kantono/Antonius.
Christian juga ikut membentuk Candra Wijaya/Sigit Budiarto, Tony Gunawan/Halim
Haryanto, yang dengan kombinasi pasangannya telah merebut emas di
Olimpiade 2000 dan dua gelar juara dunia, tahun 1997 dan 2001, serta
memberi fondasi yang kuat bagi pemain-pemain muda saat ini.
Kemenangan Tim Piala Thomas Indonesia bulan Mei 2002 di Guangzhou
semakin lengkap saat Christian Hadinata melangkah ke podium kehormatan
dalam upacara yang khusus digelar baginya. Komposisi Pomp and
Circumstances March karya Edward William Elgar (1857-1934) yang mengalun
terasa megah mengiringi penganugerahan Hall of Fame-penghargaan
tertinggi di dunia bulu tangkis-oleh Presiden Federasi Bulu Tangkis
Internasional (IBF), Korn Dabaransi.
Christian adalah orang Indonesia ketiga penerima penghargaan itu setelah
Rudi Hartono dan Dick Sudirman. Atas penghargaan itu ia bersyukur pada
Tuhan karena diberi berkat dan anugerah bisa bermain bulu tangkis. Itu
adalah sebuah proses yang panjang, mulai dari menjadi atlet, pelatih,
dan sekarang menjadi pengurus. Ia juga berterima kasih kepada PBSI yang
sudah memberikan fasilitas kepadanya untuk menjadi atlet, pelatih, lalu
menjadi pengurus. Semua itu merupakan tambahan motivasi yang mendorong
dalam karirnya.
Meskipun telah mencapai prestasi tertinggi, baik sebagai pemain, pelatih,
dan kini pengurus, Christian merasa belum belum sampai pada batas
maksimal. Dari segi pribadi, ia merasa belum merasa "penuh" (fulfilled).
Justru pada saat ini bulu tangkis dalam negeri cenderung dalam penurunan
prestasi. Gambaran utuh prestasi itu bukan hanya supremasi di Piala
Thomas. Piala Uber belum direbut, Piala Sudirman hanya sekali diraih
yaitu di Jakarta tahun 1989. Masih ada gap antara pemain putra dan putri
dengan kekuatan yang tidak merata. Ia sebagai bagian yang turut
bertanggung jawab di pelatnas mengaku masih tidak puas atas pencapaian
saat ini. Semuanya masih belum all out. Masih banyak lubang-lubang yang
harus dibereskan.
Pribadi Christian dikenal sebagai sosok yang sederhana namun berkemauan
keras dan tidak pernah puas. Itu yang membuatnya selalu memaksa diri
selalu belajar. Belajar menjadi pelatih yang baik, belajar mengurus
organisasi dengan benar, memikirkan konsep pembinaan bulu tangkis yang
ideal, dan bahkan, belajar menghadapi wartawan dan menyampaikan
pernyataan dengan lugas dan utuh sehingga tidak ada ruang bagi tumbuhnya
spekulasi.
Proses belajar itu tidak selalu mulus. Terkadang, ia menemui benturan
dan konflik dengan orang lain termasuk dengan pengurus dan pelatih di
lingkungan Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI). Bila sudah
begitu, ayah dua anak, Mario (20) dan Mariska Hadinata (19) dan suami
Yoke Anwar, ini memilih berintrospeksi dan berusaha memperbaiki diri
lebih dulu.
Kesederhanaan itu ditunjukkannya dengan lebih mengutamakan pengabdian
dan mencetak prestasi ketimbang mencari penghasilan yang lebih
menjanjikan secara finansial. Hal itu yang membuatnya dari dulu sampai
sekarang tidak tergiur dengan iming-iming melatih di luar negeri. Ia
merasa inilah saatnya mengembalikan sesuatu bagi bulu tangkis, bagi
organisasi PBSI. Karena, melalui bulu tangkis ia bisa mendapatkan banyak
hal. Pengalaman pergi ke luar negeri, menjadi juara, mendapat
penghargaan, dan lain-lain. Lalu ia berpikir, "apa yang bisa saya
berikan dalam batas-batas kemampuan saya ini". Kalau berkiprah di luar
negeri, ada rasa tidak nyaman di perasaannya. Ada yang mengatakan, kalau
bekerja profesional tidak masalah mau bekerja di luar negeri atau di
mana pun. Namun, menurut hematnya ada hal-hal lain di luar sekadar
profesionalisme. Bisa saja bekerja hebat di Hongkong, di Malaysia, atau
di mana pun. Namun semua itu adalah realitas semu baginya. Ketika Piala
Thomas berhasil direbut, waktu Hendrawan menjadi juara dunia, perasaan
itu sulit digambarkan. Kalau itu bukan bendera Merah Putih yang naik,
lalu apa rasanya?
Meskipun tidak terlalu mengejar materi, namun tidak berarti hal itu
tidak penting. Dengan jujur Christian mengaku materi itu penting juga
buatnya. Namun, yang ia temukan di dunia bulutangkis itu lain. Ia
mendapatkan penghargaan sosial dari masyarakat, dari lingkungan, yang
semua itu susah diukur dengan materi. Ketika berjalan-jalan ada yang
menyapa "O Pak Christian."
Penghargaan sosial itu ditemukan dalam sebuah pengalaman Christian yang
cukup mengharukan. Ketika itu kejuaraan nasional di Banjarmasin tahun
2000. Ada seorang ayah dengan dua anaknya, kembar. Ditilik dari
pakaiannya, mereka itu keluarga yang amat sederhana. Mereka lalu
mendatanginya. Boleh foto? Ayahnya bertanya. Katanya, "Biar bisa jadi
juara seperti Om Chris". Usia anaknya sekitar 7-8 tahun. Ia merasa
sangat terharu. Ia juga sering mengalami hal-hal yang menyentuh seperti
itu. Sekarang ini penghargaan di bulu tangkis sudah lumayan meskipun
tidak bisa mengharapkan seperti di tenis profesional. Namun, sebagai
profesi, harus lain (pendekatannya). Ia bisa saja membuka sekolah bulu
tangkis dengan menarik bayaran. Dari segi tanggung jawab tidak berat
karena murid-murid itu datang karena kemauan mereka sendiri. Hasilnya,
bisa didapat secara lebih langsung. Tapi, secara moral ia belum bisa
berbuat begitu.
Pilihannya berkarir di bulutangkis sempat membuatnya gamang, terutama
apakah ia berani mengambil tanggung jawab penuh atau tidak. Sebab,
risikonya sangat tinggi karena tradisi dunia bulutangkis Indonesia
adalah prestasi. Tugas itu menjadi berat, karena siapa pun yang memegang
bulutangkis harus bisa mencetak prestasi. Ia memang merasakan menjadi
atlet yang beberapa kali meraih juara. Namun, apakah itu jaminan bisa
mencetak pemain menjadi juara? Tuntutan seperti itu dianggap umum, hal
biasa. Kalau pemainnya tidak bisa juara, artinya tidak bisa melatih.
Namun ia berpikir bahwa dirinya harus mengembalikan sesuatu pada
bulutangkis dan organisasi, tidak bisa kalau organisasi yang memberi,
lalu ia lepas tangan. Ia tahu, tanggung jawabnya sangat berat.
Ketika pertama kali melatih, yang dilakukannya adalah mengumpulkan
atlet-atlet yang akan dilatihnya. Pertama-tama ditanyakan apakah mereka
bisa menerima dirinya, mau atau tidak didampinginya. Jawabannya harus
jujur dan jangan karena ia sudah "punya nama", namun sebenarnya dalam
hati mereka tidak setuju atau tidak cocok. Christian paham bahwa hal ini
kelihatannya sepele, namun sebenarnya itu adalah inti masalah. Mau
enggak bekerja sama, jadi sama-sama bertanggung jawab. Setelah itu ia
menjabarkan program dan target yang akan dicapai. Anak asuhnya bebas
mengemukakan kritik dan saran atas latihan yang dilakukan. Bersama-sama
mendesain program. Mereka menjadi juara dan ia berkarier sebagai pelatih.
Demikian juga soal menentukan pasangan di ganda didesain bersama-sama,
lalu diadakan evaluasi bersama-sama pula. Dengan cara-cara itu, bisa
dikatakan sedikit sekali ada masalah yang timbul.
Sekian lama malang melintang di sektor ganda, jelas memiliki resep
tertentu yang dipraktikkan di lapangan. Christian menyebutkan, resep
sukses bermain di ganda iatu adalah jangan sekali-kali merasa pintar
sendiri, merasa lebih bagus dari pasangan. Diakuinya, bagaimana tidak
gondok dan mangkel kalau pasangannya melakukan kesalahan melulu. Atau,
ada semacam konflik kecil dengan pasangan karena sifat pribadi yang
berbeda.
Ia juga senantiasa berusaha menyesuaikan diri dengan pasangannya. Ia
pernah berpasangan dengan Liem Swie King dan juga dengan Icuk Sugiarto.
King bertipe menyerang, sementara Icuk tipe bertahan. Dengan King, saya
hanya memancing-mancing dengan bola-bola lemah sehingga lawan terpaksa
mengangkat bola. King yang mengeksekusi. Ia selalu bertanya, pasangan
mau main bagaimana? Jangan pasangan yang harus nurut pada saya. Kalau
Icuk bertahan, ya, ia angkat-angkat saja bola biar dipukul lawan. Untuk
itu, yang penting adalah bisa mengalah. Jangan sok pinter, karena nanti
malah kalah. Jika kalah, maka dua-duanya kalah.
Sebagai pelatih, tak jarang Christian menghadapi pasangan yang
bermasalah. Kepada mereka, ia mengambil kebijakan memanggil
sendiri-sendiri dulu. Mencari letak persoalannya. Baru setelah itu
mengajak bicara kedua pemain bersama-sama. Cara ini cukup ampuh meskipun
tidak selalu berhasil. Ada pertimbangan dari sisi nonteknis, namun sisi
teknis juga harus dipertimbangkan.
Sektor tunggal dan ganda putra Indonesia secara umum mengalami
regenarasi yang lumayan mulus. Hal ini berbeda dengan sektor tunggal dan
ganda putri. Problem sebaliknya terjadi dengan Cina di mana sektor putri
lebih berkembang sementara ganda putra justru sedikit tertinggal.
Negara-negara lain pun mengalami hal yang sama secara umum, yaitu tidak
semua sektor mengalami regenerasi secara mulus. Dengan kondisi yang
demikian, maka persaingan di dunia bulutangkis menjadi terbuka. Sebab,
secara umum tidak ada yang menonjol sekali perkembangannya. Tugasnya
sebagai Direktur Pelatnas PBSI adalah menyiapkan atlet yang siap
bertanding dan kembali mengukir tradisi emas.
Sebagai orang yang bertanggung jawab mencetak pemain handal, Christian
tentu perlu inspirasi mengenai figur yang sukses menelorkan para juara.
Menurutnya, yang dianggap hebat adalah mereka yang bukan bekas juara,
tapi bisa mencetak juara. Ini luar biasa. Seperti Angelo Dundee yang
mampu melahirkan petinju legendaris Muhammad Ali sampai ke Mike Tyson.
Kok bisa-bisanya, padahal karakter pemain bermacam-macam. Lalu, ia juga
mengidolakan pemain sepak bola Franz Beckenbauer. Ketika dia bermain,
Jerman juara dan ketika dia menjadi pelatih, Jerman juara lagi. Luar
biasa.
Kritiknya ditujukan kepada banyak mantan pemain bulu tangkis nasional,
meskipun dilakukan dengan maksud tanpa mengurangi rasa hormat kepada
mereka, yang sudah tidak bermain lagi malah meninggalkan begitu saja.
Yang paling tidak enak dirasakannya adalah mereka memberi komentar dari
luar yang menyudutkan dia dan teman-temannya yang di PBSI. Padahal,
mencetak juara itu tidak semudah kelihatannya dari luar. Di sisi lain,
sebagian dari pelatih di pelatnas bukan pemain-pemain berprestasi. Lihat
saja nama-nama Herry Iman Pierngadi (pelatih ganda putra), Agus Dwi
Santoso (pelatih tunggal), dan Richard Mainaky (pelatih ganda campuran).
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
Sumber:
= PBSI = Kompas, pewawancara: Isworo Laksmi Yunas Santhani Azis |
|