A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Mabes TNI
     ► TNI AD
     ► TNI AL
     ► TNI AU
 ► Buku
 ► Galeri
 ► Kontak
 ► Link
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 20022005  
   
  ► e-ti/tempo  
  Nama:
Marsekal TNI Chappy Hakim
Lahir:
Yogyakarta, 17 Desember 1947
Jabatan:
Kepala Staf TNI Angkatan Udara (Kasau) 2001-2005
 
     
 
CHAPPY BERITA

 

Marsekal TNI Chappy Hakim

Saat Merdeka, Justru Tak Berbuat Apa-apa

 

Kompas 20/2/2005: MARSEKAL Chappy Hakim belum lama ini melepaskan jabatan Kepala Staf TNI Angkatan Udara, setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melantik Marsekal Madya Djoko Suyanto sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Udara yang baru di Istana Negara.

Sebelum acara pelantikan tersebut, Kompas sempat mendapat kesempatan untuk berbincang-bincang dengan Marsekal Chappy Hakim yang menjabat KSAU sejak 25 April 2002, di kediaman resmi KSAU di Jalan Wijaya XIII, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Pada saat itu, jenderal bintang empat TNI AU yang meniti kariernya sebagai penerbang pesawat angkut Hercules itu didampingi Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama Sagom Tamboen.

Banyak hal yang menjadi sorotannya, khususnya tentang harapannya ke depan untuk membangun TNI Angkatan Udara-yang merupakan ujung tombak kekuatan pertahanan udara Indonesia-lima sampai sepuluh tahun ke depan.

Chappy sangat sadar bahwa dalam waktu lima tahun, apalagi masa jabatannya tidak genap tiga tahun, sangat sulit untuk membangun kekuatan pertahanan udara Indonesia meski ke titik minimal sekalipun. Untuk itulah, ia mengambil jalan lain yang dirasa lebih tepat, yakni lebih dulu membangkitkan kesadaran masyarakat Indonesia bahwa masa depan setiap negara itu terletak pada sejauh mana negara bersangkutan mampu menjaga kedaulatan dirgantaranya.

Berikut petikan bincang-bincang Kompas dengan Marsekal Chappy Hakim yang kini tengah menyelesaikan autobiografinya yang akan diberi judul Dari Segara Ke Angkasa.

Kompas (T): Sejauh ini, apa kira- kira yang Anda anggap masih kurang untuk dilakukan dalam masa kepemimpinan Anda?

Chappy Hakim (J): Ya, saya sedikit merasa kurang puas dengan pemberitaan tentang kedirgantaraan, terutama tentang keangkatan-udaraan. Sekalipun saya juga sadar kalau berita tentang Angkatan Udara itu tidak menyentuh masalah riil masyarakat. Sebab, kegiatannya kalau enggak di Pangkalan Udara TNI AU, di angkasa ya tidak ada yang tahu, kecuali kalau ada kegiatan aerobatik.

Meski demikian, saya tetap memiliki beban tanggung jawab untuk menyebarkan berbagai hal yang berhubungan dengan aerospace. Oleh sebab itu, saya terus berupaya mencari jalan keluarnya. Lebih-lebih karena Alfin Toffler juga sudah menyebutkan bahwa gelombang kejut berikutnya adalah berbagai masalah aerospace, setelah gelombang kejut telekomunikasi.

Ini berarti bahwa the future knowledge adalah aerospace knowledge. Jadi, kita akan tertinggal jauh bila kita tidak mengajak generasi muda untuk melihat bidang kedirgantaraan. Sekarang kita sudah melihat gejala ketertinggalannya. Misalnya, saat ini Singapura sudah mendesain Bandara Changi untuk dapat didarati pesawat Super Jumbo A-380 yang akan dioperasikan tahun depan.

Jadi, kalau tempat duduknya diganti untuk angkutan haji, pesawat itu bisa mengangkut 920 orang untuk kelas ekonomi. Sementara di Bandara Cengkareng saja, kalau ada dua pesawat Jumbo Jet 747 masuk, kita sudah kewalahan. Sebaliknya, Singapura justru mau membuat bandaranya dapat menerima lima pesawat Super Jumbo A-380 mendarat sekaligus dan keadaan masih normal.

Ini berarti hub-nya kawasan ASEAN itu nanti Singapura. Itu sebabnya Malaysia membuat bandara yang tidak kalah canggih di Sepang. Thailand juga tidak mau terima. Selain membangun bandaranya, mereka juga membeli pesawatnya sekaligus.

Ini semua dilakukan sesuai dengan apa yang sudah disampaikan Alfin Toffler bahwa nanti kehidupan berlangsung 24 jam dan arus orang maupun barang akan sangat tinggi. Ini harus dijawab dengan dua syarat. Harus ada terminal udara dan pelabuhan yang memadai.

Artinya, terminal udara yang memenuhi dan memberikan rasa nyaman. Jangan ini datang ke Jakarta, ketika mau transit, datang ke meja transit ternyata tidak ada petugasnya. Penumpang juga tidak tahu harus ke mana setelah sampai ke Jakarta, semuanya belum jelas. Sebaliknya, kalau ke Singapura, mau meneruskan perjalanan ke negara lain atau mau mengganti moda angkutan, semuanya bisa dilakukan dengan mudah.

Itu sebabnya, ketika SARS menyerang Singapura dan Hongkong, penumpang ke Indonesia justru kosong. Padahal, Indonesia tidak ada SARS. Kenapa semua orang yang ingin berkunjung ke Indonesia harus melalui Singapura dan Hongkong. Kalau kita memiliki bandara yang bagus, tentu semua orang akan langsung ke sini.

T: Apa ada contoh lain tentang ketertinggalan kita di bidang kedirgantaraan?

J: Oh ya. Kalau kita melihat Eropa, dari London sampai Turki, itulah Indonesia. Kalau melihat Amerika dari pantai barat sampai pantai timur itulah Indonesia. Dan, kalau kita bicara tentang Eropa maka kita akan bicara Inggris, Perancis, Jerman, dan Italia. Kekuataan AU empat negara itu, atau kekuatan AU Amerika, seharusnya seperti itulah kekuatan yang perlu dimiliki Indonesia. Sekarang ini, kalau orang bicara tentang kekuatan AU kawasan ASEAN maka mereka akan bicara tentang Singapura, bukan Indonesia.

T: Apa yang menyebabkan hal itu, padahal Anda sudah sering kali menyampaikan hal tersebut. Bukan hanya pada tingkat masyarakat, tetapi juga tingkat pengambil keputusan masih belum ada kesadaran bahwa kita harus memiliki kekuatan kedirgantaraan yang kuat, penerbangan yang lebih baik, AU yang lebih kuat, tetapi tidak bisa tercipta?

J: Ya, karena kita terperangkap pada permasalahan yang yang ada di depan mata. Kelemahan kita itu kan tidak mampu mencari solusi yang mapan serta tidak bisa membuat perencanaan yang realistis. Dan, masih ada beberapa kelemahan lainnya, terutama malas.

Orang kita itu kan malas sehingga lebih cepat mencari yang gampang saja. Padahal, untuk ke aerospace itu tidak bisa gampang, harus susah. No pain no gain, tidak ada makan siang gratis. Kita kurang kerja kerasnya, etos kerjanya rendah. Dengan demikian, enggan untuk belajar ilmu penerbangan yang penuh dengan masalah teknik yang berpangkal pada pelajaran matematika. Begitu juga dengan membaca buku, untuk apa itu harus dilakukan? Baru baca dua lembar sudah tidur, lebih baik main kartu. Itulah habit, kebiasaan yang membudaya yang menjadi sumber ketertinggalan kita.

Coba lihat Malaysia, mereka sekarang sedang menyiapkan 300.000 pemuda yang disiapkan untuk menjadi peraih hadiah Nobel tahun 2020. Di sini, baru Pak Benny Moerdani mendirikan Sekolah Taruna Nusantara saja sudah dimusuhi. Bahkan, dananya dipermasalahkan karena siswanya tidak perlu bayar. Padahal, itu kan untuk kemajuan kita dengan cara menampung mereka yang berbakat dan penuh talenta. Hal ini pula yang memperlihatkan bahwa kita tidak mampu melihat ke depan.

T: Bencana tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam kan merupakan salah satu kesempatan untuk membangkitkan kembali kesadaran kita bahwa kita memerlukan AU yang kuat.

J: Benar, kita ini hanya terkaget-kaget ketika terjadi bencana. Itu pun salah satu sikap yang kurang baik dari kita. Padahal, dari awal kita juga harus menyadari bahwa negara Indonesia ini begitu luas dan tersebar, archipelago state, the biggest archipelago state in the world. Oleh sebab itu, perhubungan laut dan udara harus dominan untuk tetap menjaga negara kesatuan.

Tahun 1940-an, Belanda sudah membuat penerbangan dari Surabaya ke Pulau Banda. Tetapi, enam puluh tahun kemudian, yakni sekarang ini, sudah tidak ada lagi. Belanda bahkan sudah melakukan itu hingga menembus ke Digul. Dulu, untuk menembus ketertinggalan, seperti di Papua, dilakukan dengan cara membuka air stripe. Tetapi, sekarang justru sebaliknya, banyak lapangan terbang yang ditutup.

Lihat saja seperti di Morotai, dulu di sana dibangun tujuh runway, tetapi sekarang ini tinggal satu. Ini memperlihatkan bahwa ketertinggalan kita semakin parah. Sementara perhubungan udara itu merupakan pilar dari suatu negara kepulauan.

T: Sebenarnya struktur TNI Angkatan Udara seperti apa yang hendak kita bangun ke depan dengan melihat situasi dan kondisi seperti itu?

J: Saya tidak mau menjadi day dreamer. Saya sudah tahu, saya sudah melihat, tidak mungkin dalam waktu dekat kita memiliki anggaran untuk membangun TNI Angkatan Udara. Jadi, berulang kali pertanyaan serupa tidak bisa saya jawab. Karena apa pun yang akan saya lakukan itu tidak mungkin bisa dicapai.

Begitu juga untuk lima sampai sepuluh tahun ke depan. Selama kita tidak berubah, kita tidak pernah akan memiliki TNI Angkatan Udara yang kuat. Kenapa, karena saya mau realistis. Sekarang saja dana untuk maintenance pesawat hanya didukung 35 persen sampai 40 persen dari kebutuhan. Itu baru untuk pemeliharaan. Jangan berbicara untuk rehabilitasi atau renovasi.

Bicara tentang perawatan yang ada saja sudah susah, bagaimana kita mau bicara untuk yang ideal. Itu sebabnya kemudian saya menitikberatkan pada hal yang lebih penting, yakni lebih dahulu menumbuhkan minat kedirgantaraan di kalangan generasi muda. Itu sebabnya saya memerintahkan anak-anak untuk membuat buku dan sebar luaskan.

Sedikitnya, mereka harus membuat sejarah satuan mereka. Dengan itu, berarti mereka harus mencari sejarah satuannya. Mereka harus menghubungi para seniornya. Mereka harus mengompilasi bahan-bahan itu menjadi satu bacaan yang menarik. Mereka harus mencatat semua kegiatan mereka untuk dapat membuat buku selanjutnya.

Saya juga memancing mereka untuk terus berkompetisi secara sehat untuk satuan masing-masing. Kemudian hasilnya kita sebar luaskan kepada masyarakat. Dengan pakaian dinas saya nongkrong di mal menjual buku agar anak-anak tertarik.

Dengan begitu, ketika mereka dewasa nanti, mereka tahu betul bahwa negara kepulauan yang mereka cintai dan memiliki keunggulan geografis serta menjadi tempat lalu-lalangnya air traffic itu harus memiliki kemampuan udara yang cukup kalau ia ingin berdiri sama tinggi dengan negara-negara lain. Selama itu tidak bisa dilakukan, selama itu pula kita tidak akan dihargai.

T: Jadi, berapa banyak pesawat terbang yang kita miliki saat ini? Apa benar dari 23 pesawat Hercules yang ada hanya enam yang bisa beroperasi?

J: Ya, begitulah kondisinya. Coba hidupkan ke-20 Hercules yang ada, tidak usah muluk- muluk. Itu saja kita sudah tidak bisa. Bahkan, untuk lima tahun ke depan, menghidupkan yang ada saja kita masih belum bisa karena tetap mahal. Padahal, yang lebih mahal lagi adalah kehormatan bangsa.

Bagaimana orang berseliweran di angkasa kita dan kita tidak mampu menghadangnya. Coba lihat pesawat Shukoi, baru beli empat sudah mau dibatalkan. Padahal, itu tidak ada hubungannya dengan Aceh. Bukan kita tidak prihatin, tetapi itu kan sudah diprogramkan. Kalau tidak dilanjutkan, berarti kita tidak akan dapat membeli spare part-nya. Itu berarti tahun depan semua pesawat yang ada, yang kita miliki ini, sudah tidak bisa terbang lagi.

Kalau begitu, terus mau apa, pesawat tidak ada, radar kita pun kembang kempis. Berarti, kalau ada pesawat asing lewat, kita sudah tidak bisa intersep lagi. Apalagi pesawat buatan Amerika yang sudah tinggal dua, tahun depan sudah tidak bisa digunakan lagi. Akhirnya, orang terbang seenaknya karena kita sudah tidak bisa apa- apa. Kalau kita mau begitu, silakan. Yang jelas, menurut saya, kehormatan dan kedaulatan negara jauh lebih berharga dari segalanya.

Kalau dibilang kita negara miskin, kurang jelas. Sebab, pada tahun 1960-an, ketika negara kita lebih miskin, kekuatan udara terbaik di belahan Timur Jauh ada di tangan kita. Sebab itu Australia dulu takut pada kita. Belanda juga takut pada kita. Itulah yang menjadi bekal para diplomat untuk duduk semeja. Tetapi, sekarang, merdeka pun kita tidak bisa berbuat apa- apa. Makanya, negara seperti Malaysia bisa semena-mena terhadap kita.

T: Kalau begitu, apa yang akan dilakukan lima tahun ke depan?

J: Saya akan berusaha memperoleh dana untuk dapat menghidupkan dulu kemampuan yang ada, yang selama ini tidak dapat dioperasikan. Kalau sudah begitu, baru kita bisa bicara apa yang kita bikin selanjutnya.

CHAPPY Hakim bersama Nyonya Pusparani Hasjim dikaruniai dua anak, masing-masing Tascha Liudmila dan Fatsi Anzani. Lulusan Akademi Angkatan Udara 1971 itu pada 17 Desember nanti genap berusia 58 tahun.

Selama 34 tahun berdinas di TNI Angkatan Udara, Chappy yang masa kecilnya banyak dihabiskan di Jalan Segara 4 yang kini lebih dikenal dengan Jalan Veteran, sudah pernah menduduki berbagai posisi penting, antara lain menjadi Penerbangan I VIP Kepresidenan untuk pesawat Hercules, Komandan Skuadron Udara 31 Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.

Setelah memperoleh bintang satu pada tahun 1996 Chappy dipercaya menjadi Direktur Operasi dan Latihan TNI AU. Kemudian naik bintang dua untuk menjabat Gubernur Akademi Angkatan Udara dan dilanjutkan dengan jabatan Asisten Personalia KSAU.

Tahun 2000, ketika mendapat promosi untuk menjabat Komandan Jenderal Akademi TNI, Chappy pun kembali memperoleh kenaikan pangkat menjadi Marsekal Madya hingga dilantik Presiden Megawati Soekarnoputri untuk menjadi KSAU.

Dalam autobiografinya, Chappy-yang ayahnya seorang wartawan itu-bercerita bahwa sejak kecil ia sudah dekat dengan lingkungan Istana Negara. Karena kediaman mereka hanya sepelemparan batu dari Istana Negara, memang sejak kecil ia sudah biasa bermain dengan putra-putri Bung Karno.

T: Bagaimana kondisi pesawat TNI AU saat ini?

J: Kondisi umum pesawat, radar, maupun pangkalan milik TNI Angkatan Udara saat ini yang dapat dipakai antara 40 persen-45 persen.

T: Kalau dilihat dari apa yang ada saat ini, sebenarnya jumlah tersebut berapa persen dari jumlah yang idealnya?

J: Jauh, jauh sekali. Jadi begini, kalau idealnya itu kan relatif. Akan tetapi, gampangnya begini. Kalau luas negara kita seperti ini, seperti Amerika, seperti Eropa, kalau mau idealnya, ya hitung saja berapa kekuatan Angkatan Udara Amerika? Berapa Milik Angkatan Udara Eropa?

Sebab, kita kan juga harus menjaga udara kita, harus ada air patrol yang harus dilakukan setiap hari selama 24 jam. Sebab, setiap penerbangan yang tanpa izin harus bisa kita intersep. Ini merupakan ketentuan dunia. Dengan begitu, orang akan hati-hati ke Indonesia.

Sebab, kalau tidak terjadwal, tidak ada izin, ya tidak bisa melintas begitu saja. Tetapi, kalau sekarang kan enggak, justru mereka lebih memilih lewat Indonesia sebab lebih aman karena kita sendiri sudah tidak bisa apa-apa. Malah lebih berbahaya lewat Singapura.

Coba saja lihat di Aceh beberapa waktu lalu sehubungan dengan operasi kemanusiaan. Alangkah malunya kita karena mendapat bantuan pesawat yang jumlahnya lebih banyak dari yang kita miliki. Ya, memang itu ingatnya cuma seminggu saja, setelah itu sudah lupa lagi. Orang kita kan begitu, waktu rapat ditanyakan, eh begitu keluar ruangan sudah lupa. Minggu depan itu lagi yang dibahas.

Kita masih sering begitu. Itu sebabnya saya juga masih belum dapat berbicara tentang yang ideal. Saya melihat yang realistis saja bahwa kemampuan kita dalam tanda petik, kemampuan itu berhubungan dengan kemauan. Saya tidak melihat bahwa dukungan dana cukup. Jadi, kalau kita berbicara tentang lima-sepuluh tahun ke depan nanti kita memperbaiki apa, yang kita miliki saja itu sudah baik.

Untuk itulah, saya melihat pada kepentingan jangka panjang lagi bahwa dengan memberikan pengertian kepada generasi muda kita akan jauh lebih bermanfaat agar dapat meningkatkan minat mereka terhadap dirgantara. Itu semua harus kita mulai sebab kita pernah memiliki industri pesawat yang kuat, kita juga pernah punya star line yang kuat. Bahkan, pada tahun 1970-an, kita pernah memiliki armada udara paling banyak di belahan selatan.

T: Bagaimana dengan usaha menjaring generasi muda, apa sudah ada hasilnya?

J: Saya belum dapat mengatakan ada kemajuan. Tetapi, yang jelas ada optimisme, sedikitnya melalui minat baca yang ada di kalangan sendiri yang juga akan diikuti keluarganya serta teman-teman mereka. Tentu dengan membaca dan menulis yang dilakukan para anggota, jelas akan membuat mereka juga lebih bijaksana, lebih intelektual. More knowledge, more widsom.

T: Bagaimana dengan desain pertahanan yang sudah ada, apa perlu suatu perubahan atau sudah berada pada jalur yang benar?

J: Semuanya kembali kepada Departemen Pertahanan. Merekalah yang merencanakan bagaimana model pertahanan yang harus dilakukan Indonesia ke depan. Apa perlu masing- masing angkatan membangun kekuatannya sendiri atau cukup dengan ada yang menjadi matra masing-masing. Seperti kami, Angkatan Udara cukup memiliki peralatan yang memang dibutuhkan untuk semua hal yang berhubungan dengan kekuatan udara.

Jadi, tidak perlu, misalnya, kepolisian merencanakan membeli pesawat Hercules guna pergeseran pasukannya. Cukup menggunakan kekuatan yang ada di TNI AU. Memang, untuk satuannya, akan menjadi lengkap, tetapi secara nasional hal itu merupakan pemborosan.(Suryopratomo, Nugroho F Yudho, Korano Nicolash LMS)