| |
C © updated 15072003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/bi |
|
| |
Nama:
Burhanuddin Abdullah
Lahir:
Garut, Jawa Barat, 10 Juli 1947
Jabatan:
Gubernur BI 2003-2008
Alamat Kantor:
Jl. MH. Thamrin 2 Jakarta 10110 Indonesia
Telp : (62-21) 381-7187 Faks : (62-21) 350-1867
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
Burhanuddin Abdullah
Sudah Yakin Menang
Jakarta 18/5/2003: Meski sempat dianggap berada di belakang bayang-bayang Miranda S Goeltom
dalam hal popularitas sebagai calon Gubernur Bank Indonesia, sejak awal
Burhanuddin Abdullah (56) ternyata sudah yakin ia akan unggul dan terpilih
sebagai Gubernur BI yang baru.
DALAM voting yang dilakukan di Komisi IX DPR, Senin (12/5) malam lalu,
terbukti kemudian ia memang menang cukup telak dari kedua lawannya. Dari
52 anggota Komisi IX, Burhanuddin yang sejak awal memang mendapat dukungan
kuat dari kekuatan Poros Tengah di DPR berhasil mengantongi 34 suara,
sementara Miranda S Goeltom hanya 18 suara dan Cyrillus Harinowo bahkan
gagal menggaet satu suara pun.
Sebagai Gubernur BI yang baru, sosok Burhanuddin, lumayan diterima oleh
pasar karena pandangan-pandangannya yang dinilai cukup propasar. Oleh para
pengamat, Burhanuddin yang sempat menjabat Menteri Koordinator (Menko)
Perekonomian pada tahun 2001 semasa pemerintahan Presiden Abdurrahman
Wahid juga dinilai sebagai sosok yang paling sedikit menghadapi resistensi
publik dibandingkan dua calon Gubernur BI yang bersaing dengannya.
Menjanjikan akan lebih mendengarkan kepentingan sektor riil, sebagai
Gubernur BI yang baru Burhanuddin menjanjikan akan mengkaji kemungkinan
memperlonggar kebijakan moneter secara berhati-hati dan modifikasi
regulasi di BI dalam rangka mendorong perbankan lebih banyak menyalurkan
kredit. Selain itu, ia juga merencanakan mengadakan pertemuan secara
berkala untuk mendapatkan masukan dari para pelaku usaha.
Terpilihnya Burhanuddin sebagai Gubernur BI, juga mengembalikan pria
kelahiran Garut tahun 1947 yang meraih gelar insinyur pertanian dari
Universitas Padjajaran tahun 1974 dan master dari Michigan State
University tahun 1984 itu, ke habitatnya di BI. Sebelum menjadi Menko
Perekonomian, Burhan yang sudah berkiprah di BI sejak tahun 1981,
berstatus pensiun dari BI dengan jabatan terakhir sebagai Deputi Gubernur
BI tahun 2000-2001.
Dalam wawancara dengan Kompas di lounge sebuah hotel berbintang lima-di
mana ia memilih menyepi dua hari terakhir untuk menghindar dari
orang-orang yang memburunya sejak ia terpilih menjadi Gubernur BI-Burhanuddin
menjawab semua isu berkaitan dengan dirinya.
Mulai dari isu soal deal yang dibuatnya dengan partai-partai politik
tertentu yang berada di balik kemenangannya, isu mark up harga pembelian
rumah dinasnya sebagai perwakilan BI di Dana Moneter Internasional (IMF)
di Sugarbush Lane, Washington DC, Amerika Serikat (AS); tudingan korupsi
dana kemanusiaan untuk korban bencana alam di Garut, tudingan manipulasi
data status perkawinan dan anak sewaktu ia baru diterima menjadi karyawan
BI.
Bahkan, juga isu soal dia punya dua istri. "Yang itu baru wacana," ujarnya
dengan nada bercanda, mengenai tudingan dua istri itu. Dalam wawancara
yang acap kali terganggu oleh dering telepon dari berbagai pihak termasuk
wartawan yang ingin mewawancarainya, Burhanuddin juga menguraikan rencana
program 100 hari pertamanya sebagai Gubernur BI.
Berikut petikan wawancara dengan ayah dari Putik Rindu, Sultan Bestari,
Arsy Syaikhan, dan Rizki Firdaus dari hasil perkawinannya dengan Ike
Yuliawati tersebut.
ANDA Gubernur BI pertama yang terpilih melalui proses demokratis. Tetapi,
proses pemilihan di Komisi IX DPR lalu terkesan penuh nuansa money
politics dan masyarakat khawatir ada konsesi-konsesi tertentu dari calon
ke partai politik pendukungnya.
Dalam berhadapan dengan rekan-rekan anggota parlemen, saya memiliki tiga
level komitmen. Pertama, komitmen kebangsaan. Komitmen bekerja untuk
kepentingan masyarakat banyak, bukan untuk kepentingan golongan, partai,
dan sebagainya. Barangkali komitmen itu terdengar klise, tetapi bagi saya
itu penting, makanya ketika saya ditanya oleh penanya pertama (di Komisi
IX DPR) apakah dengan independensi Bank Sentral itu justru punya potensi
untuk menghancurkan perekonomian, saya kira iya.
Kalau kita melihat berbagai kasus di negeri kita dan di negeri lain,
kesalahan policy memang bisa memojokkan bahkan bisa mencampakkan sebuah
negeri. Karena itu, niat komitmen kebangsaan itu harus dipegang sebagai
basic untuk komitmen lainnya. Karena itu, maka itu menjadi motivasi.
Komitmen kedua adalah komitmen kerja sama jangka panjang dengan kekuatan
politik mana pun. Ini saya katakan kepada mereka. Saya tidak akan satu
atau tiga bulan, saya akan berada di sana lima tahun. Jadi selama lima
tahun itu kita boleh bekerja sama dalam berbagai hal, dan tentu saja
persoalannya bukan berada pada saya, tetapi berada pada kesiapan partai
politik itu. Jadi berlomba-lombalah mereka untuk berbuat kebaikan
antarmereka. Tentu ada partai yang sudah memiliki infrastruktur yang baik,
memiliki orang yang lebih siap, dan sebagainya. Ada partai yang belum.
Silakan untuk berlomba.
Komitmen ketiga adalah komitmen pergaulan, yang saya tidak tahu apakah itu
ke-Indonesia-an, atau namanya sebuah kepatutan yang ukurannya sangat
subyektif dari rasa terima kasih. Kalau kita diundang hajatan saja kan,
selain disuguhi makan kita juga membawa berkat ke rumah.
Kepatutan-kepatutan semacam itu, saya kira saya masih di dalam konteks ke-Indonesia-an.
Komentar saya barangkali hanya itu.
Konkretnya ada semacam deal, sebagai rasa terima kasih kepada
partai-partai yang memilih Anda?
Sama sekali tidak ada. Saya enggak ada urusan sama pemilu. Tidak ada,
karena semua partai sama. Jadi tidak secara khusus kepada partai tertentu.
Itulah komitmen saya.
Tentang Fuad Bawazier yang disebut-sebut sebagai figur yang sangat
berperan pada terpilihnya Anda?
Ndak ada itu, ndak ada. Buat saya Fuad Bawazier tidak punya peran apa pun.
Secara kategoris saya ingin menyatakan, dia tidak punya peran apa pun.
Yang punya peran besar dalam kemenangan itu adalah saya.
Ketika Presiden mengajukan tiga nama, sejak awal Anda punya keyakinan bisa
menang?
Ya, sejak awal. Saya sangat yakin pada saat itu, melihat peta, melihat
diri saya, melihat pergaulan saya, melihat kecenderungan ke mana republik
ini, saya merasa yakin sejak awal saya bakal menjadi pemenang. Di dalam
keyakinan kita memang sering tersembunyi kesangsian-kesangsian, up and
down dari waktu ke waktu. Dalam dua tahun terakhir saya menganggur,
barangkali kalau dijumlahkan harinya hanya tiga bulan saya punya pikiran
jangan-jangan memang saya tidak akan kembali ke BI. Sisanya, saya merasa
saya akan kembali ke sana.
Apa dasar keyakinan bakal bisa menang, apakah juga termasuk kelemahan
lawan?
Ndak, saya hanya melihat diri saya, saya tidak tertarik dengan lawan saya.
Saya hanya melihat diri saya. Saya terbius oleh buku Dale Carnegie, How to
Win Friends and Influence People. Sama seperti buku-buku Quick Fix Stephen
R Covey yang sekarang. Itu bacaan masa kanak-kanak saya. Di dalam buku itu
dikatakan bahwa apabila Anda ingin menjadi seseorang, katakanlah sesering
mungkin bahwa Anda akan menjadi seseorang. Mungkin dengan pengaruh itu,
self suggestion.
Buat Anda pribadi, apa arti jabatan ini?
Ini sebuah accomplishment (prestasi), yang pertama itu. Accomplishment
dari perjalanan hidup seseorang seperti saya yang meniti karier di sana.
Namun lebih dari itu, sebetulnya bukan bahwa saya berjalan mengikuti
ladder (jenjang) dari step (langkah) satu ke step dua, sampai step yang
terakhir, bukan soal itu. Ada satu titik di dalam perjalanan kehidupan
orang-orang seumur saya yang kemudian merasa sesuatu harus diperbuat bukan
untuk diri sendiri tetapi untuk yang banyak, untuk yang lain.
Pada tahap-tahap awal kehidupan, memang self center (sikap berpusat pada
diri sendiri) kita sangat kuat, tetapi when you reach certain level of age
ada sesuatu yang lain yang bisa disebut panggilan, yang di dalam diri kita
mengatakan kita berbuat itu kalau untuk diri sendiri apa sih artinya.
Anak-anak sudah bersekolah, semuanya dengan sederhana bisa disediakan.
Barangkali itulah aktualitas yang sebenarnya, di dalam memberikan kepada
yang lain, bukan di dalam menerima dari yang lain.
PROGRAM 100 hari pertama apa?
Selain yang rutin, saya tentu saja akan mengerjakan hal-hal yang merupakan
tugas pokok. Di dalam konteks tugas pokok yang tiga, yaitu stabilitas
moneter, stabilitas nilai rupiah, stabilitas sistem keuangan dan perbaikan
sistem pembayaran, ada hal-hal yang ingin saya fokuskan terutama di dalam
upaya bagaimana meningkatkan peran perbankan dalam memberikan akses
financing terhadap sektor riil.
Dalam konteks itu ada beberapa hal yang ingin saya lakukan. Yang pertama,
pada minggu pertama atau kedua saya bekerja nanti saya ingin ketemu
barangkali 15 bank besar untuk menampung pikiran-pikiran mereka. Karena
kita tahu kan, suku bunga SBI (Sertifikat Bank Indonesia) sudah turun
tetapi suku bunga pinjaman masih tidak mau turun juga.
Secara teori kita tahu masalah di dalamnya, tetapi saya ingin tahu secara
riilnya apa yang terjadi. Saya ingin agendakan pertemuan seperti itu
adalah pertemuan informal, tetapi terjadwal dengan agenda yang jelas.
Kedua, di dalam BI sendiri saya ingin melihat berbagai aturan yang dibuat
BI, jangan-jangan ada hal yang memang menghambat keberanian perbankan
menyalurkan kredit dan menurunkan suku bunga. Masih dalam konteks
stabilisasi, saya juga ingin membuat suatu pertemuan nonformal terjadwal
dengan pemerintah, terutama dengan departemen keuangan. Saya ingin
mendesainnya pada berbagai level, pada level policy dan pada level teknis.
Saya sudah berbicara dengan Menteri Keuangan untuk melangkah ke sana.
Kita tahu juga inflasi itu dipengaruhi oleh selain faktor-faktor moneter
dari sisi permintaan, juga faktor suplai, termasuk masalah distribusi.
Karena itu, mungkin pembicaraan dengan Departemen Perindustrian dan
Perdagangan juga penting untuk dilakukan.
Saya juga ingin tahu apa sih permasalahan di dunia usaha.
Pertemuan-pertemuan yang bersifat koordinatif dengan kawan-kawan di dunia
usaha, misalnya dengan Kadin, atau tokoh-tokoh asosiasi, mungkin juga ada
baiknya dan saya yakin akan banyak manfaatnya untuk dilakukan.
Apa kebijakan BI berkaitan dengan berakhirnya program kerja sama dengan
IMF?
Yang punya program dengan IMF secara mayoritas itu adalah pemerintah
sehingga program-programnya adalah program-program yang berkaitan dengan
fiskal. Yang menjadi taruhan kita setelah kita berhenti dari program IMF
tahun 2004 dan 2005 adalah sustainability dari fiskal itu. BI tentu saja
akan dengan proaktif membantu bagaimana sustainability dari fiskal itu
bisa berjalan, karena kita tahu fiskal itu sekarang menjadi majikan
terbesar dari perekonomian ini dan di dalam memberikan stimulus bagi
perekonomian.
Banyak hal yang bisa dilakukan di situ oleh BI, antara lain dengan suku
bunga bisa mengurangi beban pemerintah, perbaikan di dalam kinerja makro
akan mengurangi risiko negeri ini dan itu akan membuka kemungkinan kita
pergi ke pasar.
Sebelum menjadi Menko Perekonomian, Anda termasuk tim penyusun RUU
Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Itu artinya, Anda menginginkan agar RUU UJK
segera berlaku. Kenapa sekarang sikap Bapak berubah?
Dulu itu namanya masih Lembaga Pengawasan Jasa Keuangan (LPJK). Dulu
memang saya menjadi anggota tim penyusun. Di awal, sebenarnya saya sudah
menyadari berbagai kesulitan jika itu dilaksanakan. Kesulitannya seperti
yang saya katakan dalam makalah saya, yaitu harus ada pembentukan
organisasi dan beban keuangan di APBN, dan sebagainya. Tetapi, pada waktu
itu saya berpikir, itu kan keinginan Undang-Undang (UU) dan keinginan
rakyat.
Sekarang ini, keinginan itu sudah lewat, UU-nya itu harusnya ditetapkan
tahun 2002 harus sudah berdiri. Mungkin UU-nya tetap, tetapi sekarang ini
masih dalam proses yang harus kita pikirkan, bagaimana baiknya. Akan
tetapi, saya tetap berpikir, UU itu tidak sekarang, tetapi lima atau 10
tahun mendatang. Apalagi setelah melihat kasus di negara lain yang ingin
OJK-nya disatukan lagi dengan bank sentral.
That is another problem. Masalahnya bukan pada dipisah atau disatukan.
Saya menilai, pengawasan bank kualitasnya harus ditingkatkan, tak soal ada
di BI atau di mana.
Soal berita di sebuah harian daerah di mana Ibu Miranda Goeltom menyatakan
bahwa Bapak sudah memiliki dua istri. Apa itu benar?
Itu baru wacana. Boleh kan punya wacana.
Kenapa bisa muncul tuduhan dari Ibu Miranda. Apa ada perseteruan pribadi
antara Bapak dengan Ibu Miranda?
No! Hubungan saya dengan Miranda itu sangat baik. Saya justru suka main
golf dengan dia. Jadi, itu tidak ada masalah dengan beliau.
Di koran daerah itu, Ibu Miranda juga mengaku dizalimi dalam pemilihan
kemarin, di antaranya dengan selebaran yang menyudutkan pribadinya.
Kabarnya Bapak ikut berperan di situ?
Sama sekali tidak. Janganlah saya dituduh begitu. Ndak boleh itu. Mungkin
itu perasaan saja. Saya tidak ada dan tidak punya niat serta tidak ada
keinginan.
Tetapi, Ibu Miranda menyatakan di DPR, bahwa bocornya catatan-catatan soal
pemenang lelang SBI itu ditopang oleh orang-orang dalam BI. Padahal itu
kan rahasia negara?
Kalau itu berasal dari orang dalam, saya sendiri kan bukan orang dalam.
Yang bukan orang dalam tentu saja saya.
Dari data BI, kabarnya Bapak juga me-mark up rumah dinas di Sugarbush
Lane, Washington DC. Harganya waktu itu dituduh di-mark up sebesar 600
juta dollar AS, padahal waktu mau dijual BI tahun lalu hanya sekitar 450
juta dollar AS saja.
Apa itu sudah dijual? Yang jelas, saya tidak ikut beli. Yang beli bukan
saya. Saya hanya nungguin rumah itu saja. Yang beli adalah kantor
perwakilan BI New York. Saya itu hanya pegawai, yang menempati saja
setelah dibeli oleh kantor perwakilan BI itu. Sama dengan rumah-rumah yang
di Jakarta. Saya kan seumur hidup kan hanya tinggal di rumah dinas saja.
Soal isu town house di pinggiran Washington DC yang Bapak beli, ternyata
itu telah diberikan kepada anak Bapak yang diakui sebagai sepupu?
Ndak ada itu.
Soal akuisisi Perum Peruri itu bagaimana sikap Bapak?
Saya mau baca dulu duduk soalnya. Dalam pikiran saya sih, sebaiknya BI
fokus pada tugasnya saja. Bahwa ada ide, ya saya harus tahu dulu apa
argumentasinya.
Ada informasi menyangkut peranan Bapak sewaktu terjadi bencana alam di
Garut. Bapak dituding menyetorkan dana Rp 50 juta dari seluruh dana
bantuan yang diterima dalam sebuah acara, yang mencapai Rp 176 juta.
Akibatnya, Bupati Garut sempat dituduh macam-macam. Padahal, dana itu ada
di tangan Bapak. Bapak baru menyerahkan sisanya, setelah ramai. Sejauh
mana kebenaran informasi itu?
Begini. Dananya yang terkumpul bukan Rp 176 juta, tetapi Rp 270 juta. Saya
setorkan kepada Bupati yang pertama untuk bencana Papandayan Rp 50 juta.
Saya minta dulu progresnya. Sebab, waktu itu saya minta didirikan kamar
mandi, cuci, dan kakus. Kemudian, yang kedua saya kasih Rp 52 juta.
Sebagian yang Rp 22 juta, saya kasihkan untuk penduduk secara langsung,
yang mengalami kematian. Sisanya langsung saya kasihkan Bupati.
Selanjutnya, saya berikan ke Bupati Rp 100 juta, termasuk buku tulis,
minyak goreng, beras, dan sebagainya. Jadi, yang sudah saya berikan Rp 203
juta. Yang Rp 70 juta, sebagian Rp 50 juta itu untuk proses hukum class
action teman-teman yang terkena musibah itu. Saya sendiri tidak mau
keluarkan uang tanpa kesepakatan. Paguyuban itu Asli Garut (Asgar). Jadi,
masih ada di saya Rp 20 juta. Akan tetapi, itu sudah selesai saya bagikan.
Bagi saya, uang segitu itu tidak akan membuat saya kaya. Ha-ha-ha... Malah
jadi dosa.
Karyawan BI itu mendambakan munculnya sosok Gubernur BI seperti Rachmat
Saleh yang ideal dan tidak primordialisme terhadap karyawan BI.
Saya ingin menjadi seorang Burhanuddin Abdullah. Saya pernah mengatakan
kepada Rachmat Saleh. Saya katakan you are a living legend di dunia
perbankan Indonesia itu. Tanpa, meniru dia, saya juga punya keinginan
seperti itu.
Sebagai Gubernur BI, posisi Bapak ini sangat strategis. Dulu, Soeharto
jatuh ketika kurs sampai Rp 20.000 per dollar AS. Soekarno jatuh karena
tak tahan dengan inflasi sampai 600 persen. Presiden Megawati
Soekarnoputri bisa saja Bapak jatuhkan dengan instabilitas moneter yang
sama. Bagaimana Bapak menyikapi ini?
Itulah, independensi itu harus dikawinkan pada kepentingan bangsa atau
sikap kenegarawanan. Bukan kepentingan pemilu atau kepentingan apa. Itu
komitmen saya. Di berbagai negara friksi seperti itu bisa saja terjadi.
Makanya, penting sekali untuk berkomunikasi.
Apa obsesi Bapak setelah menjadi Gubernur BI?
Saya ingin menjadi novelis. Saya terkesima dengan tulisannya Elie Weisel.
Bukan main tulisannya, kecil, pendek, bahasa Inggrisnya simpel. Judulnya
Twilight, bercerita tentang pelarian Polandia. Dengan buku itu dia
mendapatkan hadiah Nobel. Dia itu orang Yahudi. Saya juga suka buku
filosofi Cina, karya Lin Yuntang. ►ti, Pesona Kompas Minggu 18 Mei
2003, Pewawancara: Ferry Irwanto, Suhartono Dan Sri Hartati Samhadi
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|