| |
C © updated 26102006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/perpektif |
|
| |
BIODATANama:
Bustanul Arifin
Lahir:
Bangkalan, 27 August 1963
Agama:
Islam
Isteri:
Astuti Sariutami
Anak:
1. Muhammad NaufalYugapradana
2. Nabila Isnandini
3. Muhammad NawafTresnanda
PendidikanFormal:
1. Tahun 1985, lulus Sarjana Agribisinis, Fakultas Pertanian, Institut
Pertanian Bogor (IPB), Indonesia, judul skripsi “Analisa Pemasaran
Ekspor Kayu Lapis Indonesia ke Amerika Serikat dan Singapura”.
2. Tahun 1991, lulus Master of Science, Resource Economics, University
of Wisconsin-Madison, AS, judul tesis “Land-Use Intensification of
Indonesian Agriculture”.
3. Tahun 1995, lulus Doctor of Philosophy, Resource Economics,
University of Wisconsin-Madison, AS, judul disertasi “The Economics of
Land Degradation: A Case Study of Indonesian Upland”.
Pendidikan Non-Formal:
Tahun 1989, Certificate, Summer Course on English for Social Sciences
at Stanford University, California, AS.
Tahun 1997, Certificate, Short Course on Policy Analysis Matrix (PAM),
International Center for Research in Agroforestry (ICRAF), Chiang Mai,
Thailand.
Tahun 2000, Certificate, Short Course on Public Expenditure Management
(PEM), Asian Development Bank Institute (ADBI), Tokyo, Japan.
Tahun 2003, Certificate, Short Course on International Trade and
Negotiations, International Development Law Organization (IDLO), Sydney,
Australia.
Pekerjaan:
1983-1985, Assisten Dosen, untuk mata kuliah Ekonomi Umum (Prof. Rudi
Sinaga) dan Kependudukan (Prof. Sediono Tjondronegoro), Jurusan
Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut
Pertanian Bogor.
1986-1987, Kepala, Project Management Unit (PMU), Proyek Pengembangan
Pedesaan Wilayah (P3W) Transmigrasi Terpadu Krueng Tadu, Aceh Barat, DI
Aceh.
1992-1993, Data Analyst, Membership Office of Memorial Union,
University ofWisconsin-Madison, AS.
1993-1995, Computer Consultant, Steenbock Memorial Library, University
of Wisconsin-Madison AS.
1996-1998, Ketua, Program Studi Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas
Pertanian, Universitas Lampung.
1997-1999, Tim Ahli, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR-RI) Pusat, Jakarta,
Indonesia.
1997-Sekarang, Dosen, Program Pascasarjana, Universitas Indonesia (UI)
dan Institut Pertanian Bogor (IPB).
1996-Sekarang,i Ekonom Senior, Institute for Development of Economics
and Finance (INDEF), Jakarta.
1998-2000, Ekonom/Analis Senior Kebijakan, United Nations Development
Programme (UNDP), Jakarta.
1998-2000, Ekonom Senior, Program Pengembangan Ekonomi Masyarakat
Daerah, Deputi Regional Bappenas, Jakarta.
2005-Sekarang, Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian, Universitas Lampung
(UNILA).
2005-Sekarang, Peneliti Senior, International Center for Applied
Finance and Economics (InterCafe), IPB-Bogor.
2002-2003, Guru Besar Tamu (Fulbright Fellow), Department of
Agricultural and Applied Economics, University of Wisconsin-Madison, AS.
2000 -2002, Direktur, Institute for Development of Economics and
Finance (INDEF),Jakarta.
Pengabdian dan Aktivitas Lain:
2005-Sekarang, Penasehat Tim Nasional Perundingan Perdagangan
Internasional (Keputusan Presiden Nomor 28/2005).
2005-Sekarang, Executive Board Asian Society of Agricultural
Economists (ASAE).
2004-Sekarang, Ketua Bidang Kajian Kebijakan, Pengurus Pusat
Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi).
2004-Sekarang, Koordinator Steering Committee, Forum Indonesia untuk
Transparansi Anggaran (FITRA).
2002-Sekarang, Komisi Seleksi, Beasiswa Ford Foundation dan IIEF
(International Institute of Education Foundation).
2001-Sekarang, Insttuktur, Badan Pendidikan dan Larihan (Diklat),
Departemen Dalam Negeri untuk SPAMA/SPAMEN.
2000-Sekarang, Ketua Bidang Outreach Program, Wisconsin Alumni
Association (WAA) -Badgers Indonesia.
2000-Sekarang, Nara Sumber pada media dan kantor berita asing (BBC-Inggeris,
VoA-Amerika Serikat, AFP-Amerika Serikat, Reuters-Inggris, Dow Jones
news Amerika Serikat, Channel9- Australia, dsb).
1998-Sekarang, Analis dan Nara Sumber pada televisi nasional dan
stasiun radio (RCTI, SCTV , ANTV , TPI, TVRI, Metro-TV, Indosiar, Radio
El-Shinta, Pas FM, Trijaya, Delta, Jakarta News, RRI, dsb).
1996-Sekarang, Analis dan Kolumnis pada surat kabar nasional dan
majalah berita, ratusan artikel dan kolom telah ditulis (di harian
Kompas, Jakarta Post, Republika, Media Indonesia, Bisnis Indonesia,
Koran Tempo, Tempo, Pilar, majalah Warta Ekonomi, Gatra, Forum, Panji,
Investor, Swa, dsb).
1996-Sekarang, Editor Kepala, Quarterly Review of the Indonesian
Economy (QRIE)/Bisnis dan Ekonomi Politik (BEP).
1995-Sekarang, Wakil Editor, Jurnal Sosio-Ekonomika (JSE).
2001-2002, Ketua Komite Perdagangan Berjangka Komoditi.
2000-2003, Pengurus Pusat, Kajian Kebijakan Pembangunan, Himpunan
Alumni Institut Pertanian Bogor.
Pengalaman Penelitian:
2005, Peneliti Kepala, “Pengembangan Kelembagaan Ketahahan Pangan”,
sebagai bagian dari “Road-Map Menuju Ketahanan Pangan”, dibiayai oleh
Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia, Jakarta.
2004, Peneliti Kepala, Evaluasi Program Beras untuk Rakyat Miskin (Raskin),
dibiayai oleh Departemen Pertanian, Jakarta.
2004, Peneliti Kepala, Alternatif Pendanaan Lingkungan Hidup, dibiayai
oleh Kementerian Lingkungan Hidup, Jakarta.
2002, Peneliti Kepala, Agriculture in Indonesian Development, dibiayai
oleh Fulbright Senior Research Fellowship, AS.
2001, Peneliti Kepala, The Effects of Letter of Intent Policies to the
International Monetary Fund on Environmental Quality and Social Welfare,
dibiayai Wahana Lingkungan Hidup Indonesia.
2000, Peneliti Kepala, Social Justice and Poverty Alleviation in
Indonesia, dibiayai oleh International Labor Organization (ILO) of the
United Nations, Jakarta Representative.
1999, Peneliti Kepala, Food Security and Markets in Indonesia,
dibiayai oleh the Southeast Asia Council for Food Security and Fair
Trade, Manila, Filipina.
1999, Peneliti Kepala, Desentralisasi Ekonomi dan Transparansi
Anggaran, dibiayai oleh the Ford Foundation, Jakarta.
1998, Peneliti Kepala, Kaji-Tindak Pemberdayaan Koperasi dan Usaha
Kecil Menengah dalam Reformasi Ekonomi Nasional, dibiayai oleh
Departemen Koperasi dan Usaha Kecil, Jakarta.
1998, Anggota, Studi Efisiensi Pemasaran Cabe Merah dan Daging di
Dalam Negeri, dibiayai oleh the Departemen Perindustrian dan Perdagangan,
Jakarta.
1997, Anggota, Sources and Instruments of Corruption in Indonesia,
dibiayai oleh the Asia Foundation, Jakarta.
1997, Peneliti Kepala, An Economic Analysis of Shifting Cultivation
and Bush Fallow System in Lowland Sumatra, dibiayai oleh the
International Centre for Research in Agroforestry , Bogor.
1997, Peneliti Kepala, Farm-Level Economics of Land Degradation: A
Case of Intensive Land-Use Practices in Lampung Province, dibiayai oleh
the University Research for Graduate Education (URGE), The World Bank
Project on Indonesia.
1996, Anggota, Peta Distribusi Perdagangan Dalam Negeri, dibiayai
Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Jakarta.
1996, Peneliti Kepala, Pengembangan Kelembagaan Pasar Lelang Kopi di
Lampung, dibiayai oleh Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Kanwil
Propinsi Lampung.
1996, Anggota, ASEAN dalam Menghadapi Era Perdagangan Bebas, dibiayai
oleh Departemen Luar Negeri, Jakarta.
1996, Peneliti Kepala, Kaji-Tindak Pengembangan KUD-Mandiri Inti dalam
Wilayah Pengembangan Agribisnis di Lampung, dibiayai oleh Departemen
Koperasi, Kanwil Provinsi Lampung.
1995, Peneliti Kepala, The Economics of Land Degradation: A Case Study
of Indonesian Upland, Dissertation Research, dibiayai oleh the World
Bank Project, Madison (USA).
1991, Peneliti Kepala, Land & Use Intensification of Indonesian
Agriculture, Masters Thesis Research, dibiayai oleh the
Fulbright-Galbraith Scholarship, Madison, AS.
1988, Peneliti Kepala, Analisis Ekonomi Tataniaga Ubi Kayu di Provinsi
Lampung, dibiayai oleh Lembaga Penelitian, Universitas Lampung, Bandar
Lampung.
1985, Peneliti Kepala, Analisa Pemasaran Ekspor Kayu Lapis Indonesia
ke Amerika Serikat dan Singapura, Skripsi Sarjana, Institut Pertanian
Bogor (IPB).
Pengalaman Konsultansi:
2005, Institutional Economist, World Agroforestry Center (ICRAF)
Southeast Asia --Broadening Access and Strengthening Input System--
Collaborative Research Support Program.
2005, Team Leader/Agricultural Economist, the International Rubber
Study Group (IRSG) Wembley, United Kingdom --Supply Chain of Natural
Rubber in Indonesia.
2004, Team Leader/Institutional Economist, World Agroforestry Center (ICRAF)
Southeast Asia --Institutional Studies on Rewarding Upland Poor for
Environmental Services (RUPES).
2003, Team Leader/Development Economist, United Nations Development
Programme (UNDP) --Policy Review of Partnership for Local Economic
Development (PLED).
2003, Agricultural Economist, the United States Agency for
International Development (USAID) --Agricultural Sector Review in
Indonesia.
2002, Development Economist, PT Caltex Indonesia --Government of Riau--
Riau Development Master Plan 2020.
2001, Economist, Japan Bank for International Cooperation (JBIC)
--Project Benefit and Monitoring Evaluation of the Agriculture and
Forestry Sector Project Loan (AF-SPL).
1999, Economist, Asia Foundation --Assessments of Conducived
Environment of Small-- Medium Enterprises Development.
1998, Team Leader/Development Economist, United Nations Development
Programme (UNDP) --Poverty Alleviation through Rural-Urban Linkages (P
ARUL).
1998, Economist, the United States Agency for International
Development (USAID) --Competition Law and Policy.
1998, Resource Economist, Economy and Environment Program for
Southeast Asia (EEPSEA) --Economic Assessment on the Impact of Haze and
Forest Fire in Southeast Asia.
1997, Economist/Data Analyst, World Bank --Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional (BAPPENAS) Study on Land Administration Project,
Part-C.
1997, Agricultural Economist, Overseas Economic Cooperation Fund (OECF)
dan Departemen Pertanian --Special Study Formulation of Agricultural
Development Projects III.
1996, Economist, German Technical Cooperation (GTZ) --Study on Small
and Medium Scale Enterprises and Economy Promotion.
1996, Agricultural Economist, Overseas Economic Cooperation Fund,
Japan on Agricultural Development Projects --the Study of Integrated
Horticultural Development in Upland Area.
Address:
Jalan Butu Merah No. 45, Pejaten Timur 12510, Indonesia
Phone: +62-21 790-1001, Fax: +62-21 7919-4018, Cell-phone:
+62-812-940-1150
E-mail:
barifin@uwalumni.com
barifin@yahoo.com |
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04
05 == Bustanul Arifin (01)
Pengamat Ekonomi Pertanian Bustanul Arifin masih bisa
menjaga diri untuk tetap steril dari kepentingan politik praktis. Dia
pengamat ekonomi pertanian brilian yang mendasarkan pisau analisa pada
kebeningan nurani. Konsisten ingin memperbaiki peradaban melalui ilmu
dan kapasitas yang dimiliki. Bustanul kukuh untuk berjuang membela
petani melalui jalur akademis dan jalur profesional sebagai peneliti,
konsultan dan penulis.
Sejumlah tawaran dan iming-iming jabatan penting di pemerintahan pernah
mampir kepadanya. Tetapi dengan halus ia masih menolaknya dengan alasan
sederhana. Menurutnya, membela kepentingan petani memberikan kemerdekaan
tersendiri yang tak ternilai harganya.
Ia memang pria yang rendah hati dan hidup bersahaja. Rendah hati
menurutnya tak berarti rendah diri. Bustanul penganut ilmu padi, yang
semakin berisi semakin merunduk. Tak heran jika ia merasa hidupnya
biasa-biasa saja tak ada yang terlalu istimewa.
Bustanul Arifin (44) resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap Ilmu
Ekonomi Pertanian, pada Fakultas Pertanian, Universitas Lampung (Unila),
Lampung, pada 20 Februari 2006. Dalam orasi ilmiah yang diberi judul,
“Peran Ilmu Ekonomi Pertanian Dalam Membangun Peradaban Sebuah Refleksi
Untuk Reposisi”, ia menyebut ilmu ekonomi pertanian dapat berperan dalam
membangun peradaban.
Menurutnya, syarat untuk bisa memasuki peradaban, ilmu ekonomi pertanian
harus melakukan reposisi dengan menempatkan petani sebagai subjek atau
aktor sentral dalam pembangunan pertanian. Pria kelahiran Bangkalan,
Madura 27 Agustus 1963 ini memastikan industrialisasi atau diversifikasi
usaha pertanian tidak akan berjalan mulus apabila pendapatan overall
petani produsen masih rendah.
“Artinya, agenda yang harus diselesaikan adalah bagaimana memberikan
tambahan modal kerja dan investasi bagi petani dan kelompok marjinal
lainnya untuk adopsi teknologi baru, akses informasi, intensitas tenaga
kerja proses produksi, manajemen pengolahan, pemasaran, dan pasca panen
lain, baik secara individual maupun secara kelompok,” jelas ayah tiga
orang anak bernama Muhammad Naufal Yugapradana (13), Nabila Isnandini
(8), dan Muhammad Nawaf Tresnanda (6) ini.
Menikah tahun 1991 dengan Astuti Sariutami (40), mantan adik kelasnya di
kampus, Bustanul Arifin menyelesaikan studi S-1 di IPB Bogor tahun 1985.
Setelah melalui persiangan ketat berhasil memenangkan mendapatkan
beasiswa fellowship fullbright, Bustanul menyelesaikan S-2 (Master of
Science) tahun 1992 di University of Wisconsin-Madison, AS dengan tesis
Land Use Intensification of Indonesia Agriculture. Di kampus sama tahun
1995 ia menyelesaikan S-3 (Doctor of Philosophy) dengan judul disertasi
The Economics of Land Degradation: A Case Study of Indonesia Upland.
Sebagai pria berdarah Madura, kehidupan sekeliling Bustanul di masa
kecil sangat kental dengan NU. Ia lahir sebagai anak keempat dari enam
bersaudara, dan ketika ibu kandung meningal dunia ayahnya menikah lagi
hingga mereka lengkap menjadi 10 bersaudara. Ayahnya yang seorang tokoh
NU, dan kiyai pemilik sebuah pesantren, itu lalu menempatkan Bustanul ke
SMP Muhammadiyah hingga dianggap berkhianat sebab peristiwa semacam ini
jarang pernah ada dan jauh dari cerita orang kebanyakan.
Tetapi pilihan tersebut rupanya memberi Bustanul pelajaran praktis
bagaimana berdemokrasi dan beradu argumen secara jujur apa adanya.
Bustanul kerap berbeda pendapat secara tajam, adu mukut hingga
bertengkar dengan saudara-saudaranya yang mempertahankan tradisi asli NU,
dengan Bustanul yang membawakan ajaran Muhammadiyah, hanya karena
masalah sepele. Misal perihal bagaimana solat pakai khunut, pakai peci,
pakai celana dan semacamnya. Ayahnya yang turut menyaksikan pertengkaran
itu hanya senyum-senyum saja.
Pendidikan di rumah model demikian dirasakan Bustanul sebagai pelajaran
demokrasi pertama beradu argumen. “Saya beruntung dengan pendidikan
seperti itu, keras. Orang jaman dulu mana ada yang tidak keras, dan saya
mengalaminya pasti keras, tidak boleh gagal dan seterusnyalah,” kata
Bustanul yang mengangap, pasal pertama dari demokrasi adalah
mendengarkan pendapat orang lain terlebih dahulu, baru menawarkan
pendapat sendiri.
Setamat SMA Negeri 2 Bangkalan Bustanul bercita-cita sekali ingin kuliah
sarjana kedokteran di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Ia sangat
mengidealkan seorang dokter yang sekali nyuntik pasti dapat duit. Tetapi
para guru SMA mendorong-dorong siswa pemegang ranking dua ini, supaya
mau mengambil kuliah di IPB Bogor. Alasannya, mumpung bisa masuk tanpa
test, sebab di Unair masih belum tentu bisa diterima. Alasan ini masuk
akal, lalu diterima masuk IPB, padahal guru-guru itu rupanya hanya ingin
membuat image baru tentang sekolahnya yang baru berdiri tetapi sudah
meluluskan alumni pertama masuk tanpa test ke sebuah PTN ternama.
Setelah ‘bermukim’ di Kota Hujan Bogor pada akhirnya Bustanul harus
mengakui dan mengucapkan salut kepada Andi Hakim Nasution (Almarhum),
Rektor IPB Bogor waktu itu yang memberi banyak warna terhadap pola
kehidupan ilmiah Bustanul. Di Bogor Bustanul berkenalan dengan beragam
asal suku bangsa, yang membentuk visi barunya tentang ke-Indonesiaan,
sehingga tak lagi terkungkung dengan pemikiran sempit di kampung. Di
Bogor ia mengalami titik balik baru, yang lalu berlanjut lagi tatkala
berkesempatan menginjak benua lain, di Amerika Serikat, saat mendapat
beasiswa mengambil program S-2 di Universitas Wisconsin, Madison.
Perjalanan ini memberi Bustanul wisdom yang tak berbatas, bahwa
sesungguhnya di atas langit masih ada langit.
Orang Lapangan
Bustanul Arifin pendiri Institute for Development of Economic and
Finance (INDEF), salah satu wahana lain pengabdian Bustanul Arifin dalam
membangun peradaban, semasa kuliah dan bertugas sebagai Asisten Dosen (antara
1983-1985, untuk mata kuliah Ekonomi Umum di bawah Prof Rudy Sinaga, dan
Kependudukan di bawah Prof Sediono Tjondronegoro), memang bercita-cita
ingin melanjut ke pendidikan yang lebih tinggi di luar negeri. Oleh
dosennya ia lalu disarankan untuk melamar menjadi dosen sekaligus
pegawai negeri di luar Jawa. Sebab jika tetap bercokol mengabdi di IPB
daftar antriannya sudah sangat panjang.
Sambil memasukkan lamaran, pemuda Bustanul yang sudah seorang sarjana
bergelar insinyur pertanian, itu berkesempatan bekerja di Aceh menjadi
Kepala Project Management Unit (PMU), Proyek Pengembangan Pedesaan
Wilayah (P3W) Transmpigrasi Terpadu Krueng Tadu, Aceh Barat, D.I. Aceh
(1986-1987). Di kawasan yang gadisnya cantik-cantik itu, Bustanul
menikmati sekali bekerja langsung bersama petani di lahan transmigrasi
yang terpencil. Di sana ia hidup tanpa koran tanpa televisi tanpa
listrik dan kalau mau pergi kota jaraknya jauh sekali.
Sebagai Kepala Unit ia bertugas membuat demplot, demonstrasi percontohan
pertanian yang baik untuk demplot jagung, cabe dan sebagainya. Karena
merupakan insinyur duluan yang ada di sana, ia lalu dianggap sebagai
pembina atau tokohlah oleh sesepuh di sana. Jadi kalau ada acara Maulid,
atau Lebaran, ia duduk di depan bersama Pak Lurah dan diminta memberikan
sambutan. Bahkan, karena ketokohannya, petani yang bercerai pun lapor
kepada Bustanul, atau petani yang berkonflik mengenai air. Ia menikmati
betul profesi itu, yakin itu tak lebih sebagai proses pematangn diri
pribadi dan kepemimpinan.
Setelah 10 bulan bekerja Bustanul diminta cepat-cepat datang ke Lampung.
Singkat cerita ia dipanggil pulang, menjalani proses seleksi yang
demikian cepat, termasuk tes bahasa Inggris, aktif mengajar makro-mikro.
Dari seribuan orang yang melamar untuk dapatkan beasiswa ke Amerika,
terseleksi menjadi 800 orang, diinterview 400 orang, dan yang
diberangkatkan 12 orang. “Saya termasuk yang 12 orang itu,” kata
Busatnul, tepat pada tahun 1988 akhirnya berkesempatan pergi sekolah ke
luar negeri.
Keberhasilan mendapatkan beasiswa itu tak terlepas pula dari kejujuran
Bustanul dalam menuliskan pengalaman-pengalaman yang didapatkannya di
lapangan, melampirkan profil latar belakangnya sebagai ilmuwan ekonomi
pertanian, dan keinginan mengambil pendalaman ilmu sumberdaya lahan
pertanian. Menurut Bustanul di sana ada degradasi lahan, dan
pemecahannya harus dengan pendekatan multidisiplin, bukan hanya ilmu
ekonomi semata tetapi juga sosial dan sebagainya. “Kira-kira itu yang
mungkin membuat impress para penyeleksi,” tutur Bustanul mengenang.
Pengalaman di Universitas Wisconsin
Kuliah di University of Wisconsin-Madison, Amerika, itu tak cukup hanya
mengandalkan beasiswa. Apalagi sudah dengan satu orang anak, dan satu
istri yang harus ditanggung. Anak pertama Bustanul, Muhammad Naufal
Yugapradana itu lahir di Amerika.
Untuk menambah penghasilan Bustanul nyambi bekerja di perpustakaan. Ia
mengerti betul komputer atau programmer. Bekerja di pusat komputer dapat
uang, sambil mengerjakan pekerjaan sekaligus ia menulis disertasi.
Di University of Wisconsin ini kulturnya berbeda dengan di IPB. Sejumlah
pelajaran berharga berhasil diperolehnya selama bermukim di sana.
Misalnya, banyak hal yang bisa menjadi pertimbangan, atau bahan, mengapa
negara lain memperhatikan pendidikan dan menghargai orang tinggi sekali.
Bisa disambungkan dengan ilmu politik, setelah melihat dengan mata
kepala sendiri, mengalami dan melihat orang, Bustanul menyimpulkan bahwa
paling tidak yang namanya demokrasi bunyi pada pasal pertamanya mungkin
menyebutkan mendengarkan pendapat orang lain, bukan memasukkan pendapat
sendiri dulu. “Kita berpendapat setelah orang lain kita ketahui
pendapatnya. Jadi, sebetulnya tenggang rasa masih nyangkut di situ,”
kata Bustanul.
Usai menamatkan S-2 tahun 1991, break selama enam bulan, Bustanul
melanjutkan program S-3 di universitas yang sama dan menulis disertasi
tentang degradasi lahan. Pilihan ini didasari ketertarikan dan
kepedulian sejak awal tentang ide pembangunan yang berkelanjutan, atau
sustainability development. “Waktu itu semua orang berbicara mengenai
pembangunan berkelanjutan, membuat saya tertawa juga. Saat itu ada
Summit Rio sehingga saya ikut terbawa ingin meneliti lebih jauh mengenai
keberlanjutan pembangunan. Saya menuliskan, ada penyusutan di lahan atau
sumberdaya alam secara umum yang perlu dipertimbangkan dalam
perhitungkan GNP,” kata Bustanul penulis sejulah buku dan ratusan
artikel di berbagai media mengenai ekonomi pertanian.
Terlibat Dirikan INDEF
Bustanul menyelesaikan S-3 dan meraih gelar Ph.D tahun 1995, terus
pulang ke Indonesia saat-saat INDEF mulai berdiri. Ia mulai ikut-ikutan
di sana, kendati suasana di tahun 1995 itu masih tidak terlalu baik
untuk berdemokrasi. Satu hal membuat Bustanul semakin tertarik untuk
bergabung, sebuah hasil studi INDEF tentang “Tata Niaga Tepung Terigu”
terbukti cukup menggemparkan.
Temuan dan publikasi mengenainya adalah sesuatu hal yang baru pada waktu
itu, dimana sebuah lembaga independen berani mengkritik pemerintah
secara terbuka. Tentu saja, temuan ini berhubungan pula dengan Om Liem (Sioe
Liong), Indofood, Bulog dan seterusnya. Ia pun ditelepon Mas Didik (J.
Rachbini), membuat Bustanul ikut-ikutan. “Dari situ awalnya sampai
akhirnya keterusan. Saya tidak terlibat dalam studi itu sebab masih
sekolah di Amerika,” kata Bustanul.
Bustanul memang tidak terlibat mendirikan INDEF dari awalnya.
Pembentukan awal, ide, gagasan, pembentukan kaedah, kumpul-kumpul dan
kongkow-kongkownya sudah dimulai Agustus 1995 saat Bustanul asih di
Amerika. Ia pulang ke Jakarta Oktober, saat INDEF sudah berdiri tetapi
hanya berdiri sebab belum berbadan hukum. Karena itu sangat tepat bia ia
lebih berperan sebagai re-establishing saja. Ketika INDEF didaftarkan
menjadi PT ia masuk di situ dan menjadikan INDEF menjadi lebih baik
sebagai pusat kajian ekonomi dan keuangan.
Nah, setelah berada di sana Bustanul membawakan misi utama pendirian
INDEF sebagai public education. INDEF berperan lebih banyak memberikan
pelayanan dan pendidikan publik. Paling tidak, menyampaikan kebenaran
walau kebenaran itu pahit.
Berada di Jakarta, selain di INDEF, Bustanul mulai kenal banyak orang
Jakarta. Ia pun mulai berkiprah di berbagai bidang pengabdian seperti
mengajar, hingga menjadi penasehat di Golkar di DPR tahun 1997 setelah
mendapat izin secara resmi dari universitas. Di almamater IPB Bogor ia
mengajar Studi Kebijakan, di UI sebagai Koordinator Ekonomi Politik, di
Unila mengajar Ekonomi Sumberdaya Alam dan Metodologi Penelitian Ekonomi
(MPE). Dalam beberapa kali juga mengajar di Unri Riau dan di Universitas
Pajajaran.
“Sebagai dosen saya harus mengajar, sebab kalau tidak mengajar ya bukan
dosen,” kata Bustanul, yang juga pernah punya pengalaman konsultansi
seperti di USAID, Bank Dunia, UNDP, ILO. Kalaupun pernah bekerja di
badan usaha berbentuk PT, itu tak lebih di INDEF yang memang berbadan
hukum PT. Tetapi INDEF bergerak masih dalam lingkup pendidikan dan
penelitian, semua produksinya berbentuk buku hasil-hasil penelitian.
“Jadi, saya belum pernah bekerja di sektor swasta murni, di pabrik atau
apa, mungkin tidak tertarik juga. Menurut saya tantangannya terlalu
biasa di dunia ini,” kata Bustanul.
Jika ada yang bertanya, mungkinkah akan bekerja di private sector,
Bustanul memastikan jawabannya tidak. Karena itu bukan kebiasaan atau
core-nya. Demikian pula apabila ditanya lagi apakah mau bekerja di
birokrasi, kata Bustanul itu tidak menarik, tak banyak tantangannya
menjadi pimpinan birokrasi. “Apakah Anda tanya kepada saya mau di
politik, seperti Didik dan Dradjad (Hari Wibowo), mungkin nggak juga,
tidak terlalu menariklah buat saya. Mungkin di politik adalah
pengelolaan konflik tingkat tinggi dan saya tidak berminat untuk itu,
tidak tertarik belum tahu kalau lima atau sepuluh tahun lagi. So far
belum tertarik.”
Konsisten Melakukan Penelitian
Di luar mengajar dan menjadi pengamat ekonomi pertanian, Bustanul banyak
melakukan kegiatan penelitian dan konsultansi.
Belum lama ini, misalnya, ia melakukan penelitian studi kakao di 16
kabupaten di Sulawesi Selatan. Penelitiannya sederhana tetapi ada kesan
menarik yang membuatnya trenyuh. Kesan mereka, terutama suku Bugis dan
suku Makassar itu, belum ada Presiden yang sebaik Habibie. Kenapa,
karena sewaktu Habibie menjabat semua orang kampung bisa naik haji,
semua petani makmur sebab harga coklat kakao sekilo Rp 20 ribu. Sekarang,
payah, bisa empat enam ribu rupiah saja per kilo sudah hebat. “Saya
tentu catat saja, tak harus saya komentari itu karena nilai tukar dolar,
saya cuma bilang, oh, begitu, ya.”
Setiap melakukan penelitian Bustanul selalu menjaga integritas diri
dalam menghasilkan penelitian. Ia percaya lebih banyak yang bisa dijaga
untuk menghasilkan penelitian yang objektif. Minimal, yang harus diambil
sebagai parit garis untuk seorang peneliti adalah objektivitas itu. Baik
katakan baik, tidak katakan tidak. Untuk sementara ini pemberi atau
sponsor penelitian cukup maklum dengan sikap Bustanul itu. Kepada
sponsor biasanya ia bisa berdebat dua hal saja, bisa dari hasilnya dan
bisa dari metodologinya.
Sebagai peneliti ia yakin bekerja bukan sebagai budak dari pemberi dana,
tetapi pasti memiliki tujuan tersendiri pula di setiap penelitian. Yang
dilakukan Domain pekerjaan peneliti adalah memproduksi ilmu pengetahuan,
atau producing knowledge. Karena itu setiap peneliti wajib
mempublikasikan penelitiannya. Tidak perlu ada keluhan penelitian hanya
untuk laporan, tetapi harus untuk pengaplikasian sebab knowledge tidak
pernah ada batasnya. “Kita hanya memproduksi pengetahuan. Padahal, ilmu
kita itu hanya setitik tetes air di tengah lautan. Berarti kita tidak
ada apa-apanya,” kata Bustanul.
Karena bekerja menghasilkan ilmu pengetahuan, Bustanul berprinsip untuk
harus terus berkarya sampai meninggal dunia. Ia yakin makin banyak
peneliti, makin banyak penelitian, maka ide pasti makin berkembang. Ide
berbeda dengan kartu, atau barang yang bila dipertukarkan masing-maisng
dapat satu kartu atau barang. Tetapi, ide bila dipertukarkan
masing-masing menjadi mendapat dua ide. Itu yang esensi dari penelitian,
membuat ide makin kaya, dan ilmu pengetahuan berkembang untuk
kemaslahatan manusia.
Penelitian memberi rasa senang tersendiri bagi Bustanul. Dengan menjadi
peneliti ia merasa bukan menjadi yang paling tahu, tetapi menggali
sesuatu yang tidak diketahui. Kalau seorang peneliti, atau yang disebut
pengamat atau siapa pun, sudah merasa sebagai yang paling tahu mungkin
sudah bukan peneliti lagi. Menurut Bustanul dia harus humble, harus
rendah hati tapi percaya diri. Biasanya orang yang percaya diri itu
tinggi hati. Atau, kalau orang tidak percaya diri biasanya rendah diri.
Rendah hati itu bukan rendah diri, tetapi makin berisi makin merunduk.
Seorang peneliti harus skeptis mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk
mempertajam dan untuk dia berkontribusi pada pemecahan persoalan.
Bustanul selalu mengajarkan mahasiswa, atau kepada pejabat eselon dua
yang mengikuti training di Diklat SPAMEN, “Bapak adalah pelayan bagi
petani. Kalau Bapak sudah merasa pejabat saya pikir itu sudah
pelanggaran utama dari birokrasi.” Ia mengatakan demikian walau sadar
dan tahu tidak banyak yang mendengarkannya. Tetapi ia akan terus
mengatakan itu, karena kita sudah terlanjur salah menempatkan pejabat
sebagai terjemahan yang jelek. Pejabat seharusnya bertindak sebagai
adalah civil server, atau pelayan publik, tetapi kita salah
menerjemahkan government itu sebagai memerintah. Itu salah, tidak tepat,
to govern ya mengatur, atau memfasilitasi.
Usung Perbaikan Peradaban
Bustanul Arifin memberi judul orasi ilmiah saat dikukuhkan sebagai Guru
Besar Tetap Fakultas Pertanian Uiversitas Lampung (Unila), di Lampung
pada 20 Februari 2006 tergolong unik lain dari yang lain. Yaitu, “Peran
Ilmu Ekonomi Pertanian Dalam Pembangunan Peradaban Sebuah Refleksi
Untuki Reposisi.”
Unik, sebab ia memposisikan ekonomi pertanian sebagai unsur terpenting
jika ingin membangun peradaban lebih baik, sesuatu yang belum pernah
diangkat oleh para ekonom pertanian sebelumnya. Bustanul merasa belum
tuntas dengan apa yang saya pidatokannya itu. Tetapi, inti pidatonya
adalah, bahwa ekonomi pertanian telah berkontribusi besar dalam
peningkatan keberadaban manusia, minimal dari perumusan kebijakan.
Dengan kata lain bisa pula diartikan sebaliknya, kalau lingkungan tidak
beradab yang salah bukan ekonomi pertaniannya, tetapi kemampuan kita
untuk menterjemahkan ide-ide objektivitas desain itu menjadi langkah
kebijakan atau langkah praksis dalam kehidupan sehari-hari.
Jadi, siapapun kalau menemui ketidakberadaban itu bukan refleksi
kesalahan dari suatu science, atau ilmu, atau knowledge. Tetapi tidak
lebih ketidaksempurnaan kita sebagai manusia mengaplikasikannya. Yang
diketahui khalayak peradaban adalah common denominator atau tujuan umum
untuk perbaikan civil society. Civil society sangat dekat dengan
civilize atau masyarakat beradab. “Nah, di situ saya uraikan sejarah
mulai ilmu ekonomi pertanian ini berkembang, bagaimana Indonesia
berhasil dalam melakukan pembangunan pertanian, kemudian kita mundur
lagi,” kata Bustanul.
Ia percaya, mundurnya peradaban sangat berhubungan erat dengan mundurnya
sebuah kinerja kesejahteraan sosial ekonomi. Kalau kita salah
mengaplikasikan science, kita salah mengaplikasikan ilmu pengetahuan,
umumnya cenderung mengarah kepada ketidakberadaban dengan segala
definisinya. “Argumen saya di situ, perkembangan ilmu ekonomi pertanian
ini seiring sejalan dengan pembangunan peradaban. Peradaban yang
mengarah kepada keterbukaan, globalisasi, itu seiring juga bahwa kita
harus mampu kompatibel, kalau tidak mampu mewarnai peradaban, paling
tidak mampu kompatibel dengan perubahan peradaban.” ti/ht-am
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|