| |
C © updated 26102006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/am |
|
| |
Nama:
Bustanul Arifin
Lahir:
Bangkalan, 27 August 1963
Agama:
Islam
Isteri:
Astuti Sariutami
Anak:
1. Muhammad NaufalYugapradana
2. Nabila Isnandini
3. Muhammad NawafTresnanda
PendidikanFormal:
1. Tahun 1985, lulus Sarjana Agribisinis, Fakultas Pertanian, Institut
Pertanian Bogor (IPB), Indonesia, judul skripsi “Analisa Pemasaran
Ekspor Kayu Lapis Indonesia ke Amerika Serikat dan Singapura”.
2. Tahun 1991, lulus Master of Science, Resource Economics, University
of Wisconsin-Madison, AS, judul tesis “Land-Use Intensification of
Indonesian Agriculture”.
3. Tahun 1995, lulus Doctor of Philosophy, Resource Economics,
University of Wisconsin-Madison, AS, judul disertasi “The Economics of
Land Degradation: A Case Study of Indonesian Upland”.
Pekerjaan:
1983-1985, Assisten Dosen, untuk mata kuliah Ekonomi Umum (Prof. Rudi
Sinaga) dan Kependudukan (Prof. Sediono Tjondronegoro), Jurusan
Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut
Pertanian Bogor.
1986-1987, Kepala, Project Management Unit (PMU), Proyek Pengembangan
Pedesaan Wilayah (P3W) Transmigrasi Terpadu Krueng Tadu, Aceh Barat, DI
Aceh.
1992-1993, Data Analyst, Membership Office of Memorial Union,
University ofWisconsin-Madison, AS.
1993-1995, Computer Consultant, Steenbock Memorial Library, University
of Wisconsin-Madison AS.
1996-1998, Ketua, Program Studi Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas
Pertanian, Universitas Lampung.
1997-1999, Tim Ahli, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR-RI) Pusat, Jakarta,
Indonesia.
1997-Sekarang, Dosen, Program Pascasarjana, Universitas Indonesia (UI)
dan Institut Pertanian Bogor (IPB).
1996-Sekarang,i Ekonom Senior, Institute for Development of Economics
and Finance (INDEF), Jakarta.
1998-2000, Ekonom/Analis Senior Kebijakan, United Nations Development
Programme (UNDP), Jakarta.
1998-2000, Ekonom Senior, Program Pengembangan Ekonomi Masyarakat
Daerah, Deputi Regional Bappenas, Jakarta.
2005-Sekarang, Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian, Universitas Lampung
(UNILA).
2005-Sekarang, Peneliti Senior, International Center for Applied
Finance and Economics (InterCafe), IPB-Bogor.
2002-2003, Guru Besar Tamu (Fulbright Fellow), Department of
Agricultural and Applied Economics, University of Wisconsin-Madison, AS.
2000 -2002, Direktur, Institute for Development of Economics and
Finance (INDEF),Jakarta.
Address:
Jalan Butu Merah No. 45, Pejaten Timur 12510, Indonesia
Phone: +62-21 790-1001, Fax: +62-21 7919-4018, Cell-phone:
+62-812-940-1150
E-mail:
barifin@uwalumni.com
barifin@yahoo.com |
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04
05 == Bustanul Arifin (03)
Ikon Baru Ilmu Ekonomi Pertanian Moderen
Bustanul Arifin kelahiran Bangkalan, Madura 27 Agustus 1963,
sejak 1 September 2005 diangkat menjadi Guru Besar Tetap Bidang Ilmu
Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Uiversitas Lampung (Unila)
Lampung. Ia lalu resmi dikukuhkan sebagai Professor setelah menyampaikan
orasi ilmiah pada 20 Februari 2006 di Lampung.
Setelah itu ekonom dan peneliti di sejumlah lembaga penelitian ini
menjadi ikon baru ilmu ekonomi pertanian, yang konsisten memperjuangkan
perbaikan nasib para petani, yang notabene merupakan aktor sekaligus
figur sentral dalam ilmu ekonomi pertanian. Dalam orasinya Bustanul
Arifin mengusung ide, ilmu ekonomi pertanian harus bisa mereposisi diri
agar secara overall dapat memperbaiki nasib petani sehingga peran ilmu
ekonomi pertanian dapat menempatkan diri dalam pembangunan peradaban
manusia.
Sebagai bagian dari pembangunan peradaban, Bustanul menyebutkan ilmu
ekonomi pertanian di Indonesia harus mempunyai ciri khas yaitu
pedulipada pengentasan masyarakat dari kemiskinan dan pemerataan
pendapatan. Sesuatu yang tidak boleh dilupakan dalam melakukan reposisi
ilmu ekonomi pertanian ini, kata Bustanul, adalah menempatkan petani
sebagai subyek atau aktor sentral dalam pembangunan pertanian.
Industrialisasi atau diversifikasi usaha pertanian tidak akan dapat
berjalan mulus apabila pendapatan overall petani produsen masih rendah.
“Artinya, agenda yang harus diselesaikan adalah bagaimana memberikan
tambahan modal kerja dan investasi bagi petani dan kelompok marjinal
lainnya untuk adopsi teknologi baru, akses informasi, intensitas tenaga
kerja proses produksi, manajemen pengolahan, pemasaran, dan pasca panen
lain, baik secara individual maupun secara kelompok. Apabila pilihan dan
kesempatan tersedia, petani produsen pasti akan lebih leluasa melakukan
diversifikasi usaha,” kata Bustanul, merujuk kepada keberhasilan
pembangunan ekonomi pertanian di jaman Pak Harto yang memberikan
insentif kepada petani berupa Bimmas (Bimbingan Massal), Inmas (Intensifikasi
Massal), Insus (Intensifikasi Khusus) dan lain sebagainya.
Bustanul Arifin menyebutkan 16 tahun pertama kepemimpinan Pak Harto
Indonesia berhasil membangun ekonomi pertanian secara gemilang dengan
ditandai swasembada beras. Keberhasilan sama masih bisa dilakukan, kata
Bustanul, asal pemerintah bisa memberikan insentif yang menarik kepada
petani. Bukan hanya itu. “Singkatnya, pembangunan pertanian tidak dapat
dilakukan secara sambilan dan ad-hoc, tapi perlu serentak dan
komprehensif, karena melibatkan elemen pendukung penting seperti sektor
infrastruktur, pembiayaan, perdagangan, pemasaran, penyuluhan,
pengembangan sumber daya manusia, riset dan pengembangan (R&D) dan
sebagainya,” kata ayah tiga orang anak ini (Muhammad Naufal Yugapradana,
Nabila Isnandini, dan Muhammad Nawaf Tresnanda), dari istri yang mantan
adik kelas di IPB Bogor, Astuti Sariutami.
Yang tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan, menurut Bustanul adalah
penguatan modal sosial seluruh aktor, petani, pemerintah, swasta dan
masyarakat madani, yang akan menjadi faktor vital karena pembangunan
pertanian memerlukan jembatan penghubung yang kuat, yang mampu
menerjemahkan ide-ide progresif strategis menjadi langkah aksi di
lapangan, yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Dari garis-garis pemikirannya taklah salah bisa disebutkan Bustanul
Arifin adalah pewaris tunggal dua ekonom pertanian terkemuka, Prof
Mubyarto dari Indonesia dan Theodore W. Schultz dari AS. Mubyarto, Guru
Besar Ekonomi Pertanian Universitas Gajahmada (UGM) Yogyakarta, selama
hayatnya telah memberikan kontribusi sangat besar dalam ilmu ekonomi
pertanian di Indonesia. Mubyarto bahkan dikenal sebagai pembela kaum
miskin dan advokat yang sangat gigih untuk tegaknya ekonomi kerakyatan
atau sistem demokrasi ekonomi di Indonesia. Mubyarto telah memberikan
pencerahan kepada kalangan akademik dan lingkungan kampus, yang yang
lebih utama lagi sebagai perumus kebijakan dan pelaksana pembangunan
ekonomi dan pemberdayaan masyarakat tingkat lapangan.
Demikian pula dengan ekonom pertanian sekaliber Theodore W. Schultz,
yang telah meletakkan dasar-dasar pemikiran tentang pentingnya
pembangunan pertanian dalam pertumbuhan ekonomi di mana pun di dunia.
Schultz adalah seorang ilmuwan, peneliti, manajer, wiraswasta, katalis
intelektual, dan ekonom pertanian tangguh alumnus Universitas
Wisconsin-Madison, kampus yang juga almamater Bustanul Arifin saat
mengambil gelar master dan doktor ilmu ekonomi pertanian.
T.W. Schultz yang mengembangkan karier akademiknya di Universitas
Chicago, karena sumbangsih besarnya pada ilmu eknomi pertanian pada
akhirnya dianugerahi Hadiah Nobel Bidang Ekonomi pada tahun 1979,
bersama Arthur Lewis dari Universitas Princeton. Sebagaimana yang
diwarisi Bustanul, Schultz secara konsisten menantang pemikiran
hipotesis “produk marjinal sama dengan nol”, yang dikembangkan oleh
teman sekaligus lawan berdebatnya Arthur Lewis.
Schultz berargumen bahwa pendidikan petani dapat menjadi salah satu
investasi dengan biaya rendah, dan mampu menghasilkan tambahan
pendapatan tinggi yang permanen. “Inilah salah satu kontribusinya yang
sangat berharga bagi ilmu ekonomi,” kata Bustanul, seorang “Ikon Baru
Ilmu Ekonomi Pertanian Indonesia” saat ini.
Berikut ini bagian pertama dari petikan lengkap orasi ilmiah Bustanul
Arifin, yang diberi judul “Peran Ilmu Ekonomi Pertanian Dalam
Pembangunan Peradaban: Sebuah Refleksi Untuk Reposisi”, disampaikan
dalam rangka Orasi Ilmiah sebagai Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian di
Gedung Serbaguna Universitas Lampung, 20 Februari 2006.
►ti/ht-am
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|