| |
C © updated 26102006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/am |
|
| |
Nama:
Bustanul Arifin
Lahir:
Bangkalan, 27 August 1963
Agama:
Islam
Isteri:
Astuti Sariutami
Anak:
1. Muhammad NaufalYugapradana
2. Nabila Isnandini
3. Muhammad NawafTresnanda
PendidikanFormal:
1. Tahun 1985, lulus Sarjana Agribisinis, Fakultas Pertanian, Institut
Pertanian Bogor (IPB), Indonesia, judul skripsi “Analisa Pemasaran
Ekspor Kayu Lapis Indonesia ke Amerika Serikat dan Singapura”.
2. Tahun 1991, lulus Master of Science, Resource Economics, University
of Wisconsin-Madison, AS, judul tesis “Land-Use Intensification of
Indonesian Agriculture”.
3. Tahun 1995, lulus Doctor of Philosophy, Resource Economics,
University of Wisconsin-Madison, AS, judul disertasi “The Economics of
Land Degradation: A Case Study of Indonesian Upland”.
Pekerjaan:
1983-1985, Assisten Dosen, untuk mata kuliah Ekonomi Umum (Prof. Rudi
Sinaga) dan Kependudukan (Prof. Sediono Tjondronegoro), Jurusan
Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut
Pertanian Bogor.
1986-1987, Kepala, Project Management Unit (PMU), Proyek Pengembangan
Pedesaan Wilayah (P3W) Transmigrasi Terpadu Krueng Tadu, Aceh Barat, DI
Aceh.
1992-1993, Data Analyst, Membership Office of Memorial Union,
University ofWisconsin-Madison, AS.
1993-1995, Computer Consultant, Steenbock Memorial Library, University
of Wisconsin-Madison AS.
1996-1998, Ketua, Program Studi Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas
Pertanian, Universitas Lampung.
1997-1999, Tim Ahli, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR-RI) Pusat, Jakarta,
Indonesia.
1997-Sekarang, Dosen, Program Pascasarjana, Universitas Indonesia (UI)
dan Institut Pertanian Bogor (IPB).
1996-Sekarang,i Ekonom Senior, Institute for Development of Economics
and Finance (INDEF), Jakarta.
1998-2000, Ekonom/Analis Senior Kebijakan, United Nations Development
Programme (UNDP), Jakarta.
1998-2000, Ekonom Senior, Program Pengembangan Ekonomi Masyarakat
Daerah, Deputi Regional Bappenas, Jakarta.
2005-Sekarang, Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian, Universitas Lampung
(UNILA).
2005-Sekarang, Peneliti Senior, International Center for Applied
Finance and Economics (InterCafe), IPB-Bogor.
2002-2003, Guru Besar Tamu (Fulbright Fellow), Department of
Agricultural and Applied Economics, University of Wisconsin-Madison, AS.
2000 -2002, Direktur, Institute for Development of Economics and
Finance (INDEF),Jakarta.
Address:
Jalan Butu Merah No. 45, Pejaten Timur 12510, Indonesia
Phone: +62-21 790-1001, Fax: +62-21 7919-4018, Cell-phone:
+62-812-940-1150
E-mail:
barifin@uwalumni.com
barifin@yahoo.com |
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04
05 == Bustanul Arifin (04)
Peran Ilmu Ekonomi Pertanian Dalam Pembangunan Peradaban
Berikut ini bagian pertama dari petikan lengkap orasi ilmiah
Bustanul Arifin, yang diberi judul “Peran Ilmu Ekonomi Pertanian
Dalam Pembangunan Peradaban: Sebuah Refleksi Untuk Reposisi”,
disampaikan dalam rangka Orasi Ilmiah sebagai Guru Besar Ilmu Ekonomi
Pertanian di Gedung Serbaguna Universitas Lampung, 20 Februari 2006.
Reposisikan Ilmu Ekonomi Pertanian Untuk Membangun Peradaban
IImu ekonomi pertanian merupakan salah satu cabang tertua dari ilmu
ekonomi yang dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip kelangkaan dan
pilihan. Kandungan sumberdaya pada suatu wilayah menjadi landasan
pengembangan konsep keunggulan komparatif yang menjadi esensi utama
perdagangan barang dan jasa. Strategi aplikasi atau turunan konsep di
atas kemudian dikenal sebagai keunggulan kompetitif, yang berkembang
sangat pesat dalam praksis dan peradaban umat manusia dalam proses
industrialisasi dan globalisasi saat ini.
Dalam konteks tersebut, ilmu ekonomi menempatkan sektor pertanian atau
basis sumberdaya alam sebagai landasan utama pembangunan ekonomi suatu
bangsa. Proses transformasi sektor pertanian yang mampu menghasilkan
produksi atau surplus pertanian di tingkat domestik dalam jumlah besar
juga dianggap sebagai syarat pokok pertumbuhan ekonomi, pembangunan jati
diri dan identitas suatu bangsa, dan bahkan mewarnai tahapan peradaban
serta interaksi antarpelaku dalam pergaulan dunia yang semakin kompleks.
IImu ekonomi sendiri berkembang melalui perjalanan sejarah peradaban
yang tidak terlalu gemilang, terutama proses kolonialisme, imperialisme,
dan perbudakan yang sama sekali bertentangan dengan nilai-nilai
kemanusiaan secara universal. Semangat ekspansionis yang ditunjukkan
oleh segelintir negara di Eropa dan negara besar lainnya bertemu dengan
semangat penaklukan daerah jajahan, sekaligus penguasaan kekakayaan alam
dan peradabannya. Asia Tenggara, Afrika dan Amerika Latin yang sangat
kaya rempah-rempah dan sumberdaya alam menjadi ajang kolonialisme dan
arena imperialisme yang sekaligus merupakan perwujudan ekspansi
kekuasaan tentorial.
Sejarah Revolusi Industri di Inggris abad ke-19 memang diakui sebagai
salah satu tonggak modernisasi ekonomi dan penerapan prinsip-prinsip
efisiensi dalam perekonomian. Di dalam negeri, Revolusi Industri ikut
memacu proses industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi, yang kadang
diwarnai oleh pemusatan aset dan modal pada sedikit pelaku ekonomi.
Efisiensi transportasi sangat terbantu oleh penemuan kapal uap dan
pembukaan Terusan Suez, yang akhirnya mampu mempersingkat waktu tempuh
pelayaran dari Dunia Barat ke Timur, yang semakin menjadi insentif bagi
kaum imperialis untuk lebih menguasai tanah jajahan baru.
Tu1isan ini adalalah sebuah refleksi penelusuran perjalanan ilmu ekonomi
pertanian, meliputi kelahiran, modifikasi, integrasi dengan ekonomi
pembangunan, masa keemasan dalam era perubahan teknologi, dan
keterbatasannya dalam keberlanjutan pembangunan. Refleksi ini adalah
pelajaran berharga untuk melakukan reposisi dan rekonstruksi ilmu
ekonomi pertanian ke depan
Dari Usahatani ke Pembangunan Ekonomi
Pada awal kelahirannya, ilmu ekonomi pertanian lebih banyak peduli pada
manajemen usahatani, yang mengalami tantangan besar pada masa Perang
Dunia I, yaitu tingginya permintaan bahan pangan serta kelangkaan tenaga
kerja di sektor pertanian. Sebelum perang, peningkatan produksi
pertanian dapat dengan mudah dicapai melalui perluasan lahan pertanian
dan intensifikasi usahatani karena tenaga kerja nyaris bukan hambatan
berarti, apalagi dapat dengan mudah diperoleh dengan harga yang murah
dan bahkan tidak berharga sama sekali pada skema perbudakan, terutama di
Amerika Serikat (AS) dan Eropa.
Persoalan efisiensi teknis dan efisiensi ekonomis menjadi tema sentral
dalam ekonomi pertanian, tentu saja beserta keterkaitan dengan kebijakan
penetapan harga produk pertanian, dalam hukum pennintaan dan penawaran
yang telah berkembang pesat sebelumnya. Studi akademik lebih banyak
diarahkan pada organisasi usaha tani dan praktik budidaya pertanian.
termasuk peternakan dan perikanan, keterkaitannya dengan faktor-faktor
yang menentukan produksi dan keuntungan usahatani tersebut. Hasil-hasil
studi akhirnya digunakan untuk membantu petani atau usahatani yang tidak
berproduksi secara menguntungkan agar mengikuti praktik usahatani yang
baik dan benar, agar pendapatannya meningkat. Langkah sinergisme seperti
itu mampu meningkatkan produksi pertanian dan dapat menanggulangi
pertambahan penduduk yang mulai semakin cepat.
Ketika Perang Dunia I pecah, ilmu ekonomi pertanian mulai lebih peduli
pada dimensi global dari persoalan suplai bahan pangan, kebutuhan tenaga
kerja, standar biaya produksi pertanian dan peran strategis koperasi
dalam memperbaiki manajemen usahatani yang lebih menguntungkan dan
membawa kesejahteraan bagi umat manusia. Peran yang dimainkan ilmu
ekonomi pertanian pada saat itu tentu lebih banyak defensif, dalam arti
hanya mampu bertahan membenahi persoalan-persoalan yang ditimbulkan oleh
perang atau hegemoni para politisi yang haus kekuasaan, tanpa menjunjung
tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan peradaban yang mengisinya. Akibatnya,
kontribusi ilmu ekonomi pertanian lebih banyak berorientasi ke dalam,
misalnya terlalu memperhatikan persoalan dalam negeri sendiri, dan
maksimal para sekutunya dalam perang, sesuatu yang seringdiklaim sebagai
persoalan global.
Depresi besar dan resesi hebat yang melanda AS pada 1930-an sebenamya
turut mewarnai perkembangan ilmu ekonomi pertanian, karena sektor
pertanian dilanda persoalan yang tidak kalah beratnya dengan persoalan
yang diderita sektor industri. Adalah George F. Warren, seorang petani
dan profesor di Universitas Cornell (New York) dan beberapa pengikutnya
yang berperan cukup besar dalam perkembangan ilmu ekonomi pertanian,
bahkan ekonomi moneter dan ekonomi pembangunan pada umumnya. Dengan
konsistensi yang sangat tinggi antara tulisan, ucapan dan tindakan, para
ekonom pertanian ini merekomendasikan dan melaksanakan legislasi
pertanian AS atau yang lebih dikenal dengan “The New Deal” itu. Tidak
secara berlebihan jika ada yang menyimpulkan bahwa tidak ada kelompok
ekonomi mana pun selain kelompok ekonomi pemnian yang sangat berpengaruh
dalam perumusan dan administtasi kebijakan publik. Hal tersebut karena
ciri khas ilmu ekonomi pertanian adalah memang dilandaskan pada
penelitian mendalam, pendidikan dan pengajaran spartan, dan aplikasi
lapangan secara nyata, yakni dengan perumusan masalah dan orientasi
penyelesaiannya secara berkesinambungan.
Di satu sisi, terobosan pemikiran ke luar tersebut cukup menggembirakan,
namun di sisi lain perkembangan ilmu ekonomi pertanian tidak terlalu
pesat sampai dengan berakhirnya Perang Dunia II. Banyak negara baru yang
lepas dari penjajahan tidak begitu saja mampu melepaskan
ketergantungannya pada pola pikir kolonial, jika tidak dapat dikatakan
mewarisi paradigma pembangunan ekonomi yang masih fokus pada pertumbuhan
industri dan perkotaan. Sektor pertanian lebih banyak dilihat dan
diperlakukan sebagai sektor residu yang hanya berfungsi sebagai pemasok
tenaga kerja murah bagi sektor industri dan manufaktur. Akibatnya,
sektor industri manufaktur dan jasa berkembang cukup pesat, yang
sekaligus menandai modernisasi dalam strategi pembangunan ekonomi,
walaupun “agak terlepas” dari sektor pertanian karena struktur dualistik
yang menyelimuti keduanya.
Pemikiran ekonomi dualistik tersebut juga sangat dipengaruhi oleh fakta
dualisme sosiologis yang dikembangkan oleh J.H. Boeke, seorang ilmuwan
asal Belanda, setelah melakukan penelitian cukup lama tentang perkebunan
dan pertanian di daerah jajahan, terutama di Jawa dan Sumatera. Dalam
kerangka dualistik itu, terdapat hipotesis bahwa aktivitas ekonomi di
sektor modem (Barat dan enclave Barat) dipicu kebutuhan ekonomis,
sedangkan aktivitas ekonomi di sektor tradisional (Timur) hanya dipicu
oleh kebutuhan sosial yang hanya untuk memenuhi kebutuhan subsisten. Di
sana implisit bahwa tidak akan ada gunanya membawa ide-ide baru,
kelembagaan dan teknologi baru ke tengah-tengah masyarakat tradisional.
Hipotesis inilah yang menjadi justifikasi rasional dalam pengembangan
industrialisasi dan mengabaikan pembangunan pertanian.
Varian dari hipotesis dualistik itu terdiri dari beberapa pemikiran,
misalnya yang cukup populer adalah dualisme enclave yang menggambarkan
suatu organisasi produksi pertanian, yang teridiri dari enclave kecil
masyarakat modem (inti) dikelilingi oleh lautan masyarakat tradisional
(plasma). Enclave melakukan ekstraksi komoditas primer (perkebunan dan
tambang) dan aktivitas ekspor, juga mengimpor tekonologi hemat tenaga
kerja. Dalam hal ini, tentu tidak terlalu banyak aktivitas yang
dilakukan oleh sektor tradisional, kecuali eksploitasi sumberdaya alam
semata.
Perkembangan pemikiran ekonomi dualistik ini sebenarnya sangat sejalan
dengan hipotesis surplus tenaga kerja yang terjadi di sektor pertanian
dan perkembangan teknologi yang terjadi di sektor industri dengan
menjadi andalan argumen dalam karya-karya Arthur Lewis. Asumsi yang
digunakan adalah eksistensi penduduk dengan produktivitas tenaga kerja
sangat rendah, bahkan berada di bawah tingkat upah. Di sini terdapat
pengangguran tersembunyi, karena produktivitas tenaga kerja nyaris sama
dengan nol, sehingga apabila dilakukan pemutusan hubungan kerja pun,
maka produksi dipastikan tidak akan berkurang. Proses pembangunan
ekonomi adalah transfer tenaga kerja dari sektor tradisional (yang tidak
banyak menambah produktivitas) ke sektor modern (yang hasilnya dapat
digunakan untuk reinvestasi di peralatan, mesin, banngunan) dan masih
dapat ditingkatkan.
Fondasi kapitalistik inilah yang menjadi karakter dari Arthur Lewis,
yang akhirnya berkembang kepada hubungan antara negara maju dan negara
berkembang, sesuatu yang fundamental dalam teori ekonomi pembangunan.
Arthur Lewis kemudian diberi Hadiah Nobel Bidang Ekonomi pada tahun
1979, bersama-sama dengan Theodore w. Schultz.
Proses industrialisasi dilaksanakan dengan perbedaan yang amat prinsip,
yaitu bahwa sektor industri manufaktur (modern) dijalankan dengan
prinsip maksimisasi keuntungan biasa; sedangkan sektor pertanian (tradisional)
dijalankan dengan norma-norma konvensional, bukan prinsip-prinsip
produksi marjinal. Jadi, apabila konsep kelebihan tenaga kerja memang
diartikan sebagai tingkat produktivitas marjinal yang mendekati nol,
maka tingkat alokasi produksi dalam sektor perrtanian hampir tidak
mungkin untuk mengikuti prinsip-prinsip persaingan pasar sempurna.
Artinya, tingkat upah buruh di sektor pertanian terlalu kecil untuk
sekadar bertahan hidup, sehingga suatu norma tertentu terkadang
dijadikan basis pengambilan keputusan alokasi produksi. Proses
industria1isasi yang dicirikan oleh karakter dualistik tersebut umumnya
menghadapi kondisi asimetri produksi dan asimetri organisasi. Asimetri
produksi maksudnya adalah bahwa penggunaan faktor produksi modal tidak
digunakan sepenuhnya dalam sektor pertanian dan lahan tidak digunakan
sepenuhnya dalam sektor industri. Sedang asimetri organisasi maksudnya
tingkat penerimaan upah di kedua sektor tersebut tidak akan mencapai
keseimbangan karena perbedaan produktivitas marjinal tenaga kerja
seperti telah disampaikan di atas.
Sebagaimana disebut sebelumnya, pasca Perang Dunia II itulah i1mu
ekonomi pertanian mulai menunjukkan perkembangan yang cukup pesat,
terutama setelah ada integrasi analisis dengan ekonomi pembanguna,
sangat kontras dengan kondisi pada periode perang. Beberapa pemikiran
dan karya para ekonom pertanian seakan tidak mampu menggugah para
praktisi dan perumus kebijakan di setiap negara. Periode kelabu dan
suasana perang pasti bukan waktu yang kondusif untuk mengembangkan ilmu
pengetahuan, walaupun sebenarnya manusia tidak pemah berhenti berfikir.
Setelah beberapa tahun kemudian, barulah khalayak memberikan apresiasi
kepada para ekonom pertanian sekaliber Theodore W. Schultz yang
meletakkan dasar-dasar pemikiran tentang pentingnya pembangunan
pertanian dalam pertumbuhan ekonomi, di mana pun di dunia. Schultz
adalah seorang ilmuwan, peneliti, manajer, wiraswasta, katalis
intelektual, dan ekonom pertanian tangguh alumnus Universitas
Wisconsin-Madison yang mengembangkan karier akademiknya di Universitas
Chicago.
Ketekunannya mendalami persoalan pembangunan ekonomi, dan proses
pencariannya untuk menemukan rumusan dan pencerahan kebijakan yang
mengarah pada kesejahteraan umat manusia. Sebagaimana diketahui, T.W.
Schultz akhirnya dianugerahi Hadiah Nobel Bidang Ekonomi pada tahun
1979, bersama Arthur Lewis dari Universitas Princeton, sebagaimana
diuraikan sebelumnya. Schultz secara konsisten menantang pemikiran
hipotesis “produk marjinal sama dengan nol” yang dikembangkan oleh teman
sekaligus lawan berdebatnya Arthur Lewis, dan berargumen bahwa
pendidikan petani dapat menjadi salah satu investasi dengan biaya rendah
dan mampu menghasilkan tambahan pendapatan tinggi yang permanen. Inilah
salah satu kontribusinya yang sangat berharha bagi ilmu ekonomi.
Dekade 1960-an merupakan salah satu titik kulminasi dalam perkembangan
khazanah ilmu ekonomi pertanian ketika paradigma bergeser menjadi
“keseimbangan pertumbuhan ekonomi”. Sektor pertanian perlu mencapai
tingkat pertumbuhan tertentu agar mampu lebih sejajar dan kompatibel
dengan pembangunan sektor-sektor lain dalam ekonomi. Kontribusi
pemikiran dari Simon Kuznets dan John Mellor sangat besar dalam
meletakkan fondasi dasar bagi analisis tentang peran sektor pertanian
dalam proses pembangunan. Hampir semua pemahaman umum tentang peran
sektor pertanian dalam pembangunan ekonomi yang dipercaya sampai
sekarang adalah hasil karya ekonom pertanian pada dekade 1960an tersebut.
Misalnya, pemahaman tentang sektor pertanian sebagai penyedia pangan,
penghasil devisa dari ekspor, pemasok tenaga kerja bagi industri, dan
stimulus pasar bagi pengembangan sektor industri adalah sedikit saja
kontribusi besar yang sulit terlupakan.
Prinsip yang diperjuangkan para ekonom pertanian ini cukup sederhana,
namun menyentuh sendi-sendi kehidupan perekonomian, misalnya bahwa laju
penyediaan bahan pangan minimal harus sama atau lebih besar dari laju
permintaan pangan, yang sangat ditentukan oleh tingkat pertumbuhan
penduduk, pendapatan serta elastisitas atau persentase pendapatan untuk
konsumsi pangan. John Mellor terus konsisten memperjuangkan fungsi
strategis sektor pertanian sebagai pengganda pendapatan dan pengganda
lapangan kerja, yang sekaligus sangat menentukan proses perubahan
teknologi dan industrialisasi baik di negara berkembang, maupun di
negara maju. Simon Kuznets lebih banyak peduli pada persoalan
pembangunan ekonomi dalam keterkaitannya dengan pemerataan pendapatan,
yang digambarkannya laksana kurva U-terbalik. Seperti diketahui, Simon
Kuznets akhirnya memperoleh Hadiah Nobel Bidang Ekonomi pada tahun 1971
karena kontribusinya pada i1mu ekonomi.
Ekonomi Pertanian dalam Era Perubahan Teknologi
Era perubahan teknologi yang sangat pesat sebenarnya telah dimulai pada
peridoe 1960 dan 1970-an dan berlanjut sampai dekade 1980-an. Ilmu
ekonomi pertanian memperoleh pelajaran sangat berharga dari proses
perubahan peradaban, yang nyaris mengubah berbagai sendi-sendi kehidupan
manusia. Perubahan teknologi pertanian tidak terlalu pesat pada dekade
1990-an dan awal abad 21 ini, kecuali rekayasa genetika dan bioteknologi
yang menyisakan tantangan tersendiri bagi ekonomi pertanian.
Pada awal 1970-an fokus kajian ekonomi pertanian lebih banyak pada aspek
ekonomi mikro dari sektor pertanian, atau tepatnya pada teori harga dan
kebekerjaan pasar. Secara mikro pula, pendalaman tentang keputusan atau
tingkah laku individu dalam hal produksi, konsumsi dan perdagangan
memang sangat dominan. Jadi, keterbatasan sumberdaya pertanian --lahan,
tenaga kerja, modal, waktu dan lain-lain-- menjadi salah satu kajian
yang dominan dalam pengembangan alat analisis dan pendalaman teori
ekonomi pertanian, karena para aktor ekonomi memang harus memilih dan
melakukan alokasi sumberdaya yang paling efisien menurut ukuran yang
baku.
Di sanalah, misalnya, dalam bidang produksi peran perubahan teknologi
menjadi sangat dominan, karena dalam prinsip-prinsip ekonomi, teknologi
baru tidak hanya mampu meringankan konstrain, tetapi juga mampu menambah
pilihan yang tersedia. Dalam hal konsumsi, tambahan pendapatan tentu
saja mampu memperlebar konstrain atau menambah pilihan barang yang dapat
dikonsumsi. Aktivitas bidang pengolahan dan perdagangan sangat
diuntungkan dengan perubahan teknologi karena menekan biaya pengolahan,
mengurangi biaya transportasi, menghemat waktu dan tempat dan sebagainya.
Ilmu ekonomi pertanian senantiasa ditantang untuk menemukan strategi
kombinasi produksi dan alokasi sumberdaya dalam pengolahan dan
perdagangan serta manajemen kepuasan dan kemanfaatan dalam hal konsumsi,
yang semuanya bermuara pada tingkat efisiensi baik secara teknis, maupun
secara ekonomis.
Ketika ekonomi pertanian semakin memperoleh tempat di tengah masyarakat,
maka perubahan teknologi berikut ini menandai kehidupan dunia pertanian
dan peradaban manusia umumnya. Di antaranya adalah penemuan varietas
unggul baru dalam komoditas pangan biji-bijian, penambahan zat hara
tanah dalam bentuk pupuk buatan, penanggulangan hama dan penyakit
tumbuhan dengan bahan kimia, pengaturan populasi tanaman, serta
manajemen pengaturan air irigasi dan drainase, dan sebagainya. Era
perubahan teknologi yang sangat pesat itulah yang kemudian dikenal
dengan sebutan Revolusi Hijau, karena memang ditujukan untuk
meningkatkan produksi pertanian terutama bahan pangan, sebagai jawaban
para ilmuwan lain terhadap ancaman kekurangan pangan dan kelaparan yang
begitu mudah dijumpai di banyak tempat.
Revolusi Hijau telah mampu menyelamatkan manusia dan jenis peradabannya
dari kepunahan atau kematian karena kelaparan, yang sekaligus memupus
keraguan aliran pemikiran pesimisme ala Thomas Malthus dan pengikutnya.
Lonjakan produksi pangan dan biji-bijian yang dihasilkan oleh teknologi
baru dalam hal benih dan varietas unggul baru serta bahan kimia yang
menjadi pupuk dan pestisida tercatat sampai pangan 4-5 kali lipat dari
sebelumnya, sesuatu yang tidak pemah terbayangkan sebelumnya.
Para ekonom pertanian sering menyebutnya dengan teknologi
biologis-kimiawi, yang sangat diandalkan pada lahan sempit dengan
penduduk yang padat, sekaligus untuk membedakannya dengan teknologi
mekanis yang mengandalkan mesin dan alat pertanian yang sangat memadai
untuk areal luas dengan tenaga kerja yang terbatas.
Yujiro Hayami asal Jepang, adalah salah satu dari sedikit ekonom
pertanian Asia yang sangat berperan dalam memajukan peradaban bangsa
karena ketekunannya melakukan analisis tingkah lahu petani dalam
keterkaitannya dengan perubahan teknologi ini. Cerita sukses Jepang,
Taiwan, dan bahkan Indonesia dalam melesatkan produksi padi dan tanaman
biji-bijian lain sangat berkaitan erat dengan pengembangan varietas
unggul yang sangat responsif terhadap pupuk anorganik. Dukungan
infrastruktur irigasi, jalan desa, ketersediaan faktor-faktor produksi
teknis seperti pupuk, pestisida, dan benih itu sendiri juga sangat
berperan. Kendala produksi karena keterbatasan lahan dapat diatasi
dengan pengembangan teknologi biologis-kimiawi, yang lebih dikenal
dengan Revolusi Hijau tersebut.
Dalam hal teknologi mekanis, ekonomi pertanian melihatnya sebagai suatu
respons rasional karena kecilnya rasio lahan terhadap tenaga kerja,
sebagaimana yang diadopsi di negara-negara dengan areal lahan sangat
luas, seperti di Amerika Serikat, Eropa Barat, Rusia dan lain-lain.
Aplikasi teknologi mekanis sering juga dianggap sebagai varian dari
Revolusi Industri, yang telah berlangsung sejak abad 19, walaupun para
ekonom pertanian belum terlalu sepakat tentang keterkaitannya dengan
Revolusi Hijau atau revolusi di dunia pertanian tersebut.
Maksudnya, revolusi pertanian bukan sekadar penerapan atau adopsi
metode-medote industrialisasi kepada proses produksi pertanian. Jika di
industri proses mekanisasi merangsang terspesialisasinya tenaga kerja,
di pertanian proses mekanisasi mengandung dimensi ruang dan waktu yang
amat rumit. Keterpautan waktu antara pengolahan lahan, tanam,
penanggulangan gulma, hama dan penyakit, panen dan sebagainya itu memang
memerlukan mesin pertanian spesialis khusus. Pada sistem pertanian yang
sangat mekanis, mobilitas dan spesialisasi seringkali mengakibatkan
biaya investasi per tenaga kerja yang lebih tinggi dari pada di sektor
industri. Hal itu berarti bahwa teradopsinya mekanisasi dalam bidang
pertanian adalah untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja sektor
pertanian itu sendiri. Singkatnya, perkembangan proses mekanisasi
pertanian memiliki tujuan untuk meningkatkan produksi per tenaga kerja
atau dalam hal ini untuk memperluas lahan produktif melalui proses
ekstensifikasi pertanian.
Persoalan menjadi sedikit lebih rumit ketika dihadapkan pada pertanyaan
apakah proses perubahan teknologi itu merupakan faktor eksogen dalam
suatu sistem ekonomi --di sini berarti pengembangan kedua jenis
teknologi merupakan produk atau hasil kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi-- ataukah proses perubahan teknologi itu merupakan faktor
endogen suatu sistem ekonomi. Dalam suatu sistem perekonomian yang
dinamis, perubahan harga permintaan produk dan harga penawaran faktor
produksi tidaklah dapat dipisahkan. Misalnya, ketika permintaan terhadap
bahan makanan naik karena naiknya jumlah penduduk atau meningkatnya
pendapatan per kapita, permintaan terhadap faktor produksi tersebut ikut
naik secara proporsional.
Artinya, kenaikan permintaan tersebut mengakibatkan berubahnya harga
relatif faktor-faktor produksi. Akibat berikutnya adalah bahwa tingkat
pendapatan --termasuk distribusinya di kalangan para pemilik faktor
produksi-- berubah sehingga hal tersebut kembali mempengaruhi permintaan
secara keseluruhan.
Prinsip-prinsip inilah yang menjadi cikal-bakal konsep keseimbangan umum
dalam ekonomi, yang kelak berkembang sangat pesat sebagai salah satu
analisis lebih komprehensif terhadap berbagai fenomena kehidupan manusia.
►ti/ht-am
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|