A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Galeri
  P R O F E S I
 ► Guru-Dosen
 ► Peneliti-Ilmuwan
 ► Wartawan
  B E R A N D A
 ► Majalah TI
 ► Nusantara
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 26102006  
   
  ► e-ti/am  
 

BIODATA

Nama:
Bustanul Arifin
Lahir:
Bangkalan, 27 August 1963
Agama:
Islam
Isteri:
Astuti Sariutami
Anak:
1. Muhammad NaufalYugapradana
2. Nabila Isnandini
3. Muhammad NawafTresnanda

PendidikanFormal:
1. Tahun 1985, lulus Sarjana Agribisinis, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB), Indonesia, judul skripsi “Analisa Pemasaran Ekspor Kayu Lapis Indonesia ke Amerika Serikat dan Singapura”.
2. Tahun 1991, lulus Master of Science, Resource Economics, University of Wisconsin-Madison, AS, judul tesis “Land-Use Intensification of Indonesian Agriculture”.
3. Tahun 1995, lulus Doctor of Philosophy, Resource Economics, University of Wisconsin-Madison, AS, judul disertasi “The Economics of Land Degradation: A Case Study of Indonesian Upland”.

Pendidikan Non-Formal:
 Tahun 1989, Certificate, Summer Course on English for Social Sciences at Stanford University, California, AS.
 Tahun 1997, Certificate, Short Course on Policy Analysis Matrix (PAM), International Center for Research in Agroforestry (ICRAF), Chiang Mai, Thailand.
 Tahun 2000, Certificate, Short Course on Public Expenditure Management (PEM), Asian Development Bank Institute (ADBI), Tokyo, Japan.
 Tahun 2003, Certificate, Short Course on International Trade and Negotiations, International Development Law Organization (IDLO), Sydney, Australia.

Pekerjaan:
 1983-1985, Assisten Dosen, untuk mata kuliah Ekonomi Umum (Prof. Rudi Sinaga) dan Kependudukan (Prof. Sediono Tjondronegoro), Jurusan Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
 1986-1987, Kepala, Project Management Unit (PMU), Proyek Pengembangan Pedesaan Wilayah (P3W) Transmigrasi Terpadu Krueng Tadu, Aceh Barat, DI Aceh.
 1992-1993, Data Analyst, Membership Office of Memorial Union, University ofWisconsin-Madison, AS.
 1993-1995, Computer Consultant, Steenbock Memorial Library, University of Wisconsin-Madison AS.
 1996-1998, Ketua, Program Studi Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung.
 1997-1999, Tim Ahli, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR-RI) Pusat, Jakarta, Indonesia.
 1997-Sekarang, Dosen, Program Pascasarjana, Universitas Indonesia (UI) dan Institut Pertanian Bogor (IPB).
 1996-Sekarang,i Ekonom Senior, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Jakarta.
 1998-2000, Ekonom/Analis Senior Kebijakan, United Nations Development Programme (UNDP), Jakarta.
 1998-2000, Ekonom Senior, Program Pengembangan Ekonomi Masyarakat Daerah, Deputi Regional Bappenas, Jakarta.
 2005-Sekarang, Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian, Universitas Lampung (UNILA).
 2005-Sekarang, Peneliti Senior, International Center for Applied Finance and Economics (InterCafe), IPB-Bogor.
 2002-2003, Guru Besar Tamu (Fulbright Fellow), Department of Agricultural and Applied Economics, University of Wisconsin-Madison, AS.
 2000 -2002, Direktur, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF),Jakarta.

Pengabdian dan Aktivitas Lain:
 2005-Sekarang, Penasehat Tim Nasional Perundingan Perdagangan Internasional (Keputusan Presiden Nomor 28/2005).
 2005-Sekarang, Executive Board Asian Society of Agricultural Economists (ASAE).
 2004-Sekarang, Ketua Bidang Kajian Kebijakan, Pengurus Pusat Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi).
 2004-Sekarang, Koordinator Steering Committee, Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA).
 2002-Sekarang, Komisi Seleksi, Beasiswa Ford Foundation dan IIEF (International Institute of Education Foundation).
 2001-Sekarang, Insttuktur, Badan Pendidikan dan Larihan (Diklat), Departemen Dalam Negeri untuk SPAMA/SPAMEN.
 2000-Sekarang, Ketua Bidang Outreach Program, Wisconsin Alumni Association (WAA) -Badgers Indonesia.
 2000-Sekarang, Nara Sumber pada media dan kantor berita asing (BBC-Inggeris, VoA-Amerika Serikat, AFP-Amerika Serikat, Reuters-Inggris, Dow Jones news Amerika Serikat, Channel9- Australia, dsb).
 1998-Sekarang, Analis dan Nara Sumber pada televisi nasional dan stasiun radio (RCTI, SCTV , ANTV , TPI, TVRI, Metro-TV, Indosiar, Radio El-Shinta, Pas FM, Trijaya, Delta, Jakarta News, RRI, dsb).
 1996-Sekarang, Analis dan Kolumnis pada surat kabar nasional dan majalah berita, ratusan artikel dan kolom telah ditulis (di harian Kompas, Jakarta Post, Republika, Media Indonesia, Bisnis Indonesia, Koran Tempo, Tempo, Pilar, majalah Warta Ekonomi, Gatra, Forum, Panji, Investor, Swa, dsb).
 1996-Sekarang, Editor Kepala, Quarterly Review of the Indonesian Economy (QRIE)/Bisnis dan Ekonomi Politik (BEP).
 1995-Sekarang, Wakil Editor, Jurnal Sosio-Ekonomika (JSE).
 2001-2002, Ketua Komite Perdagangan Berjangka Komoditi.
 2000-2003, Pengurus Pusat, Kajian Kebijakan Pembangunan, Himpunan Alumni Institut Pertanian Bogor.

Pengalaman Penelitian:
 2005, Peneliti Kepala, “Pengembangan Kelembagaan Ketahahan Pangan”, sebagai bagian dari “Road-Map Menuju Ketahanan Pangan”, dibiayai oleh Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.
 2004, Peneliti Kepala, Evaluasi Program Beras untuk Rakyat Miskin (Raskin), dibiayai oleh Departemen Pertanian, Jakarta.
 2004, Peneliti Kepala, Alternatif Pendanaan Lingkungan Hidup, dibiayai oleh Kementerian Lingkungan Hidup, Jakarta.
 2002, Peneliti Kepala, Agriculture in Indonesian Development, dibiayai oleh Fulbright Senior Research Fellowship, AS.
 2001, Peneliti Kepala, The Effects of Letter of Intent Policies to the International Monetary Fund on Environmental Quality and Social Welfare, dibiayai Wahana Lingkungan Hidup Indonesia.
 2000, Peneliti Kepala, Social Justice and Poverty Alleviation in Indonesia, dibiayai oleh International Labor Organization (ILO) of the United Nations, Jakarta Representative.
 1999, Peneliti Kepala, Food Security and Markets in Indonesia, dibiayai oleh the Southeast Asia Council for Food Security and Fair Trade, Manila, Filipina.
 1999, Peneliti Kepala, Desentralisasi Ekonomi dan Transparansi Anggaran, dibiayai oleh the Ford Foundation, Jakarta.
 1998, Peneliti Kepala, Kaji-Tindak Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah dalam Reformasi Ekonomi Nasional, dibiayai oleh Departemen Koperasi dan Usaha Kecil, Jakarta.
 1998, Anggota, Studi Efisiensi Pemasaran Cabe Merah dan Daging di Dalam Negeri, dibiayai oleh the Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Jakarta.
 1997, Anggota, Sources and Instruments of Corruption in Indonesia, dibiayai oleh the Asia Foundation, Jakarta.
 1997, Peneliti Kepala, An Economic Analysis of Shifting Cultivation and Bush Fallow System in Lowland Sumatra, dibiayai oleh the International Centre for Research in Agroforestry , Bogor.
 1997, Peneliti Kepala, Farm-Level Economics of Land Degradation: A Case of Intensive Land-Use Practices in Lampung Province, dibiayai oleh the University Research for Graduate Education (URGE), The World Bank Project on Indonesia.
 1996, Anggota, Peta Distribusi Perdagangan Dalam Negeri, dibiayai Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Jakarta.
 1996, Peneliti Kepala, Pengembangan Kelembagaan Pasar Lelang Kopi di Lampung, dibiayai oleh Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Kanwil Propinsi Lampung.
 1996, Anggota, ASEAN dalam Menghadapi Era Perdagangan Bebas, dibiayai oleh Departemen Luar Negeri, Jakarta.
 1996, Peneliti Kepala, Kaji-Tindak Pengembangan KUD-Mandiri Inti dalam Wilayah Pengembangan Agribisnis di Lampung, dibiayai oleh Departemen Koperasi, Kanwil Provinsi Lampung.
 1995, Peneliti Kepala, The Economics of Land Degradation: A Case Study of Indonesian Upland, Dissertation Research, dibiayai oleh the World Bank Project, Madison (USA).
 1991, Peneliti Kepala, Land & Use Intensification of Indonesian Agriculture, Masters Thesis Research, dibiayai oleh the Fulbright-Galbraith Scholarship, Madison, AS.
 1988, Peneliti Kepala, Analisis Ekonomi Tataniaga Ubi Kayu di Provinsi Lampung, dibiayai oleh Lembaga Penelitian, Universitas Lampung, Bandar Lampung.
 1985, Peneliti Kepala, Analisa Pemasaran Ekspor Kayu Lapis Indonesia ke Amerika Serikat dan Singapura, Skripsi Sarjana, Institut Pertanian Bogor (IPB).

Address:
Jalan Butu Merah No. 45, Pejaten Timur 12510, Indonesia
Phone: +62-21 790-1001, Fax: +62-21 7919-4018, Cell-phone: +62-812-940-1150
E-mail:
barifin@uwalumni.com
barifin@yahoo.com
 
 
 
 
 
BIOGRAFI

 

BIOGRAFI:  01  02  03  04  05  ==

Bustanul Arifin (02)

Kaya Ide Pembangunan Pertanian

 

Sebagai Guru Besar Tetap Fakultas PertanianUniversitas Lampung, kegiatan sehari-hari Bustanul Arifin berkutat pada mengajar, menulis, meneliti, atau kalau di rumah bermain badminton. Hidupnya benar-benar terlalu biasa. Tetapi bila didalami terbuktilah, Bustanul Arifin memiliki banyak ide bagaimana membangun pertanian yang tangguh. Tujuannya sederhana saja, memperbaiki peradaban demi kemaslahatan umat manusia.

Sesekali Bustanul Arifin masih diminta untuk memberikan masukan kepada Menteri dan sejumlah pejabat di bidang ekonomi pertanian. Seperti, memberi masukan ke Departemen Perdagangan, atau Dewan Ketahanan Pangan. Tetapi kegiatan itu selain tak rutin, agaknya sudah tak terlalu menarik baginya. Bustanul menyebut diri bukan orang kantoran. Kegiatan kantorannya tak lebih dengan terus mengajar dan menguji. ”Hidup terlalu indah kenapa ambil pusing. Yang penting sehat dan berpikiran positif,” bunyi rahasia dan kunci hidup orang yang tampak bersahaja dan biasa-biasa saja ini.

Bustanul ternyata tak tertarik untuk menjadi eksekutor kebijakan di lembaga eksekutif pemerintahan. Ia mengatakan sudah sangat bangga dengan menjadi eksekutif untuk tugas-tugas kesehariannya yang sudah cukup menyita waktu. Sebagai eksekutif di situ ia melaksanakan tanggungjawab membimbing, mengajar, dan membuat pintar orang tanpa harus menjadi pintar sendiri. “Saya merasa melaksanakan tanggungjawab eksekusi di situ. Kalau Anda maksudkan saya sebagai birokrasi, atau apa, saya memang tidak akan mencari jabatan itu,” urainya.

Ketidaktertarikan Bustanul menjadi eksekutif di pemerintahan erat kaitannya dengan kisah kuno benaran. Konon dalam sebuah keluarga ada anggota yang inginnya memiliki sesuatu. Misal seorang anak yang ingin mobil-mobilan, atau anak yang selalu inginnya lebih dari saudaranya yang lain. Kemudian ketika kepala keluarga pergi keluar rumah tentu berpikir tanggungjawab rumhatangga ia akan berikan kepada siapa. “Dugaan saya, Anda tidak akan memberikan tangungjawab itu kepada anak Anda yang ingin mendapatkan sesuatu itu. Anda pasti memberikan tanggungjawab kepada orang yang memang Anda dapat percayai, anak atau siapapun yang Anda tahu tidak ambisi pada sesuatu apapun. Kalau itu yang terjadi, saya yakin Indonesia oke,” kata Bustanul mencoba berfilsafat.

Kata dia, kalau Indonesia memberikan sesuatu kepada orang-orang yang inginkan sesuatu hingga mau gesek sana gesek sini, maka dia bekerja pasti tidak akan genuine tidak tulus. Dia mungkin tidak akan pernah mengeksekusikan apa yang dimandatkan. Padahal kepadanya sudah sempat diharapkan melaksanakan apa yang sudah menjadi tugas dan tanggungjawabnya. Sudah terlanjur ia diharapkan memiliki program-program yang lebih cukup dan baik dan diyakini pasti bisa dilaksanakan. Tetapi dia pasti menjadi tidak genuine di situ karena dasarnya ambisi tadi.

Cita-Cita Sederhana
Bustanul Arifin sebagai akademisi tulen memiliki hidup yang biasa-biasa saja, bahkan sampai-sampai ia tak berambisi untuk menginginkan sesuatu hal apapun padahal usianya masih sangat muda belia. Ia sesungguhnya memiliki prospek karir dan masa depan yang cerah.

Kendati mengecap pendidikan tinggi di luar negeri, terbuktilah Bustanul Arifin memiliki cita-cita tentang Indonesia masa depan sangat sederhana saja. Ia hanya ingin bisa melihat anak-anak dan cucu-cucunya kelak betah menjadi orang Indonesia. Ia tidak bermuluk-muluk bisa merasakannya segera, atau lima tahun lagi itu akan terlihat sebab dibutuhkan proses yang mungkin memakan waktu hingga 20 tahun ke depan. Saat itulah menurutnya kita baru bisa melihat Indonesia yang sudah lebih baik.

Bustanul mendasarkan cita-cita sederhananya pada proses siklus pertama yang sudah dilalui Indonesia. Sekarang kita sedang berada pada siklus kurva sinus yang akan menaik lebih baik lagi. Tidak akan lama-lama tapi tidak juga akan cepat. “Kalau saya menjadi bagian dari upaya untuk naik seperti itu, saya tentu saja sangat bangga. Tetapi, tentu saja saya menjadi tidak bangga kalau saya menjadi bagian dari penurunan di kurva itu. Saya yakin kita masih akan bangkit,” kata Bustanul optimis melihat masa depan Indonesia yang baik.

Memiliki cita-cita sederhana tentang Indonesia masa depan tetap tidak membuat Bustanul tertarik untuk masuk dan berada pada lingkaran dalam para pengambil keputusan. Tempo hari, misalnya, ada seseorang pejabat yang menawarinya kedudukan tertentu. Kepadanya Bustanul malah mengatakan, biarkan saya mengejar karya akademik saya dulu.

“Dia menerima alasan itu. Mungkin lima tahun lagi saya akan berpikir lagi. Mereka menghargai pendapat saya. Untuk sementara saya senang berada pada pilihan saya, saya ingin berbuat lebih banyak lagi,” kata Bustanul. “Yang penting kerja keras. Jangan berharap keberhasilan akan datang dengan sendirinya. Itu merupakan proses panjang dan berliku, dan dalam proses pencarian itu seninya harus dinikmati. Kita semua bagian dari universe. Kalau sudah menentukan pilihan maka harus kommit pada itu jangan mencla-mencle.”

Bustanul mengatakan kata kommit mahal. Ngapain komitmen banyak-banyak tetapi kinerjanya payah. Lebih baik komitmen tidak terlalu banyak tetapi tercapai. Kata ahli strategi, lebih baik Anda memiliki strategi tidak sempurna 100 persen, mungkin 80 persen saja, tapi Anda mampu melaksanakannya semua 100 persen. Daripada Anda memiliki strategi 100 persen, tetapi hanya mampu melaksanakan 80 persen saja itu tidak baik. “Itu berarti ada growing, growing dan growing. Tidak apa-apa growing dan evolution. Ini pelajaran berharga untuk para politisi untuk tidak memberi janji muluk-muluk tapi tak mampu. Janjinya yang realistis saja,” kata Bustanul.

Berdasar Keseimbangan Umum
Bustanul Arifin berbicara masalah peradaban dalam orasi ilmiahnya sebagai Guru Besar Tetap Fakultas Pertanian, di Universitas Lampung (Unila), Lampung pada 20 Februari 2006.

Mengangkat isu peradaban tak berarti Bustanul sudah meninggalkan mikro pertanian, sebagaimana dipelajari saat kuliah di IPB Bogor. Tetapi sebagai pengusung ide perbaikan peradaban melalui ekonomi pertanian, Bustanul harus konsisten untuk selalu berkutat pada persoalan kemaslahatan manusia minimal pada proses kebijakan di suatu negara.

Ilmu itu universal tidak ada batasnya. Awal berkembangnya ilmu ekonomi pertanian memang dari mikro, seperti bagaimana mengkombinasikan pupuk dengan tenaga kerja, dengan air dan seterusnya dengan menghasilkan keuntungan yang sangat mikro. Tetapi belakangan ekonomi pertanian tidak dapat lagi dipisahkan dari teori ekonomi pembangunan. Ia mencontohkan persoalan beras, di tingkat petani ini persoalan mikro. Tetapi beras menjadi sangat makro kalau tiba pada pengambilan keputusan. “Mikro tetap penting. Tetapi kombinasi atau formasi makro-mikro menjadi sinergi yang cukup baik,” kata Bustanul.

Hampir semua sejarah negara-negera di dunia membangun ekonomi baik itu industri maupun jasa, dimulai dari pembangunan yang berbasis pertanian minimal pada resources. Termasuk Taiwan yang sangat ketat membangun ekonomi pertanian. Demikian pula dengan Hongkong dan Singapura yang diperdagangkan adalah komoditas pertanian. Singapura sangat terkenal dengan kinerja re-ekspor beberapa komoditas pertanian. CPO atau minyak mentah kita lewat sana, lalu diolah, dipak, kemudian diekspor ulang.

Karena peta perjalanan pembangunan ekonomi semua negara pasti berbasis pertanian, membuat Bustanul tiba pada kesimpulan untuk harus lebih banyak menelusuri makro. Dan bila berbicara masalah makro pertanian itu berarti sudah sangat dekat dengan lingkungan politik saat berlangsung pengambilan keputusan.

Tetapi Bustanul menyimulkan pemerintahan sekarang masih belum mampu menterjemahkan itu. Tidak usah bersoal kepada politik praktis, pada proses pengambilan kebijakan saja tidak segampang yang kita maui tidak segampang teori berbicara. Di dalamnya banyak sekali resistensi, keengganan dan keacuhan semua pihak. “Dan kalau sudah sampai ke sana maka pasal satu dari peradaban sudah tak terpenuhi. Kita sudah tak beradab. Jadi, memang harus ke makro sana, integrated,” urai Bustanul.

Bustanul tidak jauh-jauh berpikir, ia memperbandingkan saja ketidakmampuan pemerintahan sekarang dengan era Pak Harto. Menurutnya Pak Harto mengerti secara baik persoalan makro dan mikro pertanian. Dia tahu harus mengelola birokrasi seperti apa. Pemerintahan sekarang belum mampu, apalagi kalau dikaitkan dengan cerita petani kakao dari Bone. Jadi mandat yang diberikan rakyat kepada pemerintah untuk membangun pertanian sampai sekarang belum mampu diterjemahkan menjadi suatu action yang nyata. Kata Bustanul, yang ideal dalam pengambilan keputusan adalah model deduktif-induktif, dari yang besar, makro, ambil kasus, perdalam, kemudian implikasikan lagi ke makro.

Bustanul sadar ekonomi pertanian tergolong rumit. Tak heran apabila Indonesia negara agraris, yang mestinya perekonomiannya didorong oleh pergerakan pertanian tetapi nyatanya tidak. Sebuah artikel di Journal American Economic Review yang dibacanya menyebutkan, pembangunan pertanian merupakan in general equilibrium atau keseimbangan umum. Teori keseimbangan umum ini menyebutkan, kalau dikasih shock (kejutan) di sini maka justru di sana yang bergoyang.

Aplikasinya, kalau mau mengembangkan hibrida misalnya, atau padi varietas unggul berproduksi tinggi, tidak sesederhana berikan itu lalu ukuran produksi pasti akan meningkat. Sebagai negara agraris keinginan membangun pertanian tidak sesederhana membangun seperti itu, lalu besok produksi tumbuh dan petani senang. Dalam in general equilibrium elemen lain dari persamaan umum saling berhubungan. Dia membutuhkan dukungan infrastruktur yang baik dan teknologi yang tersedia. Atau dari sesama faktor produksi, bila bicara benih maka harus pula bicara pupuk, bicara pupuk bicara air, bicara air bicara sumber air dan seterusnya.

Kata Bustanul, kalau kita menginginkan sesuatu yang baik dari itu tidak salah. Tetapi itu harus mampu diterjemahkan oleh para pemimpin dan tokoh elit menjadi sesuatu yang bisa diaplikasikan langsung di lapangan. “Itu yang belum terlihat sekarang. Saya katakan Pak Harto pernah sedikit berhasil melakukan itu. Tetapi kemudian tidak berhasil lagi karena tantangannya berubah dan Pak Harto belum mengubah framework-nya,” kata Bustanul.

Kasus beras merupakan contoh aktual dan sesuai dengan in general equilibrium. Kasus beras membuktikan persoalan dibenahi di sini lalu yang goncang di sana. Sayangnya, selama ini tidak banyak orang yang mempertimbangkan dengan cara seperti itu. Para pengambil keputusan di tingkat elit lebih banyak mempertimbangkan kepentingannya saja. Itu sebab kita tidak akan pernah bisa mencapai demokrasi yang sebenarnya.

“Saya katakan, demokrasi itu bagaimana kita mendengarkan pendapat orang dulu baru kita tawarkan pendapat kita. Negosiasi, sebetulnya. Kita belum kita berdemokrasi, demokrasi kita masih demokrasi smackdown memaksakan kehendak sendiri,” kata Bustanul, mengurai peliknya persoalan beras.

Bustanul pernah memberikan saran kepada anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, yang berkali-kali menggagas ide interpelasi soal beras di DPR. Bustanul memastikan “Anda tidak bisa, pasti tidak sampai ke interpelasi karena yang Anda lakukan itu terkesan oleh publik semata-mata untuk kepentingan politik Anda, bukan untuk membangun pertanian yang sebenarnya.”

Kata Bustanul ide interpelasi harus genuine dari dalam. Jika memang genuine maka paling tidak lawan dan kawan politik akan melihat apakah ide interpelasi ini layak diteruskan atau tidak. “Kalau istilahnya Yohannes Surya, kan, Mestakung, Semesta Mendukung. Kalau iya, akan didukung, kalau tidak, ya tidak ada yang dukung. Kejatuhan Pak Harto itu karena Mestakung juga, sebetulnya,” jelas Bustanul.

Menurut Bustanul masalah beras tidak akan pernah selesai urusannya. Karena setelah masalahnya dipecahkan akan ada masalah lain lagi dan itulah kehidupan. Ada masalah sangat mungkin ada bridging, lalu ada masalah baru lagi. Tetapi menjadi norak dan menyebalkan apabila permasalahannya tidak berubah dari tahun ke tahun.

Berikan Stimulus Pertanian
Bagaimana cara membangun pertanian dengan membuat konsep yang matang, Bustanul sangat yakin Presiden SBY tahu soal itu. “Cuma, memang, entah tidak ada waktu atau tidak didelegasikan ke bawahannya sehingga saya tidak melihat action yang konkrit,” kata Bustanul.

Menurutnya, karena membangun pertanian rumit maka diperlukan pemahaman yang lebih agar kerumitan bisa disederhanakan dan dihasilkan sebuah action yang tidak terlalu rumit. Pak Harto telah berhasil melakukannya paling tidak pada 16 tahun pertama kepemimpinannya. Dia merencanakan secara baik karena ingin swasembada, bertekad mencapainya dengan membangun infrastruktur, jembatan, berikan fasilitas kredit BIMAS/INMAS/INSUS, birokrasi di bidang itu dikuasai sehingga orang tidak macam-macam. “Singkat cerita kita bisa.”

Seharusnya pemerintah sekarang atau yang akan datang minimal meniru, walaupun dengan level yang harus disesuaikan dengan kondisi sekarang untuk memperlakukan pembangunan pertanian sebagai in general equilibrium. Indonesia dulu bisa melakukannya karena Indonesia masih sederhana. Sekarang kompleksitas eksternal dan peradaban sudah berubah dan harus diterjemahkan dari konsep yang abstrak menjadi konkrit. “Ide saya, pertanian itu perlu dibangun sejalan dengan sektor lain, bukan atau/dan sektor lain. Jadi di sebuah negara agraris kalau membangun pertanian harus sejalan dengan industri dan pembangunan sektor jasa. Itu yang kita kurang,” papar Bustanul.

Stimulus yang diperlukan untuk membangun pertanian menurutnya tidak rumit-rumit amat. Seperti sediakan financing atau akses kredit. Beberapa kendala yang dihadapi pertanian terutama land holding, atau luas lahan pertanian yang sangat kecil berikan stimulus dengan agraria reform. Berikan pula akses teknologi dan akses perubahan. Dalam bahasa umum, stimulusnya adalah berupa incentive system atau sistem insentif yang mampu mengubah perilaku pelaku, paling tidak petani sebagai pelaku agar sesuai dengan yang di-setting dalam sistem insentif. Kalau itu tidak dilakukan kita jangan berharap terlalu banyak.

Bustanul memiliki banyak ide dan konsep memperbaiki pertanian yang sedang carut-marut ini. Ia memulainya dari yang sederhana yaitu memberikan akses atau insentive system kepada masyarakat. Bahkan, message-nya lagi, apabila pemerintah memang harus tidak intervensi maka daripada tidak membantu janganlah mengganggu konsep yang sederhana sistem insentif tadi.

Konkritnya, kalau orang ingin mendirikan usaha baru, punya ide baru teruskan saja. Pemerintah sebagai birokrasi hanya perlu menarik garis sebab dia punya law, regulation untuk melaksanakan apa yang harus dilaksanakan. “Yang paling simpel, kerjakan saja apa yang bisa dikerjakan, just do it.”

“Tetapi, memang, yang diinginkan juga tidak tahu lalu bagaimana orang bisa ber-action,” simpul Bustanul, melihat tiadanya gerakan pemerintah. Misalnya maunya pemerintah adalah membangun ketahanan pangan, atau mau high value quota. Maksudnya petani tak harus tanam beras tapi menanam tanaman yang paling menguntungkan sehingga bisa keluar dari jeritan kemiskinan. “Kalau itu yang harus dipilih tentu saja harus itu yang diusung. Tapi kalau tidak pernah memilih kita juga tak pernah tahu.”

Kemudian kalau petani tidak akan terganggu dengan hal-hal yang berhubungan dengan keharusan mengikuti suatu patokan tertentu, maka kelolalah mereka sesuai dengan dinamika seperti itu. Petani memiliki kebebasan untuk menanam apapun. “Tapi apa insentif yang menarik yang Anda berikan dia pasti akan bergerak ke sana,” kata Bustanul.

Ia mencontohkan bila sekarang orang membangun pertanian setelah melihat kepada harga sawit sekian, maka dia akan menanam sawit dengan ekspektasi tujuh tahun kemudian akan memanen dengan pendapatan sekian. “Insentive system harus terjaga seperti itu bagaimana akses ke kredit, pupuk, bagaimana memperoleh varietas baru dan seterusnya,” ujar Bustanul Arifin. ►ti/ht-am


*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)