| |
C © updated 26102006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/am |
|
| |
Nama:
Bustanul Arifin
Lahir:
Bangkalan, 27 August 1963
PendidikanFormal:
Tahun 1995, lulus Doctor of Philosophy, Resource Economics,
University of Wisconsin-Madison, AS, judul disertasi “The Economics of
Land Degradation: A Case Study of Indonesian Upland”.
Pekerjaan:
2005-Sekarang, Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian, Universitas Lampung
(UNILA).
2005-Sekarang, Peneliti Senior, International Center for Applied
Finance and Economics (InterCafe), IPB-Bogor.
Address:
Jalan Butu Merah No. 45, Pejaten Timur 12510, Indonesia
Phone: +62-21 790-1001, Fax: +62-21 7919-4018, Cell-phone:
+62-812-940-1150
E-mail:
barifin@uwalumni.com
barifin@yahoo.com |
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
Bustanul Arifin
Ubah Sistem Kredit untuk Perkebunan
Jakarta, Kompas Sabtu, 15 Juli 2006 - Pemerintah merancang perluasan dan peremajaan dua juta
hektar lahan untuk tiga komoditas utama, yakni kelapa sawit, karet, dan
kakao. Kebijakan itu dilakukan dengan memberikan kredit berbunga tetap
sebesar sepuluh persen. Selisih dengan bunga komersial akan ditanggung
pemerintah.
Deputi II Menteri Koordinator Perekonomian Bidang Pertanian, Perikanan,
dan Kelautan Bayu Krisnamurti di Jakarta, Jumat (14/7) menyebutkan,
pemerintah telah menunjuk konsorsium perbankan yang dipimpin oleh PT
Bank Rakyat Indonesia (BRI) untuk mendistribusikan kredit perkebunan itu.
Jumlah dana yang disediakan konsorsium tersebut mencapai Rp 10 triliun
untuk lima tahun masa pencairan.
"Setiap petani mendapatkan jatah kredit untuk mengelola empat hektar
lahan, sehingga jumlah petani yang diharapkan memperoleh kredit adalah
sekitar 500.000 petani. Sementara, anggaran yang digunakan untuk menutup
selisih bunganya akan dihitung setiap tahun, tergantung pada
penyerapannya," katanya.
Menurut Bayu, pemerintah telah menyelesaikan panduan pelaksanaan
distribusi kredit tersebut. "Yang berhak mendapatkan kredit ini bukan
hanya petani yang baru mengolah lahan, tetapi petani yang membangun
lahan perkebunan sawit, karet, dan kakao yang sudah ada. Namun kami
menekankan, lahan yang digunakan bukan hasil konversi hutan, tetapi
memanfaatkan ijin usaha perkebunan yang belum termanfaatkan secara
maksimal," katanya.
Bayu mengatakan, pemerintah mengupayakan distribusi kredit bersubsidi
tersebut mulai dilakukan tahun 2006 di beberapa daerah, antara lain di
wilayah kerja PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XIII Kalimantan dan PTPN V
di Sumatera. Dalam pelaksanaannya, kredit tersebut dapat diberikan
secara langsung kepada petani atau melalui perusahaan tertentu yang
berfungsi sebagai avalis (penanggung risiko kredit yang menjadi mitra
bank untuk menanggung risiko kreditnya), antara lain bisa perusahaan
perkebunan, perusahaan swasta, atau koperasi.
"Penyerapannya di tahun ini mungkin masih rendah. Tetapi pemerintah
berharap program ini dapat memperkuat ekspor di bidang perkebunan dan
memenuhi kebutuhan dalam negeri. Namun, bisa juga dikaitkan dengan
pengembangan energi alternatif, dalam hal ini kelapa sawit. Untuk kelapa
sawit akan dikembangkan di Sumatera, sedangkan karet dan kakao akan
melibatkan pihak swasta di lokasi-lokasi yang akan ditentukan nanti,"
katanya.
Ubah sistem
Sementara itu, Guru Besar Universitas Lampung Prof Bustanul Arifin
mengatakan, untuk mencegah penyerapan yang rendah atas kredit tersebut,
pemerintah sebaiknya mengubah sistem distribusinya. Pemerintah sebaiknya
mempertahankan fleksibilitas, sehingga tidak hanya mengandalkan satu
jenis koperasi sebagai sarana utama pendistribusiannya.
"Dulu ada koperasi pertanian dan Koperasi Unit Desa. Keduanya bisa
diberdayakan. Kombinasi kelembagaan akan lebih baik ketimbang hanya
memfokuskan pada satu lembaga. Selain itu, persyaratannya jangan terlalu
ketat. Penyaluran langsung ke petani jauh lebih baik, dan itu memang
idealnya," katanya.
Menurut Bustanul, pemerintah harus berupaya keras agar pola tataguna
lahan tidak monokultur. Pola tataguna lahan yang monokultur berisiko
terjadi degradasi lahan dan rawan kerugian jika terjadi gagal panen.
"Untuk sawit mungkin sulit untuk tidak monokultur, namun untuk karet dan
kakao pasti bisa. Peremajaan lahan akan jauh lebih baik daripada membuka
lahan baru yang rentan pada perusakan hutan. Dengan demikian, bantuan
kredit itu dapat digunakan untuk menyediakan bibit baru, sehingga petani
dapat mengganti tanaman sawit, karet, dan kakao yang sudah tua dengan
bibit yang masih segar," katanya.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|