| |
C © updated 20102004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/bi |
|
| |
Nama:
Burhanuddin Abdullah
Lahir:
Garut, Jawa Barat, 10 Juli 1947
Agama:
Islam
Jabatan:
Gubernur BI 2003-2008 (Keppres RI Nomor 61/M Tahun 2003 tertanggal
17 Mei 2003)
Istri:
Ike Yuliawati
Anak:
1. Putik Rindu
2. Sultan Bestari
3. Arsy Syaikhan
4. Rizki Firdaus
Pendidikan:
-Sarjana Pertanian di Universitas Padjajaran, Bandung 1974
-MA dalam bidang Ekonomi dari Dept. of Economics, Michigan State
University, USA (1984).
Karier:
-Pegawai Departemen Pertanian
-Staf urusan riset ekonomi dan statistik BI tahun 1981
-Staf Gubernur
-Fixed-Term Staff di IMF, Washington, DC 1989-1990
-Assistant Executive Director juga di IMF pada tahun 1990-1993
-Kepala Bagian Kerjasama Ekonomi dan Perdagangan Internasional BI sampai
1995
-Wakil Kepala Urusan Luar Negeri 1996
-Wakil Kepala Urusan Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI sampai tahun
1998.
-Direktur Direktorat Luar Negeri BI sampai 2000
-Deputi Gubernur BI, 2 Agustus 2000.
-Menko Perekonomian tanggal 12 Juni 2001
Organisasi:
-Ketua Umum Ikatan Pegawai Bank Indonesia 1999.
-Ketua Umum PP ISEI 2003-2008
Alamat Kantor:
Jl. MH. Thamrin 2 Jakarta 10110 Indonesia
Telp : (62-21) 381-7187 Faks : (62-21) 350-1867
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
Burhanuddin Abdullah
Gubernur BI Berkepribadian Kuat
Burhanuddin Abdullah, Gubernur Bank Indonesia pertama yang terpilih secara
demokratis. Baginya, jabatan Gubernur BI suatu amanah dan prestasi,
sebagai accomplishment dari perjalanan karir yang dititi dari
bawah. Bagi Menko Perekonomian (2001), ini kekayaan bukan lagi tujuan
hidup. Hidup baginya bukan untuk diri dan keluarga semata, tetapi untuk
bangsa dan melayani orang banyak.
Pria kelahiran Garut, Jawa Barat, 10 Juli 1947, lulusan S2 (MA) dalam
bidang Ekonomi dari Departement of Economics, Michigan State
University, USA (1984), ini mengawali tugasnya sebagai Gubernur Bank
Indonesia (2003-2008) dengan tiga komitmen. Yakni komitmen kebangsaan,
kerjasama dan pergaulan keindonesiaan.
Burhanuddin yang ditetapkan sebagai Gubernur Bank Indonesia
berdasarkan Keppres RI Nomor 61/M Tahun 2003 tertanggal 17 Mei 2003, itu
menegaskan independensi Bank Indonesia harus dikawinkan pada kepentingan
bangsa atau sikap kenegarawanan, bukan kepada kepentingan politik.
Sesuai amanat UUBI No.3/2004 Pasal 4 ayat 2, Bank Indonesia adalah
lembaga negara yang independen dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya,
bebas dari campur tangan pemerintah dan/atau pihak lain.
Ketua Umum ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia) periode 2003-2005,
ini juga memiliki pribadi dan karakter yang kuat. Dia pemimpin
berkepribadian kuat. Terbukti, berbagai fitnah dan isu miring yang
sempat menerpanya saat proses uji kelayakan dan kepatutan, tidak
membuatnya goyah. Dia tetap kukuh pada kemampuan, kebenaran dan
keyakinan diri. Sehingga dia diyakini memiliki kepemimpinan yang
berkepribadian menakhodai bank sentral secara independen.
Dia Gubernur BI era keterbukaan. Gubernur BI ketujuh setelah Syahril
Sabirin, Soedrajat J. Djiwandono, Adrianus Mooy, Arifin M. Siregar,
Rachmat Saleh, dan Radius Prawiro. Hanya saja, berbeda dengan para
pendahulunya, sarjana pertanian lulusan Universitas Pajajaran (Unpad)
Bandung (1974) dan gelar MA dalam bidang Ekonomi dari Departement. of
Economics, Michigan State University, USA (1984), ini dipilih secara
demokratis setelah melalui mekanisme proses uji kepatutan dan kelayakan
(fit and propher test) oleh Komisi IX DPR RI, Senin, 12 Mei 2003.
Sesuai Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 yo Undang-Undang Nomor 3 Tahun
2004 Tentang Bank Indonesia, Gubernur dan Deputi Gubernur Senior
diusulkan dan diangkat oleh Presiden dengan persetujuan DPR. Proses
pemilihan di Komisi IX DPR RI dimulai dengan mendengarkan misi dan visi
masing-masing calon gubernur. Ada tiga calon yang diajukan Presiden
Megawati Soekarnoputri kala itu, yakni Miranda S Goeltom, Cyrillus
Harinowo dan Burhanuddin Abdullah. Miranda S Goeltom mendapat kesempatan
pertama di siang hari, Cyrillus Harinowo mendapat giliran kedua, dan
Burhanuddin mendapat kesempatan paling akhir pada malam hari.
Ada banyak hal yang menjadi kunci penentu terpilihnya Burhanuddin. Di
antaranya tatkala menjawab pertanyaan anggota Komisi IX DPR, dia dengan
terus terang mengakui bahwa kebijakan moneter BI juga dapat digunakan
untuk hal-hal yang tidak diinginkan dalam menjalankan kehiduan berbangsa
dan bernegara. Dia memberikan contoh kejadian pada tahun 1965, waktu itu
inflasi menyebabkan Presiden Soekarno turun dari panggung kekuasaannya.
Demikian pula dengan Presiden Soeharto, yang juga turun karena rupiah
yang jatuh merosot. Hal yang sama pernah pula terjadi di Argentina.
Oleh sebab itu, lanjut Burhanuddin, bank sentral harus dipimpin oleh
orang yang profesional dan berakhlak baik serta memiliki jiwa negarawan.
Mengenai otoritas jasa keuangan (OJK), yang sebelumnya sudah diatur
dalam UU Nomor 23 Tahun 1999 tentang BI, Burhanuddin meminta masalah itu
ditunda dulu lima hingga 10 tahun lagi.
Tugas Rutin
Begitu terpilih dan dilantik sebagai Gubernur Bank Indonesia, dia segera
melaksakan tugas-tugas rutin. Tiga tugas pokok stabilisasi yang
dijalankannya adalah stabilitas moneter, stabilitas nilai rupiah, dan
stabilitas sistem keuangan dan perbaikan sistem pembayaran. Dia juga
fokuskan perhatian utama kepada upaya bagaimana meningkatkan peran
perbankan dalam memberikan akses financing terhadap sektor riil.
Misalnya, segera bertemu dengan 15 bank besar untuk menampung
pikiran-pikiran mereka. Sebab kenyataannya suku bunga SBI (Sertifikat
Bank Indonesia) sudah turun tetapi suku bunga pinjaman masih saja tidak
mau turun. Dia ingin tahu secara riil, apa yang terjadi di kalangan
perbankan ketika itu walau secara teori sudah mengetahui masalahnya.
Pertemuan rutin semacam itu diagendakan secara informal tetapi terjadwal
dan punya agenda yang jelas.
Burhanuddin juga tidak menutup kemungkinan terdapat berbagai aturan di
dalam BI yang dibuat BI sendiri, jangan-jangan itu ada hal yang memang
menghambat keberanian perbankan menyalurkan kredit dengan menurunkan
suku bunga. Masih dalam konteks stabilisasi, dia juga membuat pertemuan
nonformal terjadwal dengan pemerintah, terutama dengan Departemen
Keuangan (Depkeu). Pertemuan itu didesain terjadi pada berbagai level,
baik pada level policy dan pada level teknis.
Selain dengan Depkeu, juga dianggap penting melakukan pembicaraan dengan
Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Depperindag). Sebab inflasi
dipengaruhi oleh selain faktor-faktor moneter dari sisi permintaan, juga
faktor suplai, termasuk masalah distribusi. Hal yang sama dilakukan
dengan dunia usaha, misalnya dengan Kadin, tokoh-tokoh asosiasi,
dilakukan pertemuan-pertemuan yang bersifat koordinatif untuk mengetahui
persoalan apa yang terdapat di sisi dunia usaha.
Independensi BI
Sebagai Gubernur Bank Indonesia yang menerima warisan segudang
‘pekerjaan rumah’ yang harus dibereskan, Burhanuddin, menjanjikan akan
lebih mendengarkan kepentingan sektor riil, mengkaji kemungkinan
memperlonggar kebijakan moneter secara berhati-hati, dan memodifikasi
regulasi di Bank Indonesia dalam rangka mendorong perbankan untuk lebih
banyak menyalurkan kredit.
Burhanuddin juga akan mengadakan pertemuan secara berkala untuk mendapatkan
masukan dari para pelaku usaha. Sepanjang lima tahun masa jabatannya,
bank sentral dan perbankan nasional akan dibawa ke arah yang lebih baik.
Keleluasaan itu adalah seiring dengan nafas dan semangat independensi
bank sentral yang tertuang dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 yo
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004 tentang Bank Indonesia.
Kekuatan independensi bank sentral itulah yang mampu memupus isu adanya
‘harga’ yang harus dibayar atas dukungan politis yang diterimanya dari
kekuatan-kekuatan politik di DPR yang memililihnya. Dia menegaskan
independensi Bank Indonesia harus dikawinkan pada kepentingan bangsa
atau sikap kenegarawanan, bukan kepada kepentingan politik. “Itu
komitmen saya. Di berbagai negara friksi seperti itu bisa saja terjadi.
Makanya, penting sekali untuk berkomunikasi,” jamin Burhanuddin.
Tiga Komitmen
Pada awal menjalankan tugasnya, Burhanuddin menyampaikan tiga komitmen.
Pertama, komitmen kebangsaan. Yakni komitmen bekerja untuk
kepentingan masyarakat banyak, bukan untuk kepentingan golongan, partai,
dan sebagainya. Walau komitmen demikian terdengar klise, baginya
komitmen demikian itu sangatlah penting. Sebab dia menyadari bermodalkan
independensi sebuah bank sentral justru berpotensi menghancurkan
perekonomian, jika pejabat pemegang otoritas tidak punya komitmen
kebangsaan.
Kasus yang pernah terjadi di Indonesia dan negara lain menunjukkan,
kesalahan kebijakan bank sentral bisa memojokkan bahkan bisa
mencampakkan sebuah negeri. Karena itu, baginya, niat komitmen
kebangsaan harus dipegang sebagai basic untuk komitmen lainnya sekaligus
menjadi motivasi.
Kedua, komitmen kerjasama jangka panjang dengan kekuatan politik
manapun. Komitmen ini sangat ditegaskannya, berlaku tidak hanya satu
atau tiga bulan tetapi selama lima tahun periode jabatan sepanjang duduk
sebagai Gubernur BI. Selama lima tahun, dia mengajak kekuatan politik
dan BI boleh bekerjasama dalam berbagai hal. Dan tentu saja persoalannya
menjadi bukan berada padanya tetapi pada kesiapan partai politik. “Jadi,
berlomba-lombalah untuk berbuat kebaikan. Tentu ada partai yang sudah
memiliki infrastruktur yang baik, memiliki orang yang lebih siap, dan
sebagainya. Ada partai yang belum. Silakan untuk berlomba,” kata
Burhanuddin.
Ketiga, komitmen pergaulan. “Saya tidak tahu apakah itu
ke-Indonesia-an, atau namanya sebuah kepatutan yang ukurannya sangat
subyektif dari rasa terima kasih. Kalau kita diundang hajatan saja, kan,
selain disuguhi makan kita juga membawa berkat ke rumah.
Kepatutan-kepatutan semacam itu, saya kira masih di dalam konteks
ke-Indonesia-an,” jelas ayah dari Putik Rindu, Sultan Bestari, Arsy
Syaikhan, dan Rizki Firdaus sebagai buah dari hasil perrnikahannya
dengan Ike Yuliawati..
Bertindak Tegas
Sebagai pemimpin otoritas bank sentral, dia telah berketetapan hati
untuk bertindak lebih tegas terhadap oknum-oknum yang mengotori citra
perbankan. Tindakan tegas baginya sudah merupakan kewajiban. Untuk itu
dia membutuhkan kerjasama dan koordinasi dengan banyak pihak untuk
mencegah tindakan-tindakan yang dilakukan berdasarkan itikad buruk
pemilik maupun pengurus bank.
Kerjasama itu, seperti, perbankan harus terus kritis terhadap
praktik-praktik yang terjadi di dalam lingkungannya, termasuk memberikan
masukan dan dukungan bagi ketersediaan perangkat hukum yang memadai
sekaligus penegakan hukum yang lebih kuat.
Di sisi lain, perbankan juga tetap menghadapi tantangan operasional yang
kian besar. Perkembangan teknologi yang sangat pesat akan meningkatkan
kompleksitas kegiatan usaha perbankan dan mendorong munculnya
produk-produk yang semakin inovatif.
Karena itulah, selama kepemimpinannya, dalam rangka peningkatan kualitas
dan kompetensi SDM perbankan di bidang manajemen risiko BI telah
mempersyaratkan proses sertifikasi manajemen risiko untuk semua lapisan
manajemen bank. Program sertifikasi dimulai tahun 2004 melalui
pelaksanaan program eksekutif. Program sertifikasi kembali dilanjutkan
pada tahun 2005 bagi para komisaris dan semua pegawai perbankan yang
terkait dengan pengelolaan dan pelaksanaan manajemen risiko.
Sempat Dikira ‘Sudah Habis’
Putera bangsa dari Jawa Barat, yang memulai karir pertamanya sebagai
pegawai negeri sipil (PNS) pada Departemen Pertanian (Deptan), malam itu
berhasil mendapatkan kepercayaan 34 anggota Komisi IX DPR. Sedangkan dua
kandidat lain, Miranda S. Gultom meraih 18 suara dan Cyrillus Harinowo
tak mendapatkan satu suara pun.
Beberapa hari setelah itu, tepatnya 17 Mei 2003, Presiden Megawati
Soekarnoputri mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 61/M TAHUN
2003, yang menetapkan mantan Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman
Wahid ini sebagai Gubernur BI masa tugas 2003-2008.
Burhanuddin memulai menapaki karir di Bank Indonesia sejak tahun 1981
sebagai staf di Urusan Kredit dan Urusan Riset Ekonomi & Statistik,
kemudian sebagai Staf Gubernur. Pada 1989-1990, dia ditugaskan sebagai
Fixed-Term Staff di IMF, Washington, DC, yang dilanjutkan sebagai
Assistant Executive Director juga di IMF (1990-1993).
Setelah itu, dia menjabat Kepala Bagian Kerjasama Ekonomi dan
Perdagangan Internasional (1993-1995). Kemudian, pada 1995, diangkat
sebagai Wakil Kepala Urusan Luar Negeri selama 1 tahun. Selanjutnya
dipercaya menjabat Wakil Kepala Urusan Riset Ekonomi dan Kebijakan
Moneter, sampai 1998. Lalu, sejak Agustus 1998 hingga Agustus 2000
menjabat Direktur Direktorat Luar Negeri.
Tanggal 2 Agustus 2000 ditetapkan sebagai Deputi Gubernur Bank
Indonesia. Setelah hampir setahun menjabat sebagai Deputi Gubernur, 12
Juni 2001 diangkat sebagai Menko Bidang Perekonomian pada Kabinet
Presiden Abdurrahman Wahid, menggantikan Rizal Ramli. Namun jabatan
Menko tersebut hanya dipegang hingga 9 Agustus 2001, seiring dengan
turunnya Presiden Abdurrahman Wahid dari jabatannya.
Pengangkatan Burhanuddin sebagai Menko Perekonomian sendiri tergolong
mengejutkan, sebab dia sesungguhnya sudah berstatus sebagai pensiunan
pegawai BI sejak akhir 2000. Mantan Ketua Umum Ikatan Pegawai Bank
Indonesia (1999), itu terakhir kali menjabat sebagai Deputi Gubernur BI
berdasarkan Keppres RI No. 218/M Tahun 2000 tertanggal 20 Agustus 2000,
ditandatangani oleh Presiden Abdurrahman Wahid. Ketika itu, karir
Burhanuddin dianggap oleh banyak kalangan perbankan sebagai “sudah
habis”. karir.
Namun penikmat buku Dale Carnigie berjudul “How to Win Friends and
Influence People”, serta buku-buku “Quick Fix” dari Stephen R. Covey,
yang di dalamnya ada disebutkan bahwa apabila Anda ingin menjadi
seseorang, katakanlah sesering mungkin bahwa Anda akan menjadi
seseorang, itu berhasil menjaga determinasi diri. Buku-buku yang
disebutkannya sebagai bacaan masa kanak-kanak, telah menimbulkan self
suggestion yang maha dahsyat dalam diri Burhanuddin bahwa dia pasti
masih akan kembali ke ‘habitat’ aslinya di BI.
Dari dua tahun masa ‘menganggur’ sebelum terpilih menjadi Gubernur BI,
jika saja dihitung dengan hari, praktis hanya tiga bulan saja dia
merasakan jangan-jangan tidak akan kembali ke BI dan pensiun. Sedangkan
waktu sisanya dia terus pompakan semangat untuk ber-self suggestion
bahwa akan kembali ke BI dan sebagai gubernur pula. Dan itu terbukti
benar. Pada tanggal 17 Mei 2003 ditetapkan sebagai Gubernur Bank
Indonesia berdasarkan Keppres RI Nomor 61/M TAHUN 2003.
Diterpa Berbagai Fitnah
Sejak awal dicalonkan menjabat gubernur, dia sudah sangat yakin akan
berhasil. Dasarnya adalah setelah melihat peta, melihat kepada diri
sendiri, melihat pergaulan yang luas, dan melihat kecenderungan
republik. Burhanuddin merasa bakal menjadi pemenang walau keyakinan kuat
itu sesungguhnya secara tersembunyi masih disertai dengan seringnya
muncul kesangsian-kesangsian, atau up and down dari waktu ke waktu.
Namun pada proses pencalonan itu, dia pun diterpa berbagai fitnah dan
isu miring yang dilontarkan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Maklum, dia adalah calon terkuat. Di antara fitnah yang menerpanya, saat
bertugas dan bermukim di AS berupa kabar bahwa Burhanuddin me-mark up
rumah dinas di Sugarbush Lane, Washington DC seharga 600 juta dolar AS
padahal waktu mau dijual BI tahun 2002 hanya sekitar 450 juta dolar
saja.
Dia tak reaktif menepis isu yang makin gencar beredar justru pada saat
pemilihan gubernur BI tengah berlangsung di dalam Gedung DPR/MPR RI
Senayan, Jakarta itu. Dia menjawab isu tersebut beberapa hari kemudian
setelah terpilih. Di lounge sebuah hotel berbintang lima, kepada
wartawan sebuah harian nasional ,Burhanuddin bertanya balik: Apakah
rumah itu sudah dijual?
Ini, menandakan bahwa dia sesungguhnya tak mengikuti perkembangan
terbaru tentang apa yang ditudingkan sebab memang tak terkait dengannya.
Burhanuddin kemudian menegaskan dirinya tak ikut membeli rumah itu. Yang
membeli bukan dia sebab hanya kebagian menempati saja sebagai rumah
dinas.
“Yang beli adalah kantor perwakilan BI New York. Saya itu hanya pegawai,
yang menempati saja setelah dibeli oleh kantor perwakilan BI itu. Sama
dengan rumah-rumah yang di Jakarta. Saya kan seumur hidup hanya tinggal
di rumah dinas,” kata Burhanuddin, sekaligus menepis pula isu lain soal
town house di pinggiran Washington DC, yang diisukan dibeli ternyata
telah diberikan kepada anak yang diakui sebagai sepupu.
Selain itu, juga ada isu tentang Fuad Bawazier, mantan Menteri Keuangan
yang disebut-sebut sebagai figur yang sangat berperan pada terpilihnya
Burhanuddin. Dia menyebutkan bahwa Fuad Bawazier tidak punya peran apa
pun. Secara kategoris Bawazier tidak punya peran apapun. “Yang punya
peran besar dalam kemenangan itu adalah saya,” tegasnya.
Kehidupan Burhanuddin yang sangat pribadi pun pernah dicoba digoyang
dengan fitnah. Seperti, di sebuah koran daerah, disebutkan bahwa
Burhanuddin sudah memiliki dua istri. Namun tudingan itu ditanggapi
Burhanuddin dengan menyebutnya sebagai baru wacana. “Boleh kan, punya
wacana,” katanya berkelakar.
Ketika pemilihan gubernur BI berlangsung antara Burhanuddin dengan
Miranda Gultom, dikira banyak orang, seolah terjadi rivalitas yang
sangat tajam dan kurang sehat. Padahal di kemudian hari, keduanya bisa
membuktikan diri sebagai tim yang solid. Yang satu gubernur, satu lagi
akhirnya terpilih sebagai deputi senior gubernur. Ternyata di antara
keduanya sesungguhnya terjalin hubungan dan kerjasama sangat baik.
Keduanya sering main golf bersama. Ini menandakan sesungguhnya tidak
pernah ada masalah di antara mereka.
Sudah terpilih sebagai gubernur pun isu tak sedap masih saja tak henti
berhembus. Semisal, keinginan karyawan BI yang mendambakan munculnya
sosok Gubernur BI seperti Rachmat Saleh yang ideal dan tidak
primordialis terhadap karyawan BI. Kemunculan wacana pegawai BI yang
demikian seolah-olah menempatkan Burhanuddin sebagai seorang pribadi
yang sangat primordalis. Atau, sepertinya dia harus ‘dipaksa’ untuk
meniru 100 persen sosok Rachmat Saleh.
Namun, di hadapan karyawan BI, mantan Ketua Umum Ikatan Pegawai Bank
Indonesia, itu menyebutkan dirinya hanya ingin menjadi seorang
Burhanuddin Abdullah. “Saya pernah mengatakan kepada Rachmat Saleh. Saya
katakan you are a living legend di dunia perbankan Indonesia. Tanpa,
meniru dia, saya juga punya keinginan seperti itu,” papar Burhanuddin,
menyakinkan para karyawan BI yang sebelumnya pernah dipimpinnya dalam
organisasi serikat pekerja.
Bagi seorang pejabat Gubernur BI, diterpa berbagai fitnah dan isu miring
bisa juga disebut sebagai bagian dari ujian yang harus dihadapi. Sebab,
seorang Gubernur BI haruslah mempunyai kepribadian yang kuat, pemimpin
yang punya karakter kuat. Tidak mudah goyah oleh terpaan berbagai
fitnah, isu miring dan kritikan pedas, serta bujuk rayu dan sanjungan.
Dia haruslah kuat untuk menakhodai bank central, sebuah lembaga
independen yang tak bisa diintervensi dan semena-mena diturunkan oleh
lembaga lain apapun selama lima tahun periode jabatannya.
Kepastian itu pernah dibuktikan oleh pendahulunya, Syahril Sabirin, yang
tetap kukuh sebagai Gubernur BI kendati sempat dimasukkan ke sel
tahanan. Hal itu sesuai dengan semangat independensi bank sentral yang
tertuang sebagai amanat Undang-Undang tentang Bank Indonesia.
Burhanuddin pun selalu tampak tegar menghadapi beragam isu dan fitnah.
Dia secara sadar juga tampaknya menganut filosofi pohon kelapa. Semakin
menjulang ke atas semakin besar terpaan angin namun secara alamiah
semakin kuat pula pohon kelapa menghadapi, sementara santan yang
dihasilkan semakin kental saja. Itulah Burhanuddin Abdullah, yang sering
diterpa beragam isu miring namun bersamaan itu posisinya semakin kuat
pula dan memperoleh dukungan luas dari berbagai kalangan.
Tak lama setelah dilantik sebagai Gubernur BI, Burhanuddin pun terpilih
menjabat Ketua Umum ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia) periode
2003-2005, dalam Kongres XV ISEI di Batu, Malang, 13-15 Juli 2003. Dia
mengalahkan Rudjito (Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia, kala itu),
dan Muhammad Jusuf Kalla (Wakil Presiden, ketika itu masih menjabat
Menko Kesra).
Sebelum pemilihan Ketua Umum ISEI berlangsung, baik Rudjito maupun Jusuf
Kalla sepakat mengundurkan diri dari pemilihan sehingga secara aklamasi
Burhanuddin terpilih sebagai ketua umum baru. Ketika berpidato di depan
sidang pleno, Burhanuddin menyatakan tekadnya akan meningkatkan peran
ISEI. Peranan itu antara lain memberikan pertimbangan pembangunan dan
mengarahkan ISEI sebagai organisasi pembelajaran. Tapi agar ISEI tetap
independen dan kritis, sebagai organisasi intelektual dan profesional,
Burhanuddin mengatakan ISEI akan tetap menjaga jarak dengan pemerintah.
Ingin Jadi Novelis
Itulah Burhanuddin Abdullah. Kekayaan bukan lagi tujuan hidupnya. Karena
itu dia menganggap uang, seperti yang pernah dituduhkan pada kasus dana
bantuan bencana alam Garut, bisa membuatnya dilumuri dosa.
Menjadi Gubernur BI dianggapnya sebagai memberikan sesuatu kelebihan
yang ada dalam dirinya untuk melayani orang banyak. Hidupnya bukan lagi
untuk diri dan keluarga semata, tetapi sudah untuk bangsa. Jabatan
Gubernur BI bagi Burhanuddin adalah sebuah prestasi, tepatnya sebagai
accomplishment dari perjalanan hidup seseorang seperti dirinya yang
meniti karir dari bawah.
Namun lebih dari itu, jabatan itu sebetulnya juga bukan dianggapnya
sebagai telah berjalan mengikuti ladder (jenjang) dari step (langkah)
satu ke step dua, sampai step yang terakhir sebagai Gubernur BI.
Melainkan, dia menganggap ada satu titik di dalam perjalanan hidup
orang-orang seperti seumurnya yang kemudian merasakan sesuatu harus
diperbuat bukan untuk diri sendiri lagi. Tetapi, sudah untuk orang
banyak, untuk yang lain, berbuat sesuatu yang lain yang bisa disebut
sebagai panggilan. Sebab, jika itu masih dilakukan hanya untuk diri
sendiri menjadi sudah tidak ada artinya.
“Anak-anak sudah bersekolah, semuanya dengan sederhana bisa disediakan.
Barangkali itulah aktualitas yang sebenarnya, di dalam memberikan kepada
yang lain, bukan di dalam menerima dari yang lain,” kata Burhanuddin.
Sosoknya diterima pasar karena pandangan-pandangannya yang dinilai cukup
propasar. Dia dinilai sebagai sosok yang paling sedikit menghadapi
resistensi publik. Dia adalah Gubernur Bank Indonesia di era
keterbukaan. Sosoknya banyak dipojokkan namun dia berhasil melewatinya
dengan mulus. Dia pun berjanji akan sungguh-sungguh terbuka memimpin
bank sentral ini. Komunikasi dengan semua pihak akan dibangunnya untuk
menghindarkan kesan Bank Indonesia bisa dijadikan sebagai alat pemukul
rejim yang tak propasar.
Sesudah menjadi Gubernur BI, dia malah menyatakan obsesi baru ingin
menjadi novelis. Ia memang sangat terkesima dengan tulisan Elie Weisel.
Apresiasi singkat terhadap tulisan Elie Weisel disebutnya sebagai bukan
main, kecil, pendek, bahasa Inggrisnya simpel. Judulnya “Twilight”
bercerita tentang pelarian Polandia. Dengan buku itu Elie Weisel
mendapatkan hadiah Nobel. “Ia itu orang Yahudi,” kata penyuka buku
filosofi Cina karya Lin Yuntang. ►e-ti/crs-ht, dari berbagai
sumber.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|