| |
C © updated 04022006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/bi |
|
| |
Nama:
Burhanuddin Abdullah
Lahir:
Garut, Jawa Barat, 10 Juli 1947
Agama:
Islam
Jabatan:
Gubernur BI 2003-2008
Istri:
Ike Yuliawati
Anak:
1. Putik Rindu
2. Sultan Bestari
3. Arsy Syaikhan
4. Rizki Firdaus
Pendidikan:
-Sarjana Pertanian di Universitas Padjajaran, Bandung 1974
-MA dalam bidang Ekonomi dari Dept. of Economics, Michigan State
University, USA (1984).
Karier:
-Pegawai Departemen Pertanian
-Staf urusan riset ekonomi dan statistik BI tahun 1981
-Staf Gubernur
-Fixed-Term Staff di IMF, Washington, DC 1989-1990
-Assistant Executive Director juga di IMF pada tahun 1990-1993
-Kepala Bagian Kerjasama Ekonomi dan Perdagangan Internasional BI sampai
1995
-Wakil Kepala Urusan Luar Negeri 1996
-Wakil Kepala Urusan Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI sampai tahun
1998.
-Direktur Direktorat Luar Negeri BI sampai 2000
-Deputi Gubernur BI, 2 Agustus 2000.
-Menko Perekonomian tanggal 12 Juni 2001
Organisasi:
-Ketua Umum Ikatan Pegawai Bank Indonesia 1999.
-Ketua Umum PP ISEI 2003-2008
Alamat Kantor:
Jl. MH. Thamrin 2 Jakarta 10110 Indonesia
Telp : (62-21) 381-7187 Faks : (62-21) 350-1867
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
Burhanuddin Abdullah
Tekanan Inflasi Masih Tinggi
Jakarta, Kompas 4/2/2006: Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah
mengingatkan, meskipun saat ini nilai tukar rupiah cenderung menguat,
namun tekanan inflasi secara keseluruhan masih cukup tinggi.
”Tekanan inflasi dari sisi nilai tukar memang berkurang, namun tekanan
dari sisi lain masih cukup kuat,” kata Burhanuddin, Jumat (3/2) di
Jakarta.
Dia menjelaskan, tekanan inflasi bersumber dari rencana kenaikan Tarif
Dasar Listrik, kenaikan gaji pegawai negeri, kenaikan upah minimum, dan
kenaikan harga beras. Tingginya tekanan inflasi terlihat dari besaran
inflasi bulan Januari 2006 yang mencapai 1,36 persen.
Menurut Burhanuddin, karena tekanan inflasi masih tinggi, BI tetap
mempertahankan kebijakan moneter yang cenderung ketat (tight bias).
Dijelaskan, penguatan nilai tukar rupiah yang terjadi sejak perombakan
kabinet hingga saat ini mencapai Rp 9.300-an tidak memengaruhi kinerja
ekspor. ”Daya saing ekspor Indonesia hingga kini masih cukup baik dan
belum ada keluhan dari para eksportir akibat menguatnya kurs rupiah,”
katanya.
Mengenai kebijakan suku bunga, Burhanuddin mengatakan, hal itu akan
dibahas pada rapat Dewan Gubernur BI, 7 Februari mendatang. Menurut dia,
BI akan mengarahkan tingkat suku bunga sesuai dengan ekspektasi inflasi
tahun ini sebesar 8 persen.
Selain inflasi, BI juga akan mempertimbangkan perkembangan kurs dan
rencana kenaikan suku bunga The Fed (Bank Sentral AS) dalam menentukan
BI Rate.
Pertumbuhan ekonomi
BI memperkirakan, pertumbuhan ekonomi pada tahun 2005 mencapai 5,3-5,6
persen atau di bawah target APBN 2005 yang sebesar enam persen. Akan
tetapi, angka tersebut masih lebih tinggi dibanding realisasi
pertumbuhan ekonomi 2005 yang sebesar 5,13 persen.
Kepala Biro Humas BI Rizal A Djafaara mengatakan, rendahnya pertumbuhan
ekonomi 2005 dipicu oleh anjloknya pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2005,
yang hanya 4-4,5 persen.
Pertumbuhan ekonomi triwulan IV lebih rendah dibandingkan triwulan I
sebesar 6,12 persen, triwulan II 5,84 persen, dan triwulan III 5,4
persen.
Rendahnya pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV, menurut Rizal,
disebabkan oleh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada Oktober
lalu yang mendorong kenaikan harga barang dan jasa, serta melambungkan
inflasi hingga mencapai 17 persen.
Namun, kenaikan harga BBM di sisi lain justru mendorong penguatan nilai
tukar rupiah yang pada triwulan IV 2005 menguat 2,2 persen menjadi
rata-rata Rp 9.831 per dollar AS. Sepanjang 2005, kurs menguat 4,3
persen dibandingkan tahun 2004.
Deputi Direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan Erwin
Riyanto menjelaskan, hingga November 2005, kredit tumbuh sebesar Rp 133
triliun, atau 23,1 persen dibandingkan akhir 2004. Ini lebih tinggi
dibanding rencana bisnis perbankan 2005 yang 22 persen.
Rasio penyaluran kredit terhadap dana pihak ketiga (loan to deposit
ratio/LDR) pada akhir 2005 diperkirakan sekitar 66,7 persen atau
mendekati kondisi sebelum krisis ekonomi tahun 1997. Porsi kredit
terbesar disalurkan ke usaha mikro, kecil dan menengah, mencapai 50,7
persen. (FAJ/Antara) ►ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|