|
|
 |

Nama:
Butet Kertaradjasa
Lahir:
Yogyakarta 21 November 1961
Ayah:
Bagong Kussudiardja
Isteri:
Rulyani Isfihana (Kutai, Kalimantan Timur)
Anak:
Giras Basuwondo (1981), Suci Senanti (1988), Galuh Paskamagma (1994)
Pendidikan:
Sekolah Menengah Seni Rupa (1978-1982), Fakultas Seni Rupa dan Desain,
Institut Seni Indonesia (1982-1987, jebol di tengah jalan).
Kegiatan:
Tahun 1985 sampai kini, aktif di Teater Gandrik sebagai pemain dan
organisator produksi. Sampai sekarang menekuni teater dan pertunjukan
monolog sebagai media berekspresi. Bersama Teater Gandrik berpentas di
beberapa kota di Indonesia, termasuk mewakili Indonesia dalam Second ASEAN
Theatre Festival (1990), di Singapura, membawakan lakon "Dhemit". Dan
mementaskan lakon yang sama di Kuala Lumpur, Malaysia; mendukung
pementasan "Brigade Maling" Teater Gandrik di Monash University,
Melbourne, Australia (1999). Tahun 1991 menjadi Redaktur (Budaya) Tamu di
Bernas.
Teater, mulai ditekuni sejak 1978. Antara lain pernah bergabung di Teater
Kita-Kita (1977), Teater SSRI (1978-1981), Sanggarbambu (1978-1981),
Teater Dinasti (1982-1985), Teater Gandrik (1985-sekarang), Komunitas Pak
Kanjeng (1993-1994), Teater Paku (1994), Komunitas seni Kua Etnika
(1995-sekarang).
Puluhan repertoar teater yang pernah diikuti di Teater Gandrik antara lain
Kesandung, Pasar Seret, Pensiunan, Sinden, Isyu, Dhemit, Orde Tabung,
Kera-Kera, Upeti, Proyek, Flu, Buruk Muka Cermin Dijual, Khayangan Goyang,
Juru Kunci, Juragan Abiyoso, Tangis, Brigade Maling. Terakhir bersama
Teater Koma, dalam pementasan lakon Republik Bagong (2001).
Terlibat di Sinetron untuk judul-judul seperti Kucing Pak Selatiban
(1985), Ketulusan Kartika (1995), Asisten Sutradara "Tajuk" (1996), Air
Kehidupan sampai (1998), Cintaku Terhalang Tembok (2001). Tahun 1999,
pernah menjadi figur yang paling dibenci oleh anak-anak, karena perannya
sebagai Pak Raden di film Petualangan Sherina.
Untuk Monolog, diawali sejak tahun 1986 lewat judul Racun Tembakau,
kemudian Lidah Pingsan, Benggol Maling, Raja Rimba Jadi Pawang, Iblis
Nganggur, Mayat Terhormat, dan Guru Ngambeg.
Penghargaan:
Aktor Terbaik Festival Teater SLTA se DIY ke-2 pada tahun 1979,
sebagai Aktor dan Sutradara Terbaik Festival Teater SLTA se DIY ke-4
(1981).
Tahun 1999 dinobatkan sebagai "TOKOH SENI" oleh PWI Cabang Yogya dan
tahun 2000 memperoleh "PENGHARGAAN SENI" dari Pemda DIY.
|
|
Butet Kertaradjasa
Berpotensi Mati Muda
Inilah Butet Kertaradjasa, salah satu seniman paling "rasional" yang
dimiliki Jogja. Silahkan, katanya, jika orang mau menilainya sebagai
seniman yang kompromistis. Karenanya, ia setengah mengutuk para seniman
yang menjadikan seni sebagai legitimasi untuk abai terhadap keluarga.
Seniman jenis ini, katanya, tak lebih dari egoisitis berlebihan yang
mengharap semua orang memahami dirinya, sementara dirinya tak mau memahami
orang lain, termasuk keluarganya.
Bagi Butet, kesenian kurang lebih sama dengan profesi lainnya. Karenanya,
ia mesti dikelola dengan baik. Waktulah yang akan menjawab, seberapa besar
seorang seniman telah mengelola kesenian dengan baik, dari sektor estetika,
manajemen, dan kemanfaatan buat diri si seniman maupun orang lain.
Hasilnya, paling tidak Butet sudah merasa siap untuk mati, kapan pun Tuhan
berkehendak "mengambilnya". Katanya, tanggung jawab sebagai manusia sudah
ia kerjakan semampunya. Di antaranya, memberi jaminan "kesejahteraan"
berupa asuransi, tanah dan rumah buat ketiga anaknya serta istrinya.
Maka, pada tiap menjelang tidur, doa Butet adalah, ia meminta maaf kepada
Tuhan untuk kesalahannya terhadap keluarga, handai taulan, dan juga kepada
Tuhan yang telah memeliharanya.
Keinginan Butet kini, adalah mati dalam situasi yang paling indah, yakni
saat dirinya tidur. Keinginan lainnya, ia tak ingin mati dalam keadaan
sakit, berutang, dan merepotkan keluarga yang ditinggalkan.
Lahir di Yogyakarta 21 November 1961. Anak ke 5 dari 7 bersaudara keluarga
seniman (pelukis dan koreographer) Bagong Kussudiardja. Isteri: Rulyani
Isfihana (Kutai, Kalimantan Timur). Anak: Giras Basuwondo (1981), Suci
Senanti (1988), Galuh Paskamagma (1994). Pendidikan: Sekolah Menengah Seni
Rupa (1978-1982), Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia
(1982-1987, jebol di tengah jalan).
Sebelum dikenal sebagai aktor teater, sejak 1978-1992 Butet pernah menjadi
sketser (penggambar vignet) dan penulis freelance untuk liputan
masalah-masalah sosial budaya untuk media-media lokal maupun nasional: KR,
Bernas, Kompas, Mutiara, Sinar Harapan, Hai, Merdeka, Topik, Zaman, dan
lain-lain. Ia juga aktif sebagai pelukis dan pengamat senirupa. Sampai
sekarang masih menulis esai budaya atau kolom (tentang masalah sosial
budaya) di berbagai media massa cetak nasional.
Teater, yang kemudian menjadi basis dia berkesenian, mulai ditekuni sejak
1978. Ia antara lain pernah bergabung di Teater Kita-Kita (1977), Teater
SSRI (1978-1981), Sanggarbambu (1978-1981), Teater Dinasti (1982-1985),
Teater Gandrik (1985-sekarang), Komunitas Pak Kanjeng (1993-1994), Teater
Paku (1994), Komunitas seni Kua Etnika (1995-sekarang).
Puluhan repertoar teater yang pernah diikuti di Teater Gandrik antara lain
Kesandung, Pasar Seret, Pensiunan, Sinden, Isyu, Dhemit, Orde Tabung,
Kera-Kera, Upeti, Proyek, Flu, Buruk Muka Cermin Dijual, Khayangan Goyang,
Juru Kunci, Juragan Abiyoso, Tangis, Brigade Maling. Terakhir bersama
Teater Koma, Butet terlibat dalam pementasan lakon Republik Bagong (2001).
Yogyakarta kemudian mencatat prestasi Butet yang pernah terpilih sebagai
Aktor Terbaik Festival Teater SLTA se DIY ke-2 pada tahun 1979, sebagai
Aktor dan Sutradara Terbaik Festival Teater SLTA se DIY ke-4 (1981).
Butet juga pernah terlibat di Sinetron untuk judul-judul seperti Kucing
Pak Selatiban (1985), Ketulusan Kartika (1995), Asisten Sutradara "Tajuk"
(1996), Air Kehidupan sampai (1998), Cintaku Terhalang Tembok (2001).
Tahun 1999, dia pernah menjadi figur yang paling dibenci oleh anak-anak,
karena perannya sebagai Pak Raden di film Petualangan Sherina.
Untuk Monolog, sebuah cabang kesenian dari seni teater, sebetulnya sudah
lama dikenalnya. Butet mengawalinya sejak tahun 1986 lewat judul Racun
Tembakau, kemudian Lidah Pingsan, Benggol Maling, Raja Rimba Jadi Pawang,
Iblis Nganggur, Mayat Terhormat, dan Guru Ngambeg. Kepada Jodhi Yudono
dari Kompas Cyber Media, pada Kamis (25/4/2002) lalu, di sebuah kafe di kawasan
Blok M, Butet menuturkan romantika hidupnya.
Semua acaramu di Jakarta kebanyakan sudah terencana atau improvisasi?
Improvisasi. Saya nggak punya plan misalnya tahun depan mau ngapain. Saya
ngalir saja. Paling nggak, kalau misalnya saya ada mood dan waktu saya
memungkinkan ya saya pentas bersama Gandrik. Atau kalau tiba-tiba ada
teman yang nawari untuk pentas panggung seperti Mas Nano (N Riantiarno,
sutradara Teater Koma-Red) kemarin, saya on the spot saja. Mau nggak lu
main, saya cocokkan waktunya, jalan. Atau kalau saya dan teman-teman mood
main monolog, ya kita bikin. Jadi saya nggak punya plan jangka panjang.
Tergantung situasi mood, mood saya atau moodnya Jadug.
Anda masih memenejeri Gandrik dan Kua Etnika? (Tahun 1995 Mendirikan
Komunitas Seni Kua Etnika bersama Djaduk Ferianto, Purwanto dan Indra
Tranggono. Komunitas ini merupakan wadah pengembagan gagasan kreatif di
bidang seni pertunjukan: musik dan teater.)
Sekarang sudah ada pendelegasian tugas. Pada aspek pengelolan organisasi,
di Kua Etnika saya sudah ada yang mewakili. Tapi semua masih bermuara ke
saya untuk hal-hal yang sifatnya krusial. Kalau mereka nggak bisa
mengambil keputusan dan berhadapan dengan hal-hal yang sulit, mereka masih
berkonsultasi dengan saya.
Kedudukanmu sekarang?
Ya tetap di manajemen Kua Etnika, Sinten Remen, Gandrik, terus di Galang (badan
usaha berbentuk advertising) juga. Tapi di Galang saya sudah menyatakan
non aktif, komisaris saja.
Galang sendiri pada perkembangannya bergerak di bidang apa saja?
Awalnya periklanan, tapi konsentrasinya ke desain grafis. Sekarang
penerbitan, percetakan dan yayasan, tapi saya sudah mengambil jarak. (Tahun
1996 Mendirikan Galang Communication, sebuah institusi periklanan dan
studio grafis. Tahun 1997 Mendirikan Yayasan Galang yang bergerak dalam
pelayanan kampanye publik untuk masalah-masalah kesehatan reproduksi
berperspektif jender.)
Kelompok-kelompok kesenian yang melibatkan Anda itu punya schedule
nggak, untuk tahun ini Gandrik main, Kua Etnika main?
Maunya gitu, inginnya semuanya terencana tapi pada prakteknya ternyata
nggak mungkin. Ada saja hambatannya, ternyata kita nggak bisa
mempersamakan ambisi, tidak bisa mempersamakan dorongan kebutuhan
berkesenian secara kolektif. Saya tak ingin terjadi andaikan itu
terlaksana hanya karena ambisi saya, atau dorongan kreatif saya, saya
nggak mau. Monolog pun begitu, saya nggak mau hanya dorongan saya saja
sebagai pemain. Tapi maunya saya juga dorongan dari penulisnya. Tapi
memang sulit, kadang ketika dorongan saya semangat untuk tampil,
penulisnya enggak.
Kalau itu saya paksakan, nanti yang kalang kabut cuma saya sendiri.
Prinsip organisasi egaliter yang saya bayangkan nanti tidak terwujud.
Tapi akhirnya toh Anda dan Jadug yang kelihatan sangat dominan di dalam
kelompok-kelompok itu ya?
Ya begitulah yang terjadi, dan itu sangat saya sayangkan. Seharusnya
mereka berada dalam semangat dan dinamika yang sama, karena peluang itu
kita berikan. Susahnya mereka mendudukan saya dan Jadug dalam posisi itu,
sehingga mereka tergantung. Kadang-kadang kalau mereka fair sih nggak
masalah. Artinya fair itu tahu peran, tahu posisi. Susahnya pada saat
dituntut kewajiban... pada saat kewajiban itu tidak imbang, tapi pada saat
hak mereka menuntut egalitarian. Itu yang kadang sangat memprihatinkan
pada saat kita berhubungan dengan sejumlah kepala yang tidak sama dalam
menyikapi dunia kerja itu.
Omong-omong dalam sebulan Anda kumpul sama keluarga berapa hari?
Sejak Januari tahun ini sangat sedikit. Frekwensinya lebih banyak ke luar
kota. April ini, saya hanya enam hari berada di rumah. Besok Jumat saya
pulang, Senin sudah berangkat lagi. Saya baru pulang lagi hari Kamis.
Setelah itu bulan Mei saya full di Jogja kecuali hari Senin.
Dari seringnya Anda meninggalkan rumah tidak problem buat keluarga?
Karena sejak lama sudah terbiasa dengan mekanisme seperti ini, anak
istriku itu sudah kulino (terbiasa) saya tinggal. Waktu saya jadi wartawan
juga sudah kulino sudah latihan mereka, sudah ngerti dunia saya. Tapi
memang sejak saya main di Teater Koma agak lama mereka saya tinggalkan.
Untungnya mereka mengikhlaskan dan masih mempercayai saya. (Ketika menjadi
wartawan, prestasi Butet juga di atas wartawan biasa. Ia pernah menjadi
juara pertama Lomba Esai TIM (1982). Tahun 1983 sebagai Juara Pertama
Lomba Esai Tentang Wartawan, LP3Y. Tahun 1986-1990, Butet pernah bekerja
sebagai wartawan Tabloid Monitor)
Ada nggak perasaan curiga atau cemburu dari istri karena seringnya Anda
jauh dari keluarga?
Mungkin ya ada, tapi komitmennya, kalau istri saya sedang mood dan ingin
menyusul saya, any time, saya harus memfasilitasi, mengakomodasinya. Di
mana pun.
Kalau anak-anak?
Kalau pas libur sekolah, kadang mereka juga ikut.
Ada kosekwensi logis nggak buat keluarga dari risiko sering ditinggal
pergi?
Apa yang saya lakukan semua ini buat mereka juga. Semua yang saya peroleh
baik bersifat materi maupun non materi buat mereka. Kalau saya pas pulang,
waktu pulang saya itu menjadi hak mereka. Mereka mau ngajak renang,
makan-makan, dan saya harus konsekwen untuk bertanggungjawab sebagai
seorang ayah.
Untuk urusan pendidikan anak-anak, semuanya diserahkan ke istri?
Sekolahan, formal. Karena saya dan istri saya hanya melakukan fungsi
kontrol. Saya percaya, bahwa anak-anak itu akan melakukan pilihan-pilihan
yang tepat. Karena saya tidak pernah mentargetkan apa pun kepada mereka.
Sekolah tidak harus ranking-rankingan, nggak harus pinter-pinter banget,
pokoknya penuhi sajalah kewajiban-kewajiban itu sebaik mungkin. Saya
tumbuhkan kemampuan menyeleksi tindakan-tindakannya sendiri, karena saya
mencoba meyakini kepada mereka bahwa apa pun yang terjadi merekalah yang
menentukan. Termasuk kalau misalnya raport mereka merah, saya tidak akan
marah. Kewajiban saya hanya menandatangani raport.
Kangen nggak sama mereka kalau ada di luar kota?
Kangen. Kangen sekali. Apalagi kalau sudah berada di hotel. Saya terhibur
kalau pas ketemu teman-teman, sementara di hotel kan sepi. Sebab saya
mengartikan bergaul itu juga sebagai kerja. Di hotel teman saya paling TV.
Paling telpon-telponan sama mereka, mencari oleh-oleh buat mereka,
sebisanya saya pulang membawa oleh-oleh buat mereka.
Biasanya mereka minta oleh-oleh apa?
Kalau anak sulung saya biasanya minta mentahannya saja, duit saja.
Sudah beli oleh-oleh apa buat anak-anak?
Anakku yang paling kecil banyak oleh-olehnya. buku bacaan, boneka. Anakku
yang kedua minta dibeliin ponsel. Karena dia sudah kelas dua SMP, anak
perempuan, fungsinya sebagai alat kontrol saja.
Nomor dua minatnya apa?
Minatnya musik, main drum, biola. Nomor tiga itu monolog, joged, nyanyi.
Anda ngajarin mereka?
Nggak. Anak saya yang belajar teater justru saya suruh ke mana-mana,
jangan sama saya. Dia ikut teater Garasi. Dia saya suruh mencari. Anakku
justru mendapatkan kepuasan karena tidak mendapat fasilitas dari saya.
Seperti saya dulu, mecari. Saya sebagai penulis juga diakui, bukan karena
katabeletje ayah saya. Saya main teater diakui juga karena jerih payah
sendiri.
Anda merasa punya beban juga sebagai putranya Pak Bagong waktu masih dalam
proses mencari itu?
Ya, beban buat saya. Sebab dengan mudah orang akan mengkait-kaitkan
seakan-akan saya membonceng nama besar ayah saya. Hal yang sama sekarang
terjadi juga pada anak-anak saya. Apalagi anak saya masuk ke wilayah
teater. Buat mereka berat, makanya saya selalu bilang, kamu jangan
dekat-dekat saya, sekali waktu boleh. Kalau kamu mau mendapatkan
eksistensi, kamu harus belajar dengan orang lain, supaya kamu juga dapat
melihat bahwa bapakmu ini nggak sempurna, ada kesalahan, dan kamu bisa
melihatnya. Kalau kamu di sini, kamu akan menyangka bahwa aku ini pusat
kebenaran.
Kalau yang sulung minatnya apa?
Kalau si mbarep (sulung) ke teater, pantomim dan film independen. Dia
minta kamera tapi belum saya penuhi karena mahal.
Mahal gimana, kan Anda laris sekali..
Maksud saya, saya tidak ingin kalau memang anak saya mau jadi kameraman,
itu akan saya penuhi, saya akan usahakan secara maksimal. Tapi karena dia
ingin menjadi sutradara, sampai dia ngotot memiliki kamera, jangan-jangan
dia butuh kamera hanya untuk kebutuhan melegitimasi dalam pergaulan
sosialnya. Ya saya suruh merenungi itu. Kalau itu yang dia inginkan,
pertanyaan saya kepada dia, apa kamu mau dihargai teman-teman kamu bukan
karena prestasi? Tapi hanya karena kamera, dan itu pun pemberianku. Terus
dia bilang, okelah lupakan soal kamera. Tapi ketika dia bilang begitu,
saya malah berpikir, nanti kalau ada duit sekali waktu saya belikan deh.
Beberapa kali pementasan kan cukup
Kalau sekedar memenuhi hasrat itu bisa, tapi karena konon seorang ayah
juga harus mendidik, saya tidak ingin menjadikan dia terlalu mudah
mendapatkan kemudahan-kemudahan itu. Sebab saya dulu harus bergulat untuk
mendapatkan apa yang saya inginkan. Begitu saya manjakan fasilitas,
sebetulnya diam-diam saya sedang membunuh dia. Saya tidak ingin melakukan
itu.
Anda mulai booming itu pas momen apa ya?
Pas Soeharto-Soehartoan itu, tahun 1998. Maksudnya ketika orang di luar
komunitas kesenian mengenal saya.
Anda laku sekali setelah itu, tiap hari ada yang mengundang Anda?
Ya tidak setiap hari, tapi frekwensinya jadi lebih padat.
Sebelum momen itu Anda mengandalkan nafkah dari apa?
Dari Galang. Saya membangun basis ekonomi melalui Galang itu.
Kadang-kadang nulis, diajak main sinetron sama temen. Main teater tidak
bisa diandalkan.
Sekarang ini "jualan" Anda apa saja?
Macem-macem, ada sinetron, acara-acara di berbagai perusahaan yang
aneh-aneh itu. Misalnya, saya diundang sebuah perusahaan untuk memotivasi
karyawan yang patah semangat karena krisis moneter. Aneh kan? Aku sendiri
lupa apa yang aku omongkan, tapi intinya memotivasi semangat hidup.
Berbagi pengalaman dengan mereka, sambil guyon. Pengetahuan saya di bidang
marketing yang sedikit ya saya bagi dengan mereka.
Harga tanggapannya berbeda dong, untuk kebutuhan komunitas kesenian dan
mereka yang membuat anda merasa "terpaksa"?
Ya
Pasti lebih tinggi untuk yang "aneh-aneh" itu?
Jelas. Kalau untuk Gandrik sendiri saya malah nggak berpikir soal honor.
Untuk monolog Anda, bisanya siapa yang menulis skenarionya?
Biasanya Agus Noor, dulu ada Indra Tranggono. Kalau kepepet ya saya tulis
sendiri.
Omong-omong soal Indra Tranggono, dia pernah berkata, mestinya Butet sudah
mulai berbagi dengan komunitas kesenian yang membesarkan dirinya, apa
tanggapan Anda?
Pengertian berbagi seperti apa?
Barangkali Anda jadi semacam maisenas buat kelompok-kelompok teater di
Jogja
Kalau toh saya melakukan itu, pertama-tama bukan karena disuruh orang
lain. Kedua, harus dipahami bahwa saya bukan sinterklas. Dan ketika saya
tumbuh pun saya tidak mau dimanja seperti itu. Tapi saya tahu maksudnya
Indra adalah moral obligation. Mengartikan moral obligation tidak
sesederhana itu dan tidak harus seperti itu. Kedua, kalaupun saya berderma,
saya tidak ingin memamerkan kedermawanan saya untuk diketahui orang lain.
Okelah, kalaupun tidak berbentuk material, moral.
Moral obligation apa yang sudah Anda berikan kepada dunia kesenian?
Dengan memberikan kemungkinan-kemungkinan akses yang saya punya untuk
kepentingan grup-grup kesenian di Jogja. Saya tidak pernah pelit
memberikan akses saya yang saya peroleh kepada teman-teman, siapa pun
mereka. Tergantung mereka mau mengolah akses itu apa tidak. Itu moral
obligation saya, saya tidak pelit. Tapi artinya orang harus bekerja untuk
mengolah akses. Orang tidak bisa hanya tidur, kemudian menerima hasil.
Kalau tidak mengolah akses, ya tidak akan mendapatkan apa-apa.
Tapi diam-diam, terpaksa saya omongkan karena saya ditanya, kepada
sejumlah anak muda yang melakukan kegiatan, entah teater, pembuat film
independen, datang kepada saya dan kebetulan pada saat itu saya punya uang,
sedikit-sedikitnya saya menunjukkan konsen kepada mereka, tapi seharusnya
tidak saya omongkan.
Jadi kalau yang diistilahkan tadi berbagi, saya tidak bisa menerima sebuah
pikiran memaksakan kehendak orang kepada diri saya. Itu namanya tiran.
Pertanyaanku, apakah secara spesifik hanya ditujukan kepada saya? Apakah
juga untuk mereka yang tumbuh dalam atmosfir kesenian Jogja? Kalau kita
berpikirnya egaliter, secara fair itu harus diaplikasikan kepada siapa
pun, termasuk Indra Tranggono sendiri.
Apa Anda ada masalah dengan Indra Tranggono?
Saya merasa tidak ada masalah dengan dia, tapi dia yang tidak mau saya
dekati, tidak mau lagi membantu saya.
Sejak kapan "berpisah" dengan dia?
Ya sejak tiga bulan ini. Saya sangat menyayangi dia, mencintai dia, karena
dia juga teman saya sejak SMP. Tapi Indro sudah menyatakan tidak mau
bekerjasama lagi dengan saya. Saya tidak tahu masalah apa sebenarnya,
karena saya merasa tidak pernah punya masalah.
Situasi kesenian di Jogja sendiri sekarang macam apa?
Saya tidak melihat yang mengkhawatirkan kalau melihat semangat mereka.
Mereka yang berproses dengan kesungguhan masih ada. Yang ke industri juga
ada. Mereka yang melakukan pencarian-pencarian kreatif juga masih ada.
Artinya, dinamika kesenian sebagaimana dulu ketika saya tumbuh, itu masih
berlangsung dengan wajar dalam format mereka, dalam semangat mereka. Saya
tidak bisa memaksakan romatisme saya yang dulu kepada anak muda sekarang.
Karena putra-putra Pak Bagong sebagian sibuk, macam Anda dan Jadug,
hubungan sesama anggota keluarga Bagong Koesudiardjo bagaimana?
Baik. Tapi dengan bapak saya lama nggak ketemu, karena saya sering pergi.
Masih ada sisa-sisa romantisme Anda sebagai anak Pak Bagong?
O masih, kalau ada waktu saya sempatkan main ke rumah bapak. Guyon-guyon.
Bisa kumpul di rumah bapak biasanya pas momen apa?
Ya kalau hari raya, Natal, lebaran, tahun baru, atau pas slametan ibuku,
pasti kumpul.
Biasanya apa yang diperbicangkan kalau kumpul di rumah Pak Bagong?
Paling-paling cuma ngomong saru (jorok). Pokoknya nggak ada omongan serius,
yang ada ya guyon saja. Waktu anak-anak sih serius, sekarang anak-anak
sudah mempunyai kepercayan diri dan kemandirian.
Hubungan Anda dengan adik Anda, Jadug, sangat akrab sekali. Keakraban yang
egaliter itu sudah terjalin sejak kapan?
Sejak dia mulai berkesenian. Dia ngendang itu sejak SD. Aku main teater
dia sudah musikin saya. Tahun 77/78 dia masih pakai celana pendek. Aku
main teater, dia main musik.
Kalau Pak Bagong punya kegiatan, Anda masih suka membantu?
Ya, dulu. Sekarang sudah sibuk, jarang. Dulu aku jadi manajer produksinya.
Kalau nggak ada pekerjaan kesenian, kegiatan anda apa?
Paling-paling kalau di luar kota ya ke warnet. Buat ngecek surat-surat.
Browsing sudah nggak sempet. Kalau ada order ya bikin tulisan buat media,
atau bikin karangan untuk acara, atau bisa juga bikin proposal. Paling
kalau di hotel ya cuma nonton TV dan baca.
Sebagai orang sibuk, perangkat kerja Anda apa? Laptop barangkali?
Nggak ada. Apa, ya cuma diriku. Kalau kepingin ngetik ya di warnet.
Nggak butuh asisten?
Nggak, ndak konangan (nanti ketahuan honornya).
Pernah ada masalah nggak dengan jadwal acara Anda yang padat karena nggak
ada asisten?
Nggak. Saya itu nasibnya tergantung ini (Butet mengambil sebuah buku
agenda kecil dari saku celana). Nyawaku ada di sini. Ini ilang, kacau aku.
Sejak sebelum 1998 saya sudah mempunyai tradisi pakai agenda harian.
Mulainya karena Tempo dan Jakarta Post selalu memberi agenda kepada saya
tiap akhir tahun, karena saya punya biro iklan itu (Galang-Red), beberapa
media cetak suka ngirim souvenir. Jadi saya punya kebiasaan mencatat apa
yang akan saya lakukan. Seperti ini (menunjukkan agenda acara), sampai
bulan September ada sejumlah kegiatan yang harus saya tangani. Jadi saya
tidak perlu sekretaris. Sekretarisku ya yang di kantong ini.
Terus kalau ada orang yang tiba-tiba memesan Anda pentas, padahal jadwal
kegiatan Anda sudah penuh sampai September bagaimana?
Sebetulnya setiap saat bisa, asal waktunya cocok. Jadi kalau ada orang mau
memesan saya, ya harus menyesuaikan dengan waktu yang masih bolong-bolong
belum terisi itu.
Untuk menjaga stamina, jamu Anda apa?
Doping saya pakai obat Cina, ginseng cair yang di botol kecil. Tapi itu
jarang, paling kalau mau pentas yang membutuhkan kegiatan fisik. Tapi
sehari-hari obatnya ya tidur. Prinsipnya kalau ngantuk terus tidur, entah
siang, sedang di dalam taksi. Tiba di hotel kalau ngantuk langsung tidur,
nggak boleh ditunda.
Refreshingnya biasanya apa?
Makan bersama anak-anak, jajan soto, makan malam bersama mereka.
Punya tempat favorit kalau ngajak makan anak-anak?
Soto Kaditiro, soto Pak Slamet, kalau malam tongseng, sate Kletek,
tongseng Tamansari. Anak-anakku ya ke mal.
Kalau refreshing ketika di luar rumah apa?
Seperti di luar kota ini? Ya ketemu teman-teman, ke kafe, diajak
relasi-relasi, mereka itu seneng nraktir aku.
Menyeleweng nggak?
Ya harus mengaku nggak, hehehe
Pacar punya nggak?
Nggak
Untuk pencerahan batin?
Nggak, cukup istri saya
Karena sering makan enak, sudah mulai ada keluhan?
Ada, diabet dan kolesterol. Pernah kadar gulaku sampai 400, kolesterolnya
400. Dokter menyarankan saya supaya diet keras dan olahraga keras sampai
mengeluarkan keringat. Sempat coba saya lakukan sampai sepuluh hari,
hasilnya efektif. Jamunya pakai telor ayam dan asam cuka. Biasanya istriku
yang ngurusi. Tapi kalau di luar kota begini jadi kacau nih acara
jamu-jamuan.
Istri Anda kegiatannya apa di rumah?
Nanti pementasan Gandrik dia ikut. Kegiatan lain, dia bisnis kecil-kecilan,
saya ikut memfasilitasi agar dia mandiri. Kenapa saya dorong dia untuk
mandiri? Karena saya merasa saya punya potensi mati muda. Saya tidak ingin
kalau saya mati ngrepotin orang. Kalau istri saya mandiri secara ekonomi,
punya pengalaman melakukan usaha, relatif amanlah. Dan kalau saya tidak
mati, saya memberikan kesempatan dia mandiri secara ekonomi. Karena kalau
saya tidak lakukan itu, secara ekonomi istriku dan anak-anakku tergantung
pada aku semua. Padahal aku ada batasnya kan? Fisik bisa hancur, bisa
sakit, bisa mati pula. Karenanya dia saya fasilitasi untuk bisnis itu.
Soal potensi mati muda, memangnya Anda merasakan apa belakangan ini?
Ya menyadari keterbatasan fisik saya yang sudah terjangkit macam-macam
penyakit, ada gula, ada kolesterol.
Anda siap mati kapan saja?
Ya, bahkan setiap mau tidur doa saya kepada Tuhan adalah, agar Tuhan
memaafkan kesalahan saya kepada teman-teman saya, keluarga saya, kepada
perilaku-perilakuku. Karena perasaan saya besoknya ketika bangun tidur
saya akan mati. Cita-citaku kan mati tanpa sakit, mati nggak ngerepotin
orang lain. Mati tanpa siksa. Itu mati yang indah buat saya.
Sudah melihat tanda-tandanya?
Ini kebetulan saya sedang membuat rumah. Teman-temanku, pada saat mereka
membangun atau rumah selesai, itu mati. Jadi ketika saya memutuskan
membuat rumah, aku bilang sama istriku, aku bisa mati ini. Sekarang
rumahku sudah memasuki tahap finishing, aku ge-er ini aku bisa mati, udah
deket nih matiku.
Untuk cadangan hari tua, apa yang sudah Anda perbuat buat masa depan
anak-anak?
Saya meniru ayah saya. Dia itu ingin memfasilitasi anak-anaknya dalam hal
sandang, pangan, papan. Saya membeli tanah, tidak untuk saya, tapi untuk
anak saya. Saya dibelikan tanah oleh bapak saya, dibuatkan rumah, meskipun
saya sekarang merenovasi rumah itu, sekarang saya sudah membeli tanah
untuk anak-anak saya dalam ukuran yang pantas, sekitar 200 m2.
Menirukan gaya bicara orang masih suka dipakai di panggung?
Kadang masih, tergantung kebutuhan dan situasi. Tergantung konteknya.
Ketika saya berkesenian, saya ya ge-er merasa diri saya seniman, tapi
ketika orang mengundang saya untuk memotivasi karyawan, saya ya ge-er
merasa sedang berjuang untuk perusahaan itu sambil menghibur. Ketika orang
mengundang saya untuk mengisi acara agar publik tertawa karena mereka
sedang sedih, saya ge-er bahwa diri saya sedang jadi seorang entertainer.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), Repro Kompas Cyber Media)
|
|