| |
C © updated 12022006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/sp |
|
| |
Nama:
Chalid Muhammad
Lahir:
Parigi, Sulawesi Tengah (Sulteng)
Agama:
Islam
Istri:
Riena Luciana
Anak:
Sakila Faliha (4) dan Ahmad Hisyam (2)
Pendidikan:
- Fakultas Hukum Universitas Tadulako, Palu, Sulteng
Jabatan:
- Direktur Eksekutif Walhi 2005-2008
Alamat Kantor:
Kantor Eksekutif Nasional WALHI, Jalan Tegal Parang Utara No.14,
Mampang, Jakarta Selatan 12790
Website:
www.walhi.or.id
|
|
| |
Welcome
This
site is currently under construction. Please check back at a later time. |
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
Chalid Muhammad
Menggalang Sahabat Walhi
Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Chalid Muhammad
yang dilahirkan di kota kecil
Parigi, Sulawesi Tengah (Sulteng), 1966, ini tengah giat menggalang
Sahabat Walhi. Sudah ada sekitar 2.000 anggota Sahabat Walhi dan di
antaranya sekitar 700 anggota menjadi donatur tetap. Sebagai donatur
cukup dengan Rp 10.000 per bulan dan maksimum Rp 50 juta.
Ia menyelesaikan
kuliah di Fakultas Hukum Universitas Tadulako, Palu, Sulteng, dengan
beasiswa dari pemerintah. Konsekuensinya, setelah lulus ia harus
menjalani ikatan dinas, minimal dua tahun. Kalau tidak ia harus
mengembalikan dua kali lipat dana beasiswa yang diterimanya.
Sejak mahasiswa, ia aktif di organisasi nonpemerintah (ornop) dan
bergabung dengan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sulteng pada
1989. Setelah memimpin Walhi Sulteng selama tiga tahun, pria yang
mengaku tidak suka menjadi pegawai negeri ini, harus menghabisi masa
ikatan dinasnya menjadi pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Sultan
Adam, Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel).
Selama di Banjarmasin, selain mengajar, ia giat di berbagai kegiatan
ornop dan ikut menggerakkan Walhi Kalsel. Kemudian, pada 1994, ia
bergabung dengan Walhi Nasional di Jakarta. Ia dipercaya menjadi
Koordinator Nasional Jaringan Tambang (Jatam) selama lima tahun
(1999-2004). Di bawah koordinasinya, Jatam dikenal sangat galak terhadap
perusahaan-perusahaan yang merusak atau mencemari lingkungan.
Walhi memang keras mengkritik kebijakan pemerintah yang tidak
prolingkungan atau bertentangan dengan pembangunan berkelanjutan.
Organisasi nirlaba itu menghimpun 430 lembaga yang tersebar di 26
provinsi. Para pemimpin lembaga itu bersidang setiap tiga tahun sekali
untuk mengevaluasi dan memilih direktur eksekutif Walhi yang hanya bisa
dipilih dua kali.
Chalid yang dikaruniai dua anak, Sakila Faliha (4) dan Ahmad Hisyam (2)
ini, pada tahun 2005 diminta oleh lebih dari 400 anggota Walhi nasional
untuk memimpin organisasi lingkungan hidup terbesar di Indonesia itu. Ia
menjadi Direktur Eksekutif Walhi Nasional menggantikan Longgena Ginting.
Kendati sibuk di Walhi, suami dari Riena Luciana ini, masih memendam
keinginan meneruskan kuliah. "Nanti, setelah masa jabatan saya di Walhi
selesai tahun 2008. Saya mungkin ngambil politik lingkungan hidup," kata
pria berpenampilan sederhana itu.
Sahabat Walhi
Selain mengeluarkan imbauan halus hingga pernyataan keras menyangkut
perusakan dan pencemaran lingkungan, Walhi juga melakukan advokasi
pengetahuan dan penyadaran lingkungan hidup.
Kini telah dikembangkan
Sahabat Walhi. Sekitar 2.000 warga dari berbagai usia, pendidikan, suku,
dan agama, bergabung dalam Sahabat Walhi, yang terkecil berusia lima
tahun. Mereka antara lain dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Jawa Timur,
Riau, dan Sumatera Utara.
Sekitar 700 anggota Sahabat Walhi menjadi donatur tetap. Sebagai donatur
tidak harus orang kaya-raya, karena cukup dengan Rp 10.000 per bulan
sudah menunjukkan iktikad baik terhadap gerakan sosial itu. Bahkan,
Walhi membatasi sumbangan paling banyak Rp 50 juta. Bukan sok kaya, tapi
jika terjadi sesuatu terhadap donatur, misalnya terbukti korupsi, uang
itu bisa dikembalikan utuh oleh Walhi kepada yang bersangkutan.
Organisasi yang sudah berusia 25 tahun ini dengan tegas menolak
sumbangan dalam bentuk apa pun dari perusahaan atau individu yang
bekerja di perusahaan yang merusak atau mencemari lingkungan. Sumbangan
dari perorangan pun akan diseleksi agar tidak menjadi tempat pencucian
uang hasil korupsi atau tindak kejahatan lainnya.
Walhi pernah mengembalikan dan menolak bantuan dari beberapa lembaga di
Amerika Serikat yang nilainya mencapai Rp 30 miliar, karena AS menyerbu
Irak. Sejumlah organisasi publik di Eropa masih aktif membantu. Ia
menegaskan komitmen Walhi sebagai organisasi yang terbuka, independen,
dan konsisten memperjuangkan hak-hak rakyat yang tertindas dari
perbuatan jahat, terutama dari para pencemar dan perusak lingkungan.
(S-26/A-15) ►e-ti/tsl, dari berbagai
sumber, di antaranya Suara Pembaruan, 12 Februari 2006
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|