|
|
 |

Nama
Dr. Charles Saerang
Tempat &
Lahir
Semarang,
Anak
Vanessa Kalani (13) dan Claudia Alana (10)
Pendidikan
Business School Miami University, Oxford, Ohio, AS tahun 1976,
Pekerjaan
Presdir PT Nyonya Meneer
Kegiatan lain
Sekjen Asosiasi Jamu
|
|
Dr. Charles Saerang Generasi Ketiga Nyonya Meneer
Di tangan generasi ketiga perusahaan makin berkembang. Berbagai tantangan
dan konflik keluarga muncul, tapi dapat diatasi. Mutu dan khasiat jamunya
makin terjamin. Zaman boleh saja berubah, tapi mutu dan khasiat Jamu Nonya
Meneer tetap dijamin sebagaimana diwariskan pendirinya, Nyonya Meneer.
Di tengah menjamurnya perusahaan obat-obat tradisional dalam negeri, Jamu
produksi PT Nyonya Meneer, Semarang, Jawa Tengah terus meningkat dan
berkembang. Pengolahannya tidak lagi tradisional tapi sudah modern dengan sentuhan
teknologi canggih yang didukung tenaga ahli dan profesional.
Perusahaan didirikan Nyonya Meneer tahun 1919 di Semarang. Sejak tahun
1991, sudah ditangani generasi ketiga di bawah kendali DR Charles Saerang
dan berkembang pesat. Awalnya, memiliki 250 orang tenaga kerja. Kini,
menjadi 3000 orang. Produknya dari 120 jenis meningkat menjadi 254 jenis.
Produknya tidak lagi hanya bentuk bubuk, tapi juga kapsul dan tablet.
Produksi dalam bentuk bubuk 200 ton/bulan dan kapsul 4 ton per bulan.
Pasarnya, tidak lagi terbatas di dalam negeri tapi sudah memasuki pasar
beberapa negara, seperti Amerika Serikat, Eropa, Australia, Timur Tengah
dan Asia.
PT Jamu Meneer dirintis dan didirikan Nyonya Meneer pada tahun 1919 di
Semarang. Nyonya Meneer dibantu anaknya Hans Ramana. Di tangan mereka
berdua ( Ibu dan anak) perusahaan berkembang. Setelah generasi pertama dan
kedua yakni Nyonya Meneer dan Hans Ramana meninggal dunia tahun 1978 dan
1976, kemudian roda perusahaan diestapetkan kepada generasi ketiga yakni
ke lima orang anak dari Hans Ramana.
Tapi dalam proses selanjutnya, ke lima bersaudara yang juga cucu sang
pendiri Nyonya Meneer, kurang serasi dan menjatuhkan pilihan untuk
berpisah. Kini perusahaan murni dimiliki dan dikendalikan DR Charles
Saerang. Sedangkan ke empat orang saudaranya dan setelah menerima bagian
masing-masing, memilih untuk berpisah.
Untuk mengetahui bagaimana kondisi dan perkembangn PT Nyonya Meneer
setelah ditangani generasi ketiga, Tokoh Indonesia mewawancarai Presiden
Direktur PT Nyonya Meneer, DR Charles Saerang. Berikut ini rangkumannya.
Bagaimana perkembangan selanjutnya?
Secara umum, bisnis keluarga yang langsung dikelola anggota keluarga
sendiri tidak terlepas dari konflik keluarga, tidak terkecuali PT Nyonya
Meneer. Itulah sebabnya, kegagalan atau kehancuran bisnis keluarga, bukan
karena kalah bersaing atau kekurangan modal, tetapi karena perseteruan
yang tak kunjung teratasi. Artinya, jika berhasil mengatasi konflik,
selamatlah perusahaan. Sebaliknya, jika gagal menyelesaikan perseteruan,
perusahaan akan tutup.
Dalam bisnis keluarga ada pameo yang mengatakan, “generasi pertama
menemukan, generasi kedua mengembangkan dan generasi ketiga menghancurkan”.
Tapi pameo itu sama sekali tidak berlaku bagi PT Nyonya Meneer. Sekalipun
terjadi konflik, saya dapat mengatasinya dengan baik. Potensi yang saya
miliki dan dukungan dari istri tidak hanya sekadar mampu mengatasi masalah
tapi juga berhasil membangun dan mengembangkan perusahaan. Banyak kemajuan
dan peningkatan yang diraih perusahaan.
Ketika bibit-bibit perselisihan mulai muncul, saya langsung memberikan
aba-aba kepada keempat saudara saya yang semula ikut sebagai pemilik.
Tawaran saya kepada saudara-saudara saya adalah mencari jalan terbaik
untuk menyelesaikan masalah. Mereka memutuskan berpisah dan meminta bagian.
Saya tetap diperusahaan. Ketika saya berusia 24 tahun dan selesai studi di
Business School Miami University, Oxford, Ohio, AS tahun 1976, dipaksa
sang ayah untuk bergabung di perusahaan. Kemudian, tahun 1991 dan setelah
menyelesaikan konflik, langsung menjadi pemilik tunggal dan sekaligus
pimpinan.
Perkembangan perusahaan?
Ketika saya memasuki perusahaan tahun 1976, karyawan berjumlah 150 orang
dan tahun 2002 meningkat jadi 3000 orang. Produk meningkat dari 120 jenis
menjadi 254 jenis. 80 persen dari produk untuk kepentingan wanita.
Pangsa pasarnya meningkat baik di dalam maupun di luar negeri. Hampir
semua pasar dalam negeri dimasuki Jamu Nyonya Meneer yang didukung 2000
agen. Negara tujuan ekspor antara lain Malaysia, Singapura, Belanda Arab
Saudi, Australia, Amerika Serikat. Hasil ekspor rata-rata Rp 20 miliar per
bulan. Total keseluruhan omset jamu asli Indonesia (Jamu bebas bahan kimia)
mencapai Rp 1,2 triliun per tahun atau sekitar 15 % dari total obat-obatan
non jamu yang berjumlah Rp 11 triliun. Cukup besar kontribusi jamu dalam
mengisi devisa negara. Intinya, 35 produk Jamu Nyonya Meneer untuk
kebutuhan dalam negeri dan 15 % lagi untuk ekspor.
Dalam bentuk bubuk setiap bulan diproduksi 200 ton dan dalam bentuk kapsul
4 ton per bulan. Mengenai pasar ekspor, di Singapura PT Nonyonye Meneer
memiliki 400 outlet. Di Malaysia terdapat 1.600 outlet. Jumlah outlet jamu
Nonya Meneer di luar negeri hingga tahun 2002, mencapai 4.900 outlet.
Selain di Singapura dan Malaysia, juga terdapat di Filipina, Korea,
Belanda, Taiwan, Jepang, AS, Brunei, Arab Saudi, Vietnam, dan Selandia
Baru.
Sedangklan outlet di dalam negeri mencapai 28.665 lokasi di 19 propinsi.
Kini perusahaan memiliki dua lokasi pabrik di Jalan Raden Fatah dan Jalan
Raya Kaligawe Semarang, Jawa Tengah. Perusahaan juga telah memiliki sebuah
Museum yang merupakan pertama di Indonesia. Kehadiran Museum ini
dimaksudkan sebagai cagar budaya untuk melestarikan warisan leluhur,
sehingga generasi muda dapat dengan mudah mengenal jamu asli Indonesia di
kemudian hari.
Bagaimana mutu Jamu setelah ditangani generasi ketiga?
Setelah saya menginjakkan kaki di perusahaan, pesan yang saya terima dari
nenek (Nyonya Meneer) dan ayah (Hans Ramana) sebagai orang pertama dan
kedua yang menemukan dan mengembangkan Jamu Nyonya Meneer, adalah agar
mutu dan hasiat jamu buatan PT Nyonya Meneer tetap dijaga dan harus
ditingkatkan. Pesan ini saya jaga betul, sehingga sangat selektif dalam
memilih bahan baku. Kami membuka pembibitan sendiri, tujuanya disamping
mempermudah pengadaan bahan baku juga meningkatkan kualitasnya karena bisa
diawasi secara langsung. Zaman boleh saja berubah tapi khasiat Jamu Nyonya
Meneer tidak berubah dan tetap terjamin. Bahkan kemajuan tekonologi dapat
dimanfaatkan untuk semakin meningkatkan kualitas dari jamu buatan PT
Nyonya Meneer. Semua produk perusahaan dijamin dan tidak menggunakan
bahan-bahan kimia.
Apa tantangan yang dihadapi dalam bisnis jamu ini?
Sungguh banyak terutama karena kurangnya perhatian pemerintah. Terus
terang, perhatian dan perlindungan pemerintah terhadap perajin, produsen
dan pengusaha jamu asli Indonesia masih lemah. Buktinya, masih sangat
banyak jamu-jamu yang mengandung bahan kimia beredar di dalam negeri. Pada
hal, 'jamu kimiawi' itu sangat berbahaya karena bisa mematikan. Jamu
berbahan kimia atau juga disebut jamu bermasalah ada buatan Cina dan ada
juga buatan Cilacap. Sedang yang disebut jamu asli Indonesia adalah jamu
yang sama sekali tidak menggunakan bahan kimia.
Baik sebagai pengusaha maupun sebagai Sekjen Dewan Pimpinan Pusat Gabungan
Pengusaha Jamu Indonesia (DPP GPJI), saya selalu menyuarakan pembasmian
jamu berkandungan zat kimia itu. Sebab, jamu kimia tidak sekadar merugikan
pasar jamu asli Indonesia tapi juga sangat berbahaya bagi kesehatan
manusia.
Memang, kahasiat jamu asli Indonesia sampai kini masih diakui secara turun
temurun. Kendati secara medis, dokter-dokter Indonesia belum berkenan
memasukan jamu sebagai resep pengobatan. Untuk mengatasinya dan sesuai
dengan tuntutan konsumen, GPJI telah menjalin kerjasama dengan dengan
Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta membuka pendidikan program
diploma 2 ( D2) dan dengan Universitas Trisakti, Jakarta membuka program
baru khusus mengenai jamu.
Dengan masuknya Jamu ke kampus dan resmi sebagai salah satu jurusan,
diharapkan akan membuka mata semua pihak terutama dokter akan keampuhan
obat tradisional yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Obsesi saya
tidak lagi sekadar agar Jamu dapat disejajarkan dengan obat farmasi, tapi
bercita-cita agar jamu dapat dijadikan sebagai metode pengobatan di rumah
sakit.
Ke depan saya berniat agar di negeri ini yang merupakan gudangnya jamu
berkhasit berdiri sebuah Rumah Sakit yang khusus menggunakan obat-obat
tradisional/jamu dalam pengobatan atau penyembuhan. Karena itulah, para
pengusaha jamu asli Indonesia tetap komit untuk meningkatkan martabat jamu
dengan berbagai upaya yang tidak melanggar norma, etika dan budaya.
Tantangan lainnya, pada satu sisi, ingin membangun perusahaan keluarga
menjadi lebih modern dan profesional. Tapi di sisi lain mutu dan
khasiatnya harus lebih baik. Komitmen saya jamu asli Indonesia jangan
sampai ternoda bahan kimia. Karena itu, saya selalu berteriak-teriak, agar
pemerintah berkenan melarang peredaran jamu kimia. Ini bukan semata-mata
untuk kepentingan perusahaan saya, tapi untuk menjaga eksistensi, mutu dan
martabat jamu asli Indonesia.
Sikap Anda, melihat industri farmasi yang memproduksi jamu?
Silahkan saja. Hanya saya berharap, jika memang mau terjun dalam usaha
jamu, jangan membawa-bawa nama industri farmasinya. Berilah kesempatan
kepada produsen jamu yang masih kecil yang jumlahnya 700-an untuk
berkembang. Selain itu, pasar produk-produk jamu industri farmasi jangan
sampai merebut pasar jamu asli.
Segmen pasarnya harus dibedakan, sehingga semuanya dapat saling tumbuh
bahkan bergandengan tangan. Mungkin saja, karena perkembangan dan tuntutan,
boleh saja uji klinis dilakukan terhadap jamu, tapi jamu sebagai empiris
yang diolah secara tradisional dan peninggalan nenek moyang, jangan
dihilangkan. Yang mau uji secara klinis, silakan saja. Tapi yang empiris
tetap dipertahankan dan jangan sampai hilang.
Saya dan rekan-rekan pengusaha jamu selalu mendorong dan mendesak
pemerintah agar jamu dapat dijadikan sebagai salah satu metode pengobatan
dan bukan sekadar alternatif. Jamu harus disejajarkan dengan obat farmasi.
Artinya, kalau sudah minum jamu, orang tak usah lagi minum obat farmasi.
Bagaimana persaingan di antara produsen jamu sendiri?
Oh, ketat sekali. Bahkan sering terjadi perang harga sampai pemberian
diskon yang mencolok. Persaingan tidak sehat dalam bisnis itu sangat
dirasakan. Akibatnya, harga jamu tertekan terus. Untuk bertahan akhirnya
mutu jamu dikurangi oleh para produsen. Agar tidak saling mematikan dan
mutu jamu tetap terjaga, disepakati untuk menabukan perang harga dan
memberlakukan standar harga.
Cara ini dianggap sebagai solusi terbaik dalam upaya memberikan kesempatan
kepada yang lain terutama yang kecil untuk berkembang. Prinsipnya, yang
besar boleh besar dan yang kecil jangan dimatikan tapi harus lebih
dibesarkan.
Mengakhiri wawancara, Charles mengatakan dalam mengembangkan bisnisnya ia
juga tidak terlepas dari bantuan istri tercintanya, dr Lindawati
Suryadinata.
Ia mengakui dalam memimpin perusahaan raksasa terkemuka Indonesia itu,
harus mengatur waktu ekstra ketat. Bolak-balik Semarang-Jakarta dan ke
beberapa negara terutama Malaysia merupakan pekerjaan rutinnya.
Keinginannya, selain menjalankan perusahaan dan, organisasi dengan baik.
Dia juga berobsesi agar menjadi guru, kawan, dan sekaligus ayah yang baik,
bagi keluarga, termasuk terhadap dua orang anak perempuannya, Vanessa
Kalani (13) dan Claudia Alana (10) yang kini sekolah di Garden
International School, Kuala Lumpur Malaysia.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh
Indonesia)
|
|