| |
C © updated 07102005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/rpr |
|
| |
Nama:
Bustanil Arifin
Lahir:
Padangpanjang, Sumatera Barat, 10 Oktober 1925
Agama:
Islam
Isteri:
R.A. Suhardani
Anak:
Empat Orang
Ayah:
Achmad Idris
Pendidikan:
- HIS, Medan (1940)
- MULO, Medan (1942)
- Fakultas Hukum Unpad, Bandung (1959)
- Sekolah Pegawai Tinggi, Batusangkar (1944)
- Kupalda Unifikasi I, Cimahi (1963)
Karir:
- Danton Inf. Div. Gajah I di Medan Area (1946)
- Danki Inf. 22 Div. Gajah I di Lhok Seumawe, Aceh (1948)
- Biro Pengajaran PPPLAD (merangkap guru) di Cimahi (1956)
- Kabag Personalia & Pendidikan Palad di Jakarta (1961)
- Deputi Pengadaan & Penyaluran Bulog di Jakarta (1969)
- Konsul Jenderal RI di New York, AS (1972)
- Kepala Badan Urusan Logistik di Jakarta (1973 -1983)
- Dirut PT PP Berdikari di Jakarta (1973 -1983)
- Menteri Muda Urusan Koperasi/Kepala Bulog Kabinet Pembangunan III(1978
-- 1983)
- Menteri Koperasi/Kepala Bulog Kabinet Pembangunan IV (19 Maret 1983-21
Maret 1988)
- Menteri Koperasi/Kepala Bulog Kabinet Pembangunan V (21 Maret 1988-17
Maret 1993)
Kegiatan Lain:
- Deputi Ketua TMII (1974)
- Bendahara Yayasan Dharmais (1975)
- Anggota Dewan Penyantun Yayasan Jantung Indonesia (1978)
- Anggota Dewan Penyantun Universitas Padjadjaran (1978)
- Ketua Yayasan Pendidikan Koperasi (1982)
- Ketua Yayasan Pengembangan Manajemen Indonesia (1981)
Alamat Rumah:
Jalan Hang Tuah VII/2, Jakarta Selatan Telp: 771550
|
|
| |
|
|
|
|
| BUSTANIL ARIFIN HOME |
|
|
 |
Bustanil Arifin
Kisah Anak Gaul Jadi Menteri
Bustanil Arifin, mantan Menteri Koperasi dan Kepala Bulog
(1983-1993), dikenal sangat akrab dengan wartawan. Dia tak segan-segan
merogoh kantong 'mentraktir' di mana pun dia ketemu wartawan. Tatkala
aktif sebagai menteri, dia juga tidak segan membawa cucu ke
tempat-tempat umum yang terbuka bakan saat berkunjung ke daerah.
Masa kecil pria berambut tipis kelahiran Padangpanjang, Sumatera Barat,
10 Oktober 1925, ini tampaknya sangat mempengaruhi kebiasaan gaulnya.
Saat kecil, dia anak gaul dan tergolong nakal. Satu-satunya lelaki dari
tiga bersaudara, itu sering kali berkelahi.
Suatu ketika, Bustanil kecil berkelahi dengan anak yang badannya
lebih besar. Tentu saja dia kalah. Lawannya yang berbadan besar itu
dengan gampang mengangkat tubuhnya, lalu mengempaskan dan tergores kawat
berduri. Bagian dalam lengan Bustanil sobek 10 cm yang berbekas hingga
hari tuanya.
Maka ketika, anak dan cucunya suka berkelahi, dia pun memaklumi
bahkan senang melihatnya. Ayah empat anak ini menyukai suasana keceriaan
bersama anak-anak dan cucunya. Bahkan saat aktif sebagai Menteri
Koperasi, Bustanil sering membawa cucu berkunjung ke daerah. Dia tidak
segan membawa cucu ke tempat-tempat umum yang terbuka.
Soal kesenangan bagi-bagi rejeki dan 'mentraktir' wartawan dan siapa
saja, tampaknya terbawa dari pengalaman kecilnya jua. Ayahnya, Achmad
Idris, seorang pemborong. Ketika ayahnya memperoleh banyak untung,
Bustanil sering memperoleh berbagai macam hadiah, berupa mainan dan alat
keperluan sekolah. Tetapi, manakala sang Ayah merugi, harus sabar tidak
mendapat apa-apa. Bahkan, barang-barang, termasuk rumah, pernah terpaksa
dijual.
Mantan Dirut PT PP Berdikari ini mengecap pendidikan HIS (1940) dan MULO
(1942) di Medan. Dia menyukai pelajaran sejarah, terutama tentang
tokoh-tokoh dunia. 'Dia senang menimba pengalaman para tokoh itu. Dia
mengagumi Indira Gandhi, Margaret Thatcher, dan HM Soeharto.
Dia mengaku banyak belajar dari Pak Harto. Bukan hanya masalah
kepemimpinan yanbg timba dari Pak Harto, juga perihal menjaga kesehatan
badan dan jiwa. Supaya bisa tenang menghadapi berbagai persoalan.
Ketika pendudukan Jepang, saat Bustanil masih 18 tahun, dia ingin
mewujudkan cita-citanya menjadi perwira militer. Dia mengikuti latihan
militer di Batusangkar, Sumatera Barat. Lalu, sebentar dia ke Aceh,
menjadi guru pada Sekolah Pegawai Tinggi. Dia memberi pelajaran
kemiliteran.
Setelah mengikuti latihan militer itu dan lulus tes bakat dengan hasil
baik, Bustanil terpilih menjadi salah seorang prajurit yang akan
disekolahkan ke Akademi Militer di Tokyo, 1944. Namun karena Jepang
bertekuk lutut pada Amerika Serikat pada Perang Dunia II, Bustanil urung
ke Jepang.
Lalu dia mengikuti pendidikan khusus tiga bulan di Aceh. Sehingga
harapannya menjadi perwira terkabul pada 1946. Dia langsung diterjunkan
ke front Medan Area, sebagai komandan peleton. Tergabung dalam Batalyon
3 Resimen Istimewa Medan Area, Sumatera Utara. Setelah itu, karir
militernya terus menanjak. Terakhir ia berpangkat letjen (purnawirawan).
Teman seperjuangannya ketika berjuang di Binjai, antara lain, Amran
Zamzami, pernah menjabat Direktur PT Krama Yudha dan Ketua Gabsi
(bridge) dan Rachman Ramly, pernah menjabat Dirut PT Timah dan Dirut
Pertamina.
Seusai perang, Bustanil yang haus ilmu menyempatkan diri kuliah di
Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Bandung, hingga meraih gelar
sarjana hukum. Ketika masih mahasiswa tingkat I, Bustanil berkenalan
dengan R.A. Suhardani, siswa kelas III SGKP, seorang gadis cantik
keturunan Jawa. Tak mau berlama-lama, setahun kemudian, mereka menikah.
Keluarga ini dikaruniai emapat anak. Isterinya, yang akrab dipanggil Ibu
Dani, aktif sebagai Ketua Umum Yayasan Jantung Indonesia.
Bustanil menjabat Danton Inf. Div. Gajah I di Medan Area (1946),
Danki Inf. 22 Div. Gajah I di Lhok Seumawe, Aceh (1948) dan Biro
Pengajaran PPPLAD (merangkap guru) di Cimahi (1956). Kemudian dipercaya
menjabat Kabag Personalia & Pendidikan Palad di Jakarta (1961) dan
Deputi Pengadaan & Penyaluran Bulog di Jakarta (1969).
Kemudian dia ditugaskan menjabat Konsul Jenderal RI di New York, AS
(1972) sebelum diangkat menjabat Kepala Badan Urusan Logistik di Jakarta
(1973 -1983) dan Dirut PT PP Berdikari di Jakarta (1973 -1983). Kemudian
dia diangkat menjabat Menteri Muda Urusan Koperasi merangkap Kepala
Bulog (1978-1983), Menteri Koperasi/Kepala Bulog Kabinet Pembangunan IV
(19 Maret 1983-21 Maret 1988) dan Kabinet Pembangunan V (21 Maret
1988-17 Maret 1993).
Selain itu, Bustanil juga aktif sebagai Deputi Ketua TMII (1974),
Bendahara Yayasan Dharmais (1975), Anggota Dewan Penyantun Yayasan
Jantung Indonesia (1978) dan Anggota Dewan Penyantun Universitas
Padjadjaran (1978). Juga Ketua Yayasan Pendidikan Koperasi (1982) dan
Ketua Yayasan Pengembangan Manajemen Indonesia (1981). ►e-ti/mlp,
dari berbagai sumber, di antaranya pdat.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|