| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04
05
06
07
08
09
10
11
12
13
14
15 16
17 = Budi Harsono (15)
Kesadaran Bernegara dan Bela Negara Mulai Hilang
“Jangan tanyakan apa yang dapat negara berikan kepadamu, tetapi tanyalah
apa yang sudah Anda berikan kepada negara.” (Presiden AS John F.
Kennedy)
Semangat nasionalisme yang berada di balik makna ungkapan yang populer
ke seantero jagat itu agaknya sangat kontekstual dengan kondisi di
Indonesia. Kendati demikian, potret negeri ini dewasa ini justru
menggambarkan dengan gamblang betapa kesadaran bernegara, kesediaan
berkorban membela negara, dan mencintai negara pada warga negara sudah
mengalami erosi yang sangat tajam.
Secara obyektif, Budi Harsono menilai faktor penyebab dari profil ironis
anak bangsa dewasa ini adalah kesalahan pada sistem pembangunan nasional
masa silam. Pembangunan aspek sumber daya manusia (SDM) yang seharusnya
mendapat tempat teratas justru tidak menjadi prioritas utama pembangunan
jangka panjang alias kurang diperhatikan.
Selama ini, konsep pembangunan SDM dilaksanakan secara beriringan dengan
derap pembangunan fisik-material atau pembangunan ekonomi. Namun, dalam
praktiknya, pembangunan SDM tertinggal dari pembangunan ekonomi.
Akibatnya, hasil pembangunan SDM dari proses pendidikan kurang maksimal.
Sebagai ekses dari hasil pembangunan di bidang ekonomi, SDM bangsa ini
yang terbentuk cenderung memiliki sikap, mental, dan perilaku yang
materialistis, individualistis, dan pragmatis.
“Setiap orang hanya cenderung memikirkan kepentingannya sendiri. Setiap
individu berpikir dan bertindak berdasarkan imbalan apa yang bakal dia
peroleh saja. Cara pandang seperti itulah yang dominan merasuki benak
SDM kita dewasa ini. Kita bisa rasakan itu,” papar Budi.
Indikasinya, bisa dilihat dari gambaran umum kualitas produk akhir yang
dihasilkan sistem pendidikan nasional sebagai media pembangunan SDM.
Pembangunan SDM-lah yang semestinya diprogramkan lebih awal.
Memang, membangun SDM bukanlah suatu yang instan. Segala jerih-payah
dari apa yang dikerjakan sekarang baru bisa dipetik hasilnya oleh bangsa
ini pada 15 tahun sampai 20 tahun yang akan datang.
Sedangkan, yang namanya, membangun SDM haruslah dari awal dan sistematis
karena hasilnya baru bisa dirasakan manfaatnya oleh bangsa ini dalam
jangka panjang. Berbeda sekali dengan pembangunan fisik, seperti
jembatan, jalan, atau gedung perkantoran, yang hasilnya sudah bisa
langsung dilihat dan diperoleh hasilnya dalam jangka pendek.
Karena itu, dalam membangun SDM antara lain tentang aspek-aspek
kesadaran bernegara dan kesadaran bela negara inilah yang sejatinya
perlu dibangun dan ditumbuhkan secara terus-menerus oleh bangsa ini.
Dengan kata lain, bukan hanya aspek intelektualitas dan keterampilan
yang dibangun tapi juga aspek budi pekerti dan cinta pada negara.
Sekarang hampir tidak ada pendidikan yang memberikan secara maksimal
budi pekerti serta kesadaran bernegara dan membela negara.
Akibatnya, rasa cinta kepada negara semakin hari semakin menipis di jiwa
warga negara. Belum lagi derasnya pengaruh globalisasi sekarang ini
semakin mempengaruhi hilangnya kecintaan kepada negara. “Fondasi bangsa
ini sudah keropos!” tukas Budi Harsono.
Padahal, di masa perjuangan bangsa ini merebut kemerdekaan pada tahun
1945, dengan hanya bersenjatakan bambu runcing, para pahlawan kusuma
bangsa berani melawan penjajah yang bersenjata lengkap.
Para pahlawan rela mengorbankan jiwa dan raganya karena memiliki
kebanggaan dan kecintaan pada negaranya. Mati pun tidak apa-apa.
Semangat itu dikwatirkan pada suatu saat akan hilang karena dari hari ke
hari terus meluntur.
Semangat dan idealisme itu harus dibangkitkan dan ditumbuhkembangkan
kembali, dalam hal ini melalui media pendidikan. Dalam kurikulum
pendidikan mesti ada penanaman nilai dan semangat bernegara dan
kesadaran bela negara.
‘Mengapa saya harus mencintai negara ini?’ dan ‘Mengapa saya mesti
berkorban untuk negara ini?’ adalah dua pertanyaan besar yang bisa
menjadi pintu masuk penanaman kesadaran bela negara dan idealisme
kebangsaan itu melalui setiap jenjang pendidikan.
“Intinya, sejak kecil setiap warga negara yang sedang mengecap bangku
pendidikan pada setiap jenjangnya diberikan motivasi untuk mencintai dan
bangga kepada negaranya,” ucapnya.
Namun membangun motivasi warga negara bukanlah pekerjaan instan. Sebab,
membangun motivasi bukan indoktrinasi, melainkan membangkitkan kesadaran
eksistensial setiap warga negara sebagai anak bangsa.
Satu hal yang patut pula digarisbawahi, membela negara ini tidak hanya
tugas TNI tapi juga seluruh komponen bangsa ini. Penekanan akan kondisi
itu masih sangat kurang pada negara ini. Padahal, tidak ada satu pun
negara di dunia ini yang tidak memberikan kesadaran bela negara kepada
warga negaranya.
Bahaya Narkoba, sekadar satu contoh, haruslah dipersepsikan sebagai
sebuah ancaman yang sangat berbahaya bagi seluruh bangsa ini. Mengancam
generasi muda harapan bangsa dan ujung-ujungnya membuat kemampuan bela
negara pada warga negara menjadi rapuh.
Kesadaran bela negara itu hakikatnya kesediaan berbakti pada negaranya
dan kesediaan berkorban membela negaranya. Ini yang sangat kurang pada
warga negara Indonesia. Itu bisa dirasakan bersama. Tengok saja kiprah
sebagian LSM lokal yang cenderung lebih mengutamakan kepentingan NGO-NGO
asing yang menjadi donornya ketimbang kepentingan bangsanya sendiri.
Menunjuk fenomena di Korea Selatan, Jepang, dan Cina sebagai salah satu
contoh konkret hasil penanaman kesadaran bernegara, Budi Harsono
mengatakan, rakyat negara-negara itu dengan penuh kesadaran mengkonsumsi
produk dalam negerinya. Bukan dari negara luar. Rakyat Korea Selatan dan
Jepang lebih suka memakai mobil produknya sendiri daripada produksi
negara luar.
Perlu disadari, perang di era sekarang sudah bersifat semesta. Setiap
negara sudah harus siap berperang. Sekadar ilustrasi, dalam perang
modern yang pertama dilumpuhkan adalah pusat-pusat logistik seperti
instalasi listrik, jalan-jalan, jembatan, lapangan terbang. Tujuannya
agar negara itu menjadi lumpuh. Kalau sudah lumpuh, mudah untuk
dikalahkan.
Bertolak dari hal itulah, dalam konteks Indonesia saat ini, kesadaran
bernegara dan kesadaran bela negara harus terus ditumbuhkembangkan
kepada setiap warga negara agar, pada gilirannya, mereka memiliki
kebanggaan, dan mampu membela negaranya sendiri. Lebih jauh dari itu,
mereka mau mengabdikan diri dan bersedia berkorban untuk negaranya.
Hanya saja, kesadaran warga negara untuk berkorban akan muncul bila
negara (baca: pemerintah) memperhatikan nasib mereka.
Bangkitkan Kepercayaan Rakyat
Bagaimanapun, bertumbuh dan berkembangnya semangat bernegara dan
kesadaran bela negara mensyaratkan adanya hubungan timbal-balik antara
pemerintah dan rakyat.
Pemerintah tidak bisa sekadar menuntut rakyat tanpa menunjukkan kinerja
yang baik, khususnya bahwa apa yang pemerintah perbuat memang
semata-mata untuk kepentingan rakyat.
Pemerintah harus mampu membuat rakyat merasakan bahwa pemerintah telah
berbuat banyak dan bekerja keras untuk mereka. Rakyat harus merasakan
manfaat dari apa-apa yang diperbuat pemerintah sehingga rakyat mau
berpartisipasi dalam membangun negaranya.
Ada kesadaran warga negara untuk ikhlas menanggung beban dari derap
pembangunan yang digerakkan oleh pemerintah. Sebab, setiap warga negara
tahu bahwa pemerintah berbuat maksimal untuk kepentingannya juga.
Ironisnya, dalam hemat Budi, kondisi tersebut masih jauh dari harapan.
Contoh paling konkret, kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar
minyak (BBM). Idealnya, rakyat bersedia menanggung beban akibat kenaikan
harga BBM tersebut karena rakyat tahu bahwa pemerintah memang tidak
punya cara atau jalan keluar lain menyiasati tingginya harga minyak di
pasar dunia. Rakyat mengerti bahwa pemerintah berbuat demikian untuk
kepentingan semua. Untuk keselamatan bangsa.
Tapi realitasnya ada ketidak percayaan masyarakat kepada pemerintah dan
ada miskomunikasi antara pemerintah dan rakyat. Rakyat masih menilai
secara apriori kebijakan pemerintah tersebut. Persoalan komunikasi
antara pemerintah dan rakyat itu mesti diperhatikan.
Sebab, jalinan komunikasi yang baik sangat berperan dalam menciptakan
tumbuhnya kepercayaan rakyat kepada negara. Bila sudah tumbuh
kepercayaannya kepada pemerintah, rakyat pun akan mau menanggung beban
pembangunan. Sehingga, rakyat memahami pemerintah menaikkan harga BBM
dengan alasan yang jelas.
“Tantangan besar bagi pemerintah untuk menumbuhkan kepercayaan rakyat.
Untuk itu, pemerintah harus punya sense of crisis dan kepedulian kepada
nasib rakyat. Dari situlah baru bisa dibenahi semua,” tandas Budi.
Contoh yang lain, ada keinginan pemerintah untuk menaikkan tarif dasar
listrik (TDL). Rakyat menilai kinerja PLN sendiri masih belum benar.
Biaya produksinya masih sangat tinggi. Jadi, sebelum menaikkan TDL,
pemerintah sebaiknya membenahi dulu kinerja PLN secara konkret.
“Tumbuhkan kepercayaan pada rakyat bahwa pemerintah betul-betul
membenahi kinerja PLN. Lakukan efisiensi, audit dengan baik, turunkan
biaya produksi dan sebagainya,” ujar Budi Harsono.
Biaya produksi PLN masih sangat tinggi yakni sebesar 11 sen dolar
per-KWH. Bandingkan dengan biaya produksi listrik di Malaysia atau
Singapura yang hanya 6 sen dolar per-KWH.
Alasannya, PLN masih menggunakan pembangkit listrik yang berbahan bakar
minyak. Bandingkan dengan pembangkit-pembangkit listrik di Malaysia dan
Singapura yang sudah berbahan bakar gas dan batubara.
Dengan melaksanakan program-programnya pemerintah perlu menumbuhkan
kepercayaan rakyat, agar rakyat bersedia menanggung beban secara
sukarela dari berbagai kebijakan yang diambil pemerintah.
Budi kembali mengingatkan, semangat bernegara dan kesadaran bela negara
bisa tumbuh dengan sendirinya pada rakyat sepanjang ada kepercayaan
rakyat bahwa pemerintah memang memperhatikan nasibnya. Akan tumbuh
gairah setiap individu dan masyarakat untuk berkarya, berbuat untuk
negaranya.
Hubungan timbal balik antara pemerintah dan masyarakat akan membuat
Negara maju, dan dengan sendirinya akan tumbuh kesadaran kenegaraan dan
kesadaran bela Negara dari setiap individu masyarakat.
“Sekarang, banyak orang yang bersikap apatis. Jangankan memikirkan
lingkungannya, untuk mengurusi dirinya sendiri saja susah. Padahal,
kesadaran bernegara dan bela negara berawal dari kesadaran pada
lingkungan terkecil: dari keluarga, RT, RW, kelurahan, kecamatan,
kota/kabupaten, provinsi, hingga akhirnya pada negara.”
Bangsa Butuh Pemimpin Panutan
Di tengah kondisi bangsa Indonesia yang sedang terpuruk di berbagai
bidang kehidupan, Budi Harsono menggarisbawahi, upaya membangkitkan
semangat bernegara dan kesadaran bela negara pada warga negara relatif
tidak mudah.
Karenanya, bangsa ini membutuhkan sosok pemimpin yang bisa menampilkan
dirinya sebagai tokoh yang bias dipercaya dan menjadi panutan bagi
seluruh rakyat yang dipimpinnya. Pemimpin panutan adalah yang mau dan
mampu memberikan contoh teladan.
Pemimpin panutan adalah pemimpin yang berani mengambil keputusan dengan
segala risikonya. Sosok pemimpin yang kuat, berani, dihormati karena
perilakunya, dan mampu memberi contoh konkret. Pemimpin yang konsekuen
dan konsisten mempraktikkan apa yang dia ucapkan.
Misalnya, ketika Sang Pemimpin memimpin gerakan hidup sederhana kepada
rakyatnya, maka dia sendiri harus benar-benar hidup secara sederhana.
Bukan pemimpin yang cari untung dan mengutamakan kepentingannya sendiri.
Bukan pula pemimpin yang bicara A tapi kelakuannya B. Pemimpin dengan
karakter seperti itu tidak akan laku. Sosok pemimpin yang memiliki
mental cari selamat tidak bisa diandalkan membangun negeri ini, dan
membawa bangsa ini dari lembah keterpurukan.
Tapi, tragisnya, sejauh ini bangsa Indonesia belum mempunyai sosok
pemimpin ideal seperti itu. Tokoh-tokoh panutan sudah punah dan hampir
tidak ada lagi figur-figur yang bisa menjadi pemimpin panutan.
Mudah-mudahan di masa yang akan datang muncul pemimpin panutan. Pribadi
pemimpin teladan yang berani mengambil risiko untuk membawa bangsa ini
lepas dan bebas dari keterpurukan. Pemimpin berkarakter demikian yang
sangat dibutuhkan oleh bangsa ini. ►e-ti/af
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|